CERPEN INI DIPERSEMBAHKAN UNTUK MEMBERI PENCERAHAN BAGI KITA SEMUA
Semuanya diawali dengan pagi yang cerah dan hari yang indah, ditemani dengan suasana pagi yang segar dengan sedikit kabut di udara. Aku melakukan semua aktivitas dengan perasaan yang senang. Masalah tentu ada tetapi aku bisa melewatkannya dengan mudah. Di hari ini, aku sedang mengerjakan tugas-tugas sekolahku di kamar.
Awalnya semua baik-baiksaja, hingga munculnya berita mengenai semacam penyakit yang di akibatkan oleh virus yang berbahaya. Covid-19 Virus inilah yang mengubah segalanya.
Awal mula kasus Covid-19 di Indonesia membuat banyak warga takut sekaligus was-was karena virus ini sangat menular.
Dampaknya terhadap masyarakat, pembatasan sosial ini dilakukan oleh pemerintah, ketika keluar rumah harus selalu memakai masker, menjaga jarak 1 meter dari satu sama lain, dan juga sering mencuci tangan pakai sabun selama 20 detik. Kebiasaan baru ini harus kita terapkan untuk mengurangi penularan virus covid-19.
Virus covid-19 ini juga sangat berdampak bagi pelajar seperti ku.
Ketika wabah covid-19 menyerang Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan bahwa sekolah atau bidang pendidikan lainnya menyelenggarakan sistem pembelajaran jarak jauh / online, yang kini biasa disebut School From Home (SFH).
Melalui sistem ini, semua materi dan tugas dibagikan secara online. Hampir semua sekolah dan universitas tutup sementara agar kegiatan belajar langsung (tatap muka) tidak memperburuk infeksi virus covid-19.
Tetapi terlepas dari itu, Walaupun pendidikan di Indonesia ikut terdampak adanya pandemi covid-19 ini, namun dibalik semua itu terdapat hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan pembelajaran jarak jauh melalui online, maka dapat memberikan manfaat yaitu meningkatkan kesadaran untuk menguasai kemajuan teknologi saat ini dan mengatasi permasalahan proses pendidikan di Indonesia.
Maka dari itu kita harus banyak bersyukur, dibalik semua yang Tuhan berikan pasti ada alasannya.
aku belajar dalam diam , sambut yang datang ,ikhlas kan yang pergi , hargai yang berjuang , dan lupakan yang menyakiti
Harapan-impian-doa-usaha-perjuangan-hasil. Jagan pernah berharap jika blm usaha
Hidup ini berevolusi, memenuhi tulisan takdir yang kini menanti
BY. RIYANI -X MIPA 2
Aku terbangun, sekitar jam setengah lima fajar. Segera bergegas kumenemui-Nya, berdoa seperti biasanya. Karena setelah semalam, aku terlalu berekspresi untuk segala. Rasa tiba-tiba bercampur aduk, di obrak-abrik hingga degup berdentum-ketuk. Tak apa mungkin kataku di lubuk hati, semoga tiada apa pun yang terjadi. Ku mencoba mencari, apa saja diingin diri. Selepas itu, segera kumenata kasur, dan ya... Sama seperti kebiasaanku yang kadang muncul kadang enggak, ya! Rebahan lagi~
“Semalam terlalu berenergi mungkin ya aku nih...”
“Hhmmmm..”
“Udah sholat kok masih aja kayak gak ada semangat hidup, pea bngt diriku..” gerutuku sendirian
Lalu kulanjut melamun hingga menyilir, embusan sejuk pagi yang mengantukkanku kembali, sampai kutertidur lagi... Mungkin mimpi mendambakanku tuk kembali menemuinya.
Selepas itu. Terbangunku, akibat ramai-riuh kendaraan terlewat. Mau bagaimana lagi, rumahku tengah kota, di pinggir jalan, pas seluruh banyak kedai makanan maupun minuman di sekitarnya. Banyak jiwa memaknai akan semangat pagi ini, banyak sukma yang berharap agar seluruh juangnya terbalaskan, banyak pula hati yang mengasihi akan keduanya. Terpasti mereka tak sepertiku, terbangun lemas beserta hirup-pikuk kuhempaskan, dengan harap disemogakan tiada sesal.
