SEBUAH PUISI ADAPTASI DARI LAGU ANAK 'BINTANG KECIL' KARYA PAK DAL
PEMBACAAN PUISI 'AKU INGIN TERBANG DAN MENARI' (Oleh Tinka Sausan Hasna)
AKU INGIN TERBANG DAN MENARI
Oleh: Salma Zilzala
Langit malam tetap segar
Aku memutuskan untuk berhenti pada raut wajah yang begitu terang
Membayangkanmu bersama ribuan mimpiku sungguh menyenangkan
Namun akulah penakut
Sedari kecil hanya mampu bersembunyi
Memandangimu diam-diam
Kemudian mengangkat kedua sudut bibirku dengan ragu
Di mataku kau begitu jauh
Sama persis dengan harapan-harapan itu
Kata ibu, itu bukan bayangan
Semuanya akan kutemui asal aku mau
Aku selalu percaya kata ibu
Namun sayang, aku tidak percaya dengan kemauanku
Aku punya rindu
Yang tak bisa aku terbang kesana
Bintang kecil di langit yang segar
Apa kau tau aku masih ingin menari bersamamu
Di atas sana, dengan ribuan inginku
Tapi kini kakiku berat oleh waktu
Dan mimpiku sudah tak seterang dulu
Bintang kecil di langit yang segar
Jangan dulu padamkan sinarmu
Biarkan aku tetap berdoa di bawahmu
Terpa wajahku dengan sinarmu
Andai tak bisa terbang tak apa
Daripada memilih untuk melupakanmu
Aku lebih bahagia saat berjarak menatapmu
Aku yang kecil begitu percaya pada kemenangan
Namun terkadang aku paham
Bahwa tak semua harus sampai
Cukup sinarmu yang menenangkan
Berirama membawaku pada kehangatan
Bintang kecil
Temaniku menua dibawahmu
Jika nanti umurku dicegat oleh waktu
Maka biarkan rinduku terbang ke langitmu
LAGU 'BINTANG KECIL' COVER BY dbatlayar
Puisi “Aku Ingin Terbang dan Menari” menggambarkan pergulatan batin seorang tokoh “aku” yang memandang impian dan sosok yang ia inginkan sebagai sesuatu yang tabu, jauh, dan nyaris mustahil untuk digapai. Ia sadar bahwa ada batas-batas yang tidak bisa ia langkahi—entah karena kenyataan, waktu, atau dirinya sendiri. Namun, justru dalam jarak itulah ia menemukan ketenangan: ia lebih memilih mengagumi daripada memiliki, lebih memilih menjaga jarak daripada kehilangan. Kalimat “aku lebih bahagia saat berjarak menatapmu” menjadi pusat perasaannya.
Dalam puisi ini, tokoh “aku” tetap menyimpan keinginan untuk “terbang dan menari”, menggambarkan sisa-sisa mimpi masa kecil yang dahulu terasa begitu ringan dan mungkin. Ketika kecil, ia percaya bahwa dunia bisa dijangkau dengan tangan, dan semua yang bersinar dapat ia raih. Namun, seiring waktu, langkahnya semakin berat; kenyataan mengeras, dan ia harus menerima bahwa tidak semua mimpi dapat diperjuangkan seperti dulu. Ketinggian tidak lagi ramah, dan cahaya bintang terasa lebih jauh dari yang ia bayangkan.
Meski begitu, tokoh “aku” tidak menolak keberadaan mimpi-mimpi itu. Ia malah merawatnya dalam diam. Baginya, ada kebahagiaan kecil yang lahir hanya dari melihat—bukan mendapatkan. Seseorang yang ia kagumi, dan harapan-harapan yang terasa tabu itu, tetap ia biarkan bersinar dari jauh. Ia hanya memohon satu hal: agar cahaya itu tidak padam. Agar bintang-bintangnya tetap menemaninya dari kejauhan, menyinari langkahnya hingga akhir hayat, meskipun ia tahu ia takkan pernah berada di sampingnya.
Puisi ini menjadi perjalanan sunyi tentang kedewasaan, penerimaan, dan cinta yang tidak menuntut balasan. Ia menunjukkan bagaimana seseorang bisa mencintai dan bermimpi tanpa harus menggenggam, dan bagaimana jarak justru dapat menjadi bentuk kasih yang paling lembut.
TERIMAKASIH SUDAH MENYEMPATKAN NGE-FREEZE DISINI 😄
Jangan lupa selalu berbintang!