Home > Wawasan Global
TRAGEDI TRISAKTI 1998
Home > Wawasan Global
TRAGEDI TRISAKTI 1998
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan 12 Mei 1998 yang terjadi di Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia. Dalam sebuah demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto dari jabatannya. Pada saat itu perekonomian di Indonesia goyah karena krisis finansial asia sepanjang 1997 – 1999. Nilai rupiah anjlok, dengan rekor nilai tukar 2.682 rupiah per dolar Amerika Serikat pada tanggal 13 Agustus 1997 dan terus terjun bebas.
Pada tahun 1998, ratusan mahasiswa dari berbagai Universitas di Indoonesia berdemonstrasi di Gedung Nusantara, termasuk mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka melakukan aksi damai dari Trisakti menuju Gedung Nusantara, namun aksi itu di hambat oleh Blokade Polri dan sekumpulan Militer. Para mahasiswa mundur diikuti bergerak majunya aparat keamanan. Aparat mulai menembak peluru, Sebagian besar mahasiswa berlindung di Universitas Trisakti. Pada tanggal 16 Mei 1998 di Institut Teknologi Bandung diikuti oleh 500 demonstran, dan pada bulan Maret demonstrasi yang lebih besar terjadi di Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Pada tanggal 9 Mei 1998, seorang perwira polisi, Dadang Rusmana dilaporkan terbunuh dalam demonstrasi di Universitas Djuanda.
Rentang Waktu Peristiwa :
· 10.30 – 10.45
- Aksi damai civitas akademika Universitas Trisakti yang bertempat di pelataran parkir depan Gedung Syarif Thayeb, di mulai dengan pengumpulan mahasiswa, dosen, pejabat fakultas dan Universitas serta karyawan. Berjumlah sekitar 6000 orang.
· 10.45 – 11.00
- Aksi mimbar bebas diawali dengan penurunan bendera setengah tiang dan diiringi lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda prihatin terhadap kondisi bangsa Indonesia.
· 11.00 – 12.25
- Aksi orasi serta mimbar dilaksanakan dengan para pembicara baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa. Aksi tersebut berjalan dengan baik dan lancar.
· 12.25 – 12.30
- Massa mulai memanas yang dipicu kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar dan menuntut untuk turun ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasi ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang Jl. Jend. S. Parman.
· 12.30 – 12.40
- Satgas mulai siaga penuh dan mulai mengatur massa untuk tertib, serta memberikan himbauan untuk tertib saat turun ke jalan.
· 12.40 – 12.50
- Pintu gerbang dibuka dan massa berjalan keluar menuju Gedung MPR/DPR melewati kampus Untar.
· 12.50 – 13.00
- Long march mahasiswa terhadang di depan pintu kantor Wali Kota Jakarta Barat oleh barikade aparat kepolisian dengan tameng dan pentungan terdiri dari 2 lapis barisan.
· 13.00 – 13.20
- Barisan satgas menahan massa, beberapa wakil mahasiswa melakukan negosiasi, negosiasi terus berlangsung dan massa ingin terus maju. Di lain pihak massa terus tertahan tak dapat dihadang oleh barisan satgas.
· 13.20 – 13.30
- Tim negosiasi Kembali, dan menjelaskan hasil negosiasi tidak diperbolehkan karena terjadi kemacetan lalu lintas. Mahasiswa kecewa karena mereka merasa aksinya merupakan aksi damai.
· 13.30 – 14.00
- Massa duduk lalu dilakukan aksi mimbar bebas spontan di jalan. Situasi tenang tanpa ketegangan antara aparat dan mahasiswa.
· 14.00 – 16.45
- Negosiasi terus dilanjutkan dengan komandan, dengan dicari terobosan untuk menghubungi MPR/DPR. Sementara mimbar terus berjalan diselingi teriakan yel – yel dan nyanyian.
· 16.45 – 16.55
- Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negosiasi Dimana agar sama – sama mundur. Awalnya massa menolak tetapi setelah di bujuk massa mau bergerak mundur.
· 16.55 – 17.00
- Diadakan pembicaraan dengan aparat agar mahasiswa Kembali ke dalam kampus. Mahasiswa menuntut agar pasukan yang mundur terlebih dahulu setelah itu mahasiswa menurut, tetapi tiba seorang oknum Bernama Mashud berteriak kotor dan kasar sehingga massa bergerak maju.
· 17.00 – 17.05
- Oknum tersebut di kejar massa dan lari menuju bagian aparat. Hal ini menimbulkan ketegangan aparat dan mahasiswa. Kemudian kepala kamtibpus mengadakan negosiasi agar mahasiswa maupun aparat sama mundur.
· 17.05 – 18.30
- Ketika massa bergerak mundur, di antara barisan aparat ada yang meledek sehingga membuat mahasiswa Kembali ke barisan dan aparat menembakkan gas air mata,mahasiswa panik dan berlarian datang juga pasukan bermotor. Aparat terus menembaki dari luar.
· 18.30 – 19.00
- Tembakan aparat mulai mereda, rekan mahasiswa membantu mengevakuasi korban.
· 19.00 – 19.30
- Rekan mahasiswa Kembali panik karena terdapat aparat yang berpakaian gelap, mahasiswa berlarian dan mencari tempat untuk bersembunyi.
· 19.30 – 20.00
- Setelah melihat kondisi aman, mahasiswa mulai keluar. Terjadi dialog dengan rekan FE diminta kepastian kepulangan mereka, dengan syarat pulang keluar sedikit demi sedikit. Mahasiswa di jamin pulang dengan selamat.
· 20.00 – 23.25
- Walau masih dalam ketakutan, mahasiswa berangsur pulang. Yang terkena luka berat segera di larikan ke RS Sumber Waras.
Peristiwa ini menewaskan 4 mahasiswa :
1. Elang Mulia Lesmana ( 1978 – 1998 )
2. Heri Hertanto ( 1977 – 1998 )
3. Hafidin Royan ( 1976 – 1998 )
4. Hendriawan Sie ( 1975 – 1998 )