Mlopoharjo, Wonogiri – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sejarah, Universitas Diponegoro, meluncurkan program inovatif berupa pembuatan cerita pendek bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) yang terinspirasi dari asal-usul nama Desa Mlopoharjo. Program ini merupakan salah satu dari sekian banyak program kerja yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran budaya dan literasi masyarakat desa.
Savira Zahra Ramadhanti, koordinator program, menjelaskan bahwa cerita pendek ini diangkat dari cerita rakyat setempat yang bercerita tentang bagaimana desa ini mendapatkan namanya. "Nama Mlopoharjo berasal dari kata 'mloko' yang merupakan Pohon Mloko dan 'harjo' yang berarti makmur atau sejahtera. Menurut legenda, desa ini dulunya adalah wilayah yang dipenuhi pohon Kemloko, dan hasil dari pohon-pohon tersebut menjadi sumber kemakmuran bagi warga desa," ujarnya.
Rangkaian perencanaan program ini diawali pada tanggal 24 Juli 2024 dengan pengumpulan data berupa cerita mengenai Desa Mlopoharjo dari Mbah Sutiman yang merupakan mantan perangkat desa yang bertugas selama 30 tahun dan sekarang sudah pensiun, namun masih sering menerima panggilan kedinasan oleh kerabat-kerabat di balai desa.
Lalu dilanjutkan dengan proses pembuatan cerita yang menghabiskan sekitar 2 minggu dan diakhiri dengan pemaparan cerita yang dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 3 Mlopoharjo pada tanggal 6 Agustus 2024.
Cerita pendek bilingual ini diharapkan dapat menjadi media edukasi yang menarik bagi anak-anak dan remaja di Desa Mlopoharjo, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada dunia luar. "Dengan adanya cerita bilingual ini, kami berharap desa ini bisa lebih dikenal, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional. Selain itu, cerita ini juga bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk menggali dan mendokumentasikan sejarah mereka," tambah Savira.
Program cerita pendek bilingual ini hasilnya akan disebarkan melalui media cetak serta digital serta bentuk fisiknya yang akan dibagikan ke perpustakaan balai desa. Diharapkan, ini menjadi awal dari berbagai kegiatan kreatif lainnya yang bisa memperkaya dan mempromosikan budaya Desa Mlopoharjo.
Penulis: Savira Zahra Ramadhanti