Perkenalkan namaku Adhin Busro Alhafiz. Bukan bermaksud mengerdilkan ujian lain, tetapi selama aku hidup baru kali ini aku merasakan ujian yang begitu menyesakkan jiwa. Sihir benar benar menghancurkanku luar dalam, kiri kanan, depan dan belakang. Benar benar tidak ada ruang untuk bernafas barang sejenak. Penderitaan lahir dan batin.
Kejadiannya berawal dari cekcok dengan sahabat lalu terdengar beberapa kali suara ledakan diatap rumah. Tidak lama setelah itu rumah tangga yang sudah aku bina belasan tahun hancur. Berkali kali istriku melakukan percobaan bunuh diri. Anak anakku yang terkenal karena juara lomba tahfidz harus mengalami trauma dan lumpuh. Bisnis yang sudah aku bangun belasan tahun runtuh rata dengan tanah. Keluarga, kerabat, teman dan relasi yang dahulu sering aku bantu semua menjauh pergi. Harga diri dan kehormatanku benar benar terinjak injak oleh fitnah yang kejam.
Dan yang paling menyakitkan ketika aku ditusuk dari belakang oleh orang yang terdekat. Selama ini aku sudah berjuang sangat keras untuk membahagiakan keluarga dan sahabat yang sangat aku cintai. Namun apa balasannya? Pengkhianatan yang sangat kejam.
Bertahun tahu hari hari ku lalui dengan air mata kesedihan dan kepedihan yang tiada terperi. Sungguh tidak pernah terlintas dipikiranku ujiannya begitu berat. Seperti cerita di negeri dongeng. Beraaatt sekali......
Demi Allah aku tidak kuat... Sebagai manusia biasa sejujurnya aku katakan, aku tidak kuat menjalani ujian seberat ini. Yang aku tunggu hanya satu yaitu kematian. Karena bagiku kematian lebih baik dari pada hidup menanggung kepedihan yang tak terlukiskan.
Sampai akhirnya satu momen yang sangat bersejarah merubah cara pandangku 180 derajad. Ditengah gulita malam, dalam sujud yang sangat dalam seakan akan aku diajak satu sosok cahaya untuk terbang ke langit menyaksikan pemandangan indah yang tidak akan pernah bisa digambarkan dengan kata kata. Dipuncak langit aku melihat sebuah tulisan, "satu lagi kekasih Allah akan segera lahir".
Sungguh aku menangis sejadi jadinya. Tangisan keharuan berbingkai kebahagiaan yang tak terluksikan. Sadarlah aku kalau selama ini sudah buta. Buta menyambut Sang Kekasih.
Bagaimana kisah selengkapnya? Siapakah sebenarnya sosok cahaya yang membawaku ke langit?
Ingin tahu ada misteri apa dibalik kejadian kejadian ganjil yang aku alami? Ingin tahu seperti apa dunia sihir? Ingin tahu seperti apa dunia Iblis? Ingin tahu seperti apa dunia malaikat?
Pastikan anda membaca sampai akhir novel sarat makna, Misteri 2 Cinta Full version...
PART. 1
HIDUPKU MENAKJUBKAN
Anggap saja namaku Adhin Busro Alhafiz saat ini tinggal salah satu perumahan di di sudut kota Bekasi. Aku memiliki satu istri dan dua anak. Istriku bernama Marini. Anak pertamaku laki laki namanya Revan Alfairuz. Sedangkan anak keduaku perempuan namanya Aya Citra Khumaira.
Pada mau cerita tentang bagaimana kehidupanku sungguh menakjubkan. Aku memiliki rumah tangga yang bahagia dengan istri yang jelita dan anak anak yang lucu. Ada perasaan bangga dan bahagia karena bisa membahagiakan mereka. Aku merasa memiliki rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Rumah tangga yang sempurna idaman setiap insan.
Aku adalah seorang pekerja dan pebisnis yang sangat sukses. Memiliki pekerjaan tetap sebagai marketing manager di sebuah perusahaan besar. Selalu menjadi best sales achiever setiap tahunnya. Disamping itu aku juga memiliki bisnis baik online dan offline yang berkembang pesat. Dari bisnis tersebut aku memiliki relasi yang luas seluruh Indonesia.
Dalam kehidupan sosial aku adalah tokoh masyarakat. Beberapa organisasi kemasyarakatan dan sosial saya pimpin. Dengan itu aku selalu dihargai dan dihormati dimanapun berada. Semua aku raih melalui kristalisasi keringat dan dengan perjuangan yang gigih. Dahulu aku bukan siapa siapa lalu menjadi apa apa. From zero to hero. Sampai akhirnya aku berada pada titik yang diliputi dengan berbagai karunia dan kemuliaan.
Kesuksesan yang aku raih tidak membuat aku merasa sombong dan angkuh. Justru dengan ilmu yang aku miliki untuk membantu sebanyak banyaknya orang lain. Banyak orang yang sukses dan bisa membahagiakan keluarganya karena aku bantu perkembangan bisnis mereka. Banyak anak yatim, fakir miskin, korban bencana alam dll yang aku bantu tanpa hitungan. Banyak warga dan masyarakat yang sangat terbantu dengan kehadiranku di tengah tengah mereka.
