DIPONEGORO, AYOBANDUNG.COM--Dibalik selembar uang tersimpan sejarah yang mahal nilainya. Nilai sejarah tersebut bisa dibaca di Museum Perbendaharaan yang berada di Gedung Dwiwarna, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat. Lokasi berada di Jalan Diponegoro, bersebelahan dengan Museum Geologi. Dari depan, museum ini memang tidak memiliki pintu yang besar atau penanda museum karena menyatu dengan Kanwil Ditjen Perbendaharaan tersebut.
Jika ditelusuri lebih dalam, Museum Perbendaharaan ini punya segudang cerita yang membuat kagum akan perjalanan sejarah keuangan Indonesia. Hal-hal yang tidak tampak di lapisan masyarakat, dibuka secara jelas mengenai keuangan Indonesia.
Sejarah pembentukan museum ini dimulai tahun 2014. Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Jawa Barat, Joko Wihantoro, saat itu menginisiasi pelestarian dokumen, buku, dan peralatan yang digunakan dalam pengelolaan perbendaharaan. Usulan tersebut direspon oleh Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan dengan ditetapkannya Tim Pembentukan Museum Perbendaharaan tahun 2015.
“Pembangunan interior fisik Museum Perbendaharaan dilakukan dalam kurun 1 tahun dan selesai tanggal 21 November 2015. Sedangkan kegiatan identifikasi dan pengumpulan benda sejarah selesai pada Februari 2016,” kata Humas Museum Perbendaharaan, Hary Sutrasno, kepada ayobandung.com baru-baru ini.
Menurut Hary, perbendaharaan negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan yang ditetapkan dalam APBN dan APBD. Fungsi perbendaharaan sudah ada sejak zaman kolonial. Namun, dalam rangka pelaksanaan fungsi di bidang perbendaharaan sesuai dengan perundangan, Kementerian Keuangan membentuk Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang merumuskan dan melaksanakan standardisasi di bidang perbendaharaan negara.
Museum ini memegang peranan penting bagi terciptanya sejarah bangsa-bangsa di Asia Afrika. Gedung tersebut pernah digunakan sebagai sekretariat Konferensi Asia Afrika ke-1 pada tahun 1955 untuk rapat komisi politik, komisi ekonomi, dan komisi budaya.
“Hingga saat ini, jendela, tiang, dan tempat rapat ini masih sama bentuknya, tidak ada yang dipugar,” kata Hary sembari mengajak berkeliling ke seantero museum.
Dari pintu masuk, bagian depan museum terdiri dari legenda museum perbendaharaan. Bagaimana proses museum dapat berdiri sejak awal pencanangan hingga peresmian pada Maret 2016. Kemudian meja resepsionis dan buku tamu di samping kanan membuat pengunjung akan melihat foto menteri keuangaan saat ini.
Dari kiri pintu, ada sejarah perbendaharaan dari awal kemerdekaan, terbentuknya uang pertama, peristiwa penting pengelolaan perbendaharaan di Indonesia, hingga perkembangan organisasi dari tahun 1965-2004.
“Di sini tertera sejarah penyusunan paket UU Bidang Keuangan Negara, UU Republik Indonesia nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharan negara, sampai baju dinas tempo dulu,” katanya.
Kemudian, di tengah museum terdapat lemari kaca yang berisi mesin cetak SPM dari masa ke masa. Berbagai buku dan kertas mengenai anggaran tersusun dengan rapi. Katanya, koleksi ini mereka dapatkan dari berbagai Kanwil di Indonesia. Semua dikumpulkan supaya menjadi pembelajaran dan diketahui oleh masyarakat.
Selain itu terdapat Wall of Fame, sebuah dinding yang menunjukkan foto Dirjen Perbendaharaan, Dinamika organisasi dari masa ke masa, menteri keuangan pertama hingga saat ini, sejarah Gedung Dwi Warna dan visi misi museum.
“Tidak lupa kami pun punya Pojok KAA, di sini adalah penjelasan era baru perbendaharaan, mekanisme pencairan dana, siklus APBN, hingga bagaimana pengelolaan kas negara di Indonesia,” ujarnya.
Museum tidak buka setiap hari. Pengunjung dapat datang ke Museum tepat pada minggu kedua dan empat setiap bulannya pada hari Sabtu, Minggu, Senin dari jam 09.00 sampai jam 16.00 WIB.
“Biasanya yang mengadakan kunjungan dari sekolah-sekolah atau kampus yang membahas soal keuangan,” kata Hary.
Kendati demikian, museum ini memiliki visi menjadi literatur utama sejarah perkembangan pengelolaan perbendaharaan di Indonesia. Misinya tentu ingin menjadikan museum sebagai sarana rekreasi edukatif, media informasi, dokumentasi sejarah, dan pusat pengembangan dan penelitian pelaksanaan perbendaharaan di Indonesia.
Sumber: Menengok Pengelolaan Keuangan Negara di Museum Perbendaharaan - Ayo Bandung