Kecamatan Klirong menawarkan oase pesisir yang berbeda dari gegap gempita kecamatan pesisir lainnya di Kebumen. Jika wilayah pesisir barat menonjolkan tebing karang dan pesisir tengah dengan wahana rekreasi keluarganya, Klirong hadir dengan wajah ekowisata yang tenang, hijau, dan berorientasi pada pelestarian lingkungan.
Sebagai titik di mana sungai bersejarah memeluk samudra, pesona pariwisata Klirong adalah harmoni antara daratan, aliran sungai, dan lautan.
Daya tarik utama Klirong terletak pada pertemuannya dengan perairan tawar, menciptakan ekosistem muara (estuari) yang kaya.
Ekowisata Mangrove Kali Ratu / Tanggulangin: Di pesisir Klirong, hamparan pasir diimbangi dengan rimbunnya hutan bakau (mangrove). Kawasan ekowisata ini menawarkan pengalaman menyatu dengan alam. Wisatawan dapat menyusuri jembatan-jembatan kayu yang membelah rapatnya pohon bakau, menikmati udara segar yang bebas polusi, hingga menyewa perahu kecil untuk berkeliling muara. Tempat ini juga menjadi surga bagi para pecinta fotografi alam dan pengamat burung (birdwatching).
Muara Sungai Luk Ulo: Klirong merupakan hilir dari Sungai Luk Ulo, sungai terpanjang dan paling bersejarah secara geologis di Kabupaten Kebumen. Kawasan muara ini tidak hanya memiliki nilai estetika dengan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang memukau, tetapi juga menjadi lokasi favorit bagi para pemancing lokal maupun wisatawan yang mencari ketenangan.
Selain hutan bakau, Klirong juga dikenal sebagai salah satu garis pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut di pesisir selatan Jawa.
Konservasi Penyu Desa Jogosimo: Pesisir Desa Jogosimo di Kecamatan Klirong adalah habitat pendaratan alami bagi beberapa spesies penyu yang dilindungi, seperti penyu lekang dan penyu hijau. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat telah mengubah kawasan ini menjadi pusat konservasi dan wisata edukasi. Pengunjung, terutama anak-anak, dapat belajar tentang siklus hidup penyu, melihat proses penangkaran, dan pada momen tertentu, ikut serta dalam kegiatan yang sangat menyentuh hati: pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas.
Bagi mereka yang ingin melarikan diri dari keramaian, garis pantai di Klirong menawarkan keheningan yang mahal harganya.
Pantai Jogosimo dan Sekitarnya: Berbeda dengan pantai-pantai wisata tetangganya yang sarat dengan fasilitas buatan, pantai di Klirong dibiarkan lebih alami. Hamparan pasir hitamnya diteduhi oleh deretan pohon cemara laut. Ini adalah lokasi yang sangat ideal untuk kegiatan camping, piknik keluarga yang intim, atau sekadar healing menikmati suara debur ombak tanpa gangguan hiruk-pikuk pedagang dan kerumunan massa.
Sentra Kerajinan Genteng dan Gula Merah: Di luar pesisir, desa-desa di Klirong menyimpan potensi wisata edukasi industri rumahan. Klirong merupakan salah satu penyumbang produksi "Genteng Sokka" yang melegenda, serta sentra pembuatan gula merah (gula kelapa) tradisional. Mengamati langsung proses pembuatannya memberikan nilai tambah bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat denyut nadi ekonomi masyarakat pedesaan Kebumen.
Kecamatan Klirong adalah napas pelestarian di Kabupaten Kebumen. Pariwisatanya tidak bertumpu pada eksploitasi alam besar-besaran, melainkan pada ekowisata yang berkelanjutan. Dari rimbunnya mangrove Tanggulangin hingga langkah-langkah kecil tukik di pasir Jogosimo, Klirong adalah destinasi wisata yang mendidik, menyembuhkan, dan merawat alam.