Essay
TELADAN IMAN DAN KEPRIBADIAN BUNDA MARIA
DALAM MENGHAYATI PERJALANAN IMAMAT
Oleh: Fr. Aldy Tulu
Awal Kata
Perjalanan imamat seorang imam merupakan totalitas pelayanan untuk karya Allah di dunia. Oleh karena itu, seorang imam harus mempunyai kualitas hidup rohani yang baik, dan didasarkan padakesatuan dengan Kristus dan pelayanan kepada sesama. Tentunya iman, kesiapan, dan kerendahan hati serta kesetiaan, menjadi kunci utama untuk menjalani tugas perutusan yang diberikan oleh Allah. Seorang imam perlu belajar dari Bunda Maria sebagai yang memberi teladan bagi umat manusia.Bunda Maria dipilih oleh Allah untuk suatu karya pelayanan. Kesiapan Bunda Maria untuk menerima tugas perutusan serta kepribadian Bunda Maria yang rendah hati, dan ketaatannya menjadi teladan yang baik bagi umat manusia, juga bagi para imam yang menjalani tugas pelayanannya. Bunda Maria menunjukan imannya, dengan taat pada janji Allah, berserah untuk karya Allah bagi umat manusia dalam diri Yesus Kristus. Sejak pertemuan dengan malaikat Gabriel, Bunda Maria tidak pernah mengeluh tentang tugas perutusan yang diberikan oleh Allah. Bunda Maria dengan keteguhan imannya, yakin akan rencana Allah, dan berusaha untuk menyanggupinya.
Ajaran Gereja Tentang Maria Bunda Allah
Sejak semula gereja mengakui dan mengimani Maria sebagai Bunda Allah. Gereja bahkan Mengeluarkan doktrin-doktrin tentang Maria Bunda Allah, melalui beberapa dokumen.
Allah telah mempersiapkan Maria sejak awal. Dalam perjanjian lama digambarkan keikutsertaanya dalam mewujudkan karya keselamatan Allah. Dalam perjanjian lama, Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kitab suci perjanjian lama menubuatkan bahwa memang Maria yang dipersiapkan oleh Allah. Hal ini terlihat dalam nubuat nabi Yesaya: “sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: sesungguhnya seorang perempuan akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamai Dia Imanuel” (Yesaya .7:14).Nubuat perjanjian lama ini digenapi dalam perjanjian baru. Kitab suci menegaskan bahwa Yesus yang lahir dari rahim Maria adalah Tuhan sendiri, seperti yang dikatakan oleh Elisabeth, “siapakah aku ini, sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas.1:43). Karena itulah, sejak abada IV Maria disebut sebagai Theo-tokos, Dei Genitrix yang berarti melahirkan Allah. Dua istilah ini dalam bahasa
Latin disebut Mater Dei yang diartikan sebagai Bunda Allah. Istilah dan gelar Theo-tokos (Bunda Allah) dan Dei-genitrix (melahirkan Allah)diresmikan dan didogmatisasikan oleh konsili efesus pada tahun 431.
Konsili Vatikan II menjelaskan tentang perawan Maria dalam misteri inkarnasi sabda. Ditekankan bahwa ajarannya tentang Maria, menduduki tempat paling luhur sesudah Krsitus dalam Gereja kudus. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja mengeluarkan dokumen-dokumen yang memuat beberapa hal untuk memperdalam pengetahuan umat tentang Maria sebagai Bunda Allah dan Bunda Gereja. Dokumen-dokumen itu ialah Redemptoris Mater, Mulieris Dignitatem, dan Katekismus Gereja Katolik.Maria Bunda Allah dalam Redemptoris Mater, Mulieris Dignitatem, dan Katekismus Gereja Katolik.
Redemptoris Mater
Dokumen ini menuliskan dengan jelas, bagaimana peran Maria dalam tata keselamatan Allah, khususnya dalam proses inkarnasi sabda.
Mulieris Dignitatem
Dokumen ini menegaskan tentang adanya gelar Maria sebagai Bunda Allah.
Kateskismus Gereja Katolik
Berkat kelahiran Yesus Puteranya itu, gereja katolik mengakui dengan sungguh bahwa Maria sebagai Bunda Allah.