Sampai kemudian sesuatu yang besar terjadi. Aku merasa sudah menjadi manusia yang terbaik, tetapi entah mengapa masalah justru berawal dari orang terdekat. Seperti apa ceritanya? Simak ya?.
CINTA SAMPAI SURGA
“Salim dulu gih sama papa mas”. Kata istiku Marini kepada mas Revan anak kami ketika hari itu pukul 05.30 hendak berangkat ke sekolah untuk wisuda tahfidz.
“Assalamualaikum Pah, Mas berangkat dulu. Doain Mas ya?”. Mas Revan pamit dengan membawa wajah polosnya
“Iyaa nak, Papa akan selalu mendoakanmu”. Jawabku sambil tersenyum memandang wajah ganteng dan imut berbaju gamis dan peci warna putih dengan selempang warna hitam. Benar benar nampak seperti seorang anak yang sholeh.
Revan Alfairuz adalah anak pertama yang aku harapkan bisa menjadi anak sholeh dan bisa membanggakan orang tuanya suatu saat kelak. Saat kelahirannya dahulu di Bogor penuh dengan perjuangan dan air mata. Lebih dari dua belas jam istri meringis, menjerit menahan sakitnya melahirkan sampai di induksi dan disedot karena jabang bayi tidak kunjung mbrojol.
Setelah melalui perjuangan dari dokter spesialis kandungan dibantu beberapa bidan akhirnya jabang bayi bisa dikeluarkan. Kondisinya cukup memprihatinkan dikarenakan badannya penuh dengan memar dan benjolan akibat dari proses induksi berjam jam. Bahkan memar biru di jidatnya masih terlihat samar samar sampai sekarang. Itulah alasan saya memberikan nama Fairuz yang artinya permata biru.
Disisi lain istriku Marini mengalami pendarahan yang cukup hebat dan membuatnya terkulai lemas. Bahkan saat pembukaan delapan bibirnya megap megap dan mengatakan sudah tidak kuat lagi. Saat itu saya sangat panik dan khawatir dengan keadaannya.
“Oeeeek oeeekkk oeeekkk”. Setelah penantian hampir seharian yang mendebarkan akhirnya terdengar sebuah suara indah yang membuatku tak sangggup menahan air mata. Aku menangis sesenggukan diluar kamar bersalin karena memang peraturan dari manajemen klinik tidak memperbolehkan untuk ikut menyaksikan kelahiran anak pertamaku. Benar benar plong rasa dada ini yang dari tadi terasa sesak.
Aku jadi teringat bagaimana saat kehamilan Marini istriku kami harus pindah pindah kontrakan sampai membuatnya kelelahan dengan kehamilannya. Ditambah asupan gizi yang kurang disebabkan penghasilanku saat itu sebagai sales memang jauh dari kata cukup. Yang ada selalu kurang. Makanya aku cukup terpukul ketika harus menghadapi kenyataan jabang bayi susah keluar, ditambah pendarahan Marini istriku cukup hebat. Bagaimana tidak? Itu semua salahku yang tidak memberikan pelayanan yang terbaik dikarenakan faktor ekonomi.
Ditengah lamunanku terdengar denyit suara pintu yang dibuka pelan pelan. Terdengar langkah kaki seorang bidan yang membawa sesuatu dibalik kain yang masih terdapat percikan darah segar.
“Selamat ya pak Adhin. Bayinya laki laki”. Kata bu Bidan keluar dari ruang bersalin sambil menunjukkan si mungil yang keadaannya cukup memprihatinkan. Banyak memar disana sini.
“Makasih bu bidan”. Jawabku sambil menyentuh pipinya yang lembut.
“Selamat datang ke dunia anakku, jagoanku, belahan jiwaku. Maafkan bapakmu yang selama ini kurang memperhatikan asupan gizi untukmu. Semoga Allah menjadikanmu anak yang sholeh berguna untuk agama, bangsa dan negara. Aku bangga dan bahagia atas kelahiranmu hari ini”. Aku membatin lirih seiring dengan mata yang berkaca kaca.
Waktu terus berjalan dengan angkuhnya tanpa bisa dilawan. Revan Alfairuz terus tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dengan lesung pipi & kulit putih bersih, mirip sekali dengan mamanya. Tanda biru di keningnya justru membuatnya mudah dikenali oleh anak anak lainnya. Revan menjadi kebanggaan kakek & mertua yang selalu mengelu elukannya saat pulang kampung. Wajar saja karena memang memiliki paras yang tampan persis dengan ibunya yang jelita.
Sekarang umurnya sembilan menuju sepuluh tahun kelas empat SDIT Attaqwa Bekasi. Hari ini ceritanya ada acara wisuda tahfidz lima juz yang diselenggarakan di lapangan sekolah. Tentu saja sebagai ayahnya aku sangat bangga dan bahagia, bagaimana tidak? Umur sembilan tahunan sudah bisa hafidz lima juz. Perjuangan selama ini setoran hapalan setiap malam tidak sia sia.
Pagi itu langit di kota Bekasi cukup cerah secerah senyuman kami hari ini. Angin berhembus sepoi sepoi menyapa setiap tanaman bunga yang tumbuh di depan rumah. Entah mengapa dari tadi lebih banyak kucing liar lalu lalang diteras rumah dibanding hari hari sebelumnya. Mungkin mereka hendak mengucapkan selamat atas prestasi keluarga Islami hari ini.
