GULA CAKAR
GULA CAKAR
Gula cakar adalah pemanis tradisional khas Majalengka yang memiliki bentuk unik berupa kubus kecil dengan warna merah muda dan tekstur berpori. Gula ini sering digunakan sebagai pemanis untuk teh atau kopi karena mudah larut, baik dalam air panas maupun dingin.
Berdasarkan penelitian berjudul Pelestarian Gula Cakar Sebagai Bahan Pemanis Tradisional Khas Majalengka (2022) yang ditulis oleh Rani Amalani dan tim dari Prodi Pendidikan Tata Boga, Universitas Pendidikan Indonesia, sejarah gula cakar memiliki cerita yang menarik. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa gula cakar pertama kali ditemukan oleh komunitas Tionghoa sekitar tahun 1920-an. Produksi gula cakar di Majalengka ternyata juga berhubungan dengan keberadaan dua pabrik gula peninggalan masa kolonial Belanda, yaitu Pabrik Gula Kadipaten (PG Kadipaten) dan Pabrik Gula Jatiwangi (PG Jatiwangi). Pada masa itu, produksi gula cakar menjadi sangat populer dan dikenal sebagai salah satu makanan khas masyarakat Majalengka berakar pada masa kolonial, ketika daerah ini memiliki dua pabrik gula besar, yaitu Pabrik Gula Kadipaten dan Pabrik Gula Jatiwangi. Produksi gula cakar sangat marak pada masa itu, tetapi mulai menurun setelah kedua pabrik tersebut ditutup.
Proses pembuatan gula cakar melibatkan bahan seperti gula pasir, soda kue, dan pewarna makanan. Campuran ini direbus hingga mendidih, kemudian dituangkan ke dalam loyang untuk membentuk tekstur berpori khasnya. Gula cakar tidak hanya menjadi pemanis, tetapi juga simbol budaya dan tradisi Majalengka yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Gula cakar tetap populer di Majalengka karena keunikan dan estetika tradisionalnya. Gula cakar masih dibuat secara manual oleh beberapa keluarga di Majalengka, menjadikannya bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan. Selain itu, tampilannya yang ceria dan unik sering menarik perhatian wisatawan sebagai oleh-oleh khas.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, penulis mendapatkan informasi bahwa gula cakar, pemanis tradisional khas Majalengka, masih dapat ditemukan di daerah Kutamanggu, Majalengka. Keberadaannya di wilayah ini menunjukkan bahwa tradisi dan produksi gula cakar tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa gula cakar masih menjadi bagian penting dari identitas kuliner lokal.