Seniman Ramai – Ramai Menolak AI
01:09 Saturday, December 17, 2022 (GMT+7)
Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer Zainul
Seniman Ramai – Ramai Menolak AI
01:09 Saturday, December 17, 2022 (GMT+7)
Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer Zainul
Para seniman yang tergabung dalam komunitas seni dan media ArtStation bersatu menolak hadirnya Artificial Intelegent – Generated image. Generated Image adalah istilah yang digunakan untuk karya seni yang dihasilkan oleh Artificial Intellegence. Lebih dari seribu seniman telah menyuarakan agar Artstation untuk menghapus content AI dari website komunitas tersebut.
Artstation yang sudah terkenal sebagai platform bagi pecinta seni dan kreator seperti game, film, media dibanjiri dengan postingan gambar protes terhadap AI. Mereka mengunggah puluhan gambar tanda “No” di atas Tulisan “AI” dengan kalimat “NO TO AI GENERATED IMAGE” (Tidak untuk AI Generated image). Hal ini dipicu ketika beberapa pengguna menuduh bahwa AI – Generated Image telah di cantumkan sebagai fitur eksplore platform tersebut. Selain itu Kekesalan mereka ini disebabkan karena banyaknya karya mereka yang digunakan untuk melatih AI tanpa sepengetahuan atau izin mereka.
Sependapat dengan para seniman yang lain Illustrator Nicholas Kole ikut menyuarakan hal yang sama.
“Melihat banyaknya protes membuat saya melihat bahwa ada sedikit harapan dan solidaritas. Akan tetapi protes seperti ini makin tenggelam akhir – akhir ini karena postingan yang dihasilkan oleh AI lebih mendapatkan perhatian. Demikian untuk mendukung mereka sayapun memposting hal yang sama dan berharap protes ini bisa didengar secara luas lagi.”
Karena banyaknya protes yang terjadi Artstation pun bersuara. Perusahaan bersikukuh tidak melarang pengguna untuk memposting karya yang diciptakan dengan AI. Meskipun begitu Artstation mendorong setiap seniman untuk bersikap jujur dan terbuka dalam menciptakan karya mereka. Perusahaan juga menambahkan bahwa mereka tidak ingin menjadi website yang digunakan oleh perusahaan AI untuk melatih AI mereka. Karena mereka menghormati hak cipta dari karya seniman yang tergabung dalam platform mereka. Meskipun begitu para seniman tetap tidak puas dengan statement tersebut. Mereka berharap agar artstation melarang sepenuhnya AI. Jikalaupun perusahaan memang benar – benar tidak ingin melarang AI mereka meminta setidaknya karya – karya yang dibuat oleh AI ini diberi label atau tagar tersendiri.
Kontroversi sebelumnya juga terjadi terhadap aplikasi Lensa AI. Aplikasi ini mampu menggubah foto selfie penggunannya menjadi berbagai tampilan karakter menarik. Mereka menyebut fitur ini dengan Magic Avatars. Aplikasi yang dinaungi oleh Prisma Labs menggunakan AI dan foto yang diunggah oleh penggunanya untuk menghasilkan foto unik. Meskipun terdengar sangat normal ternyata banyak para pakar yang khawatir dengan privasi dan perlindungan data penggunannya.
Mengupload foto ke Aplikasi Lensa secara tidak langsung memberikan perusahaan akses untuk menggunakan wajah kita. Di dalam syarat dan ketentuan penggunaan Prisma Labs yang dikutip oleh Buzzfeednews.com. Prisma Labs menuliskan bahwa perusahaan memiliki semua hak foto dan dapat digunakan untuk keperluan kontent penggunanya. Termasuk hak non-esklusif, royalty-free atau menggunakan tanpa harus membayar atau izin terlebih dahulu, dapat dialihkan atau transferable, digunakan kembali, diubah atau dimodifikasi. Secara singkat perusahaanlah yang berhak memiliki hak cipta dari hasil foto selfie baik yang kita unduh dari aplikasi atau foto yang telah kita unggah. Ujar salah seorang pakar.
Akan tetapi juru bicara Prisma Labs meyakinkan kepada pengguna bahwa perusahaan menghapus setiap foto yang diunggah oleh pengguna dari server mereka setelah digunakan untuk melatih AI mereka. Katanya Kepada Buzzfeednews. Tidak berhenti disitu salah satu pengguna twitter berkata justru disitulah letak kekhawatiran pengguna. dia beranggapan bahwa hal ini secara tidak langsung memberikan izin kepada AI untuk menggunakan foto kita sebagai bahan latihan AI.
Lebih dalam lagi Lensa AI bekerja menggunakan model (foto selfie yang diunggah penggunanya) sebagai bahan untuk latihan dalam menghasilan pola dan foto – foto unik. Bahan latihan ini didapat AI dari server atau daring data base Prisma Labs yang bernama LAION-5B. Setelah AI mempelajari setiap fitur wajah dari foto yang telah diunggah. AI menggunakan nya untuk menghasilkan sebuah foto atau karya seni yang akan diunduh oleh penggunanya. Proses ini bukanlah hal yang menjadi permasalahan bagi seniman, yang menjadi perhatian mereka adalah sumbernya. Tidak jarang AI dilatih menggunakan karya seni milik orang lain untuk menghasilkan gaya atau style yang sama. Ujar salah seorang pengguna twitter yang lain.
Masih mengutip dari Buzzfeednews.com Andrey Usoltsev Prisma Labs CEO berkata bahwa Hasil karya yang diciptakan oleh AI (Aplikasi Lensa AI) tidak akan setara dengan karya seni yang sesungguhnya. dia juga bersikukuh bahwa AI membuat sebuah karya tidaklah berdasarkan karya seni milik orang lain yang sudah ada. Dia mencontohkan seperti Bioskop yang tidak akan mengantikan teater dan software aplikasi akuntansi yang tidak menyingkirkan profesi akuntant. AI bisa menjadi alat bantu bagi seniman untuk menghasilkan karya mereka. dia menyimpulakn bahwa seniman bisa menggunakan AI sebagai bahan untuk mencari inspirasi dan memvisualisasikan proyek kreatif mereka.