Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya kegiatan Kokurikuler Budaya Kelas VIII dengan tema "Cerita Tanpa Kata: Menutur Kisah melalui Harmoni Nada, Gerak, dan Rasa" dapat disusun dengan baik. Modul ini disusun sebagai panduan pelaksanaan kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan seni pertunjukan, pelestarian budaya Jawa Timur, serta penguatan karakter peserta didik melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Kegiatan dirancang agar murid memperoleh pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui tahapan Memahami, Mengaplikasi, dan Merefleksi. Melalui kegiatan ini, murid diajak mengeksplorasi cerita rakyat, legenda, dan sejarah Jawa Timur sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan sebuah operet tanpa dialog lisan yang memadukan harmoni nada, gerak, dan rasa. Proses pembelajaran dilaksanakan secara bertahap melalui kegiatan Pra ODL, Outdoor Learning (ODL), Implementasi ODL, hingga Laporan ODL, yang berpuncak pada Gebyar Operet Budaya Jawa Timur sebagai bentuk unjuk karya dan asesmen autentik murid.
Pendidikan memiliki tujuan untuk membentuk murid menjadi individu yang berkarakter, kompeten, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Visi sekolah untuk melahirkan generasi yang berkarakter dan berprestasi diwujudkan melalui misi menghadirkan proses pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berorientasi pada pengembangan potensi murid secara menyeluruh. Dalam kerangka tersebut, pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi pendekatan penting yang memastikan bahwa murid tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata, nilai kehidupan, serta tantangan masa depan. Untuk mewujudkan pembelajaran mendalam, sekolah menguatkan kegiatan kokurikuler sebagai wahana pengembangan karakter dan keterampilan murid. Kegiatan kokurikuler memberikan ruang bagi murid untuk berlatih berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, berkreasi, serta mengasah kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan sosial-budaya di sekitarnya. Proses ini secara langsung mendukung pencapaian delapan dimensi Profil Lulusan, yaitu Keimanan dan Ketakwaan, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi—dimensi penting yang mempersiapkan murid agar siap hidup dan berperan pada zamannya. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kokurikuler satu semester, Outdoor Learning (ODL) dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung di lingkungan budaya Banyuwangi. Melalui observasi lapangan, interaksi dengan pelaku seni, dan eksplorasi karya budaya, murid memperoleh pengalaman autentik yang memperkuat pemahaman, membangun karakter, serta meneguhkan kompetensi yang telah diasah selama proses projek kokurikuler. Dengan demikian, Outdoor Learning bukan hanya kegiatan kunjungan, tetapi merupakan bagian integral dari pembelajaran yang mendalam—menghubungkan pengetahuan, nilai, dan keterampilan menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan berkesadaran budaya. Berangkat dari seluruh rangkaian pembelajaran tersebut, tema proyek pada kegiatan ini diangkat menjadi Simfoni Budaya “Suara Alam dan Kehidupan”. Tema ini menuntun peserta didik untuk menggali bagaimana elemen alam, budaya, dan kehidupan manusia dapat dipadukan menjadi karya seni kolaboratif yang harmonis. Melalui tema ini, peserta didik diharapkan mampu mengekspresikan hasil refleksi mereka dalam sebuah pagelaran seni yang menggabungkan unsur teater, tari, musik, dan seni rupa secara kreatif dan bermakna.
Kegiatan pembelajaran di luar kelas (ODL) bertujuan memberikan pengalaman belajar yang
autentik, kontekstual, dan bermakna bagi murid melalui eksplorasi seni, budaya, dan kearifan
lokal secara langsung, sehingga mendukung pencapaian dimensi Dimensi Profil Lulusan
Secara lebih rinci, tujuan modul ini adalah sebagai berikut:
Mengembangkan kreativitas murid melalui kegiatan eksplorasi seni tari, teater, musik,
karawitan, seni rupa, dan media digital.
Meningkatkan kemampuan kolaborasi dalam kerja kelompok lintas bidang seni, termasuk
kerja tim saat latihan, produksi, dan pementasan.
Mengembangkan keterampilan komunikasi, baik lisan maupun visual, melalui proses diskusi,
presentasi, dan publikasi hasil karya.
Menumbuhkan rasa kewargaan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia, khususnya seni
tradisional seperti Ramayana, karawitan, panembromo, dan kearifan lokal lainnya.
Memperkuat kemandirian dan tanggung jawab melalui pembagian peran dalam
manajemen produksi dan pelaksanaan pagelaran seni.
Memberikan pengalaman praktik langsung yang tidak dapat diperoleh secara maksimal di
dalam kelas, seperti latihan panggung, penggunaan gamelan, pembuatan properti, dan
koordinasi pementasan kolosal.
Menghasilkan karya pagelaran seni Nusantara sebagai bentuk integrasi pembelajaran
budaya, seni modern, dan teknologi digital