Lalu coba kubangun dari tempat rebahku, kuambil buku catatan, kumenulis seperti biasa...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ini Pagi
Ini pagi tiada mencari tenang
Di antara ramai, riuh, pada cerah temukan yang mendatang
Di selidik, mencari, seakan-akan dunia tak mengingin
Biarkanku mencari dahulu, ‘tuk apa diingin angin
Biarkanku dahulu tulis
Sekalipun waktu termakan habis
Pada santai yang selama ini ternikmati..
Apa perlu juga kuberdiri ‘tuk ikuti arus ini??
Lebih tampakku, biarkanku dahulu..
Mungkin ku ‘tak terbiasa akan ragu
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Oke udah selesai, saatnya bangkit. Tapi mungkin aku kan membuat yang beda hari ini.” ucapku membara kembali, dari sisa percikkan malam kemarin.
Dan cerita pagi ini usai, sebelum sudah kuberdiri untuk lanjutkan hidup ini lagi, ragu telah sirna, mungkin ku ‘kan buat berbeda kesekiannya.
Oleh Yusril Muzakky
Tekad Doea Jurnalis
Sore sepulang sekolah, pukul tiga lebih sebelas menit. Selepas diriku seusai mengerjakan tugas yang sebetulnya bisa dikerjakan di rumah, tapi aku malah mengerjakannya di sekolah atau kelasku tersebut sampai selesai. Akhirnya semua tugas telah kukerjakan. Aku meringkas segala buku serta peralatan tulisku, lalu memasukkannya ke dalam tas. Baru berjalanku sebentar menuju ke luar kelas, kedatangan tetiba di pinggir pintu. Sosok gadis bak bidadari penuh tatap mendalam, menungguku sembari tadi rupanya.
“Udah Zakki? Ayuk, atuh. Saatnya kumpul para jurnalis! Udah ditungguin temen-temen juga,” ajak gadis tersebut kepadaku.
“Hm? Sekarang, ya? Oke-oke, Ayok!” Sahutku sediki terkejut mendengar suara gadis yang lembut gemulai tiba-tiba tersebut.
Bergegas berbarengan kami menuju tempat tujuan yang sama. Ya, rapat persiapan kali itu untuk pembahasan segala persiapan peliputan, dan mungkin di acara besar nan meriah yang akan diadakan di SMA kami ini. Maka dari itu, kami harus ada persiapan yang tepat! Itu sekurang-kurangnya yang memang harus dilakukan kami jurnalis sekolah, dari Ekstrakurikuler Jurnalistik SMA kami. Namun, entahlah, mungkin ada sesuatu lain yang akan menyambutku mendatang.
Kami sampai di tempat ruangan rapat. Tampak sudah ramai para anggota, mulai dari seangkatan kami, ya, kelas XI, maupun adik kelas kami, kelas X. Kalian bertanya kelas XII? Tentunya dari angkatan mereka ada beberapa yang masih ikut Ekstrakurikuler Jurnalistik ini, tetapi hanya beberapa saja atau sangat sedikit, maka dari itu, mereka sudah tak aktif kembali. Jadi sebab itu, penanggung jawab segala halnya langsung diberikan angkatan kami saat kelas X dulu. Tak heran, kumpulan para Murid Jurnalis satu ini bangkit kembali dari Dark Age -nya.
“Hadeh, baru datang, ke mana aja lu, Zak? Kalo enggak ada dijemput, enggak ke sini lu!” celetuk Ketua Jurnalis mengeluhkanku.
“Telat dikit doang, jadi dari tadi bahas apa aja?” jawabku santai.
“Pihak OSIS mau ngadain acara besar kayaknya ini, kita harus persiapan juga.” Ungkap Hidayat, ketua Jurnalis Sekolah kami.
Lalu aku menjawab dengan sedikit serius dibarengi agak-agak percaya diri yang sok asik, “Hm, oke. Oh kayaknya gue tahu acara itu apa. Atur pertemuan seenaknya gimana, Yat. Kalo emang acaranya besar dan panjang makan waktu berhari-hari, kita libatin seluruh anggota buat diskusi bareng! Lalu kita kerja aksi bareng pula, bukan begitu guys?! Haha.”
Anggota lainnya hanya mengangkat jempol. Akhirnya kami semua melanjutkan rapat dan mendiskusikan untuk peliputan serta macam lainnya untuk acara yang akan datang tersebut. Acara yang diadakan OSIS dan MPK ini bertujuan menggugah banyak sekali pihak untuk ikut serta maupun terlibat di dalamnya, termasuk para Jurnalis ini, dan mungkin diriku yang entah akan terlibat hal luar biasa pula nanti.