“Ayo pah cap cus, sudah jam 6.30 nih, acara akan segera dimulai”. Kata Marini istriku dengan suara yang agak keras.
“Iya bentar sayaaang, ini mau ngabisin kopi dulu”. Jawabku sambil menyeruput sisaan kopi lalu beranjak menuju teras dan melihat Marini menggunakan gamis hitam yang dahulu aku belikan saat umroh.
“Waaah mama cantik banget pakai gamis ini, ck ck ck…. Dua tambah tiga sama dengan lima…”. Ucapku menggodanya.
“Kita selalu Bersama, udah apal gombalannya, uda basi tauuu”. Jawab istriku sambil tersenyum.
“Ayuk aaah cepetan, udah ditunggu Mas Revan”. Ucap Marini dengan gaya khas merajuknya.
“Iya iya, ayuk berangkat”. Jawabku sambil memegang dan memasukkan kunci motor lalu menekan starter. Breeeeng breeenngg…
Hari ini hari sabtu. Kami sebagai orang tua mendapatkan undangan dari pihak sekolah untuk menghadiri wisuda tahfidz. Jarak rumah kami dan sekolah tidak terlalu jauh, paling lima menit sampai sehingga kami berangkat menggunakan motor Kawasaki ninja warna merah seharga tiga puluh delapan juta yang aku beli cash.
“Waah megah juga ya? Seperti panggung konser”. Kataku berbisik kepada istri.
“Udah udah, ayuk masuk dan duduk di kursi. Tuuch kursi nomor lima dua dan lima tiga, kita duduk disitu”. Jawab Marini langsung menarik tanganku, seakan tidak mempedulikan pertanyaanku barusan.
Panggung wisuda tahfidz SDIT Attaqwa memang cukup megah untuk ukuran sekolah dasar. Tidak heran sih, sebab sekolah ini termasuk sekolah swasta unggulan yang mahal. Tak sia sia aku masukkan anakku disini meskipun saat itu susah payah mencari rezeki untuk membayar biaya masuk sekolah yang waktu itu sampai belasan juta. Buat anak apa sih yang tidak aku lakukan?
Sesekali aku melihat sekeliling tenda yang mulai sesak dengan tamu undangan. Mereka semua memakai baju Islami yang indah indah. Bahkan tidak sedikit yang memakai gamis ala timur tengah. Sebagian membawa buket atau bouquet dengan bermacam macam isinya. Ada buket yang berisi pecahan uang, bunga, jajanan dan lain lain.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya acara dimulai dengan beberapa sambutan dan pertunjukan islami dari anak anak. Ada pertunjukan drama islami, rebana, puisi, dai cilik dan lain lain. Seru sekali acaranya. Beberapa rundown acara sudah selesai, tiba saatnya anak anak tahfidz dipanggil satu persatu untuk naik ke panggung diiringi dengan alunan instrument nasyid islami.
“Ayah bunda yang kami hormati, inilah anak anak kita yang sudah berjuang dan bersusah payah untuk menghapalkan Al Quran. Kepada ananda silahkan naik ke panggung pada saat namanya dipanggil. Yang pertama ananda Muhammad Hafiz kelas 4.1……”. MC memanggil satu demi satu wisudawan tahfidz lima juz untuk naik ke panggung.
“Ya Allah gantengnya, itu Mas Revan pah, ada di baris pertama. Maas ini mama disini”. Kata istriku melambaikan tangannya dari jauh.
Setelah beberapa saat akhirnya semua anak anak sudah naik ke panggung, ada sekitar seratusan peserta wisuda tahfidz tahun ini. Anak anak yang berjuang menghapalkan ayat ayat Allah berbaris rapih menggunakan selempang bertuliskan “wisuda tahfidz gelombang lima SDIT Attaqwa”. Terlihat begitu indah, menawan dan mengharukan seiring dengan bait bait nyanyian yang mereka kumandangkan. Semua anak anak tahfidz bernyanyi “aku ingin menjadi hafidz Quran” dengan kompak diiringi melodi organ yang dimainkan pak guru dengan alunan yang syahdu dan menggetarkan jiwa.
Kuputuskan satu impian
Aku ingin jadi hafidz Quran
Ku akan bertahan, walau sulit, melelahkan
Allah beri aku kekuatan
Kuimpikan sepasang mahkota
Kuberikan di akhirat kelak
Sebagai pertanda bahwa kau sangat kucinta
Aku cinta engkau kar'na Allah
Ku cinta Ummi Ku cinta Abi
Kuharap doamu s'lalu dalam hati
Ku cinta Ummi Ku cinta Abi
Berharap bersama di surga-Nya nanti
Bayangkan saja anak anda menyanyikan bait bait nyanyian “aku ingin menjadi hafiz Quran” ditujukan spesial untuk kedua orang tuanya sebagai bukti bahwa mereka mencintai umi dan abinya. Tentu sebagai orang tua tak kuat mendengar nyanyian merdu menggetarkan jiwa ini. Sama seperti kami. Tak terasa mata ini berkaca kaca seiring bait bait lagu yang dinyanyikan oleh mas Revan dan sekitar seratus anak anak wisudah tahfidz. Terbayang bagaimana mereka berjuang menghapalkan ayat ayat Allah yang tentu tidak mudah. Benar benar sangat tidak mudah.
