Fluida dinamis adalah fluida yang mengalir atau bergerak terhadap sekitarnya. Dalam mempelajari fluida dinamis, maka semua fluida dianggap sebagai fluida ideal
Ciri-ciri umum fluida adalah sebagai berikut.
Aliran fluida dapat merupakan aliran tunak (steady) atau tak tunak (non-steady). Jika kecepatan v di suatu titik adalah konstan terhadap waktu, aliran fluida dikatakan tunak . Contoh aliran tunak adalah arus air yang mengalir dengan tenang (kelajuan aliran rendah). Pada aliran tak tunak , kecepatan v di suatu titik tidak konstan terhadap waktu. Contoh aliran tak tunak adalah gelombang pasang air laut.
Aliran fluida dapat termampatkan (compressible) atau tak termampatkan (incompressible). Jika fluida yang mengalir tidak mengalami perubahan volume (atau massa jenis) ketika ditekan, aliran fluida dikatakan tak termampatkan. Hampir semua zat cair yang bergerak (mengalir) dianggap sebagai aliran tak termampatkan. Bahkan, gas yang memiliki sifat sangat termampatkan, pada kondisi tertentu dapat mengalami perubahan massa jenis yang dapat diabaikan. Pada kondisi ini aliran gas dianggap sebagai aliran tak termampatkan. Misalnya pada penerbangan dengan kelajuan yang jauh lebih kecil daripada kelajuan bunyi di udara (340 m/s). Gerak relatif udara terhadap sayap-sayap pesawat terbang dapat dianggap sebagai aliran fluida yang tak termampatkan.
Aliran fluida dapat merupakan aliran kental (viscous) atau tak kental (non-viscous). Kekentalan aliran fluida mirip dengan gesekan permukaan pada gerak benda padat. Pada kasus tertentu, seperti pelumasan pada mesin mobil, kekentalan memegang peranan sangat penting. Akan tetapi, dalam banyak kasus kekentalan dapat diabaikan
Aliran fluida dapat merupakan garis arus (streamline) atau aliran turbulen. Untuk aliran tunak, kecepatan fluida di suatu titik yang sama pada suatu garis arus, misalnya titik P
Definisi Garis Arus
Garis arus adalah aliran fluida yang mengikuti suatu garis (lurus melengkung) yang jelas ujung dan pangkalnya. Garis arus disebut juga aliran berlapis (aliran laminar = laminar flow).
Kecepatan partikel fluida di tiap titik pada garis arus searah dengan garis singgung di titik tersebut. Dengan demikian, garis arus tidak pernah berpotongan .
Ketika melebihi suatu kelajuan tertentu, aliran fluida menjadi turbulen.
Aliran turbulen ditandai oleh adanya aliran berputar . Ada partikel-partikel yang memiliki arah gerak berbeda dan bahkan berlawanan dengan arah gerak keseluruhan fluida. Untuk mengetahui apakah suatu aliran zat cair merupakan garis arus atau turbulen, Anda cukup menjatuhkan sedikit tinta atau pewarna ke dalam za cair itu. Jika tinta menempuh lintasan yang lurus atau melengkung tetapi tidak berputar-putar membentuk pusaran, aliran fluida itu berupa garis arus. Akan tetapi, apabila tinta itu kemudian mengalir secara berputar-putar dan akhirnya menyebar, aliran fluida itu termasuk turbulen.
1. Konsep fluida ideal
Yang dimaksud dengan fluida secara umum adalah fluida ideal, yaitu fluida yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
Massa jenis fluida tidak bergantung pada tekanan artinya fluida tidak mengalami perubahan volume (massa jenis) karena pengaruh tekanan. (tidak kompresibel).
Aliran fluida tidak turbulen. atau dengan kata lain aliran fluida dianggap laminer (streamline).
Aliran fluida terjadi secara stasioner, artinya kecepatan pada setiap titik dalam fluida adalah konstan.
Fluida tidak kental, artinya tidak mengalami gesekan baik dengan lapisan fluida disekitarnya maupun dengan dinding tempat yang dilaluinya, sehingga semua gesekan yang muncul akibat viskositas fluida diabaikan.
2. Konsep aliran fluida
Setiap partikel dalam fluida dinamis, akan bergerak menurut jenis aliran tertentu. Lintasan yang ditempuh oleh satu partikel dalam fluida yang mengalir dinamakan garis alir (flow line).
