Digital Copy on Amazon Kindle. Bought it on a whim (it was a deal)
by Katherine McGee.
eh i dont like that the only asian character being MISNAMED. wtf is Himari Mariko?? Mariko as a FAMILY NAME??? such a shame that the author won’t even bother to do some little GOOGLE RESEARCH
Tokoh yang ini kok Y/N vibes bgt anjir,,, u commoner darimana u tuh anak menteri wow gils mantaps
I like trashy and cringey drama with some predictability, bc it felt safe and comfortable. Unfortunately in this case, it doesn’t always mean the characters would be likable. Too surface-y and no depth.
Ada tiga token masa kini: Asian (misnamed dengan dua given names), Hispanic (dengan karakteristik dangkal Y/N supposed to be readers?? Idk??), lesbian parents (yang ga pernah diomong2in lagi, di awal doang, sama sekali ga ngaruh ke pikiran anaknya mungkin)
Also how the hell Jeff is the handsome it boy? Ga ada ganteng gantengnya njir,, deskripsi macam apa entuh,,, anak-anak cowoknya @S dan @☾ jauh lebih ganteng,,.
gw masih akan beresin buku ini lol bisa jadi beli lanjutannya kalo diskon di amazon. Ya inilah energi negatifku yang hobi baca buku cringe untuk dihujat
Aku suka pertengkaran persahabatan ini hohohoh. The banter was good. Persahabatan cewek memang confusing. like the escalated drama. tetep aja kalo scene romance malah kureng karena baselinenya kureng mantep. seandainya ini one character perspective instead of multi kayaknya akan lebih matang karena kita nggak lompat2 dan perlu bersimpati ke banyak makhluk.
I like Theodore Eaton?? Wow. Dari seluruh love interest, dia yang interesting meskipun kasehan. Jeff too much it boy yang dipaksakan, Connor ya… gitulah (berbakat bagus tapi kurang pendalaman). Padahal di awal Teddy nih kurang convincing tp skrg gw jadi suka. Kebayangnya mukanya Nate Archibald. cuma kenapa namanya Teddy bgt y
Is it wrong if I mendukung this political r/s ouchhh I want u to be happy with each other
I like the antagonist (her love interest too). oooh i like em much. antagonisnya sangat by-the-book manipulator, but i like their dynamic.
I’m right, the it boy is the dumbest character in this book lmao kasehan. the second is the older sister. kasehan (2)
pacing gets good, di awal lambat banget jd gw slow bacanya. skrg mendadak udah mau 90% aja
I’m gonna buy the next book. For the soap-opera quality drama of course. Lengkap semuaaa ahahahahah kinda my guilty pleasure. its obnoxious and full of “nanaonan ai maneh barudak” but woooo will read this bc its fun… except the slow pacing argh stress
The premise. Aku alay dan aku suka setting kerajaan modern. Karena itu Princess Hours adalah drama favoritku. Aku juga suka melihat orang banyak uang di fiksi jadi w bisa pura-pura tau kehidupan orang kaya.
The sisters—dua sisi mata uang yang emang stereotipikal tapi juga bagus. Can relate to the older sister walopun menurut gue geblek jg sih ni cewe.
The stereotypical plot and predictabilities. It felt familiar. Trope yang digunakan adalah trope umum: cinta terlarang, friend or foe, red + blue characters, planned marriage, determined antagonist female ala-ala drakor. Jadinya bisa wow oke mari kita lanjut.
The drama. Orang kayahhh, punya powahhh, tapi dramahhh?? Oh ya berikan padaku, aku suka sinetron.
Ada beberapa scene yang meaningful—the good use of jewel-picking-history as a plot point, berantem kakak-adik cewek dan persahabatan antar cewek. stereotypical but good
Antagonists (!) standar, by-the book antagonist trope, tapi dinamikanya berasa. I like Ethan too. Nama laptopku #gapenting.
The worldbuilding. Sayang banget menurutku karena kurang aja gitu. Wajar sih ini novel romance jadi tentu saja akan fokus ke situ, tapi kayak hmmm gak halus aja kali ya worldbuildingnya. The author takes much time buat menjelaskan ruangan2 di istana, sejarah raja2 (sedikit), tapi jadinya kayak a baggage to read through karena gak relevan juga ke plot. Romance is in the center stage but i wish the author built more believable base.
Where’s the extra??? The extra is really… the extra. As a novel with royal-family setting, gw kira bakal banyak bersentuhan dengan things royalty, raja dan ratu juga bakal sering muncul dari sekadar halo-halo dadah-dadah dan muncul sebagai plot point yang ga ada bau-bau politiknya.
The kekinian tokens. Nggak masalah kalau munculnya mulus, ini kayak aneh aja gitu masuknya. Konsep LBGTQIA+, multiracial things yang sedihnya malah jadi racism alias orang Jepang kok nama keluarganya Mariko lol. Muncul doang demi kewajiban woke.
The multitude perspective. Fokus tokoh ganti-ganti dan plotnya tetep maju, jadi berasa nonton film Dunkirk (ah naon ai maneh). Masalahnya jadinya gw bingung harus simpati ke mana, waktunya gak cukup. Trus salah satu tokoh utama jadi berasa kek Y/N gitu wkwkw si tidak terkenal, si bukan royal, si biasa aja, si-lebih-suka-baca-buku dibanding snowboarding and of course… “YOU’RE DIFFERENT FROM OTHER GIRLS.”
The bird-eye view. Sooo much. Mungkin ini masalah selera, dan efek dari banyak karakter yang jadi “tokoh utama”. Gak cukup waktu buat menyelami karakter, gak cukup tempat untuk menguatkan chemistry antar tokoh dan love interest. Jadinya segimanapun w mencoba memahami kesulitan cinta mereka, its just hard to relate and symphatize.
review goodreads yang sangat relate (tapi tetep gw lanjutin baca). two-dimensional characters and the extras,, lebih parah lagi, one dimension kek cardboard.
KENAPA NAMA SALAH SATU LOVE INTERESTNYA TUH TEDDY AWAHWHWHHAHHWQHQH GW HAMPIR LUPA TEDDY NAMA LAKI GW,,
this is a private note full with personal opinions and not intended to be objective. it's not a full article and will be updated whenever i want to.
want to discuss? shoot me an email or mention on twitter (X).