Semeru

Bagi sebagian orang bepergian ke wilayah lintas pulau seperti Jawa - Bali ataupun Bali - Jawa adalah suatu hal yang lumrah, wajar dan biasa - biasa saja, namun pengalaman pertama melakukan perjalanan di pulau Jawa sendirian dan menegangkan terjadi tahun 2015 pada bulan Mei, selengkapnya saya ceritakan di bawah

Tahun 2015 silam saya mengikuti studi tour dari tempat saya kerja, yang kebetulan mengambil rute ke jawa tengah dan destinasi yang dituju adalah beberapa situs - situs nasional seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, Keraton, Malioboro dan sekolah - sekolah favorit yang ada di sekitar kota Yogyakarta, malam harinya kita menginap di sebuah hotel yang lumayan bagus, setelah seluruh agenda studi tour di Yogjakarta kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bali.

Namun sesuai agenda daya akan melakukan pendakian ke Gunung Semeru, awal rencana kami akan melakukan pendakian bersama 2 orang guru dan 3 siswa, namun dibatalkan akhirnya yang ngotot hanya saya sendiri, keputusan sudah bulat saya akan melanjutkan pendakian hanya seorang diri, kemudian meminta ijin ke Sopir dan Guru pedamping di Bus Wisata yang saya tumpangi untuk turun di daerah terdekat dengan kota malang sembari perjalanan pulang menuju Bali.

Dalam lelapnya tidur di perjalanan, di tengah malam menuju pagi saya di bangunkan apakah akan jadi turun dari rongbongan, bergegas menyiapkan Carrie besar saya untuk turun dari Bus, berpamitan dari bus saya turun menuju halte, namun di tengah malam menuju pagi pukul 2.00 tentunya sudah tidak ada angkutan, ojek ataupun sarana transportasi lain, setelah lama menunggu ada seorang Becak yang menawarkan jasa untuk mengantar, ditengah kebinganan saya masih ragu-ragu untuk mengiyakan tawaran bapak-bapak itu, namu karena sangat tidak memungkinkan untuk menunggu sarana lain, dengan sangat terpaksa saya menumpang becak dengan santai menuju ke jalan raya utama untuk menuju ke Pasar Pandaan, sekitar 30 menit perjalanan menuju Pasar Pandaan saya melanjutkan perjalanan menuju Terminal Arjosari membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Terminal Arjosari dari Pasar Pandaan, sesampainya di Terminal Arjosari saya masih kebingungan untuk memulai perjalanan, akan memulai dari mana, memesan segelas kopi dengan pisang rebus untuk menenangkan diri dan mencari solusi mau kemana.

Kopi dan pasangan penunda laparnya pun habis, saya teringat dengan teman yang pernah satu tempat kerja dengan saya kebetulan berasal dari kota Malang, saya coba menghubungi untuk sekedar meminta solusi, menunggu sekian menit akhirnya Mas Hardian ( Mas Aan ) datang mejemput saya untuk di ajak mampir kerumahnya terlebih dahulu, mengingat perjalanan menuju Gunung semeru. setelah beberapa Jam beristirahat dan membeli bebeerapa perlengkapan saya mohon ijin untuk memulai perjalanan, dengan lugas Mas Aan mengatar saya memulai perjalanan, spot pertama yang harus di tuju adalah Desa Ranu Pane, perjalanan yang sangat tidak terduga benar - benar saya alami untuk mencapai Desa Ranu Pane, medan yang terjal, beberapa ruas jalan yang masih rusak ditambah menggunakan motor matik seolah libuaran menyakitkan, sekitar 1 jam perjalanan saya sampai di desa Ranu Pane, Pos Pertama yang menjadi tempat registrasi pendakian ke Gunung Semeru.

Desa Ranu Pane, dengan letak georafis yang berada di ketinggian, mayoritas terlihat pola kehidupannya merupakan petani sayur - sayuran, terlihat pula sebuah Pura berdampingan dena Masjid yang berdekatan membuat saya merasa tersentuh, bahwa ternyata ada sejarah Hindu di Desa yang memiliki Danau Indah yang bernama Ranu Pane.

namun sebelum beristirahat saya berniat untuk mendaftarkan diri untuk mendaki ke Loket pendakian yang berada di ujung Desa, Namun sangant kurang beruntung sekali saya tidak membawa surat keterangan sehat dan kebetulan puskesmas yang ada di Ranu Pane tidak buka dan memang tidak melayani surat keterangan sehat untuk persyarata mendapat Simaksi ( Surat Iji Masuk Wilayah Konservasi ) dan saya disarankan untuk kembali ke Pasar Tumpang karena di sekitar sana ada puskesmas yang melayani pembuatan Surat keterangan sehat . pikiran mulai buntu mengingat perjalanan untuk untuk kembali turun sngat ekstrem dan memakan waktu, akhirnya dengan sangat terpaksa saya harus turun agar segera bisa mendaftar untuk pendakian.

