Opini : Seniman Menyapa Artificial Intellegence dalam Seni.
02:35 Thursday, November 17, 2022 (GMT+7)Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer @ZainularifinOpini : Seniman Menyapa Artificial Intellegence dalam Seni.
02:35 Thursday, November 17, 2022 (GMT+7)Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer @ZainularifinKemunculan Artificial Intellegence seperti Dall-e, midjourney, Stabel diffusion sebenarnya sangat mengelisahkan bagi seniman. Tidak hanya seniman seni lukis tetapi juga grafis dan seniman -seniman lainya yang berkecimpung dalam dunia seni visual. Banyak yang takut lapangan pekerjaan mereka akan tergantikan oleh Artificial Intellegence. Banyak juga yang merasa tersingkirkan dan merasa tidak dihargai lagi. Ketakutan ini adalah hal yang wajar. Dalam dunia filsafat hal ini didefinisikan sebagai ketakutan akan distrupsi atau kekacauan. Memang seperti itulah salah satu dampaknya. Kemajuan teknologi seperti ini sejatinya tidaklah terhindarkan. Galvin dalam On Technoethics menyatakan bahwa teknologi adalah bagian dari manusia dan manusia jenis ini disebut sebagai Homotechnicus karena tidak bisa lepas dari teknologi. Misalnya ditemukannya teknologi sederhana kapak batu, tombak dan jaring pada masa lalu adalah bagian dari perkembangan manusia itu sendiri.
Lantas bagaimana dengan Artificial Intellegence ini. Keberadaan nya yang muncul di era society 5.0 ini bukanlah suatu yang mengejutkan sebenarnya. Mengingat pandemi makin mendukung situasi tersebut. Semenjak pandemi banyak orang yang beralih ke media daring. Sektor bisnis, pendidikan, dan bahkan penggunan media sosial makin meningkat semenjak pandemi.
Kebutuhan akan seni grafis yang cepat dan instan untuk sektor - sektor tersebut lah yang memicu munculnya Artificial Intellegence seperti Dall-e, midjourney dsb. Hal ini makin didukung dengan budaya sebagian kalangan masyarakat kita yang gemar akan bermedia sosial dan perlombaan untuk mendapatkan perhatian (viral). Bukan hanya individu - individu pengguna media sosial saja tetapi juga perusahaan - perusahaan juga yang sudah mulai beralih menggunakan media daring sebagai media pemasaran.
Konsep tersebut sangatlah mirip dengan definisi budaya popular. di mana sebuah hal dinilai dari banyaknya sesuatu hal digandrungi atau disukai. Budaya popular ini terkesan dangkal dan tidak akan tahan lama. Akan tetapi hal ini sekali lagi tidak terhindarkan. Budaya ini muncul sebagai simbol perlawanan atau kebalikan dari budaya adiluhung atau elite (eksklusif).
Demikian kemunculan Artificial Intellegence ini di mata penulis adalah pisau bermata dua. Mata pertama adalah untuk menghilangkan batas antara seniman dan orang biasa. Dengan begitu setiap orang bisa membuat karya mereka tanpa harus dibatasi oleh keterbatasan keterampilan dan pengetahuan menciptakan karya seni. Kedua menghilangkan keterbatasan atas biaya yang harus dikeluarkan untuk memperkerjakan seniman.
Akan tetapi pada sisi yang lain seni menjadi kehilangan maknanya atau eksklusifitasnya. Tentu saja ini bukan salah seniman. Justru karena kepopuleran atau kemudahan yang di tawarkan Artificial Intellegence itu sendirilah yang menjadikan Seni itu menjadi dangkal. Seni menjadi kehilangan maknanya dan bahkan hanya terkesan untuk senang – senang saja. Seni kemudian menjadi umum atau populer dan karya visualnya tidak lebih dari sekadar gambar indah saja atau sekadar clipart.
penulis juga optimis akan selalu ada peluang bagi seniman - seniman. Sebagai contoh Adobe yang berinovasi dengan menambahkan artificial Intellegence ini di dalam software mereka. Hal ini lebih baik ketimbang hanya langsung melempar nya pada publik. mengapa demikian, karena akan ada dilema yang terjadi apabila hanya dilempar langsung kepada publik. Pertama adalah siapakah yang bertanggung jawab apabila ada yang menggunakan Artificial Intellegence untuk menciptakan gambar - gambar yang provokatif dan bersifat intolerant. Tentu mudah saja bagi perusahaan untuk melempar kesalahan pada pengguna sebagai orang yang bertanggung jawab. Permasalah kedua adalah adanya dilema hak cipta. Jika orang awam hanya tinggal memasukan kata maka siapakah yang akan memiliki hak ciptanya. Apakah karya itu milik perusahaan penyedia Artificial Intellegence ?. Sementara karya tersebut adalah hasil dari Artificial Intellegence bukan nya pegawai perusahaan. Demikian artificial Intellegence tidak akan bisa menciptakan apabila pengguna tidak memasukan prompt atau perintah. Lalu Apakah milik penggunanya ?. padahal pengguna hanya memasukan kata tanpa terlibat langsung dengan proses produksi seni.
Sebagai penutup dan terlepas dari hadirnya AI dalam dunia seni dan kreatif (karena memang itulah yang terjadi pada zaman kita hidup). Perlu adanya kesadaran kita sebagai manusia yang menggunakan teknologi dan yang menentukan akan seperti apa teknologi - teknologi tersebut akan kita gunakan. Sehingga kebijaksanaan sangatlah diperlukan agar bisa menyeimbangi majunya teknologi yang sudah dicapai.
Menurut penulis, manusia dan teknologi memang tidaklah terpisahkan karena itu adalah bagian dari sifat manusia dalam memanfaatkan otak dan kreatifitasnya. Tetapi penulis tidak setuju dengan konsep Homotechnicus. Menurut penulis manusiapun sebenarnya bisa untuk tidak berteknologi. Dalam kata lain manusia bisa memutuskan apakah teknologi ini perlu atau dibutuhkan untuk memecahkan masalah – masalah yang dihadapi manusia atau tidak. Menurut penulis hal inilah yang tidak disadari oleh Galvin. Bahwa perbedaan diciptakanya suatu teknologi pada masa lalu dengan masa sekarang adalah pada fungsinya. Penulis melihat bahwa pada masa lalu penemuan teknologi kapak batu dan sebagainya adalah bertujuan untuk keberlangsungan hidup manusia. (Meskipun dalam beberapa kasus ada juga yang bertujuan untuk pemujaan akan tetapi hal tersebut tetap berguna untuk perkembangan spiritual manusia). Sementara tujuan dari diciptakanya teknologi untuk masa ini sudah dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari politik (contoh perang dingin), bisnis, iklan dan keuntungan. Bahkan bisa jadi hanya demi mempermuda popularitas yang ujungnya terkesan dangkal.
Maka penulis berkesimpulan bahwa manusia haruslah mampu bersikap bijaksana dan mengendalikan keinginanya dalam menggunakan teknologi. Sehingga teknologi yang tercipta adalah teknologi – teknologi yang berfungsi untuk mememcahkan permasalahan yang dihadapi umat manusia. Bukannya menciptakan alat yang hanya sekadar memenuhi kesenangan – kesenangan manusia semata. Hal ini bertujuan agar Teknologi tidak melenceng dari tujuan awalnya yaitu untuk kemajuan umat manusia.