BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Musem Perbendaharaan milik Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jawa Barat kini menjadi wisata edukasi sejarah baru di Bandung.
Museum yang baru diresmikan pada 26 September lalu ini menyuguhkan informasi terkait pengelolaan uang negara dari masa ke masa.
Bagian Rumah Tangga Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Jabar Hadian Trisna mengatakan museum tersebut terdiri dari tujuh bagian antara lain sejarah perbendaharaan, auditorium, wall of fame, pojok KAA, koleksi benda dan peralatan kantor, koleksi buku staatsblad, serta special mission.
Di samping itu, museum terdiri dari tiga sektor. Pertama memdeskripsikan peristiwa sejarah Gunting Syafruddin, The Supreme Court and The Daendels Palace at The Waterloo Square, momentum, dan sejarah penyusunan paket Undang-undang Keuangan Negara.
“Kedua auditorium dan ketiga yakni galeri koleksi yang menyajikan dokumen, peralatan, serta bahan pustaka seperti buku dan benda lain yang digunakan dalam pengelolaan perbendaharaan negara dari masa ke masa," katanya kepada AyoBandung, Senin (2/10/2017).
Hadian mengungkapkan, museum tersebut merupakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peristiwa KAA. Di museum, terdapat “Pojok KAA”, yang menyajikan sejumlah foto dinamika KAA.
Pojok KAA membukakan berbagai aktivitas para pemimpin Asia Afrika seperti Bung Karno, Pangeran Norodom Sihanouk, J. Nehru, Zhou En Lai, Gamal Abdul Naser, Raja Faisal, U Nu, Sir John Kotelawala, dan lainnya.
Keunikan Museum
Museum Perbendahaharaan memiliki beberapa keunikan baik koleksi, lokasi, kepeloporan transparansi, serta akuntabilitas lembaga publik khususnya di lingkup Kementerian Keuangan.
Soal koleksi, museum memiliki dokumen, bahan pustaka, dan peralatan yang mampu menggambarkan perkembangan sejarah pengelolaan perbendaharaan negara sebagai bagian penting dari pengelolaan keuangan.
"Dari lokasi, museum menempati ruang yang sama dengan yang digunakan untuk rapat komisi ekonomi dan komite kebudayaan pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Jadi Museum Perbendaharaan mempunyai kaitan erat dengan peristiwa KAA,” ujarnya.
Sebelumnya, penyusunan museum sudah dilakukan Menteri Keuangan Bambang S Brojonegoro pada 20 Maret 2016 lalu. "Setelah pengumpulan koleksi, penyempurnaan sarana, dan kesiapan SDM pengelola. Baru pada Selasa 26 September 2017 museum dibuka untuk umum," ujar Hadian.
Referensi Utama bagi Peminat Sejarah
Museum Perbendaharaan akan menjadi referensi utama bagi para peminat sejarah, peserta studi, dan penelitian dari berbagai disiplin ilmu seperti perbendaharaan negara, hukum keuangan negara, dan lainnya terkait keuangan.
Adapun misi yang diemban Museum Perbendaharaan yakni ingin mewujudkan museum sebagai media informasi, pendidikan dan dokumen sejarah pelaksanaan perbendaharaan negara, pusat pengembangan dan penelitian pelaksanaan perbendaharaan negara di Indonesia, serta sarana rekreasi hiburan yang edukatif.
Sejak dibuka untuk umum, masyarakat dipersilakan berkunjung baik perorangan maupun rombongan tanpa dipungut biaya alias gratis. Adapun jam operasional Museum Perbendaharaan yakni Sabtu, Minggu, dan Senin pada minggu kedua dan keempat setiap bulan mulai pukul 09.00 WIB-16.00 WIB.
Sumber: Museum Perbendaharaan Kenalkan Sejarah Keuangan untuk Publik - Ayo Bandung