MASA KECIL BAGINDO AZIZ CHAN
Aku, Bagindo Azizchan, lahir di Alang Laweh pada 30 September 1910. Sejak kecil, aku telah menempuh pendidikan di berbagai kota—HIS di Padang, MULO di Surabaya, AMS di Batavia—hingga akhirnya aku melanjutkan studi di Rechtshoogeschool te Batavia. Dalam perjalanan hidupku, aku mengabdikan diri sebagai pengacara dan bergabung dengan Jong Islamieten Bond, serta kembali ke Padang untuk mengajar di berbagai sekolah.
Ketika tanah airku telah merdeka, aku menerima amanah besar untuk memimpin Padang. Pada 15 Agustus 1946, aku menggantikan Abu Bakar Jaar sebagai Wali Kota Padang. Aku tahu, jabatan ini bukan sekadar tentang pemerintahan, tetapi tentang mempertahankan kemerdekaan dari kekuatan asing yang ingin kembali berkuasa. Aku tak pernah tunduk pada Sekutu yang diboncengi Belanda. Aku melawan melalui tulisan-tulisanku di Tjahaja Padang, menyuarakan perlawanan dan membakar semangat rakyat. Aku berkata tegas, “Langkahilah dulu mayatku, baru Kota Padang saya serahkan.”
Namun, perjuanganku mencapai titik akhir. Pada 19 Juli 1947, saat aku dalam perjalanan menuju Padang Panjang, aku dicegat oleh Letnan Kolonel Van Erps di daerah Purus. Terjadi insiden di Nanggalo, dan dalam peristiwa itu aku terbunuh. Versi mereka mengatakan aku terkena peluru pihak pejuang, tetapi hasil visum mengungkap sesuatu yang lebih kelam—kepalaku dipukul dengan benda berat hingga tulangnya hancur, dan wajahku ditembaki setelah aku tak lagi bernyawa. Aku dibawa ke Bukittinggi, dan di sana rakyat melepas kepergianku dengan penghormatan penuh. Pada 20 Juli 1947, mereka mengantarku ke peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Bahagia.
Bertahun-tahun kemudian, pada 7 November 2005, negara ini mengakui perjuanganku dengan memberikan Bintang Mahaputera Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional. Namun, bukan penghargaan yang kucari—melainkan kemerdekaan dan kehormatan bagi rakyatku. Aku telah pergi, tetapi semangat perjuanganku harus tetap hidup dalam diri mereka yang meneruskan langkah ini.
Bagindo Azizchan adalah seorang tokoh iconik kota padang, kisah perjuangan beliau melawan belanda menjadi kisah perjuangan yang akan selalu diingat masyarakat kota padang, beliau lahir pada tanggal 30 September 1910 lahir di kampung Alang laweh kota Padang, anak keempat dari enam bersaudara ayahnya bernama Bagindo Montok dan ibunya bernama Djamilah.
Beliau mengenyam pendidikan di HIS di Padang, Mulo Di surabaya dan AMS di Batavia, beliau juga sempat dua tahun duduk di Rechtshoogeschool te batavia (RHS), Beliau aktif di organisasi JONG ISLAMIETEN BOND DIBAWAH PIMPINAN h AGUS Salim pada tahun 1935 Kembali ke kampung halaman, kemudian mengajar di beberapa sekolah di padang beliau juga aktif di Persatuan Muslim Indonesia (Permi) hingga 1937 karena organisasi tersebut dibubarkan pada tahun 1937.
BAGINDO AZIZ CHAN
WALIKOTA PADANG KE-2
TAHUN 1946-1947
Ny.Zaura Usman dan anaknya Inneke Tahun 1949 Istri Kedua Bgd.Aziz Chan
Bagindo Azizchan Bersama Saudaranya Tahun 1941, Dari Kiri Ke Kanan, Bgd.Yusuf, Bgd Moenir,Naimah,Yahya, dan Bagindo Azizchan, Foto ini diambil sebelum beliau menjabat sebagai walikota Padang
Rumah Masa Kecil Bagindo Aziz Chan di Alang laweh
Bagindo Aziz Chan Bersama Keluarga Besar
Bagindo Aziz Chan Memimpin Kota Padang
Setelah proklamasi kemerdekaan beliau di tunjuk sebagai wakil walikota padang pada tanggal 24 Januari 1946. Dan pada tanggal 15 Agustus 1946 beliau dilantik sebagai walikota menggantikan MR Abubakar Jaar yang pindah tugas menjadi residen di sumatera utara.
Kunjungan Bagindo Azizchan Ke Cengkeh melakukan pengecekan barak pejuang dan melakukan dialog dengan pejuang
Kunjungan Ke Indarung
Kunjungan Ke Sungai Berangas
Bersama Siswa Di Padang
Kunjungan ke Teluk Bayur
BAGINDO AZIZ CHAN GUGUR
Pada 19 Juli 1947 sore hari, Bagindo azischan dan keluarga bertolak dari Padang menuju Padang Panjang. Di daerah Purus, rombongannya dicegat oleh Letnan Kolonel Van Erps yang memberitahukan telah terjadi insiden di Nanggalo yang merupakan daerah garis demarkasi Belanda.
Menurut versi Belanda, ketika Bagindo Azizchan turun itu dari mobil Jeep yang mengantarkannya di daerah Nanggalo itu, ia tertembak di lehernya dan dibawa ke sebuah rumah sakit di Padang.
Namun, menurut hasil visum yang dilakukan oleh 4 dokter Indonesia di Bukittinggi, Bagindo Azizchan meninggal karena kepala belakangnya dipukul dengan barang berat sehingga tulang kepalanya hancur. Selain itu, terdapat tiga bekas tembakan di wajahnya yang dilakukan tentara Belanda setelah ia menjadi mayat.
Jenazah Bagindo Aziz Chan dimakamkan pada 20 Juli 1947 pukul 02.00 dalam sebuah upacara besar yang dihadiri pejabat sipil dan militer di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Keesokan harinya Belanda melancarkan.
Jenazah Bagindo Azizchan yang gugur
Makam Bagindo Azizchan Di Gulai Bancah Bukittingi
Penguburan Jenazah Bagindo Azizchan di Gulai Bancah Bukittinggi
Peringatan Gugurnya Bagindo Azizchan Walikota Padang Ke 2 Tanggal 19 Juli 1947 di Balai Kota Padang
Keluarga Besar Bagindo Azizchan
Upacara Peringatan Gugurnya Bagindo Azizchan Di Taman Makam Pahlawan Gulai Bancah Bukittinggi
Putra dan Putri Bagindo Aziz Chan
MONUMEN PERINGATAN GUGURNYA BAGINDO AZIS CHAN
Tugu Simpang Tinju
Patung Bagindo Aziz Chan Di Taman Melati
Semua Koleksi Foto dan Dokumen Tentang Bagindo Azischan Dapat Ditemukan Di Galeri Arsip Statis Kota Padang