Datanglah KerajaanMu: Pelayan, Bukan Pemilik
Datanglah KerajaanMu: Pelayan, Bukan Pemilik
Pendahuluan: Ketika Doa dan Realita Tidak Selaras
Setiap minggu, mungkin bahkan setiap hari, banyak dari kita memanjatkan Doa Bapa Kami. Kita mengucapkan dengan lantang dan penuh keyakinan, "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Kata-kata yang begitu akrab ini telah menjadi bagian dari ritus ibadah dan doa pribadi kita. Namun, ketika kita membuka mata dan melihat kehidupan sehari-hari dalam pelayanan gereja, kita akan menemukan sebuah kenyataan yang mengganggu: banyak pelayan Tuhan hidup dan melayani bukan demi Kerajaan-Nya, melainkan sedang membangun kerajaannya sendiri.
Secara halus dan tidak disadari, banyak pemimpin rohani mulai melihat jemaat sebagai 'milik' mereka. Istilah seperti "jemaat saya" atau "gereja saya" sering terucap bukan sekadar untuk menunjukkan tanggung jawab, tetapi kadang mencerminkan rasa kepemilikan, itu bagus kok, namun harus diingat, secara teologis dan alkitabiah, tidak satu pun dari kita memiliki hak atas jemaat. Kita hanyalah pelayan. Bukan pemilik.
Tulisan ini mengajak kita (bahkan saya yang terus bergumul dalam panggilan ini) untuk merenungkan kembali panggilan sejati kita sebagai pelayan dalam kerajaan Allah, mengakui bahwa hanya Kristuslah Sang Pemilik sejati.
Kristus adalah Pemilik, Kita Hanya Penjaga
Rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul 20:28 memberikan peringatan yang sangat kuat kepada para penatua di Efesus: "Jagalah dirimu dan seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan oleh Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri."
Ayat ini secara gamblang menyatakan bahwa jemaat adalah milik Allah, diperoleh dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah Kristus sendiri. Tidak ada pemimpin rohani mana pun yang dapat mengklaim bahwa mereka 'memiliki' jemaat itu. Kita hanya ditetapkan sebagai penilik, pengawas, penjaga. Bahkan istilah 'penilik' (episkopos) menyiratkan tanggung jawab pengawasan yang bukan berdasarkan otoritas pribadi, melainkan sebagai bentuk pelimpahan tugas dari Allah sendiri.
Yesus sendiri menyebut diri-Nya sebagai Gembala yang baik dalam Yohanes 10:11 dan 14. Ia berkata, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya... Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku."
Kita tidak mati untuk jemaat. Kita tidak menciptakan mereka. Kita tidak menebus mereka. Oleh karena itu, kita tidak memiliki mereka. Dalam sebuah khotbahnya, Agustinus mengatakan: "I am a shepherd with you, but under the Chief Shepherd. I feed you as one who is fed with you." Kutipan ini menunjukkan bahwa bahkan gembala yang paling dihormati pun di gereja-gereja tetap hanyalah sesama domba yang ditugaskan untuk menjaga kawanan lainnya, oleh karena itu Agustinus pun mengatakan bahwa dia memberi makan jemaat tetapi disaat yang sama juga sedang makan bersama jemaat yang lain. Maka kita harus memahaminya bahwa tugas mulia ini diberikan Allah kepada kita untuk memperhatikan domba-domba milik-Nya.
Kerajaan Allah, Bukan Kerajaan Pribadi
Matius 6:10 bukan hanya sebuah doa, melainkan deklarasi penyerahan diri: "Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga." Kata-kata ini menyatakan bahwa kita melepaskan kontrol pribadi dan menyerahkan segala sesuatu kepada pemerintahan Allah. Namun realitanya, banyak pelayan Tuhan mulai membangun struktur, program, dan gaya kepemimpinan yang lebih menonjolkan kehadiran mereka sendiri dibandingkan Kristus. Itu bagus, membuat program berdasarkan riset yang sistematis dan teknis, membuat visi-misi serta tujuan yang akan dicapai sangat bagus dan baik, justru memang harus seperti itu sebagai pemimpin (malah parah jika pemimpin atau pengurus tidak membuat program atau membuatnya dengan asal-asalan tanpa riset kebutuhan dan konteks lokal). Yang bahaya adalah branding pelayanan berubah menjadi ekspansi pengaruh pribadi dari sang pemimpin atau organisasi. Ketika nama pemimpin lebih dikenal daripada nama Yesus yang diberitakan, kita patut bertanya: kerajaan siapa yang sedang dibangun? Puji Tuhan kalo ada yang dipakai Tuhan hingga terkenal mengabarkan Injil Kerajaan Sorga dan pemikirannya dinanti-nantikan banyak orang, namun masalahnya disini adalah yang kasat mata, yaitu di dalam hati, apakah benar itu untuk Tuhan atau memang mengedepankan diri sendiri?
Dalam konteks ini, Dietrich Bonhoeffer mengingatkan kita bahwa "Gereja hanya menjadi Gereja ketika ia ada untuk orang lain." Jika pelayanan hanya berpusat pada popularitas, kontrol, atau angka kehadiran, maka itu adalah kerajaan pribadi yang sedang dibangun di atas nama Allah. Karena gereja hanya hadir untuk memenuhi visi pribadi atau kelompok tertentu, bukan hadir untuk mengasihi orang lain dan mengedepankan kemuliaan Tuhan.