Sebagaimana mas Revan yang rutin menghapal dan setor ayat demi ayat kepada ku dan kepada pak Wijaya Alkitiri guru pembimbingnya. Tak jarang saat mulai menghapal Al Quran kelas tiga SD, mas Revan menangis karena saya membentak dan memarahinya gara gara menghapalkan dua ayat saja bisa sejam.
“Amma yatasyaa aluun, ‘anin nabail ‘adziim. Gitu aja nggak bisa bisa. Makanya jangan main HP terus, jadi kacau hapalanmu”. Kataku membentak mas Revan yang membuatnya terisak.
“Amma… amma… amma yasaluun…”. Ucap mas Revan terbata bata
“Dari tadi yaasalun yasalin.. Yatasyaaa aaaluuuuun”. Ucapku dengan suara keras karena geram, mosok satu ayat dari tadi nggak bisa bisa
“Hiiikz….”. Lagi lagi mas Revan terisak lalu menyandarkan kepalanya di dada Marini yang datang untuk menghibur dan menguatkannya.
“Udah paa, jangan dibentak mulu, kasian”. Kata Marini sambil mendekap buah hatinya dan mengusap air matanya.
“Gimana papa nggak marah?. Sudah hampir sejam ngapalin satu blok aja nggak becus. Udah kamu setoran sama mamamu aja. Males papa…!”. Hardikku sambil ngeloyor pergi.
Awal awal mas Revan memang sangat kesulitan menghapal Al Quran, bahkan satu ayat bisa sejam. Namun setelah juz tiga puluh bisa dihapalkan, untuk menghapal juz berikutnya jauh lebih mudah. Hanya kurang dari satu tahun sudah bisa melahap beberapa juz sekaligus. Sementara teman teman takhosus lainnya banyak yang kesalip.
Dan sekarang sudah hapal lima juz. Sebuah perjuangan yang sebenarnya tidak dipersembahkan kepada siapa siapa melainkan kepada kedua orang tuanya. Yaitu persembahan mahkota surga yang tak ternilai harganya. Itulah mengapa saat anak anak menyanyikan lagu “aku ingin menjadi hafidz Quran”, mataku meleleh.
Marini istriku terisak dan terus menerus menyapu matanya yang basah dengan tisu yang sudah dipersiapkan. Mungkin membayangkan betapa perjuangan melahirkan mas Revan begitu luar biasa bertaruh nyawa dan sekarang merasa bangga dengan prestasi yang dipersembahkan spesial untuk orang yang sudah melahirkannya.
“Ayah bunda yang kami hormati, sekarang saatnya kita umumkan wisudawan terbaik juz tiga puluh, dua sembilan, dua delapan, dua tujuh dan juz satu…. Adapun wisudawan terbaik akan kami daftarkan untuk lomba MHQ (Musabaqoh Hafidz Qir’an) tingkat kabupaten”. Tak terasa acara sudah berjalan lebih dari satu jam. Dan sekarang pengumuman wisudawan terbaik dibacakan oleh MC Umi Diyah dan pak Robi yang merupakan guru operasional sekolah.
Sejujurnya aku tidak membebani dengan peringkat wisudawan terbaik bagi mas Revan. Bisa hapal lima juz saja bagiku sudah luar biasa membanggakan. Tapi tidak dengan Marini istriku yang menginginkan mas Revan bisa jadi yang terbaik. Marini ingin mendengar nama anaknya disebut saat wisuda nantinya.
“Mas kamu harus sering sholat hajat ya? Berdoa kepada Allah supaya bisa menjadi yang terbaik”. Kata Marini ibunya.
“Iya mah, aku udah sholat hajat kok. Doakan juga mas ya? Biar bisa juara”. Jawab mas Revan polos.
“Setiap saat mama doakan yang terbaik buat kamu nak, setiap saat….”. Jawab Marini sambil memeluk anak lanangnya.
“Wisudawan terbaik Juz tiga puluh jatuh kepada Ananda Muhammad Fatih putra dari Bapak Agung dan Ibu Sinta…. Kepada ayah bunda dari ananda Muhammad Fatih dimohon untuk naik ke panggung”. Umi Diyah dan pak Robi MC mulai mengumumkan nama nama wisudawan tahfidz terbaik. Seiring dengan gemuruh suara tepuk tangan dari para guru dan ayah bunda yang hadir.
Aku yakin orang tua dari ananda Muhammad Fatih sangat bangga mendengar pengumuman ini. Dan memang dari sudut sebelah kanan ku lihat sepasang suami istri dengan pakaian islami khas timur tengah sedang berpelukan sambil terisak. Sepertinya merekalah orang tuanya. Meskipun aku tidak membebankan apapun kepada mas Revan tetap saja aku membayangkan bagaimana bahagianya jika aku jadi mereka.
“Wisudawan juz dua puluh sembilan terbaik jatuh kepada Ananda Zahra Aulia putri dari bapak Joni dan Ibu Melly… Sekali lagi kepada ayah bunda mohon naik ke panggung untuk menemani ananda Zahra menerima piagam dan piala penghargaan. Lagi lagi terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari hadirin.
