Seperti diketahui, saat ini istilah quiet quitting ramai dibahas di media sosial karena banyak ditemukan di kalangan pekerja muda. Perilaku membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal yang lebih di tempat kerja ini, digadang-gadang menjadi tren baru yang diminati oleh gen Z dan milenial.
Lalu, apa itu quiet quitting? Dan kenapa fenomena tren kerja ini muncul saat ini?
Konsep Quiet Quitting
Quiet quitting yang secara harfiah memang berarti berhenti diam-diam. Namun, secara konsep, fenomena ini adalah kondisi di mana seseorang hanya melakukan pekerjaannya dengan cukup, tanpa "usaha" lebih, seperti yang dilansir dari Metro.
Umumnya, fenomena quiet quitting dapat terjadi karena berbagai alasan termasuk gaji dan tunjangan yang kurang sesuai, beban kerja yang tidak terkendali, merasa tidak bahagia, kelelahan, atau kurangnya peluang untuk berkembang.
Arvy Egadipoera, Chief Customer Officer (CCO) Mekari dalam siaran resmi, Rabu. Mengatakan bahwa Fenomena ini menarik perhatian berbagai perusahaan yang mencoba menilai dampak dari fenomena ini terhadap produktivitas bisnis. Padahal, dengan cara pandang dan pendekatan yang tepat, quiet quitting dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk mengkaji sistem dan kebijakan kepegawaian untuk melihat bagaimana perusahaan dapat memperkuat kepuasan kerja
Pendapat Ahli Tentang Quiet Quitting
Reza Lidia Sari S Psi M Si Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan bahwa quiet quitting merupakan respons perlawanan dari hustle culture yang menganggap pentingnya dedikasi yang amat tinggi pada pekerjaan. Karena perilaku ini berkebalikan dengan extra-role behavior di mana seseorang berkenan mengerjakan pekerjaan diluar job desc-nya demi kelancaran sistem organisasi.
Maggie Perkins, seorang guru berusia 30 tahun, mengaku sudah melakukan 'quiet quitting' sejak 2018, bahkan sebelum itu menjadi tren TikTok.
"Tidak ada alasan bagi saya untuk bekerja ambisius karena sebagai guru, tidak ada kesempatan promosi. Jika Anda memenangkan penghargaan sebagai teacher of the year, Anda akan mendapatkan gaji yang sama dengan guru lain yang tidak dapat penghargaan," kata ibu berusia 30 tahun itu, dikutip dari CNBC Maket It.
Dampak Quiet Quitting
Mengutip entrepreneur.com, survei yang dilakukan LLC.org menunjukkan, bahwa banyak karyawan yang menganggap quiet quitting yang dilakukan rekannya, sebagai hal yang menjengkelkan. Survei yang dilakukan terhadap 1005 karyawan di Amerika Serikat (AS) tersebut, melaporkan sebanyak 62% responden menganggap tren ini sangat mengganggu. Kemudian, sebanyak 57% responden mengatakan mereka terbebani tren ini, karena harus melakukan lebih banyak pekerjaan. Ini terjadi, karena rekan kerja memutuskan untuk bekerja seminimal mungkin.
Orang yang mengikuti quiet quitting cenderung mementingkan diri sendiri, dan mengabaikan kerja sama. Ini akhirnya menyebabkan adanya gesekan dengan rekan kerja. Apa lagi ini dilakukan oleh anak muda, akan menimbulkan emosi yang gejolak. Sikap ini dapat menyebabkan perpecahan di antara tim, dan masalah dengan satu karyawan dapat dengan cepat menjadi masalah bagi semua karyawan.
Dampak lain yang tidak disadari oleh seseorang yang mengambil sikap quiet quitting, adalah sikap tersebut menjadi hal yang destruktif bagi diri mereka sendiri. Sebab, mengambil tantangan dan tanggung jawab baru, menjadi hal yang sangat penting untuk pertumbuhan karir. Namun, karyawan yang menolak untuk memperluas wawasan mereka dan mengambil tugas baru, artinya merusak prospek karir jangka panjang mereka. Kemunduran ini lebih dari sekadar mengecewakan atasan, dan tidak mendapatkan promosi.
Mengapa Istilah “Quiet Quitting” Menjadi Tren?
Jaya Dass, direktur pelaksana Randstad untuk Singapura dan Malaysia, memandang bahwa quiet quitting adalah "dampak sisa" dari Covid-19 dan fenomena resign massal, yang dulunya dianggap tindakan pasif agresif dari work-life balance sekarang menjadi permintaan yang sangat tegas.
Apalagi dengan adanya perubahan sistem bekerja yakni Work From Home (WFH) atau hybrid ini banyak pekerja yang tertekan karena beban kerja yang diberikan sangat besar. Maka dari itu, minimnya apresiasi dan lingkungan kerja yang toxic ini menjadi salah satu penyebab munculnya istilah quiet quitting.
Ada beberapa alasan lain yang juga menjadi penyebab timbulnya tren quiet quitting, yaitu:
Terlalu kelelahan akibat beban kerja yang tidak proporsional
Takut akan tugas tambahan yang dilimpahkan kepada mereka secara mendadak
Mulai bosan dengan pekerjaan yang tidak ada perkembangan
Kurangnya waktu untuk kehidupan pribadi
Merasa usahanya hanya menguntungkan bagi perusahaan saja
Nah, itulah penjelasan singkat mengenai quiet quitting yang saat ini ramai diperbincangkan oleh banyak orang. Intinya, baik pekerja maupun perusahaan harus mempunyai satu pemikiran dan tujuan yang sama agar tercipta sistem kerja yang baik.
Sumber
Faima Bakar. 2022. Quiet quitting is getting a lot of attention right now – but what about quiet firing?. METRO. Diakses 1 Desember 2022. https://metro.co.uk/2022/09/01/quiet-quitting-is-getting-attention-but-what-about-quiet-firing-17282074/
M. Zaenuri. 2022. Mengenal quiet quitting di dunia kerja. Jurnalindo.com. Di akses 1 Desember 2022. https://www.jurnalindo.com/lifestyle/pr-7665419639/mengenal-quiet-quitting-di-dunia-kerja
Dhafintya Noorca. 2022. Mengenal Dua Sisi Quiet Quitting, Tren Kerja yang Sedang Digemari Anak Muda. Suarasurabaya.net. Di akses 1 Desember 2022. https://www.suarasurabaya.net/senggang/2022/mengenal-dua-sisi-quiet-quitting-tren-kerja-yang-sedang-digemari-anak-muda/
Habib Hidayat. 2022. Apa Itu Quiet Quitting? Tren Baru Di Dunia Kerja. Myrobn.id. Di akses 2 Desember 2022. https://myrobin.id/untuk-pekerja/quiet-quitting