“Gue pernah nanya-nanya ke temen kelas yang ikut OSIS, acara ini sehubungan dengan unjuk talenta bakat.. Coba juga selanjut itu gue telisik lagi, mungkin namanya kalo enggak salah Gebyar Talenta SMANDOJAP, untuk seluruh siswa-siswinya. Ini mungkin kali akan mengundang dari pihak luar juga untuk meng-support ataupun meng-sponsori acara tersebut.. Dengan ini mungkin kita bisa ambil kesempatan sebanyak apa pun dari itu!” Ungkap pernyataan panjangku sekurang-lebihnya saat rapat jurnalis tersebut, sesuai apa yang kutahu dan akhirnya tersampaikan olehku.
Rapat akhirnya selesai, pukul empat kurang lima menit. Lelah sekali tampakku hari ini. Akhirnya sebelum ingin pulang, rasaku ingin mampir ke suatu tempat sepi untuk sedikit mengisi energi. Mungkin Kantin Sekolah sebagai sasaran utamaku. Bergegaslah langsung Aku, benar saja telah sepi kantin tersebut, para penjual juga mulai beberes akan pulang. Niatku duduk sebentar, sambil mengeluarkan segala lelah beserta melamun. Tak lama, baru beberapa menit diamku fokus. Seketika lamunku pecah! Aku terkejut, gadis bak bidadari kurang ajar memecahkan heningku tanpa aba-aba.
“Minum ini Es Jeruk! Capek, kan, kamu? Sama aku juga, hihi.” Ucap basa-basi sambil gurau, memberikanku segelas es, ternyata gadis yang sama saat di luar kelas menjemputku untuk ikut kumpul rapat.
“Eh, makasih, ini kamu kalo mau juga ikut minum. Btw, Cyra. Kita sama-sama capek minggu ini, ya, full padet!” sahutku menjawab, gadis itu bernama Cyra.
Tiba-tiba secara spontan diriku lanjut berkata sambil dengan meluapkan kelelahan,
“Huuhh! Oh, ya, Cyra. Hm, anu. Sekolah kita ini besar juga, ya. SMA Negeri Doea Jawapolitan. Jadi SMA favorite se-kota Jawapolitan ini! Amat ragam bakat maupun kemampuan di atas dari adek kelas, angkatan kita, maupun kakak kelas. Lalu banyak pula dari ekskul-ekskul sekolah kita banyak ingin berkreasi dan berkarya secara luar biasa dan paling terbaik. Ya..meski tak luput hal-hal negatif atau buruk ada di sela-selanya, tapi ya mungkin enggak sepadan dengan prestasinya.”
“Teruuss?? Kamu mau apa dengan itu? Amat banyak keberagaman, dan di atas rata-rata pula loh! Kamu sendiri udah di atas rata-ratanya belum?” ledek Cyra kepadaku.
“HM?! Kamu ngeremehin aku?! Oke!” sehut tentangku menjawabnya.
“Ihh, ya enggak gitu juga. Bukan itu maksudku!” jelas Cyra.
“Yaudah berarti gini, aku akan menuliskan sejarah yang luar biasa! Aku menantang diriku sendiri untuk bisa mendokumentasikan, atau memotret atau lain semacamnya, dari berbagai keberagaman kemampuan serta bakat seluruh murid SMA-ku ini, di acara yang akan mendatang tersebut. Yaitu Gebyar Talenta. Bila aku gagal, maka mungkin aku akan mempertaruhkan seluruh impian serta minatku menjadi Jurnalis hebat, dan mungkin akan keluar dari Ekskul Jurnalistik SMA ini sekalian!”
“HAH? Kamu jangan gila! Aku enggak bakal biarin kamu seenaknya mempertaruhkan impianmu sendiri begitu! Oke, berarti aku juga bisa! Aku bersumpah untuk diriku sendiri! Aku akan membantu Rahmat Muzakki untuk bisa ia menyelesaikan tantangannya sendiri, serta selalu ada di sampingnya di saat nanti ia mendokumentasikan segala keberagaman di SMA kami!”
“Hahaha, dengan ini kita akan lebih dari di atas rata-rata!”
“Huuhh! Dasar SMA nyebelin! Bisa buat Zakki jadi ngelakuin hal gila macam ini!”
“Justru aku senang dengan semua ini! Makasih, ya, Zaina Cyra Fitriana.”