…Oleh dorongan Roh Kudus, maka sebelum kelahiran Putranya ia sudah dihormati sebagai Bunda Tuhan-Ku (Lukas 1:43). Ia yang dikandungnya melalui Roh Kudus sebagai manusia, dan yang dengan sesungguhnya telah menjadi Putranya menurut daging sungguh benar Putra Bapa yang abadi, Pribadi kedua Tritunggal mahakudus Gereja mengakui bahwa Maria dengan sesungguhunya Bunda Allah. [Theotokos yang melahirkan Allah] (KGK 495).(Agus Widodo a, 2021)
Panggilan untuk menjadi imam, ialah sebuah tugas perutusan dari Allah, bagi manusia untuk tugas pelayanan di dunia. Tugas perutusan ini dipandang sebagai sebuah rahmat dari Allah, untuk suatu tujuan yang luhur dan mulia. Rahmat tahbisan yang diterima seorang imam, membuat mereka menjadi gambar Kristus sendiri. Untuk itu, mereka yang ditahbiskan menjadi seorang imam, mengambil bagian dalam tugas pokok, untuk mewartakan sabda Allah sebagai nabi, menguduskan sebagai imam dan menggembalakan umat Allah sebagai raja(Tantani Binti Longkiad, 2022). Tiga tugas ini menjadi karya utama pelayanan para kaum tertahbis. Untuk itu, dibutuhkan kesiapan, kesetiaan, serta kerendahan hati dalam
menjalankan tugas luhur ini bagi karya keselamatan Allah di dunia. Imam sebagai gambaran Kristus sang kepala dan gembala terungkap jelas dalam cinta kasih yang tidak lain adalah pemberian diri secara total, kepada Gereja, dengan mengikuti teladan yang diberikan oleh Kristus sendiri(Tantani Binti Longkiad, 2022). Iman, kesiapan, kesetiaan serta kerendahan hati, menjadikan seorang imam sebagai pemimpin yang berkualitas, yang mampu untuk dijadikan sebagai teladan. Untuk itu, para imam perlu belajar beberapa hal ini, dari kepribadian Bunda Maria, yang telah terlebih dahulu menjalankannya.
Teladan Iman dan Kepribadian Bunda Maria Dalam Tugas Perutusan Sebagai Imam.
Bunda Maria menjadi teladan iman bagi umat manusia. Bagi Bunda Maria, beriman berarti percaya kepada seluruh kehendak Allah, akan segala rencananya, dan seluruh yang diperbuatNya(Wibowo & Virdei Eresto Gaudiawan, 2017). Iman menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan secara pribadi. Dalam iman, manusia menemukan Allah. Kemauan untuk beriman seperti Bunda Maria, perlu dinyatakan dengan kesanggupan diri, untuk melaksanakan segala rencana Allah. Demikian seorang imam pun, dalam menjalankan tugas imamatnya, perlu membangun relasi dengan Allah. Para imam selalu setia dalam doa, dan menghayati kehendak Allah, dalam keseharian hidupnya, juga dalam tugas pelayanan. Bunda Maria, selalu setia dalam berdoa kepada Allah, dan setia dalam menghayati kehendak Allah dalam keseharian hidupnya. Oleh karena itulah, ia dipilih Allah untuk karya keselamatan. Perjalanan imamat tidaklah mudah, sebab seorang imam perlu mengenal imannya secara matang, agar mampu menjalani tugas perutusan. Iman tentu berpengaruh bagi tugas pelayanan seorang imam. Dengan iman, seorang imam, dengan yakin dan tanpa ragu-ragu mewartakan kehendak Allah, sebab ia telah terlebih dahulu mengimani kehendak Allah dalam hidupnya, agar nantinya ia mejadi teladan bagi banyak orang sama seperti Bunda Maria.
Ketika menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel untuk mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, Bunda Maria dengan kesiapan dan kerendahan hati menerima semua yang dipercayakan oleh Allah kepada dirinya. Bunda Maria tidak memberikan protes sebab ia yakin akan semua yang dikehendaki oleh Allah.Bunda Maria memasrahkan semuanya pada rencana Allah.
Seorang imam pun, dalam menjalankan tugas imamatnya perlu kesiapan hati
, untuk menjalaninya. Yakin akan segala rencana Allah, bahwa semuanya telah Allah kehendaki. Dengan kesiapan hati yang tulus, berarti seorang imam dengan sadar dan mau untuk benar-benar memberi diri dalam karya Allah, memberi diri kepada gereja, juga bagi banyak orang, untuk melayani. Bunda Maria memberi dirinya untuk ikut serta dalam karya keselamatan Allah bagi banyak orang.