Jujur meskipun aku tidak membebankan prestasi kepada mas Revan, rasa dada ini sungguh berdebar debar mendengarkan pengumuman wisudawan terbaik. Apalagi istriku Marini mengatupkan kedua tangannya dimulut sambil berkomat komit berdoa semoga mas Revan menjadi wisudawan terbaik, paling tidak mendapat satu piala sudah luar biasa. Ya Allah, hamba tidak bisa bohong kalau dada ini berdebar debar penuh harap dan cemas..
“Ayah bunda sekarang saatnya kita umumkan wisudawan terbaik Juz dua puluh delapan jatuh kepada…….”
Tepat saat MC membaca kalimat terakhir nafas ini serasa tercekat. Aku memejamkan mata dengan kuat seiring dengan jantung yang berdegup kencang.
“…..jatuh kepada Ananda Revan Alfairuz putra dari bapak Adhin dan Ibu Marini. Kepada ayah bunda Revan Alfairuz dimohon untuk naik ke panggung menemani ananda untuk menerima piagam dan piala penghargaan”.
“Allahuakbar…”. Reflek aku membuka mata seraya bertakbir. Terdengar bak petir di siang bolong. Sungguh kami tidak menyangka mas Revan menjadi salah satu wisudawan terbaik. Dada ini ini bergemuruh naik turun menahan kebahagaiaan yang tiada tara. Aku hanya bisa menundukkan kepala tetapi mata ini benar benar basah. Sebagai seorang laki laki yang tangguh jujur aku malu kepada ayah bunda yang hadir jika terlihat sedang menangis. Tapi tidak dengan Marini. Tak henti hentinya istriku menyapu matanya dengan tisu, menangis haru dan bahagia.
“Selamat ya ayah bunda”. Ucapan selamat disampaikan oleh ayah bunda disekitar tempat duduk kami seiring dengan suara gemuruh tepuk tangan dari para guru dan hadirin.
“Wisudawan terbaik juz dua puluh tujuh jatuh kepada…….. Lagi lagi jatuh kepada ananda Revan Alfairuz putra dari bapak Adhin dan Ibu Marini. Waaah ananda Revan mencetak rekor ini”. Ucap MC melanjutkan diiringi suara tepuk tangan yang meriah. Kali ini suara tepuk tangan lebih bergemuruh lagi seiring dengan hadirin dan dewan guru yang berdiri memberikan penghormatan.
Sontak marini memekik dalam isak tangis yang lebih mengharukan. Marini terus sesenggukan sambil menyandarkan wajahnya di dadaku yang membuat baju gamisku basah oleh air matanya. Sementara bibirku bergetar hebat berusaha untuk tidak menangis, tapi tetap bobol juga. Lisan bisa saja diam tapi lelehan air mata tidak bisa berbohong. Entah bagaimana perasaan kami hari ini, benar benar bahagia tak terlukiskan. Benar benar tidak terbayangkan sebelumnya mas Revan bisa dapat dua piala sekaligus. Dan ini baru pertama kalinya dalam sejarah wisuda tahfidz.
“Kepada bapak kepala sekolah dimohon untuk menyerahkan piagam dan piala penghargaan sebagai bentuk apresiasi kami kepada ananda yang telah berjuang untuk menghapalkan Al Quran”. Ucap MC.
Bapak kepala sekolah naik ke panggung untuk menyerahkan piagam dan piala sebagai bentuk penghargaan kepada wisudawan terbaik. Setelah sesi foto foto acara dilanjutkan dengan iringan bait bait lagu Mars Murojaah yang dinyanyikan oleh anak anak dengan syahdu, diiringi dengan nada symphony yang mendayu. Bait bait syair yang tidak hanya menggetarkan jiwa dan melelehkan air mata kami tetapi seluruh hadirin, ayah bunda dan para guru tahfidz.
Menjadi para penghafal qur'an
Tak semudah membalikkan tangan
Penuh perjuangan, Butuh pengorbanan
Ketekunan juga kesabaran.....
Surat demi surat di bacakan, Ayat demi ayat di hafalkan
Tidak pernah bosan untuk melafadzkan
30 juz pun di khatamkan...
Muroja'ah setiap hari, Tanamkanlah didalam diri..
Muroja'ah setiap hari, Demi untuk membangun negeri..
Ketika sendiri, Duduk atau berdiri
Muraja'ah tak pernah berhenti
Ketika sendiri, Duduk atau berdiri
Mari muraja'ah sampai mati...
Allahummarhamna bil quran. Waj'alhu lii imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhu maa jahiltu warzuqnii tilawatahu aana-allaili wa'atrofannahaar waj'alhu li hujatan ya rabbal 'alamin.