Ada dua jenis aliran fluida:
(a) Aliran laminer
Pada aliran tunak/aliran garis arus (streamline), kecepatan aliran partikel fluida pada setiap titik konstan terhadap waktu, sehingga partikel-partikel fluida yang lewat pada suatu titik akan bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama, lintasan yang ditempuh oleh aliran fluida ini dinamakan garis arus. Nama lain dari garis arus adalah aliran berlapis atau aliran laminer. Contohnya aliran sungai yang jernih dan tenang.
(b) Aliran turbulen.
Pada aliran turbulen ditandai dengan adanya aliran yang berputar, adanya partikel yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah laju fluida secara keseluruhan. Contohnya aliran sungai yang deras dan bergelombang, banjir bandang dll.
3. Debit fluida
Debit fluida didefinisikan sebagai besaran yang menyatakan volume fluida yang mengalir melalui suatu penampang tertentu dalam satuan waktu tertentu. Debit fluida adalah nama lain dari laju aliran fluida, dan secara matematis dirumuskan sebagai berikut:
Tinjau: fluida mengalir melalui penampang pipa seluas A dan setelah selang waktu t menempuh jarak S, maka:
volume fluida adalah: V = A.S
sedang jarak S = v t,
maka :
V Q = ---- tsehingga debit fluida yang mengalir lewat pipa tersebut adalah:
Q = A . v (m³/s)
Dimana:
A = luas penampang pipa (m2)
Q = debit (m³/s)
V = volume fluida (m³)
v = laju/kecepatan aliran (m/s)
t = waktu (s)
Contoh soal :
Suatu pipa kecil mengalirkan 216.000 m3 air dalam waktu 1 jam. Hitung debit aliran air yang dialirkan oleh pipa kecil tersebut.
Diketahui:
V = 216.000 m3
t = 1 jam = 3.600 detik
Ditanya : Q
Jawab:
Q = V/t
= 216.000 / 3.600 = 60 m3/s
Driver taksi sedang mengisi bahan bakar di pom bensin. Selang pengisi bahan bakar mengalirkan 20 Liter pertalite dalam waktu 80 detik. Anggap prinsip kontinuitas berlaku, tentukan debit selang .
Apabila diketahui diameter mulut alat pengisi bahan bakar adalah 2 cm. Tentukan kecepatan aliran pertalite yang masuk ke dalam mobil pada soal sebelumnya.
Diketahui:
V = 20 l = 0,02 m3
t = 80 detik
d = 2 cm jadi r = 1 cm = 0,01 m
Ditanya : v
Dijawab:
Q = V/t = 0,02 / 80
= 0,00025 m3/s
A = π. r2 = 3,14 x 0,012
= 0,000314 m2
Q = A . v jadi v = Q/A
v = 0,00025/0,000314 = 0,796 m/s
4. Kecepatan aliran fluida
Pada aliran fluida tunak, massa fluida yang masuk ke satu ujung pipa adalah sama dengan massa fluida yang keluar pada ujung yang lainnya dalam selang waktu yang sama. Ingat pada aliran tunak tidak ada fluida yang keluar melalui dinding-dinding pipa.
Lihat gambar di atas aliran fluida pada suatu pipa. Jika ditinjau daerah (1) dan daerah (2) sebagai tempat pengukuran laju fluida dan massa fluida yang mengalir, maka:
A1 dan A2 adalah luas penampang pipa pada (1) dan (2).
ρ1 dan ρ2 adalah massa jenis fluida pada (1) dan (2).
v1 dan v2 adalah laju partikel-partikel fluid pada (1) dan (2).
Selama selang waktu t, fluida pada bagian 1 bergerak kekanan menempuh jarak : s1 = v1 . t , dan fluida pada bagian 2 bergerak kekanan menempuh jarak s2 = v2 t. Sehingga volume fluida yang mengalir masuk lewat bagian 1 pada pipa adalah V1 = A1 . s1 = A1 . v1 . t , dan volume fluida yang mengalir keluar lewat bagian 2 pada pipa adalah V2 = A2 . s2 = A2 .v2 t.