waktu menunjukan jam 3 sore, Mas Aan dengan semangat mengatar saya untuk turun kembali, segera saya menitipkan seluruh barang - barang perlengkapan pendakian di sebuah warung penitipan, lalu melanjutkan untuk balik turun, namun di tengan perjalanan yang menurun, motor mas Aan yang saya tumpangi mengalami Rem Blong ( Kamfas Rem cakram panas ) akhirnya perjalanan tertundan bebeerapa menit untuk mendinginkan kebali Cakram motornya, setelah samapai di Tumpang, kembali saya harus bertanya sana sini untuk menemukan puskesmas yang melayani surat keterangan sehat, beberapa kali bertanya, sampailah saya di sebuah puskesma yang melayani pembuatan surat keterangan.

Waktu tak terasa sudah sore, masalah kembali muncul, sudah tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Pani menggunakan motor matiknya Mas Aan, segera saya bergegas ke Pasar tumpang untuk mencari Tumpangan ke Kelompok - kelompok yang biasanya melayani antar jemput ke Ranu Pani, namun karena waktu sudah menjelang malam akhirnya tidak ada armada yang siap mengangkut saya ke Ranu Pane :/ :/ :/..... melihat mas Aan sudah tidak mungkin mengantar saya ke Ranu Panu, saya minta ijin ke Mas Aan agar di tinggalkan balik ke rumahnya, setelah saya berbincang dengan seorang akhirnya saya di tawarkan untuk menumpang di rumahnya pak sopir Jip ( lupa namanya ) dan ahkirnya harus bermalan disana :D... berada du rumah pak sopir yang bertubuh mungil namun cekatan, saya dikenalkan dengan anak - anaknya yang kebetulan juga Driver dan Guide mendaki ke Semeru. dari sana saya mulai bertukar media sosian untuk berkomunikasi di kemudian hari.

Pagi - pagi sebelum ayam berkokok saya sudah dibangunkan untuk bergegas menuju Ranu Pane, kondisi mobil jeep dengan lampu penerangan tidak begitu bagus membuat saya sedikit was - was menumpangi bapak pengemudi yang tanda kutip ganas menembus belantara hutan ranu pani dengan lambaian jurang di sisi kanan dan kiri : O hohohho....

sesampainya di Desa Ranu Pani untuk kedua kalinya tak terkira dinginnya suhu di ranu pani jam 4 Pagi, berniat segera mengambil barang yang dititipkan di aslah satu warung, malah warung tersebut sudah tutup, dengan keadaan yang masih mengantuk saya mencari - cari api unggun yang masih hidup, namun kantuk mengantarkan saya untuk memilih masuk ke Mesjid untuk merebahkan diri dari Kantuk yang berat,

Matahari mulai menyinari Desa Ranu Pani, tidak terasa beberapa jam berlalu hingga matapun terbangun untuk menyusun recana pagi ini, bergegas mengambil perlengkapan pendakian yang saya titipkan di warung yang sudah terbuka, merapihkan segala persyaratan administrasi yang kemarin masih kurang, untuk mendaftar di loket pendaftaran simaksi,

Pertemuan Dengan Kawan Cirebon

Menunggu antrian di Loket

Menumpuknya minat pendaki yang kebutalan saat itu adalah adalah musim dan cuaca yang memang cocok untuk mendaki, menimbulkan antrian yang panjang untuk masuk ke proses pemeriksaan barang dan mendapat Simakasi ( Surat Izin Masuk Daerah Konservasi ), sekian lama nama saya dipanggil untuk masuk ke ruangan Briefing, menujua ruangan pemeriksaan bertemulah saya dengan 2 orang kawan senekat dan sependakian dari Cirebon, berbincang - bincang tentang pendakian dan kebetulan kami belum pernah mempunyai pengalaman mendaki di Gunung Semeru, dalam ruangan pemeriksaan, barang bawaan kami di bongkar semuanya mulai dari senjata tajam dan jenis makanan yang sudah dilarang tidak diperkenankan membawa dalam perjalanan pendakian akhirnya kami menyepakati diri untuk bersama - sama menuju puncak Mahameru bersama-sama,

1 Langkah Menapaki Semeru