Tibalah sesi terakhir atau acara penutup yang tidak kalah mengharukan pada saat MC membacakan puisi yang sangat dijiwai tentang mahkota surga. Seiring dengan MC meminta anak anak turun dari panggung menghampiri kedua orang tuanya masing masing untuk menyematkan mahkota yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
“Anak anakku, mari kita bergandengan tangan untuk menyematkan mahkota terindah kepada umi dan abi, itulah cita cita kita. Hampiri orang tua kalian, peluuuk, cium kedua orang tua kalian. Minta maaf kepada mereka karena selama ini kita sering membuat kedua orang tua marah bahkan menangis”
MC menyampaikan pidato lantang yang menggetarkan jiwa dan raga. Seiring dengan satu persatu para wisudawan tahfidz turun dari panggung untuk menuju para orang tuanya dan menyematkan mahkota diatas kepalanya. Mereka disambut dan di peluk erat erat oleh kedua orang tua dengan tangisan kebahagiaan. Saling berpelukan untuk menumpahkan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Hampiri kedua orang tua kalian, peluk dan sematkan mahkota yang sudah kalian siapkan. Hampiriiii kedua orang tua kaliaaann…. Hampiri dan peluk orang tua kalian sebelum orang tua kalian tiada dan kalian akan menyesal selama lamanya. Berjanjilah kalian kepada kedua orang tua kalian untuk menjadi lebih baik”
“Untuk ayah bunda inilah ananda yang sering membuatmu marah dan menangis, peluk anaknya, dekap dengan erat. Peluuuk lebih erat lagi ayah bunda… Luar biasa perjuangan anak anak kita. Susah payah mereka menghapalkan Al Quran, hanya ingin menyematkan mahkota surga kepada ayah bunda. Ooooh Tuhan, nikmat Tuhan mana lagi yang akan engkau dustakan, karena engkau memiliki anak anak yang sholeh dan sholehah. Anak kebanggaan kita semua”
Sungguh momentum saat itu begitu syahdu dan mengharukan. Pecah tangisan massal penuh keharuan mengiringi prosesi sakral ini. Benar benar tangisan massal yang membuat suasana begitu riuh dalam keharuan. Sebagaimana kami sudah meleleh melihat mas Revan dengan wajah polosnya turun dari panggung dengan membawa dua piala dan dua mahkota dari surga. Tidak diberikan kepada siapa siapa tetapi diberikan kepada dua orang yang sangaaat dicintai yaitu Abi dan Umi.
“Come to me, datanglah kepadaku nak, berikan aku mahkota surga itu”. Ucapku membatin. Istriku Marini menyambut mas Revan dengan pelukan seerat eratnya seiring dengan isakan tangisnya. Lalu aku memeluk keduanya juga dengan linangan air mata penuh kebahagiaan.
Allahummarhamna bil quran. Waj'alhu lii imaman wa nuran wa hudan wa rohmah.
Hari ini langit diatas sekolah dasar islam terpadu Attaqwa begitu indah. Awan putih berarak memayungi seakan ingin menaungi nuansa kebahagiaan insan yang sedang dirasakan. Sebuah pemandangan yang mempesona.
Beberapa hari kemudian…
Tidak seperti hari hari sebelumnya, malam ini cuaca diatas langit SDIT Attaqwa cukup panas. Tidak terlihat mega di angkasa yang menandakan cuaca yang cerah. Panasnya malam sepanas rapat dewan guru malam ini. Hari ini dewan guru melaksanakan miting terkait dengan lomba tahfidz tingkat kabupaten.
“Gawat nih, yang daftar lomba tahfidz tingkat kabupaten ada lebih dari dua ratus sekolah. Banyak sekolah sekolah islam unggulan yang daftar”. Pak Robi salah satu staff guru sedikit memekik ketika melihat banyaknya list sekolah yang daftar lomba tahfidz tingkat kabupaten yang diadakan oleh kementerian agama tahun ini.
“Hadeeh, mana ada SD Attahfidz juara bertahan, pupuslah harapan kita untuk membuat sekolah kita lebih terkenal”. Tambah umi Diyah sambil mondar mandir. Umi Diyah juga salah satu staff guru di SDIT Attaqwa bagian operasional.
“Padahal lomba ini adalah pertaruhan sekolah yang slogannya membudayakan Al Quran sejak dini. Dan kita pernah berjanji kepada para wali murid kalau tahun ini akan berjuang sangat maksimal untuk merebut piala dan meraih juara. Kalau sampai nggak juara bisa hancur reputasi sekolah”. Lanjut Pak Robi sambil memegang keningnya menandakan kecemasan.
“Semoga ananda Revan bisa tambil baik. Dan selama ini memang dialah yang paling menonjol hapalannya. Yang penting selama ini saya sudah berusaha mendidiknya”. Kata Abi Wijaya guru pembina anak anak tahfidz sambil mengatupkan kedua tangannya. Meskipun sudah berusaha maksimal mendidik anak anak tahfidz sejujuranya Abi Wijaya juga merasakan kecemasan yang sama.
“Afwan, sebaiknya semua tenang. Yang penting dewan guru sudah berusaha, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Memang sulit, tapi kita harus berdoa untuk yang terbaik”. Ust Maksum guru senior mencoba menenangkan suasana, meskipun dia sendiri agak ragu. Ditambah selama ini sekolah mereka belum pernah juara tingkat kabupaten.
“Tenang semua.. Tenaaang”. Pak Muntaha selaku kepala sekolah angkat bicara
“Memang agenda kali ini sangat krusial, makanya kita siapkan jauh jauh hari sebelumnya. Meskipun sekolah kita belum pernah dapat juara tingkat kabupaten namun perjuangan tahun ini untuk menjadikan sekolah kita menjadi sekolah tahfidz yang terdepan sudah dilakukan maksimal. Betul kata ustadz Maksum selaku pembina guru tahfidz, kita sudah berusaha urusan hasil kita serahkan kepada Allah”.
