* Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Brigadir Jenderal MacDonald tiba di Bandung.
* Mereka menuntut semua senjata api milik penduduk dan pejuang Indonesia diserahkan, yang ditolak oleh pihak Indonesia. Insiden bersenjata mulai terjadi.
* Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya *menuntut agar Kota Bandung bagian utara (di utara rel kereta api) dikosongkan oleh para pejuang dan penduduk Indonesia paling lambat 29 November 1945*.
* Ultimatum ini diabaikan oleh para pejuang dan pemerintah Republik Indonesia. Pertempuran sengit justru semakin memanas.
* Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum kedua yang lebih keras. Mereka
*memerintahkan agar seluruh TRI (Tentara Republik Indonesia) dan milisi meninggalkan Kota Bandung selatan paling lambat tengah malam tanggal 24 Maret 1946*.
* Ultimatum ini membuat para pejuang dan pemimpin militer Indonesia, seperti Kolonel A.H. Nasution, berada dalam situasi yang sulit.
* Menghadapi ultimatum tersebut, Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III TRI mengadakan rapat besar dengan para komandan sektor.
* Dalam rapat itu, diambil keputusan yang sangat berat dan bersejarah: *memenuhi ultimatum untuk mengosongkan Bandung, tetapi TIDAK akan menyerahkan kota itu dalam keadaan utuh kepada musuh. Mereka akan membumihanguskan Bandung sebelum ditinggalkan.*
* Sekitar pukul 21:00 WIB, api mulai membakar dari berbagai sudut kota. Para pejuang, dibantu oleh rakyat, dengan penuh semangat membakar rumah, gedung, pabrik, dan infrastruktur penting.
* Asap hitam membubung tinggi di seluruh langit Bandung. Listrik padam, dan kota menjadi gelap gulita.
* Sekitar 200.000 penduduk mengungsi meninggalkan kota menuju arah selatan, seperti ke Soreang, Ciwidey, Garut, dan Tasikmalaya, dengan membawa harta benda seadanya. Proses pengungsian ini berlangsung dalam situasi yang kacau dan penuh kepiluan.
* Meski kota telah dikosongkan, pertempuran tidak berhenti. Para pejuang terus melakukan perlawanan dari luar kota, termasuk di daerah Dayeuhkolot.
* Dalam pertempuran di Dayeuhkolot inilah, *Muhammad Toha* dan *Ramdan*, dua anggota Barisan Rakyat Indonesia (BRI), meledakkan gudang amunisi besar milik Sekutu dengan cara membakar dan masuk ke dalamnya. Mereka gugur sebagai pahlawan dalam misi tersebut.