Hidup tuh harus seimbang. Lihat saja zaman sekarang, seperti yang digaungkan oleh kebanyakan Gen Z, yang lebih aware dengan yang namanya 'work-life balance,' yang mana konsepnya adalah menekankan keseimbangan bekerja (work) dan beristirahat (menikmati hidup/life).
Terus gimana dengan kehidupan rohani kita sebagai orang Kristen? Kita harus tahu dan yakin dalam iman kita, bahwa keseimbangan hidup hanya bisa dijumpai ketika kita melibatkan Tuhan Yesus Kristus dalam hidup kita, oleh karena itu kali ini kita bahas bersama 'pray-work-life balance.' Dalam pengajaran Iman Kristen, kita tahu istilah ini "Ora et Labora" yang bisa menjadi konsep untuk mengajarkan kita keseimbangan dalam hidup seorang Kristen.
Ora et Labora adalah pepatah Latin yang dicetuskan oleh Santo Benediktus dari Nursia, yang secara harfiah berarti "Berdoa dan Bekerja". Ungkapan ini merangkum sebuah disiplin hidup Kristen yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual yang khusyuk (doa) dan tanggung jawab praktis dalam kehidupan sehari-hari (kerja).
Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Tesalonika, Rasul Paulus secara khusus menyoroti pentingnya bekerja dan mengkritik keras sikap kemalasan. Ayat-ayat ini memberikan landasan yang kokoh mengapa "bekerja" adalah bagian integral dari panggilan iman:
“Sebab kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Kepada orang-orang yang demikian kami nasehatkan dan kami peringatkan dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya sendiri dan dengan demikian makan rotinya sendiri.” (2 Tesalonika 3:11-12)
Iman Kristen tidak hanya menyelaraskan pekerjaan dengan kehidupan pribadi (Work-Life Balance), tetapi juga menempatkan Doa (Ora) sebagai pusat yang memberikan makna pada keduanya.
Konsep Pray-Work-Life Balance menegaskan bahwa Doa bukanlah sekadar satu aktivitas di antara yang lain, melainkan fondasi yang mengubah pandangan kita tentang Kerja dan Hidup.
Doa bukanlah pelarian, melainkan persiapan dan penyerahan. Prinsip Ora mengajarkan bahwa sebelum, selama, dan sesudah bekerja, kita harus mencari hadirat dan kehendak Allah.
Penyertaan Tuhan: Dalam Nehemia 2:4, Nehemia, ketika ditanya Raja Artahsasta mengenai permintaannya, ia "berdoa kepada Allah semesta langit" terlebih dahulu sebelum menyampaikan rencana konkretnya. Doa adalah pengakuan bahwa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri.
Menguduskan Pekerjaan: Ketika kita berdoa, kita mengundang Tuhan untuk campur tangan, mengoreksi, menuntun, dan mengarahkan pekerjaan kita sesuai dengan kehendak-Nya. Doa menjadikan pekerjaan sehari-hari sebagai sebuah ibadah—sebuah tindakan penyembahan.
Kerja bukanlah kutukan, melainkan kemitraan dengan Allah. Prinsip Labora menuntut tanggung jawab dan kerajinan, menolak kemalasan yang dianggap Paulus sebagai sikap yang "tidak tertib" dan "sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna."
Tanggung Jawab Kristen: Paulus menekankan bahwa setiap orang harus "makan rotinya sendiri" (2 Tesalonika 3:12). Ini adalah seruan untuk bekerja keras, mandiri, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Kerja adalah sarana untuk menyediakan kebutuhan diri, keluarga, dan bahkan memiliki "sesuatu untuk dibagikan kepada yang kekurangan" (Efesus 4:28).
Melakukan Kehendak Allah: Yesus sendiri mengingatkan bahwa bukan yang berseru "Tuhan, Tuhan" yang masuk Sorga, melainkan yang melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21). Dalam konteks ini, bekerja dengan jujur, tekun, dan penuh kasih adalah wujud nyata dari ketaatan pada kehendak Allah.
Komponen "Life" dalam keseimbangan Kristen mencakup aspek-aspek di luar pekerjaan, seperti waktu untuk keluarga, komunitas, pelayanan, hobi dan pemeliharaan diri. Ini berakar pada prinsip Sabat.
Sabat sebagai Tindakan Iman: Istirahat (Sabat) bukanlah sekadar "mengisi ulang baterai" untuk bekerja lebih keras lagi, melainkan sebuah tindakan ketaatan dan kepercayaan yang menyatakan: "Tuhan yang memelihara dan mencukupi hidupku, bukan hanya hasil kerjaku."
Prioritas Relasi: Keseimbangan sejati dicapai ketika waktu yang dialokasikan untuk keluarga dan komunitas (Life) dihormati sebagai tanggung jawab ilahi, setara dengan pekerjaan.
Maka dalam pandangan Kristen sudah jelas doa (Ora/Pray) adalah sumber kekuatan, arahan, dan pemeliharaan. Doa mengatasi dikotomi (pemisahan) antara kerja dan hidup, doa menjadi dasar keseimbangan, karena di dalam doa:
Kerja Diuduskan (Labora/Work): Kita menerima pekerjaan sebagai panggilan (vokasi) dari Allah, bukan sekadar sarana mencari nafkah. Doa memampukan kita melihat tujuan ilahi di balik tugas-tugas harian, sehingga bekerja menjadi bagian dari ibadah. Jadi, ayo kita sebagai orang Kristen tidak hanya rajin berdoa, tetapi juga rajin bekerja!
Hidup Ditenangkan (Life): Doa mengajarkan penyerahan dan kepercayaan kepada Tuhan. Hal ini sangat penting untuk ranah "Hidup," khususnya dalam hal istirahat, keluarga, dan waktu luang. Kita mampu melepaskan kekhawatiran dan tekanan kerja karena kita yakin bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita. So, nikmatilah waktu istirahat dengan santai dan nyaman di tengah kesibukan yang ada.
Pray-Work-Life Balance adalah pemahaman yang utuh. Doa (Ora) adalah pusat gravitasi yang memastikan kerja (Labora) tetap menjadi pelayanan yang kudus dan istirahat (Life) tetap menjadi tindakan kepercayaan yang memulihkan. Doa mengintegrasikan kerja dan hidup sehingga keduanya tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi dalam rangka mengejar kehidupan yang utuh di hadapan Tuhan.