Hamba yang Setia, Bukan Pemilik yang Tuntut Balas
Petrus menuliskan dalam 1 Petrus 5:2–4:
"Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah; dan jangan karena ingin mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berkuasa atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi jadilah teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu."
Ini adalah perintah langsung dan penuh kasih yang memperjelas posisi kita sebagai pelayan. Kita bukan pemilik yang bisa menuntut, mengatur sewenang-wenang, apalagi memperalat jemaat. Kita adalah hamba. Bahkan, dalam Lukas 17:10, Yesus berkata, "Demikian jugalah kamu, apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan."
Hamba yang setia tidak menuntut balas. Ia tidak tersinggung ketika tidak disanjung. Ia tidak iri ketika orang lain lebih berhasil. Ia tidak marah ketika pekerjaannya tidak dihargai. Karena ia tahu, bahwa pelayanan yang dikerjakannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Tuhan Sang Kepala Gereja, Yang memilikinya.
Bahaya Ilusi Kepemilikan: Mengapa Tuhan Menegur
Yehezkiel 34 menyajikan sebuah nubuatan tajam tentang para gembala Israel yang isinya jika di paraphrase dari ayat 2-4:
"Celakalah para gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah seharusnya para gembala menggembalakan kawanan domba? Kamu memakan lemaknya, kamu mengenakan bulunya, kamu menyembelih yang gemuk, tetapi kamu tidak menggembalakan domba-domba itu."
Tuhan marah ketika para pemimpin memperalat umat untuk kepentingannya sendiri. Ketika pelayanan menjadi tempat mencari pujian, keuntungan, atau kekuasaan (hanya untuk aktualisasi diri sang pemimpin), maka Tuhan sendiri akan turun tangan. Dalam konteks Yehezkiel, Tuhan bahkan berkata, "Aku sendiri akan memperhatikan domba-dombaKu" (ay. 11) Ini menunjukkan bahwa ketika pemimpin gagal, Tuhan tidak akan membiarkan kawanan-Nya terlantar. Jadi mari kita (karena semuanya adalah domba Allah) ketika berjemaat namun melihat ada persekutuan yang kacau, Pendeta atau pengurusnya tidak menerapkan kasih, jangan anggap semua persekutuan gereja atau pemimpin rohani sama, selama kita bersungguh hati di hadapan Tuhan, Dia akan menuntun kita ke tempat kita bisa bertumbuh dengan baik.
Kritik terhadap gembala palsu ini juga berlaku hari ini. Pelayanan bukanlah tempat untuk membangun portofolio pribadi, melainkan altar pengabdian. Mimbar bukanlah panggung untuk mementaskan kegagahan dan kehebatan diri, namun mezbah dimana ‘domba dikorbankan’ untuk kemuliaan Allah, itu adalah tempat dimana kita menyembah (berlutut, bersujud) – merendahkan diri dan meninggikan Allah dalam kemuliaanNya.
Penutup: Pelayan yang Tunduk pada Sang Raja
Dalam 1 Korintus 3:6–7, Paulus menulis:
"Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan."
Ayat ini menyadarkan kita bahwa peran kita bukanlah sebagai sumber kehidupan rohani jemaat, melainkan sebagai alat, sebagai hamba yang adalah pekerja. Yang mana semua pekerja ini harusnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk merangsang pertumbuhan, baik dengan menanamkan benih Injil atau menyiram dengan nasihat yang sesuai dengan Firman Tuhan yang menyegarkan jiwa. Bahkan ketika kita melihat hasil dari pelayanan kita, kita tidak boleh mencuri kemuliaan Allah. Segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.
Doa "Datanglah Kerajaan-Mu" bukan hanya pengakuan iman, melainkan penyangkalan diri. Kita menyerahkan semua rencana, program, visi-misi dan pencapaian kepada kehendak Tuhan. Kita berhenti melihat diri sebagai pemilik, kita harus berhenti melihat diri sebagai pusat dari pelayanan ini. Kita menjadi pelayan yang tunduk dan setia kepada Raja yang hidup.
"Aku bukan pemilik jemaat ini. Aku hanya pelayan di ladang-Mu, Tuhan. Jagalah mereka, dan jagalah hatiku agar tidak merebut kemuliaan-Mu."
"Aku bukan pemilik pekerjaan ini. Aku hanya mengerjakan apa yang Kau percayakan Tuhan. Sadarkan aku jika aku lupa posisiku."
Tulisan ini memang terkhusus menyebut pemimpin rohani (termasuk pengingat bagi saya pribadi) namun tulisan ini juga adalah panggilan untuk setiap pelayan Tuhan—dari pendeta, penatua, pemimpin pujian, hingga pengajar sekolah minggu—untuk kembali kepada posisi yang benar: di kaki Kristus, tunduk kepada kehendak-Nya, setia menjaga domba yang “bukan milik kita.”
Sebab jemaat bukan warisan pelayanan, tetapi milik Kristus, Sang Raja yang akan datang. Dan sampai Dia datang, kita hanya penjaga di ladang-Nya.
Datanglah KerajaanMu. Jadilah kehendak-Mu. Bukan kehendak kami. Amin.