Mohammad Toha adalah seorang pejuang muda kelahiran Bandung tahun 1927 yang tergabung dalam Barisan Rakjat Indonesia (BRI). Ia dikenal karena keberaniannya dalam peristiwa Perang Bandung Lautan Api. Pada tanggal 23 Maret 1946, bersama rekannya Ramdan, Toha menjalankan misi berbahaya untuk meledakkan gudang amunisi milik Sekutu di Dayeuhkolot. Aksi tersebut berhasil menghancurkan persediaan senjata musuh dan menewaskan banyak tentara Sekutu, namun Toha sendiri gugur dalam ledakan tersebut. Keberaniannya menjadikannya simbol pengorbanan rakyat Bandung, dan namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan kelurahan di Kota Bandung.
Ramdan merupakan rekan seperjuangan Mohammad Toha yang juga tergabung dalam Barisan Rakjat Indonesia (BRI). Ia ikut serta dalam operasi heroik meledakkan gudang amunisi Sekutu di Dayeuhkolot. Bersama Toha, ia rela mengorbankan nyawanya demi melumpuhkan kekuatan musuh dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Meski namanya tidak seterkenal Toha, Ramdan tetap dikenang sebagai pejuang sejati dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Aksi keberaniannya menjadi bukti nyata semangat juang rakyat Indonesia untuk tidak menyerah kepada penjajahan.
A.H. Nasution adalah tokoh militer penting dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Lahir di Kotanopan, Sumatra Utara, pada 3 Desember 1918, ia menjabat sebagai Komandan Divisi III Tentara Republik Indonesia (TRI) di Jawa Barat. Dalam situasi genting saat Sekutu menuntut rakyat meninggalkan Bandung, Nasution mengambil keputusan berat namun strategis: membumihanguskan Bandung Selatan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Keputusan ini menjadi awal terjadinya Bandung Lautan Api. Setelah perang, Nasution terus berkiprah di dunia militer dan pemerintahan, hingga akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
Arudji Kartawinata lahir di Garut pada tahun 1905 dan merupakan pemimpin Laskar Hizbullah di Jawa Barat. Dalam peristiwa Bandung Lautan Api, ia berperan penting menggerakkan laskar rakyat dan pasukan Islam untuk membantu Tentara Republik Indonesia melawan Sekutu dan NICA. Arudji dikenal sebagai sosok pemimpin yang berani, disiplin, dan berjiwa nasionalis tinggi. Setelah masa perang, ia aktif di dunia politik dan pemerintahan, serta ikut berkontribusi dalam membangun Indonesia di masa awal kemerdekaan.
Sutan Syahrir adalah Perdana Menteri Indonesia pada masa terjadinya Perang Bandung Lautan Api. Lahir di Padang Panjang pada 5 Maret 1909, Syahrir berjuang di jalur diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat pertempuran berkecamuk di Bandung, ia berusaha menyeimbangkan langkah antara perjuangan militer dan diplomasi agar Indonesia tetap diakui dunia internasional. Usahanya membuka jalan menuju Perundingan Linggarjati, yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia melawan Belanda. Atas jasa dan dedikasinya, Sutan Syahrir dikenang sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Kolonel Abdoel Manap Soetedja adalah Komandan Resimen TRI Bandung yang bertanggung jawab langsung atas koordinasi pertahanan di wilayah Bandung selama peristiwa Bandung Lautan Api. Ia bekerja sama erat dengan A.H. Nasution dalam mengatur strategi penarikan pasukan Republik dari Bandung Utara ke Bandung Selatan, serta memastikan pembumihangusan dilakukan secara terencana agar tidak menimbulkan korban rakyat yang berlebihan. Keputusan taktisnya turut menentukan keberhasilan rakyat dalam menggagalkan penguasaan penuh Sekutu atas Bandung.