M A D S A K A
MTsS Muhammadiyah Kasihan
MTsS Muhammadiyah Kasihan
Madrasahnya Manusia
Membaca adalah sebuah pekerjaan kultural. Kultur dan peradaban suatu bangsa dapat terlihat dari minat baca masyarakatnya. Dengan membaca, alam pikiran kita menjadi luas dan tanpa batas, lepas dari belenggu waktu dan tempat yang sempit. Membaca juga menjadi sarana ekspresi diri dalam berkomunitas serta untuk terus maju menuju pencerdasan dan pencerahan. Akan tetapi, sungguh memprihatinkan apabila kita melihat minat baca masyarakat negaraku yang sedang berkembang menuju kemajuan dan kesejahteraan bagi negara dan masyarakat.
Sebenarnya kita mempunyai kemampuan psikis secara batiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan ini, akan tetapi kita tidak pernah serius untuk menggali dan mengembangkannya. Akibatnya kita masih saja sering kebingungan di saat sebuah persoalan mempengaruhi perasaan kita. Kegelisahan dan kecemasan dibiarkan mendera sampai akhirnya menyebabkan kita lunglai lemah. Kemampuan dan potensi yang ada itu sebenarnya dapat diatur dan dikembangkan jika kita punya kemauan untuk kemajuan pribadi dan nasionalisme yang tinggi.
Bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke memiliki kekayaan berupa puluhan etnis dan ratusan ragam seni serta budaya. Dalam dinamika kehidupannya, setiap suku bangsa memiliki rangkaian kata yang bisa membangkitkan semangat/ etos kerja berbentuk pribahasa, slogan/ motto atau semboyan. Satu diantaranya kami petik semboyan dari etnis Jawa yang menjadi budaya kerja kelompok dalam usahanya meraih kesuksesan, yang berbunyi :
"Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe"
Setiap individu dalam masyarakat Jawa dengan kesadaran penuh diharapkan jauh dari mementingkan diri sendiri. Kalaupun suasananya ramai itu karena mereka bekerja bergotong-royong yang semata-mata ditujukan untuk meraih keberhasilan bagi kepentingan bersama.
Sebenarnya penyebab keberhasilan itu datang dari setiap individu. Tuhan Yang Maha Kuasa telah merancang sistem kehidupan ini agar setiap individu dalam setiap usahanya itu senantiasa berhasil, asalkan ia bersedia menjadi pribadi yang baik. Oleh karena itu, jika saat ini kita berjalan dalam sistem Tuhan Yang Maha Kuasa, pilihan kita sudah tepat karena yang kita lakukan adalah menyatakan kebaikan dalam pikiran, perkataan, prilaku/perbuatan, perasaan. Sehingga kita menjadi pribadi yang pantas menerima keberhasilan sebagai buah dari kebaikan.
Dan jangan lupa keberhasilannya itu juga karena dekat dengan orang-orang disekitar kita yang sedikit banyak bisa membantu dan menikmati kebaikan kita. Jadi kesetiaan untuk melakukan kebaikan adalah jalan menuju keberhasilan. Akumulasi dari hasil kerja secara bersama (melibatkan orang lain) hasilnya akan tentu berlipat ganda.
Manusia tercipta tidak hanya diciptakan sebagai manusia individual, ia juga makhluk sosial. Seseorang pasti membutuhkan orang lain selama hidup di dunia. Jadi pencapaian kesuksesan kita tergantung kepada seberapa besar keinginan kita untuk mendapatkan bantuan orang lain guna meraih kesuksesan.