Kediri lagi
Bersama okka firmansyah
Kediri lagi
Bersama okka firmansyah
Kota Kediri adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 130 km sebelah Barat Daya Kota Surabaya dan merupakan kota terbesar ketiga di provinsi Jawa Timur setelah Kota Surabaya dan Kota Malang menurut jumlah penduduk. Kota Kediri merupakan kota tertua yang ada di Jawa Timur.
Melihat Monumen Simpang Lima Gumul, tak sulit kita mengakui betapa identiknya monumen ini dengan Arc de Triomphe di Paris, Prancis nan monumental.
Monumen yang jadi simbol kota Kediri ini terletak di antara lima persimpangan jalan yang menghubungkan Kediri, Pare, Pagu, Wates dan Gurah.
Kawasan di sekitarnya merupakan sentra ekonomi dan perdagangan Kediri.simpang lima gumul di bangun pada masa pemerintahan
Sutrisno,bupati kediri kala itu tahun 2003,monumen ini selesai di bangun pada tahun 2008 Sejarah Singkat Kabupaten Kediri
Kediri merupakan wilayah yang berada di bagian jawa timur dan terletak 130 kilometer sebelah barat daya Surabaya. Asal-usul nama Kediri pun memiliki banyak versi dan banyak arti. Ada yang berpendapat bahwa nama Kediri berasal dari kata 'kedi' yang artinya 'mandul' atau wanita yang tidak berdatang bulan. Dilansir dari laman resmi Kabupaten Kediri, kedirikab.go.id, arti 'kedi' menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito adalah orang kebiri bidan atau dukun. Di dalam lakon wayang, Sang Arjuno sempat menyamar sebagai guru tari di negara Wirata bernama Kedi Wrakantolo. Bila dihubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selongmangleng, arti 'kedi' sendiri megacu pada arti 'suci' atau wadad. Kemudian kata kediri berasal dari kata 'diri' yang berarti adeg, andhiri, menghadiri atau menjadi raja dalam bahasa Jawa Jumenengan. Ada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri, salah satunya Prasasti Ceker. Di dalam Prasasti Ceker ada tertulis, "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaniring Bhuwi Kadiri" yang jika diartikan adalah 'raja telah kembali'. Pada zaman dahulu, kawasan Kediri adalah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Medang yang saat itu dipimpin oleh Prabu Airlangga,sang prabu berasal dari pulau bali dan menjadi Raja Medang setelah menikahi putri Raja Medang Prabu Airlangga adalah sosok yang religius dan saat tua ingin menjadi seorang pertapa. Maka, tahta kerahaan diserahkan kepada putri permaisuriya yang berama Dyah Sangmawijaya. Namun Dyah menolak karena lebih memilih menjadi pertapa seperti ayahnya. Prabu Airlangga akhirnya memberikan takhta kepada putra dari selirnya. Ia memiliki dua putra yaitu Raden Jayanagara dan Raden Jayengrana. Prabu merasa bingung dan akhirnya agar adil, ia meminta batuan Empu Baradha untuk membagi Kerajaa Medang menjadi dua bagian untuk kedua putranya. Akhirnya, Empu Baradha pun terbang dengan membawa kendi yang berisi air untuk kemudian ditumpahkan aik kendi itu dari angkasa persis di tengah-tengah Kerajaa Medang. Ajaibnya, tanah yang terkena air dari kendi tersebut berubah menjadi sungai yang kini dikenal dengan Sungai Brantas. Kemudian, Kerajaan Medangpun kini terbagi menjadi dua wilayah yang dibatasi Sungai Brantas. Prabu Airlangga menyerahkan kedua bagia dari Kerajaa Medang itu kepada kedua putranya. Bagian sebelah timur diserahkan kepada Raden Jayengrana yang diberi nama Kerajaan Jenggala. Sedangkan bagian barat sungai diberikan kepada Raden Jayanagara yang diberi nama Kerajaan Kadiri atau yang kini dikenal dengan nama Kediri.