“Tapi pak, gimana kalau nanti kita………”. Umi Diyah memotong ucapan pak Muntaha, nampak kekhawatiran yang jelas dari wajahnya.
“Sudah sudah… Semua harus yakin dan jangan lupa doakan ananda Revan bisa mengharumkan nama sekolah kita. Pak Robi dan Umi Diyah tolong dampingi ananda Revan ke kementerian agama pada tanggal yang sudah ditentukan. Rapat kita tutup”. Ujar pak Muntaha.
Rapat ba’da isya ditutup pukul 22.00 WIB. Para guru tahfidz meninggalkan ruang miting dengan wajah sayu. Ada harap dan cemas yang membuncah dalam dada mereka. Dari pagi mereka mengajar anak anak, sorenya mematangkan persiapan lomba sampai harus lembur sampai malam. Semua dilakukan demi sekolah kebanggaan tempat mereka mengajar. Demi reputasi dan harga diri sekolah dasar unggulan Islam Terpadu.
(Apakah ananda Revan mampu mengharumkan nama sekolah SDIT Attaqwa? Baca lanjutan novel Misteri 2 Cinta Full Version ya?)
.............................................. (Skip)
---------------------------------- (Skip)
Langit kota Bekasi saat itu benar benar indah seindah aura kebahagiaan yang menyelimuti seluruh anggota keluarga besar SDIT Attaqwa. Angin sepoi sepoi mengalir memberikan hawa kesejukan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dari jauh berjarak sekitar sekitar limabelas kilo meter terpampang pemandangan pantai yang mempesona. Tiba tiba terjadi venomena air pasang memicu gelombang ombak yang menari nari seakan akan ikut merasakan kebahagiaan.
“Seneng nggak tadi Mas?”. Tanyaku kepada mas Revan sambil mengelus rambutnya.
“Seneng banget pah, besok besok lagi yah?”. Jawab mas Revan dengan ekspresi bahagia terpancar dari wajah imutnya.
“Beres itu mah, yang penting kamu berprestasi. Apa aja nanti papa beliin”. Jawabku.
“Oya pa, masak tadi pas aku main di game zone ada anak yang lumpuh kakinya pakai kursi roda mendatangiku. Terus anak itu menasehati supaya jangan sombong. Terus bilang begini, kakimu baik baik saja kan? Nggak lumpuh kan?. Itu kenapa ya pa?”. Tanya mas Revan penasaran.
“Nggak usah dipikirin lah, kan kakimu baik baik saja. Udah ya? Sekarang sudah larut, kamu masuk kamar dan segera tidur ya nak?”. Jawabku.
“Baik pah, Mas bobo dulu ya?”.
“Anak pintar, sini cium dulu”.
Terkait dengan anak lumpuh memang dari jauh aku memperhatikan mas Revan ngobrol dengannya. Terus ada seorang bapak bapak disebelahku mengingatkan untuk menjauhi anak lumpuh tersebut. Katanya anak lumpuh ini adalah anak indigo yang bisa meramal masa depan. Belum lama ini anak lumpuh tersebut mengatakan sesuatu kepada salah satu anak yang main di game zone. Tidak lama setelah itu anak tersebut juga mengalami kelumpuhan lalu meninggal.
“Jangan jangan..... Ah mitos. Khurafat. Hari gini masih ada yang percaya gituan”. Batinku.
Waktu sudah cukup larut. Aku berjalan menuju kamar untuk rehat. Di dalam kamar terlihat Marini istriku menggunakan daster seksi sedang asyik mainan HP. Terlihat begitu cantik dan menggoda.
“Udah mainannya, sudah larut malam. Ayuk tidur”. Kataku.
“Khan lagi nunggu papah, sekalian balas WA tetangga dan para guru yang ngucapin selamat. Kok papa lama banget sich. Nggak peka sudah ditungguin dari tadi”. Jawabnya sambil meletakkan HP nya.
“Khan tadi nemenin mas Revan. Gimana, kamu seneng nggak anakmu juara?”. Tanyaku sambil merebahkan badan disampingnya.
“Seneng dong, pake banget nget, anak mama gitu loch”. Jawabnya sedikit centil.
“Sekarang mama mau apa lagi biar makin seneng?”. Tanyaku.
“Aku nggak mau apa apa, Cuma mau papa setia selama lamanya. Awas kalau sampai selingkuh mama potong burungnya”. Jawabnya makin centil
“Laah khan emang aslinya papa setia? Terbukti khan?. Kalau mau potong, potong aja sekarang, nih”. Jawabku menggodanya
“Setia dari hongkong, buktinya tadi saat jalan jalan ke tempat wisata masih lirak lirik sana sini liatin perempuan seksi, ayo ngaku”. Protes Marini sambil mencubit pahaku
“Aduuuh, apaan sih. Siapa bilang ngelirik. Dikit doang kok, hehehe…”. Jawabku yang membuat Marini semakin keras mencubit tangan dan kakiku.
“Dasar laki laki buaya. Asal ada perempuan seksi dengan bibir merah merona pasti lupa anak istri. Mulai sekarang haram bagi papa liatin wanita seksi merah merona. Ingat itu”. Ucap Marini.
