Hari yang Biasa, Tapi Tidak Sepenuhnya Kosong
Penulis : Eldika - 28 maret 2026
sumber : pinterest/@jadorè ☆
Rutinitas
Hari ini terasa biasa saja. Tidak ada yang benar-benar spesial, hanya rutinitas yang berulang dari pagi sampai malam.
Aku bangun sekitar jam 9 pagi. Setelah itu, aku menonton beberapa video Bahasa Inggris untuk melatih listening dan speaking-ku. Lalu aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sekaligus makan siang, karena aku hanya makan dua kali sehari, pagi dan malam.
Setelah makan, aku harus menunggu sekitar satu jam sebelum bisa berbaring. Kalau tidak, asam lambungku bisa naik ke esofagus. Jadi, selama menunggu, aku lanjut scroll TikTok sampai mampus, hahahah, nggak kok, bercanda doang!
Kenapa aku selalu membuka TikTok kalau punya waktu luang? Karena, bagiku, tidak ada tempat hiburan yang lebih simpel dan murah. Aku anak kos yang tinggal sendiri, masak sendiri, makan pun sendiri. Tidak ada teman untuk diajak ngobrol, jadi TikTok jadi cara supaya aku tetap merasa terhubung dengan orang-orang di luar sana.
Aku memang tipe penyendiri. Temanku hanya beberapa, dan mereka juga sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Tapi aku ngerti kok keadaan mereka. Lagipula, kalau ketemu pasti butuh uang, dan aku ini tipe yang cukup sensitif soal itu. Diajak jalan-jalan? Big no for me.
Daripada menghabiskan Rp50.000 hanya untuk jalan, aku lebih pilih beli protein atau sayur untuk besok. Badan sehat, hati pun ceria. Oke, lanjut…
Sekitar jam 3 sore, aku mulai olahraga supaya nggak gemuk-gemuk amat. Olahragaku simpel tidak running atau jogging, cuma dance K-pop dan workout ringan di rumah. Aku bisa dance sampai 3 jam tanpa jeda.
Pertanyaannya, kok bisa?
Karena itu salah satu hal yang aku sukai. Waktu 3 jam jadi nggak terasa. Kalau kita melakukan sesuatu yang sesuai passion kita, semuanya memang terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Kebetulan, aku pendengar setia lagu K-pop. Awalnya memang karena visual, tapi lama-lama jadi suka sama warna suara dan musik mereka yang unik di telingaku. Salah satunya aespa.
Aku sudah mengikuti aespa sejak tahun 2020, bahkan sejak mereka belum debut. Dari awal diperkenalkan, aku langsung tertarik dengan konsep mereka yang seperti AI terutama Karina. Lagu pertama yang bikin aku suka adalah Black Mamba. Memang terdengar agak aneh, ya, nama ular dijadikan judul lagu, tapi itulah kenyataannya.
Sampai sekarang, tahun 2026, aku masih mengikuti lagu dan dance mereka. Bahkan, hampir semua dance-nya aku hafal karena memang seseru itu.
Tapi akhir-akhir ini, dunia K-pop terasa nggak semenarik dulu. Musiknya makin aneh, tapi bukan dalam arti unik. Standar kecantikan juga semakin seragam, seolah berlomba jadi yang paling kurus, bahkan banyak yang terlihat underweight.
Meski begitu, aespa tetap di hati sih.
Aku juga nggak cuma mengikuti aespa. Hampir semua artis-nya si icha a.k.a SM Entertainment. aku ikuti mulai dari Super Junior yang “paling senior”, NCT yang “paling teknologi”, aespa yang “paling besi”, Wish "sipaling lucu", h2h "si paling centil versi modern", SNSD "si paling centil tapi pick me", wavy "si paling cina", RIIZE "si paling western" dll. Aku cinta mereka semua sampai yang lain dengan ciri khas mereka masing-masing. Aku suka semuanya.
Dari company lain juga banyak, karena aku ini multifandom. Belakangan, aku juga suka sama grup baru bernama Lngshot yang berani tampil beda, anak muda yang nggak takut eksplorasi.
Setelah dance, aku lanjut workout sekitar jam 7 malam. Setelah itu, aku masak dan makan malam.
Dan… masuk tengah malam.
Ini adalah jam-jam rawan.
Kenapa? Karena di jam ini, selalu ada saja ide atau pertanyaan yang muncul dan bikin aku sulit tidur. Misalnya, saat aku scroll TikTok dan menemukan topik tentang kenapa Indonesia susah maju. Dari situ, aku bisa mulai berpikir, cari video beberapa video yang membahas isu itu, baca komentar netizen +62, sampai berjam-jam.
Dan anehnya, aku jadi ikut mikir, “Iya juga, ya…”
Sampai akhirnya aku menyimpulkan, mungkin salah satu penyebabnya ada di pendidikan dan tenaga pendidik yang masih tertinggal, gaji guru yang rendah, padahal tanggung jawabnya besar, bahkan lebih rendah dari beberapa pejabat yang hanya duduk diam saat rapat. Ditambah lagi sistem pendidikan yang kadang terasa semakin nggak masuk akal.
Kok jadi curhat ya? Tapi memang seperti itu. Aku suka banget menggali isu-isu sensitif atau hal-hal yang bisa bikin cara berpikirku berkembang.
Kadang juga muncul ide-ide random. Misalnya, tiba-tiba kepikiran mau bikin bisnis makanan ekspor-impor yang di luar nalar. Padahal, kalau dipikir-pikir, koneksi saja belum ada, gimana mau cari investor?
Itu saja untuk hari ini.
Kalau dipikir lagi, ini memang rutinitas yang membosankan. Tapi ya, namanya hidup di kota, kita nggak bisa berpetualang gratis seperti di kampung, naik turun bukit, mandi di sungai, atau bahkan curi jagung orang lalu dikejar-kejar pemilik kebun.
Aneh, tapi justru itu yang terasa seru.