Bunda Maria menunjukkan kesetiaannya pada Allah, dengan benar-benar taat pada firmannya. Dalam tugas perutusan, Bunda Maria, dengan rendah hati menerima segala kehendak Allah atas dirinya. Ia mengandung dan melahirkan Yesus, dan menemani kehidupan Yesus hingga wafat di kayu salib. Bunda Maria menganduung, memelihara, dan menemani Yesus hingga tugasnya tuntas(Wibowo & Virdei Eresto Gaudiawan, 2017). Kesanggupan Maria pada Roh Kudus adalah kunci dari kesanggupan untuk menerima tugas dari Allah sebagai ibu Yesus.
Dalam menjalani kehidupan imamat dan tugas perutusan, para imam perlu setia, pada pilihannya. Menjadi imam itu mudah, yang tidak mudah ialah bagaimana cara mempertahankannya. Kesetiaan itu mahal.Oleh karena itu, Bunda Maria menjadi teladan bagi banyak orang untuk hidup setia pada pilihan, sebab tidak semua orang mampu setia pada pilihan, terutama pada pilihan-pilihan yang sulit. Imam menjalani tugasnya dengan setia pada kehendak Allah, sebab untuk itulah ia ditahbiskan. Meskipun dalam menjalani tugas perutusan, sebagai manusia biasa, tentunya sering dijumpai kesulitan-kesulitan yang membuat seorang imam ingin menyerah pada tugasnya. Tetapi ada yang lebih dari itu, ia harus sadar bahwa Allah telah menghendaki semuanya. Demikian pun Bunda Maria, terkadang selalu menemukan kesulitan-kesulitan dalam hidupnya, tetapi ia tidak menyerah. Bunda Maria tetap yakin akan segala rencana Allah yang telah dikehendaki untuk dirinya.
Bunda Maria, dengan kerendahan hati menyanggupi tugas yang dipercayakan Allah atas dirinya. Ia mengakui diri sebagai hamba Tuhan. Dengan kerendahan hati, Bunda Maria menyerahkan hidupnya secara total kepada Allah, melaksanakan sabdaNya, dan menjadi hamba bagi manusia, dan mengabdikan hidup hanya kepada Allah(Wibowo & Virdei Eresto Gaudiawan, 2017).
Imam dipilih oleh Allah untuk sebuah panggilan tugas yang luhur. Meskipun
imam ialah seorang pemimpin, Kerendahan hati harus tetap menjadi kunci utama dalam karya pelayanan. Sejatinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki kerendahan hati pada Tuhan(Gulo, 2020). Dengan kerendahan hati, imam dapat menyanggupi tugas perutusan yang dipercayakan Allah atas dirinya. Dengan kerendahan hati juga seorang imam mampu mengontrol segala perkataan dan pebuataannya, agar tidak menyakiti hati sesama. Ia melaksanakan karya Allah, dan menyerahkan hidupnya secara total kepada Allah.
Akhir kata
Perjalanan imamat ialah perjalanan untuk suatu tugas perutusan dari Allah. Imam harus mampu menghayati tugas imamatnya, agar pelayanannya benar-benar mengutamakan nilai-nilai kebenaran, dan mampu menjadi figur teladan bagi umat Allah. Seorang imam hendaknya memiliki kepribadianyang benar-benar mencerminkan pribadi Allah. Imam harus mempunyai kualitas hidup rohani yang baik, yang didasarkan pada kesatuan dengan Kristus dan pelayanan kepada sesama. Bunda Maria dipilih oleh Allah untuk suatu karya pelayanan. Kesiapan Bunda Maria untuk menerima tugas perutusan serta kepribadian Bunda Maria yang rendah hati, dan ketaatannya menjadi teladan yang baik bagi umat manusia. Bunda Maria, yang adalah Bunda Allah, tentu menjadi teladan yang tepat bagi para imam, agar mampu mengahayati tugas perutusannya, dengan iman, dengan kesiapan hati, kesetiaan, serta kerendahan hati.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Widodo a, 1. (2021). Pandangan Umat Katolik Tentang Maria Bunda Allah. Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 21(1), 86–97.https://ejournal.widyayuwana.ac.id/index.php/jpak/article/view/310/242
Gulo, A. Y. (2020). Kerendahan Hati Seorang Pemimpin: Study Kepemiminan Kristen. 1–3
Tantani Binti Longkiad. (2022). Imamat: Panggilan “Istimewa” Kepada Kekudusan. Jurnal Filsafat Dan Teologi Katolik, 5(2), 53–67. https://doi.org/10.58919/juftek.v5i2.27
Wibowo, P. A., & Virdei Eresto Gaudiawan, A. (2017). Teladan Maria dalam Injil Lukas 1:38 dan Relevansinya bagi Perkembangan Iman Umat Beriman. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 17, 59–72.