Ada panggung besar, persiapan yang cukup baik oleh panitia, meski masih beberapa panitianya tersebut mondar-mandir sendiri untuk mengecek ada kekurangan atau tidak. Siswa-siswinya sangat antusias, melihat kawasan daerah acara di sekolah, meskipun dengan tempat outdoor-nya tapi masih bisa diakali, penonton harus masih merasa nyaman untuk menontin. Ada juga lainnya, yaitu terpilihnya beberapa Guru berwawasan tinggi sebagai keputusan yang pas menjadikannya Dewan Juri. Amat digadang-gadang acara Gebyar Talenta ini.
Hari pertama dan kedua. Mengamati keadaan sekitar, sedikit lebih dari biasa. Mencoba mengambil segala keunikan yang ada, di mulai dari OSIS SMA kami. Segala persiapan dilakukan untuk acara tersebut. Para anggotanya mencoba seluruh keteguhan diselaraskan, agar mencapai hasil maksimal. OSIS beserta MPK selaku panitia sekurangnya bisa memulai acaranya dengan baik, meski selidikku mereka kurang butuh waktu sebenarnya untuk mempersiapkan. Disambil itu, aku tak luput memotret, mendokumentasikan, bersama Cyra serta tentunya para Jurnalis lainnya. Di mulai dari pembukaan Ekstrakurikuler Dance, betapa aduhainya senada dengan irama musik luarnya, dan ada tampil dari Ekstrakurikuler Group Band yang membawakan beberapa lagu, serta ada dari Ekstrakurikuler Teater Catur begitu memukau dengan menampilkan Drama Pendek dengan kekreatifannya diiringi musikalisasinya. Ada pula bakat dari perwakilan ekstrakurikuler lainnya maupun perwakilan mandiri siswa-siswi lainnya, seperti dari Ekstrakurikuler Pencak Silat, ada atraksi sirkus, sulap kartu, dan sebagainya, bahkan peserta yang gagal pun ada.
Hari ketiga dan keempat. Agak lain hari ini, penonton tampak lebih padat dan ramai rasaku bertanya pada Cyra. Entah mungkin bertepatan hari Sabtu dan Minggu, liburnya sekolah. Serta ada dugaan lainnya yaitu mungkin sanak family melihat pentas anaknya menunjukkan bakatnya karena hari libur itu pula? Segala kemungkinan terbuka di pikiranku, mungkin karena terlalu saking mengamati keberagaman di lain sisi pikirku. Pertunjukkan dimulai dari Ekstrakurikuler Paskibra Bima Raya, lantang teguh, macam aksi baris-berbaris serta kemenarikan gaya tampil mereka. Disusul selanjutnya Praja Muda Karana alias Ekstrakurikuler Pramuka. Tambah macam betul ini dibuat, segala tongkat, temali, serta benderanya digunakan sebaik mungkin, menunjukkannya secara gaya mereka yang unik. Ada pula bakat dari perwakilan ekstrakurikuler lainnya maupun perwakilan mandiri siswa-siswi lainnya, seperti dari Ekstrakurikuler KIR, ada menari solo, menyanyi solo, dan sebagainya, bahkan peserta yang masih gagal pun masih ada.
Hari kelima dan keenam. Dua hari penentuan Semi Final, ratusan peserta menjadi 50 lalu 20 peserta, sekarang diambil 10 peserta untuk maju ke Final. Tampak peserta terus mencoba ingin menampilkan yang paling terbaik dan luar biasa! Peserta yang paling konsisten dari awal, Sang Maestro Talenta! Banyak memanggilnya begitu. Dengan macam aksi unik setiap penampilannya. Lalu pada akhir acara, ditetapkannya para Finalis.
Hari terakhir, hari ketujuh. Hari penentuan Bintang Talenta.. Seperti biasa, sangat luar biasa, semaksimal mungkin menampilkan dari setiap Finalis. Di antara mereka, ada lolos dari beberapa perwakilan Ekstrakurikuler, seperti aksi konsisten penampilan yang memukau dari Teater Catur dan Paskibra, ada juga finalis lainnya tak kalah hebat dan luar biasa.
Hingga pada pengumuman juara sebagai Bintang Talenta,
“Bintang Talenta, jatuh kepadaaa..”