“Ampuuun ampuun, iya ya nggak ngelirik lagi. Lagian ngapain ngelirik yang lain? Bagi papa dirimulah wanita paling seksi dan merah merona. Kamu juga jangan sekali kali foto seksi merah merona kepada laki laki lain loh ya? Khusus untuk papa saja di ranjang cinta”. Jawabku menggoda Marini.
“Ya nggak mungkin lah paaaaah.. Mustahil itu. Semua yang ada pada mama sudah menjadi milik papa seorang. Emang aku perempuan apaan. Perempuan yang pamer kecantikannya diluar itu nggak punya kehormatan dan harga diri”. Ucap Marini.
“Papa juga.. Papa sudah sangat bahagia dengan rumah tangga kita, nggak terlintas sama sekali untuk berbagi cinta. Bagi papa kamu dan anak kita adalah segala galanya. Cintaku habis untuk kalian”. Jawabku meyakinkan Marini.
“Bener loch ya? Awas kalau bohong. Khan papa tahu sendiri, seorang istri paling takut suaminya tidak setia. Seorang wanita itu jika sudah menyerahkan hatinya maka selamanya akan dijaga hanya untuk satu orang laki laki saja. Hanya untuk satu laki laki saja, ingat itu”. Kata Marini dengan wajah serius.
“Iya papa paham. Papa janji akan menjaga hatimu selama lamanya, kamu juga ya?”. Jawabku sambil membelai rambut panjangnya yang indah.
“Tanpa di suruh pun mama akan menjaga rumah tangga kita. Susah ataupun senang mama akan menemani papa selama lamanya. Papa harus janji cinta kita sampai surga yach?”. Kata Marini mulai memelukku.
“Cieee romantis amat, dua ditambah tiga sama dengan lima…” Kataku sambil membalas pelukannya
“Kita selalu Bersama…”. Jawab Marini semakin mendekapkan dirinya dalam pelukanku.
“Oh ya, papa ada satu lagu untukmu. Takkan ada yang pisahkan kita. Sekalipun kau telah tiada. Akan ku pastikan. Ku kan memeluk menciummu di surga”. Ku lantunkan petikan lagi Wali Band untuk bidadari surgaku.
I love you so much”. Kataku sambil mencium bibir ranumnya dengan sepenuh rasa.
“Love you too”. Jawab Marini membalas ciumanku.
"Allaahuakbar....!!!". Pekikku sedikit menjerit.
"Ya Allah ada apa pah?". Tanya Marini keherenan.
"Ah nggak apa apa, ayuk tidur". Jawabku berbohong. Aku sungguh kaget sebab ketika mencium marini sambil memejamkan mata sekilas aku melihat 3 ekor ular besar yang mengerikan menggeliat diatas ranjang. Hanya sepersekian detik namun nyata sekali. Dadaku berdebar debar membawa kecemasan yang luar biasa. Ah entahlah, mungkin aku halusinasi.
Jika malam malam sebelumnya langit begitu cerah, tapi malam itu di langit Bekasi cukup dingin. Mendung tebal menyelimuti angkasa. Tebal sekali, tidak seperti biasanya. Anehnya mendung tebal itu seperti berputar putar dan berkumpul diatas rumah bapak Adhin Busro Alfafiz dan Ibu Marini. Venomena yang aneh…. Ada apakah gerangan? Sepertinya akan segera turun hujan deras disertai petir yang menggelegar.
“Jlegiiiaarrrrr….!!”. Benar saja. Tiba tiba langit terang seperti tengah hari dihantam oleh kilat yang menyilaukan mata. Sesaat kemudian guntur menggelegar keras seakan akan hendak membelah bumi. Sebuah suara yang mengagetkan dan memekakkan telinga.
Ada satu lagi venomena alam yang aneh. Mengapa kilat yang menyambar nyambar dari langit seolah olah menukik tepat diatas atap rumah Bapak Adhin Busro Alhafiz?. Apakah itu venomena alam biasa atau akan terjadi sesuatu yang besar?
Tapi entahlah, biarkan langit dengan urusannya sendiri. Suasana langit tidak seperti suasana hati kami yang dipenuhi dengan gejolak cinta syahdu. Cinta selama lamanya. Bersenandung gending asmorodono malam itu kami bergelut memadu cinta dalam rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah until jannah. Cinta sampai surga.
.........................................................
........................................................
SAHABAT SAMPAI SURGA
Adhin Busro Alhafiz itulah namaku. Saat merantau ke ibu kota aku benar benar memulai dari nol. Aku memulai pekerjaanku dengan menjadi sales roti, sales obat sampai kemudian pindah pekerjaan menjadi sales alat alat berat misalnya genset, tractor dan mesin mesin berat lainnya.
------------------------------------------
........................................................................................
Bersambung.....!!!!
1. Novel Misteri 2 Cinta versi PDF/ oflline
2. Novel Misteri 2 Cinta versi web (online)
3. Grup WA Misteri 2 Cinta
4. Reseller Misteri 2 Cinta
5. Produk tambahan eksklusif hanya untuk member
6. Produk bonus senilai jutaan
Untuk mendapatkan FULL Access Misteri 2 Cinta klik link wa dibawah ini: