Fenomena Fast Fashion
01:20 Monday, January 22, 2024 (GMT+7)
Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer Zainul
01:20 Monday, January 22, 2024 (GMT+7)
Time in Surabaya, Surabaya City, East Java Writer Zainul
“Jika charles darwin benar maka evolusi manusia dari kera menjadi manusia yang merontokan sebagaian buluh bagian tubuhnya adalah kesalahan. Karena manusia sekarang bigung menentukan benda apa yang harus dikenakan. Bahkan sangking bingungnya kita sampai hampir menghancurkan dunia.”
"Industri fashion menjadi salah satu industri penyumbang polusi dan limbah terbesar di dunia. Dilansir dari borgenmagazine.com, sekitar 10% emisi karbon berasal dari industri fashion, menjadikannya penyumbang polusi terbesar kedua setelah industri minyak."
Pemain industri fast fashion ini ibarat sedang mempermainkan dopamin pelanggan mereka. Hormon kebahagian yang membuat manusia terus kecanduan. Fenomena yang sama saat monyet - monyet di thailand kekurangan makanan saat pandemi. Hal ini terjadi karena menurunya turis yang biasanya memberi makan mereka. Warga lokal yang terganggu kemudian memberi mereka makanan dan minuman berpemanis buatan. Harganya yang murah daripada setandan buah pisang justru berubah menjadi bencana. Para Monyet tersebut justru kecanduan gula dan berperilaku agresif. Bukan hanya menyerang warga yang memberi tetapi juga mulai mencuri sampai perkelahian antar kelompok monyet. Kecanduan mereka berhenti ketika pemerintah turun tangan dengan memberi makan monyet - monyet ini makanan asli dan melarang warga memberih makan sembarangan. Lalu bagaimana dengan mereka yang kecanduan fast fashion tentu mereka dipercaya lebih baik daripada monyet - monyet tadi. Setidaknya tidak terjadi perkelahian demi sebuah pakaian di antara mereka.
Fast fasion sebenarnya baik untuk pelanggan dengan menawarkan banyak model dan bervariasi dengan harga yang terjangkau. Bagi sebagian orang dan pembisnis yang kekurangan modal. barang bekas menjadi jalan keluar. Hal yang paling mencolok dalam beberapa tahun terakhir adalah menjamurnya budaya trifting di kalangan anak muda. Dampak lainya adalah terbukanya lowongan pekerjaan. Mulai dari pengusaha produsen kain di negara tertinggal hingga Endorsment kepada influencer di negara maju.
Faktor fator yang pendorong fast fashion.
Perubahan perilaku konsumen
Perubahan perilaku konsumen ini sendiri sangat kompleks dan dipengaruhi oleh banyak hal. Mulai dari trend, kemajuan teknologi, sosial media, kondisi ekonomi & kesadaran lingkungan. Konsumen biasanya menginginkan pakaian dengan harga terjangkau namun dengan banyak variasi atau pilihan. Apabila tidak bisa menemukan model atau harga pakaian yang mereka harapkan. Mereka akan cepat beralih ke toko yang lain. Hal ini sangat mudah sekali dilakukan di era 5.0 seperti sekarang. Produsen pun mengakalinya dengan bahan - bahan berbiaya murah dan rendah demi bisa memenuhi keinginan tersebut.
Persaingan pasar.
Meskipun fenomena fast fashion sudah ada sejak tahun 1960an. tetapi, fenomena tersebut makin terasa semenjak mulai majunya teknologi informasi. Mudahnya berbelanja daring dan pengaruh sosial media membawa dampak siknifikan untuk dunia industri termasuk industri fashion. Karena kemudahan akses ini akhirnya mendorong perusahaan produsen pakaian untuk berlomba - lomba dalam penjualan. Mereka menjual barang secara daring dan murah untuk bersaing dengan produsen yang lain. Pilihan item atau modelnya pun makin beragam mengingat konsumen mereka mungkin saja bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri. Dengan demikian persaingan pasar merekapun makin ketat & luas.