Massa fluida yang masuk pada bagian 1 selama selang waktu t:
m1 = ρ1.V1
= ρ1 . A1 . s1
= ρ1 . A1 . v1 . t
Dengan cara yang sama, massa fluida yang keluar bagian 2 selama selang waktu t:
m2 = ρ2 .V2
= ρ2 . A2 . s2
= ρ2 . A2 . v2 . t
Dimana :
m1 = massa fluida di bagian 1
m2 = massa fluida di bagian 2
ρ1 = massa jenis fluida di bagian 1
ρ2 = massa jenis fluida di bagian 2
s1 = jarak yang di tempuh fluida di bagian 1
s2 = jarak yang di tempuh fluida di bagian 2
v1 = laju/kecepatan fluida di bagian 1
v2 laju/kecepatan fluida di bagian 2
V1 = volume fluida di bagian 1
V2 = volume fluida di bagian 2
t = waktu yang di perlukan
Karena massa fluida yang masuk pada bagian (1) sama dengan fluida yang keluar pada bagian (2), maka dari kedua buah persamaan di atas diperoleh:
ρ1 . A1 . v1 = ρ2 . .A2 . v2
Dan persamaan tadi dikenal dengan persamaan kontinuntas. Karena fluida yang kita bahas adalah fluida tak termampatkan (non-compresible), maka massa jenis fluida tidak mengalami perubahan selama perjalanan mengalirnya, dengan kata lain untuk kasus ini berlaku ρ1 = ρ2 , sehingga
persamaan di atas dapat disederhanakan menjadi:
A1 . v1 = A2 . v2
Jadi pada fluida yang tak termampatkan, berlaku hasil kali luas penampang dengan laju fluida adalah konstan. Dan karena debit fluida Q = A v, maka ungkapan lain dari persamaan adalah :
Q1 = Q2
Jadi pada fluida tak termampatkan,berlaku: debit fluida di setiap bagian adalah konstan.
Persamaan kontinuitas pada persamaan di atas, dapat dimodifikasi menjadi bentuk lain, yaitu:
(1). Perbandingan kecepatan fluida dengan luas penampang:
v1 A2
---- = ----v2 A1
(2). Perbandingan kecepatan fluida dengan diameter penampang :
v1 r22 D22
---- = ---- = ----v2 r12 D12
Dimana
r1 = jari jari penampang pipa 1
r2 = jari jari penampang pipa 2
D1 = diameter penampang pipa 1
D2 = diameter penampang pipa 2
Jadi kelajuan aliran fluida tak termampatkan berbanding terbalik dengan kuadrat jari-jari atau diameter penampang pipa.
Contoh soal :
Sebuah pipa berdiameter 5 cm terhubung dengan pipa berdiameter 1 cm. Pada pipa 5 cm mengalir air dengan kecepatan 2 m/s. Tentukan kecepatan aliran air pada pipa 1 cm.
Diketahui :
d1 = 5 cm ---> r = 2,5 cm
d2 = 1 cm ---> r = 0,5 cm
v1 = 2 m/s
Ditanya : v2
Jawab :
A1 = π. r12 = 3,14 x 2,52= 19,625 cm2
A2 = π. r22 = 3,14 x 0,52=0,785 cm2
A1 . v1 = A2 . v2
19,625 x 2 = 0,785 x v2
v2 = 39,25 / 0,785 = 50 m/s
5. Tekanan
Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang bekerja tegak lurus pada suatu bidang dibagi dengan luas bidang itu. Dan secara matematis dirumuskan sebagai berikut
gaya
Tekanan = ------- luasF
atau p = ----- ADan untuk menghormati Blaise Pascal, seorang ilmuwan berkebangsaan Prancis yang menemukan prinsip Pascal, maka satuan tekanan dalam SI dinamakan juga dalam Pascal (disingkat Pa), 1 Pa = 1 Nm-2. Untuk keperluan lain dalam pengukuran, besaran tekanan juga biasa dinyatakan dengan: atmosfere (atm), cm-raksa (cmHg), dan milibar (mb), (1 Pa = 1 N/m 2, 1 atm = 76 cm Hg, 1 mb = 0,001 bar, 1 bar = 105 Pa, 1 atm = 1,01x105 Pa = 1,01 bar).
