MENCARI JAWABAN 77 PERTANYAAN SEBELUM LAHIR KEDUNIA
MENCARI JAWABAN 77 PERTANYAAN SEBELUM LAHIR KEDUNIA
Sebelum aku mengenal cahaya dunia, sebelum udara pertama menyentuh paru-paruku, aku merasa seolah pernah menjawab sesuatu — mungkin bukan satu, bukan dua, tapi puluhan pertanyaan yang tak terucap. Dalam keheningan yang lebih sunyi dari waktu, aku berdiri di hadapan suatu keagungan yang tak dapat kugambarkan. Di sana, aku menjawab “ya” tanpa ragu, seolah seluruh jiwaku telah tahu arah kebenaran.
Namun setelah aku lahir, semua itu lenyap seperti embun pagi. Aku tumbuh, belajar nama-nama, mengenal rasa, mengenal luka, dan perlahan lupa akan perjanjian purba itu. Hingga suatu hari, di tengah kesunyian hidup yang terasa hampa, muncul pertanyaan yang mengguncang: Apakah aku pernah menjawab sesuatu sebelum aku dilahirkan?
Mungkin itulah yang disebut para arif sebagai “Mitsaq al-Alast”, perjanjian abadi antara manusia dan Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’”
(QS. Al-A‘raf [7]: 172)
Ayat ini seperti membuka tabir misteri terdalam manusia. Sebelum kita mengenal dunia, ruh kita telah berdialog dengan Tuhan. Dan mungkin “77 pertanyaan” itu hanyalah simbol dari banyaknya kesadaran yang pernah kita alami di alam ruh. Setiap pertanyaan adalah cermin yang menyingkap jati diri sejati kita — siapa kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita akan kembali.
Ruh yang Pernah Menjawab
Bayangkan seandainya di alam itu, Tuhan bertanya bukan hanya satu hal, tetapi banyak hal. Bukan karena Dia tidak tahu, tetapi agar ruh manusia mengetahui dirinya sendiri.
Mungkin pertanyaannya seperti:
“Apakah engkau akan berlaku adil ketika memiliki kuasa?”
“Apakah engkau akan bersyukur ketika diberi rezeki?”
“Apakah engkau akan tetap ingat kepada-Ku ketika dunia memujimu?”
“Apakah engkau akan kembali ketika Aku memanggilmu pulang?”
Dan kita semua menjawab, ‘Ya, Tuhanku. Aku bersaksi.’
Tapi ketika ruh turun ke dunia, dibungkus jasad, dilupakan alam ruh, dan dikelilingi oleh waktu, kita lupa pada janji itu. Kita belajar banyak hal di dunia — ilmu, cita-cita, ambisi — namun jarang belajar untuk mengingat.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”
(QS. At-Tin [95]: 4–6)
Kita datang dengan kesempurnaan ruh, tapi dunia menguji kesetiaan kita terhadap kesempurnaan itu.
Makna 77 Pertanyaan
Mengapa 77? Angka ini bukan hitungan literal, melainkan simbol dari keluasan kesadaran manusia.
Angka 7 dalam Al-Qur’an melambangkan kesempurnaan ciptaan: ada tujuh langit, tujuh lapisan bumi, tujuh kali tawaf di Ka’bah, tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah.
Maka “77 pertanyaan” melambangkan kesempurnaan yang berlapis — perjalanan ruh menuju kesadaran penuh.
Setiap pertanyaan yang dijawab ruh sebelum lahir menjadi benih dalam hati manusia. Benih itu disebut fitrah, kecenderungan alami untuk mengenal dan menyembah Allah.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS. Ar-Rum [30]: 30)
Namun setelah lahir, fitrah itu tertutup oleh debu dunia: kesibukan, keinginan, dan kelalaian. Hidup kemudian menjadi ruang ujian — bukan untuk menemukan Tuhan, tetapi untuk mengingat kembali apa yang sudah kita ketahui.
Menjawab Ulang di Dunia
Setiap peristiwa dalam hidup adalah “pertanyaan ulang” dari 77 pertanyaan itu.
Ketika kita diuji dengan kehilangan, Allah seolah bertanya:
“Apakah engkau masih percaya bahwa Aku Maha Pengatur?”
Saat kita diberi kenikmatan, pertanyaannya berubah:
“Apakah engkau akan bersyukur atau lupa?”
Dan ketika kita dihadapkan pada pilihan antara ego dan kebenaran,
“Apakah engkau akan mengikuti cahaya yang dulu engkau janjikan?”
Setiap amal, setiap doa, setiap detik kesadaran adalah cara kita menjawab ulang pertanyaan-pertanyaan itu dengan kehidupan nyata.
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk [67]: 2)
Jadi, hidup bukan ujian yang datang tiba-tiba. Ia adalah kelanjutan dari perjanjian yang telah dimulai di alam ruh. Dunia adalah ruang praktik dari janji yang pernah kita ucapkan di hadapan Tuhan.
Mengembalikan Ingatan Ruh
Ketika manusia berzikir, membaca Al-Qur’an, atau merenungi keheningan malam, ia sebenarnya sedang mengetuk kembali pintu ingatannya yang paling tua. Ia sedang berusaha menghidupkan kembali kesadaran purba itu — kesadaran bahwa kita telah menjawab “ya” kepada Tuhan jauh sebelum dunia mengenal nama kita.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 20–21)
Setiap tanda di langit dan bumi adalah pengingat. Setiap desir hati yang merindukan kebenaran adalah panggilan. Setiap doa yang lahir dari keikhlasan adalah gema dari perjanjian yang telah terucap di alam ruh.
Penutup: Menjawab Kembali dengan Hidup
Kini aku mulai mengerti. “77 pertanyaan sebelum lahir” bukanlah ujian yang harus kuingat satu per satu, melainkan kesadaran yang harus kuhidupkan setiap hari.
Aku menjawabnya bukan dengan kata, tapi dengan amal, dengan sikap, dengan cinta, dan dengan kesetiaan kepada cahaya yang dulu pernah menuntunku.
Karena pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup ini akan kembali pada satu pertanyaan yang sama:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
(QS. Al-A‘raf [7]: 172)
Dan semoga, di akhir hidupku nanti, ketika pertanyaan itu kembali diajukan, jiwaku bisa menjawab dengan penuh keyakinan seperti dulu:
“Betul, Engkau Tuhanku. Aku bersaksi.”