Merasa tak asing dengan foto pisang yang dilakban tersebut?, karya yang ber-judul "The Comedian" tersebut memang unik dan lucu. Pernah melihat atau mendengar karya bernama "America" yang berwujud tolilet?. Pernah mendengar karya seni "One and Three Chairs" yang berwujud kursi asli, foto kursi, dan definisi kursi. Karya seni ini memang unik. Tapi apakah hal tersebut bisa dianggap sebagai karya seni?, mari kita membahas bagaimana cara mengapresiasi karya seni yang bertipe "Conceptual Art" ini.
Pada permulaan ini kita akan membahas dulu makna dari 'Seni'. Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuknya, dan sebagainya.
Jadi seni tidak hanya pada pandangan kita terhadap sesuatu tersebut, namun kadang kita harus mengerti makna dan hal lain dibalik karya seni tersebut. Conceptual art benar-benar bisa membuat orang bingung dengan wujudnya yang sering terlihat atau nampak aneh, Mengutip informasi dari The Art Story, seni konseptual merupakan gerakan yang menghargai gagasan/ide/konsep atas komponen formal atau visual dari sebuah karya seni. Jadi kalau mau mudah cukup dipahami dengan mindset seperti ini, Conceptual Art masuk sebagai seni, dibuat oleh seniman, dibeli oleh kolektor seni, dan di apresiasi oleh peniqmat seni sehingga berubah kegunaan dan pandangan nya dimata orang-orang. hehe...
One and Three Chair karya Joseph Kosuth
Nah, mari kita membahas salah satu karya seni yang termasuk Conceptual Art. Yang kalian lihat diatas merupakan sebuah karya yang bernama 'One and Three Chair', dibuat oleh seniman bernama Joseph Kosuth pada tahun 1965. Hanya berisikan sebuah benda berwujud kursi dan itu memang kursi, sebuah foto dari kursi, dan juga definisi kamus yang diperbesar dari kata 'kursi'. Sebenarnya apa maksud dari karya ini?, jika mengutip dari wikipedia, One and Three chair terlihat menonjolkan relasi antara bahasa, gambar, dan rujukan. Ini mempermasalahkan hubungan antara objek, referensi visual dan verbal (denotasi) ditambah bidang semantik dari istilah yang dipilih untuk referensi verbal. Istilah kamus mencakup konotasi dan kemungkinan denotasi yang relevan dalam konteks penyajian One and Three Chair. Arti dari ketiga elemen tersebut adalah kongruen dalam bidang semantik tertentu dan tidak kongruen dalam bidang semantik lainnya: Kesesuaian semantik ("Satu") dan ketidaksesuaian rangkap tiga ("Satu dan Tiga"). Ironisnya, Satu dan Tiga Kursi dapat dipandang sebagai model yang sederhana namun agak kompleks, dari ilmu tanda. Kalian mungkin bertanya "apa yang nyata di sini?" dan jawab bahwa "definisi itu nyata"; Tanpa definisi, orang tidak akan pernah tahu apa itu kursi sebenarnya.
Karya tersebut cenderung menentang analisis formal karena satu kursi dapat diganti dengan kursi lain, membuat foto dan kursi yang difoto sulit dijelaskan. Namun demikian, kursi tertentu dan foto yang menyertainya cocok untuk analisis formal. Ada banyak kursi di dunia; sehingga hanya yang benar-benar digunakan yang dapat dijelaskan. Kursi-kursi yang tidak digunakan tidak akan dianalisis. Definisi kamus yang diperbesar dari kata kursi juga terbuka untuk analisis formal, seperti diagram yang berisi instruksi pekerjaan.
Karya bernama 'Untitled (Perfect Lovers) oleh Felix Gonzalles-Torres
Selanjutnya adalah karya seni yang benar-benar mengharukan. Karya yang dibuat oleh Felix Gonzalles-Torres ini berwujud dua buah jam yang ter-singkronisasi ke waktu, menit, dan detik yang sama. Karya ini terinspirasi dan dibuat berdasarkan kisah hidup Torres, dimana kedua jam tersebut merupakan perumpamaan dari Torres dan Pasangannya. Jadi pada kisahnya ini Torres mengumpamakan dia dan pasangannya dengan jam bukan tanpa alasan, karya ini merupakan respon atas di diagnosanya sang pasangan yang mengidap AIDS. Dua jam dinding ini menyimbolkan dengan mudah pengertian dan makna dibaliknya.
Pada masa itu mengidap penyakit AIDS hanyalah berarti satu hal, menunggu waktu kematian datang menjemput tanpa bisa ditunda lagi. Kedua jam dinding ini menyimbolkan detak jantung mereka berdua, dimana Torres tahu kelak mereka berdua tidak akan berjalan dengan sama lagi. Pada saat baterai jam tersebut habis dan jam berhenti berdetak, maka keduanya tidak bisa berjalan bersama lagi. Hal ini diartikan bahwa Torres dan pasangannya kelak akan dipisahkan oleh kematian, pada saat jantung salah satu dari mereka tak berdetak kembali. Benar-benar kisah yang mengharukan dibalik makna dari dua buah jam dinding yang ter-singkronisasi.
Kedua karya tersebut pun seharusnya sudah bisa menjawab kenapa Conceptual Art, walau berwujud sederhana dan termasuk benda sehari-hari, makna yang bisa dimasukkan dibaliknya sangatlah banyak dan benar- benar luar biasa dan berarti. Terkadang sebuah karya seni tak bisa dinikmati dengan mata saja, namun diresapi dan dipahami dengan baik. Oh iya, ada satu hal yang lupa saya sampaikan. Karya ini tidak bisa dibuat sembarangan, karena dengan memasang dua jam di ruang tamu gak akan bikin itu dua jam jadi mahal. Karya seni konseptual ini di miliki dengan sertifikat kepemilikan sehingga menjadi berharga, dan yang dibeli bukan hanya barangnya, namun juga konsep dan arti dibaliknya. Jadi Conceptual Art bukanlah seni sembarang. Kemungkinan itu saja hal yang bisa saya sampaikan dan jelaskan disini, sekian dari saya, dan terima kasih telah membaca.