Seketika gadis bak dewi kayangan bergairah keringat perjuangan sepertiku. Rautnya macam kukenal. Dia menarikku untuk menjauh dari kerumunan. Terheran diriku, meski setelah dengan begitu, aku sadar ada yang menarikku. Namun, aku tak menolak maupun menepis tangannya yang menarik tanganku tersebut, aku tetap diam, seakan tersugesti. Di lain sisi, seluruh penonton terlebih fokus pada pengumumannya. Dia yang menarikku, sambil menunjukkan banyak hal yang berbeda dari biasanya, dari pandangan lain. Mengapa aku baru sadar, ada di acara ini sudut pandang yang berbeda dan menarik. Ya, sudut pandang belakang layar penonton. Seharusnya aku tak luput mendokumentasikannya. Amat lebih beragam lagi, ekspresi yang ternyata aku lupa, yaitu ekspresi para penonton sebagai ekspresi siswa-siswi lainnya yang mungkin belum ada kesempatan menunjukkan talenta mereka, atau bahkan yang gagal dari awal pun ada. Namun jelas, tampak ekspresi-ekspresi mereka seakan mungkin bisa lebih dari apa yang mereka tonton, hingga tak sia-sia acara ini dapat menarik rasa sadar untuk berekspresi yang meluap, dan sebagai motivasi diri mereka agar mau melangkah maju untuk merdeka-bebas mempertunjuk segala bakat atau talenta yang dimiliki tanpa ada halangan.
“Aku baru sadar dan akhirnya langsung nunjukin ke kamu. Maaf, ya, Zakki. Ayuk, saatnya beraksi, mumpung masih sempet! Hihi” Ungkap gadis yang menarikku tadi menunjukkan satu persatu, betapa amat ragam di sudut acara yang berbeda. Ada ragam terbagi kelompok-kelompok kecil maupun besar, bahkan ada sebutannya sudah supporter berat! Mulai adik kelas X, maupun kakak-kakak kelasnya yaitu kelas XI dan XII, bercampur, membaur, bersorak atas terpilihnya Sang Bintang Talenta, maupun menikmati acara sampai selesai.
Usai sudah acara besar nan panjang ini. Kala itu, bersama gadis yang menarikku untuk menunjukkan sudut lain yang berbeda dari acara berajang besar ini.
“Terima kasih, Cyra! Aku sudah ada banyak banget foto-foto maupun video yang amazing dan wow ini! Berkatmu juga semua ini. Yaudah kayaknya para penonton udah pulang semua, udah malem juga, ya meski masih sekitaran jam delapan sih. Ah tapi kamu kuanterin aja, ya.” lontarku mengakhiri percakapan. Ternyata gadis itu ialah Cyra! Kami pulang bersama. Penuh lelah dari raut kami, tapi tak sia-sia seperti halnya para penonton. Kami membawa hasil perjuangan dari tantangan yang luar biasa! Kami tidur malam ini dengan takjub.
Pagi itu mencoba mengamati sekali lagi. Ternyata masih ada sisa-sisa keberagaman. Tiada henti-hentinya pula terbahas yang terjadi di hari kemarinnya tersebut oleh seluruh murid. Para finalis bahkan peserta-peserta yang gagal pun banyak diapresiasi oleh para guru maupun teman kelas mereka masing-masing. Apalagi Sang Bintang Talentanya!
Lalu aku berjalan menyusur lorong maupun jalan setapak yang saling menghubungkan ruangan. Melihat sekolahku, luas sekali. Dengan cukup baik fasilitasnya, meski tetap perlu harus ada perbaikan di kerusakan-kerusakan kecil. Sedikit gersang, meski saat mendung, aduhai enak betul suasananya. Perkara suasana, masih tenteram dan nyaman untuk sebagai tempat belajar. Meski dengan di selanya beberapa sudut jarang terjamah, menimbul sampah-sampah berserakan. Ada lagi yang unik, yaitu amat beragam Guru dengan pengajarannya yang kadang menjengkelkan, dan ada pula yang asyik. Murid dituntut beradaptasi dengan semua itu, seharusnya Guru pun juga! Kebebasan belajar Murid dan penerapan pembelajaran yang baik oleh Guru, adalah kunci dasar berjayanya tenaga didik untuk menghasilkan generasi baru dengan SDM bermutu dan maju.. Dengan itu, keberagaman bakat atau talenta yang ada, harus dieksplor lebih lanjut serta mendalam.
-Yusril Muzakky
[Kamis, 09 Februari 2023.]