Dalam hal ini perlu dipertegas bahwa istilah tekanan dan gaya jelas berbeda, konsep tekanan dalam fisika (khususnya dalam bahasan fluida: hidrostatika dan hidrodinamika), kedua istilah tersebut menjelaskan besaran yang berbeda dengan karakteristik yang berbeda. Tekanan fluida bekerja tegak lurus terhadap permukaan apa saja dalam fluida tidak perduli dengan orientasi permukaan (tegak, mendatar atau miring). Tekanan tidak memiliki arah tertentu dan termasuk besaran skalar. Tetapi gaya adalah besaran vektor, yang berarti memiliki arah tertentu.
6. Energi Potensial fluida
Tinjau peristiwa air terjun, bagaimana menghitung energi yang dihasilkan oleh air terjun yang mengalir dengan debit Q dari ketinggian h. Dari konsep energi, bahwa massa pada ketinggian h akan mempunyai energi potensial:
Ep = mgh
Begitu juga air yang jatuh dari ketinggian h (air terjun juga memiliki energi potensial karena dia juga punya massa m).
Daya P yang dibangkitkan oleh energi potensial air setinggi h dengan debit air Q adalah:
Ep
P = ----- tmgh
= ------ tρ V g h
= ------- t= ρ Q g h
Dimana: ρ adalah massa jenis
Q= debit air
h= ketinggian air
P= daya air terjun
Pada saat kita akan menyemprotkan air dengan menggunakan selang, kita akan melihat fenomena fisika yang aneh tapi nyata. Ketika lubang selang dipencet, maka air yang keluar akan menempuh lintasan yang cukup jauh. Sebaliknya ketika selang dikembalikan seperti semula maka jarak pancaran air akan berkurang. Fenomena fisika tersebut dapat dijelaskan dengan mempelajari bahasan tentang persamaan kontinuitas berikut.
Persamaan kontinuitas menghubungkan kecepatan fluida di suatu tempat dengan tempat lain. Sebelum menurunkan hubungan ini, kita harus memahami beberapa istilah dalam aliran fluida.
Garis alir (stream line) didefinisikan sebagai lintasan aliran fluida ideal (aliran lunak).
Garis singgung di suatu titik pada garis alir menyatakan arah kecepatan fluida.
Garis alir tidak ada yang berpotongan satu sama lain. Tabung air merupakan kumpulan dari garis-garis alir. Pada tabung alir, fluida masuk dan keluar melalui mulut-mulut tabung. Fluida tidak boleh masuk dari sisi tabung karena dapat menyebabkan terjadinya perpotongan garis-garis alir. Perpotongan ini akan menyebabkan aliran tidak lunak lagi.
Karena fluida tidak mampu dimampatkan (inkompresibel), maka aliran fluida di sembarang titik sama. Jika ditinjau dari dua tempat, maka debit aliran 1 sama dengan debit aliran 2.
Debit fluida yang masuk sama dengan yang keluar
Misal terdapat suatu tabung alir seperti tampak pada gambar diatas. Air masuk dari ujung kiri dengan ke cepatan v1 dan keluar di ujung kanan dengan kecepatan v2. Jika kecepatan fluida konstan, maka dalam interval waktu Δt fluida telah menempuh jarak Δs1 = v1 x Δt. Jika luas penampang tabung kiri A1 maka massa pada daerah yang diarsir adalah :
Δm1 = ρ1 A1 ΔS1 = ρ1 A1 v1 Δt
Demikian juga untuk fluida yang terletak di ujung kanan tabung, massanya pada daerah yang diarsir adalah :
Δm2 = ρ2 A2 ΔS2 = ρ2 A2 v2 Δt
Karena alirannya lunak (steady) dan massa konstan, maka massa yang masuk penampang A1 harus sama dengan massa yang masuk penampang A2. Oleh karena itu persamannya menjadi:
Δm1 = Δm2
ρ₁ A₁ v₁ = ρ₂ A₂ v₂
Persamaan di atas dikenal dengan nama persamaan kontinuitas. Karena fluida inkonpresibel (massa jenisnya tidak berubah ρ₁= ρ₂ ), maka persamaan menjadi:
A1 .v1 = A2 .v2
Menurut persamaan kontinuitas, perkalian luas penampang dan kecepatan fluida pada setiap titik sepanjang suatu tabung alir adalah konstan. Persamaan di atas menunjukkan bahwa kecepatan fluida berkurang ketika melewati pipa lebar dan bertambah ketika melewati pipa sempit. Itulah sebabnya ketika orang berperahu disebuah sungai akan merasakan arus bertambah deras ketika sungai menyempit.
