Search this site
Embedded Files

HOME

EKOTEOLOGI PROFETIK

EKOTEOLOGI PROFETIK

Apa Sih Ekoteologi Itu?

Secara sederhana, "eco" berarti lingkungan, "teologi" berarti keimanan kepada Allah, dan "profetik" berarti kenabian. Jadi, ekoteologi profetik adalah pemahaman tentang bagaimana manusia beriman sekaligus bertanggungjawab menjaga alam, dengan meneladani Nabi Muhammad SAW.

"Mengapa Islam Peduli pada Bumi?": Pesan Al-A'raf Ayat 31 untuk Generasi Hijau

Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan hanya peduli ibadah, tetapi juga pada cara kita memperlakukan bumi. larangan berlebih-lebihan (israf) dalam ayat ini mencakup seluruh aspek kehidupan, bukan hanya soal makanan, tetapi juga cara kita menggunakan air, energi, pakaian, dan sumber daya alam. 

Allah SWT mengingatkan bahwa keborosan dan keserakahan mausia adalah akar dari banyak kerusakan lingkungan hari ini. Seperti hutan gundul, sampah menumpuk, udara kotor, dan iklim semakin panas. Maka, seorang Muslim seharusnya menjadi penjaga bumi (Khalifah fil ardh), bukan perusaknya. 

Untuk menjaga bumi sebagai bentuk cinta kepada sang pencipta, kita bisa mulai dari hal-hal kecil seperti:

  • Mengambil makanan secukupnya dan tidak membuang sisa.

  • Menghemat air wudhu dan listrik.

  • Menanam pohon atau merawat tanaman di rumah.

  • Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

  • Membiasakan diri hidup sederhana dan bersyukur.


Apakah gaya hidupmu sesuai ajaran Al-A'raf 31? Yuk ikuti kuis ini!

"Khalifah di Bumi": Tugas Suci dari Al-Baqarah Ayat 30 untuk Remaja Muslim

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia bukan sekedar penghuni bumi, tetapi pemegang amanah besar dari Allah yaitu menjadi khalifah fil ardh sebagai penjaga dan pengelola bumi. Sebagai khalifah, kita diberi akal, hati, dan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya demi kepentingan sesaat. Allah percaya kepada manusia untuk mengatur bumi dengan adil dan penuh kasih, bukan hanya menikmati ciptaan Allah, tetapi juga memeliharanya  generasi berikutnya masih bisa merasakan keindahannya.

“Nabi Muhammad SAW dan Cinta Lingkungan": Pelajaran dari HR. Bukhari no. 2320

Dalam Islam, Rasulullah SAW meneladankan pentingnya memakmurkan bumi dan menjaga kelestarian alam. Beliau melarang penggundulan hutan, menebang pohon sembarangan, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melarang mematahkan ranting, menebang pohon, atau merusak tanaman Larangan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kehidupan alam dan keseimbangan ekosistem. Teladan Nabi ini juga diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Saat mengirim pasukannya ke Syam, beliau berpesan: "Jangan membunuh anak-anak, perempuan, atau orang tua. Jangan menebang pohon yang berbuah, dan jangan membakar pohon kurma." Dari pesan ini kita belajar bahwa bahkan di tengah perang pun, Islam menjaga kehidupan. Pepohonan yang berbuah harus dilindungi karena menjadi sumber manfaat bagi manusia dan makhluk lain. 

Setelah menegaskan larangan merusak alam. Rasulullah SAW juga mendorong umatnya untuk menanam dan merawat kehidupan. Beliau bersabda: "Tiada seorang Muslim menanam pohon atau menebar benih, lalu sebagian darinya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya." Hadis ini menunjukkan bahwa setiap tindakan menjaga alam bernilai ibadah. Menanam pohon bukan sekedar kegiatan fisik, tetapi juga wujud rasa syukur dan cinta kepada Allah. Setiap daun, buah, dan naungan yang memberi manfaat akan menjadi pahala yang terus mengalir.  Setelah mempelajari modul ini, yuk kita selesaikan tantangannya! Klik disini yaa!

"Jangan Buang Makanan!": Hikmah HR. Muslim No. 2033 tentang Syukur dan Hemat

Hadis ini mengandung pesan mendalam tentang sikap menghargai nikmat Allah SWT. Rasulullah SAW mengajarkan agar setiap rezeki sekecil apapun tidak disia-siakan. Dengan mencontohkan tindakan sederhana seperti memungut makanan yang jatuh dan tetap memakannya setelah dibersihkan, beliau menunjukkan betapa pentingnya rasa syukur dan sikap hemat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kehidupan modern, hadis ini relevan dengan isu food waste atau pemborosan makanan. Banyak orang mengambil makanan berlebihan, lalu membuang sisanya tanpa disadari bahwa setiap butir nasi yang terbuang mencerminkan kurangnya rasa syukur dan tanggung jawab terhadap alam. Dengan demikian, hadis ini tidak hanya mengajarkan adab makan, tetapi juga mengingatkan manusia untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan tidak bersikap berlebihan dalam konsumsi. Menghabiskan makanan berarti menghormati rezeki yang telah diberikan Allah SWT, sedangkan membuang makanan tanpa alasan termasuk dalam perbuatan mubazir yang dibenci Allah SWT.  

@ 2025 Green Sunnah Website MTsN 1 Tulungagung. Media Internalisasi  Nilai Ekoteologi Profetik dalam Meningkatkan Sikap Eco Living
Google Sites
Report abuse
Page details
Page updated
Google Sites
Report abuse