Jakarta - GAPKI memprediksi harga minyak sawit mentah (CPO) akan naik pada akhir 2025 seiring rencana penerapan program biodiesel B50 pada 2026. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, peningkatan konsumsi dalam negeri akibat B50 akan mendorong harga CPO. Hingga Agustus 2025, produksi CPO mencapai 35,65 juta ton atau naik 13 persen dibanding tahun lalu, dan diperkirakan tembus 57 juta ton pada akhir tahun. Konsumsi domestik naik 5 persen menjadi 16,4 juta ton, sementara ekspor tumbuh 15 persen menjadi 22,69 juta ton. GAPKI menilai kombinasi kenaikan produksi, konsumsi, dan kebijakan B50 akan memperkuat posisi Indonesia di pasar global, dengan catatan pertumbuhan tetap dijaga agar berkelanjutan.
source : infografis LensaID
Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng, menjelaskan bahwa tren positif industri sawit nasional didukung oleh meningkatnya permintaan dari sektor biodiesel yang tumbuh 12 persen dan menyerap 8,3 juta ton CPO. Kenaikan harga juga ditopang oleh rata-rata harga CPO periode Januari–Agustus 2025 yang mencapai 1.204 dolar AS per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 1.009 dolar AS per ton. GAPKI optimistis permintaan akan terus meningkat seiring dorongan program energi terbarukan pemerintah melalui B50.
Meski prospek industri sawit dinilai menjanjikan, GAPKI mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi dan kelestarian lingkungan. Pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa perencanaan berkelanjutan berisiko menimbulkan tekanan sosial dan ekologis. Oleh karena itu, GAPKI mendorong pelaku industri untuk fokus pada efisiensi, inovasi, dan praktik berkelanjutan agar Indonesia tetap menjadi pemain utama di pasar sawit dunia.