Perkalian antara luas penampang dan volume fluida (A × v) dinamakan laju aliran atau fluks volume (dimensinya volume/waktu). Banyak orang menyebut ini dengan debit (Q = jumlah fluida yang mengalir lewat suatu penampang tiap detik). Secara matematis dapat ditulis :
Q = A × v
V
Q = ---- tdengan V menyatakan volume fluida bergerak yang mengalir dalam waktu t.
8. Hukum Bernoulli
Hukum Bernoulli merupakan hukum yang berlandaskan kekekalan energi per unit volume pada aliran fluida. Hukum ini menyatakan bahwa fluida pada keadaan tunak, ideal, dan inkompresibel; jumlah tekanan, energi kinetik, dan energi potensialnya memiliki nilai yang sama di sepanjang aliran. Jika ditinjau dari dua tempat, maka hukum Bernoulli dapat dijelaskan sebagai berikut::
Total energi pada pipa 1 sama dengan total energi pada pipa2 yang meliputi energi mekanik ( F.s ) , energi kinetik ( ½m . v2 ) dan energi potensial ( m.g.h ). Sehingga dapat di tulis dengan rumus:
F1.s1 + Ek1 + Ep1 = F2.s2 + Ek2 + Ep2
P1A1s1+½mv12 + mgh1= P2A2s2+½mv22 + mgh2
Karena besarnya volume fluida tetap, maka volume pada pipa1 sama dengan volume pada pipa2 ( V1 = V2 ) sehingga dapat di tulis V dan massa jenis fluida pada pipa1 sama dengan massa jenis fluida pada pipa2 ( ρ1 = ρ2 ) sehingga dapat di tulis ρ.
Maka persamaannya menjadi :
P1V +½ρVv12 +ρVgh1 = P2V +½ρVv22 + ρVgh2
P1 + ½ρ.v12 + ρ.g.h1 = P2 + ½ρ.v22 + ρ.g.h2
Dimana:
P = tekanan (Pa)
ρ = massa jenis fluida (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (9,8 m/s2)
h = ketinggian air (m)
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
Karena fluida disini merupakan fluida inkompresibel, maka massa jenisnya tidak berubah, sehingga persamaannya dapat disederhanakan menjadi:
(P1 - P2 )
----------- = ½ ( v22 - v1 2 ) + g ( h2 - h1 )ρKeterangan:
P1= tekanan di pipa 1 (N/m2);
P2= tekanan di pipa 2 (N/m2);
ρ1 = massa jenis pipa 1 (kg/m3);
ρ2 = massa jenis pipa 2 (kg/m3);
v1 = kecepatan fluida di pipa 1 (m/s);
v2 = kecepatan fluida di pipa 2 (m/s);
h1 = ketinggian penampang pipa 1 dari titik acuan (m);
h2 = ketinggian penampang pipa 2 dari titik acuan (m);
g = percepatan gravitasi (m/s2).
Contoh soal :
Sebuah pipa luas penampang besar 10 cm2 dan penampang kecil 5 cm2. Apabila kecepatan aliran air pada pipa besar 2 m/s dengan tekanan 40 Kpa, maka tekanan pada pipa kecil adalah… . .(ρair = 1000 kg/m3)
Diketahui:
A1 = 10 cm2
A2 = 5 cm2
h1 = 0
h2 = 60 cm = 0,6 m
v1 = 2 m/s
g = 10 m/s2
P1 = 40 Kpa = 40.000 pa
ρair = 1000 kg/m3
Ditanya : P2
Jawab :
Hitung terlebih dahulu kecepatan air pada pipa kecil dengan menggunakan persamaan kontinuitas sebagai berikut.
A1 . v1 = A2 . v2
10 . 2 = 5 . v2
v2 = 20 / 5 = 4 m/s
Selanjutnya, untuk menentukan P2 kita gunakan Hukum Bernoulli sebagai berikut:
P1 + ρgh1 + 1/2 ρv12 = P2 + ρgh2 + 1/2 ρv22
40 + 1000x10x0 + 1/2x1000x22 = P2 + 1000x10x0,6 + 1/2x1000x42
40.000 + 2000 = P2 + 6000 + 8000
P2 = 42.000 – 14.000 = 28.000 pa = 28 Kpa