Sosial media
Sosial media seperti tiktok, instagram & para Influencernya membuat orang makin tertarik untuk mengekspose diri dan apa saja yang mereka punya. Hal ini kadang termasuk bertujuan mendapatkan sebanyak mungkin follower ataupun tujuan lainya. Dampak dari hal ini adalah orang menjadi fomo atau tidak ingin ketinggalan akan sesuatu hal yang baru. Hal ini kemudian berdampak juga pada sikapnya yang secara impluse atau tidak sadar ingin mendapatkan apa yang ingin mereka dapatkan secara instan dan cepat. (Dalam hal ini sudah masuk dalam ranah psikological effect)
Dalam ilmu Neuroscience manusia yang mengalami hal ini bisa dilihat melalui bagian otak nya yang sangat aktif dan terpengaruhi. Yaitu bagian otak yang mengendalikan emosi dan bahasa. Dalam hal ini bisa terlihat bahwa kolerasi tindakan memenuhi kebutuhan kesenangan di atas tadi bertautan dengan emosi. Bagaimana Neuroscience menjelaskan hal ini. Contohnya bila pelanggan melihat suatu item barang yang lebih murah dari kebanyakan produk lain dipasaran. Pelanggan atau individu ini akan menangkapnya sebagai sinyal positif bagi mereka. Otak kemudian akan mengkalkulasi antara menghabiskan uangnya untuk membeli barang tersebut atau menyimpan uang mereka. Padahal logika yang harusnya didahulukan adalah apakah mereka sangat membutuhkan barang itu atau tidak dan mengapa mereka harus memilikinya.
Selain itu terdapat juga dampak buruk fenomena fast fashion:
1. Desain setiap brand bisa saja sangat similiar atau rentan akan resiko penjiplakan karya. Belum lagi era Artificial Intelligence yang mulai bisa menawarkan desain hanya dalam beberapa “prompt” atau perintah. Masalah hak cipta dan perlindungan karya oleh desainer akan semakin kompleks.
2. Terlalu banyak barang atau pakaian yang dibuang karena cepatnya perubahan trend fashion berdampak pada meningkatnya jumlah sampah. Ini juga menjadi penyebab pencemaran lingkungan hidup baik pencemaran dari sisi produsen ataupun sampah dari sisi konsumen. Meningkatnya sampah berarti juga meningkatnya resiko penyakit.
3. Isu pekerja dengan upah kecil dinegara tertinggal termasuk juga dampak kesehatan yang mereka rasakan. Mereka juga rentan untuk dieksploitasi baik itu secara jam kerja dan eksploitasi pekerja dibawah umur.
4. Isu imigrasi. Semakin cepat fashion berubah dan persaingan semakin ketat. Perusahaan atau brand yang tidak memiliki fasilitas sebanyak perusahaan besar akan melakukan kontrak kerja dengan perusahaan garment kecil. Perusahaan garment yang terletak di kota negara maju sering kali memperkerjakan pekerja migran atau pekerja dari negara tertinggal. Faktornya adalah biaya pekerja yang murah dan nilai tukar mata uang antara negara tertinggal dan maju yang terlampau tinggi menjadi faktor utamanya
5. Kecanduan. Secara ekonomi bagi pengusaha dan konsumen ini menguntungkan kedua belah pihak. Orang menginginkan sesuatu yang unik dan murah. Pengusaha menginginkan keuntungan secara cepat dan murah. Akan tetapi Fast fashion justru melenceng dari tujuan nya. Fast fashion meng ”trigger” orang untuk membeli sesering mungkin. Tanpa berpikir panjang.
Sekiranya itulah yang ingin saya katakan kepada mereka penikmat fast fashion. Mereka yang tidak mengerti kapan untuk berhenti dan berkata cukup. Kalian sudah terlalu banyak mencemari lingkungan dan memperkaya raja - raja perusahaan untuk terus mengeksploitasi pekerja yang tidak punya banyak pilihan hidup.
Pada akhirnya semua ini hanya masalah siapakah yang harus dibunuh terlebih dahulu. Dunia atau manusianya. Dengan keadaan yang terjadi saat ini kita bisa tahu bahwa kita sedang membunuh dunia. Sialnya lagi kita adalah makhluk yang hidup di dunia.
Jika dihitung dengan uang maka didunia yang bisa hidup hanya beberapa orang saja. Sisanya harus mati matian menjadi robot. Sisanya harus mati matian menjadi badut. Sisanya harus melupakan bahwa dirinya hidup dan melupakan dirinya sendiri.
“Uang dihabiskan untuk kesenangan atau untuk menunjukan bahwa mereka mempunyai uang.”
-Jean Baudrillard