Upacara tabok atau tabuik berasal dari tradisi yang dibawa oleh kelompok Sipai dari Madras dan Bengali ke Bengkulu. Dipimpin oleh Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin, mereka mendirikan pemukiman baru yang dikenal sebagai Berkas, sekarang Kelurahan Tengah Padang.
Awalnya, tabuik merupakan peringatan atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad, namun kemudian berkembang menjadi sebuah kewajiban keluarga dalam memenuhi wasiat leluhur. Seluruh upacara berlangsung 10 hari, dari tanggal 1 hingga 10 hari Muharram.
Keunikan tabuik terletak pada asimilasi dan akulturasi budaya Bengkulu dengan tradisi berkabung yang dibawa dari negara asal kelompok Sipai. Tradisi tabuik di Bengkulu dan tabuik di Pariaman juga memperlihatkan evolusi fungsinya dari ritual keagamaan menjadi festival kebudayaan.
Upacara adat di Provinsi Bengkulu mencerminkan kekayaan budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat serta menjadi pelajaran budaya yang berharga sehingga semua generasi harus terus melestarikan dan mengenalkannya ke mancanegara.
Semgoa pai adalah upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat Rejang Kepahiang. Dikutip dari situs resmi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Indonesia, upacara ini bertujuan untuk menghormati tanaman padi yang menjadi makanan pokok masyarakat.
Upacara ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut, dimulai dari menyiapkan sebuah talam dengan berbagai benda sajian, seperti daun sirih segar, bubur jawet, batu besar datar, benang tiga warna yang disebut benang tigo semeragih, serta air dalam ceker boloak.
Lalu, seorang perempuan tua dari keluarga pemilik ladang, pagi-pagi telah tiba di tepi ladang dan siap melaksanakan upacara. Dalam prosesi yang diawali dengan pemilinan, padi kemudian disanggul dan diikat menggunakan 3 benang, setelah itu digantung.
Sedekah rame adalah Upacara adat Bengkulu yang diadopsi dari daerah Kesultanan Palembang. Dilansir dari situs resmi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Indonesia, upacara ini dibawa ke Bengkulu oleh seorang yang bernama Kriye Mambul.
Dia mempelajari upacara ini sebelum menyebarkannya ke Bengkulu. Sedekah rame sering dilakukan di daerah Batu Urip Bengkulu dan menjadi salah satu warisan budaya tak benda milik Indonesia.
Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur terhadap Tuhan yang maha esa dengan membuat kegiatan berupa memberikan rezeki bagi yang melaksanakan. Untuk melaksanakan sedekah rame juga harus dipimpin langsung oleh garis keturunan yang tepat dan tidak sembarangan.
Kedurai Agung merupakan upacara adat Bengkulu dengan prosesi ritual agung atau upacara ritual yang besar. Pelaksanaan upacara ini adalah dengan mengacu pada pemujaan kepada arwah nenek moyang.
Pada prosesi ini masyarakat menyediakan sesajen kepada para leluhur. Masyarakat yang masih melestarikan upacara ini adalah Suku Rejang dan akan terus diwariskan secara turun-temurun.
Di penghujung tahun masehi, masyarakat Lembak menjalankan tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai “Kenduri Tebat”. Melibatkan sekitar 20 orang, tradisi ini merupakan bentuk ekspresi rasa syukur atas limpahan rezeki yang telah diterima selama satu tahun. Uniknya, Kenduri Tebat tidak hanya menjadi warisan budaya, namun juga menjadi media dakwah kultural yang terjaga kelestariannya.
Tradisi dimulai dengan musyawarah yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemerintahan, dan masyarakat Lembak lainnya. Persiapan melibatkan pembuatan sampan sebagai alat transportasi menuju tengah Danau, di mana prosesi utama Kenduri Tebat akan berlangsung. Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan, dilanjutkan dengan prosesi inti, dan diakhiri dengan penutup, kemudian diikuti dengan makan bersama di cugung.
Kenduri Tebat tidak hanya sekadar tradisi budaya, namun juga mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Tidak ada unsur yang menyimpang dari prinsip-prinsip agama Islam dalam pelaksanaan tradisi ini. Tujuan utama Kenduri Tebat adalah sebagai bentuk syukur masyarakat Lembak kepada Allah SWT atas berkah rezeki yang telah diterima sepanjang tahun.
Tradisi ini juga menjadi media dakwah kultural yang kuat. Terdapat hubungan erat antara Islam sebagai sumber nilai, tradisi sebagai pengaruh pada dakwah Islam, dan prosesi pelaksanaan sebagai media dakwah kultural. Dalam Konteks ajaran Islam, Kenduri Tebat mencerminkan nilai-nilai seperti amar makruf, bersedekah, ta‟awun, musyawarah, silaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan adab.
Tradisi Bakar Gunung Api merupakan salah satu warisan budaya Suku Serawai di Bengkulu dalam rangka penyambutan datangnya Hari Kemengan Umat Islam. Bakar Gunung Api merupakan sebuah ritual membakar batok kelapa yang disusun seperti tusuk sate yang dirangkai kayu dan dibuat tinggi menjulang. Maksud dari ritual ini adalah sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT dan pemberian doa kepada arwah keluarga agar tenteram di akhirat. Bakar Gunung Api dilaksanakan pada malam takbiran.
Suku Serawai melaksanakan Bakar Gunung Api di halaman dan atau di belakang rumahnya. Pelaksanaan ritual diiringi dengan takbir serta doa-doa syukur. Berdasarkan kepercayaan Suku Serawai, apabila salah satu anggota keluarga tidak turut serta dalam pelaksanaan Bakar Gunung Api, maka hal tersebut dapat mendatangkan bala.
Upacara Bakar Gunung Api dilakukan serentak oleh semua masyarakat kampung tepat setelah shalat Isya. Pembakaran batok kelapa yang disusun seperti sate dirangkai kayu menjulang tinggi dapat menimbulkan kesan magis dan eksotis. Kesan tersebut didapat ketika api dari pembakaran membumbung tinggi di setiap rumah yang ada di kampung.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu tradisi ini semakin memudar dan hampir ditinggalkan. Padahal Suku Serawai merupakan suku terbesar kedua yang hidup di bagian selatan Bengkulu. Jika tradisi ini masih dilestarikan, maka akan menjadi salah satu warisan budaya Bengkulu dan juga daya tarik wisata budaya Bengkulu.
Upacara Adat Bengkulu yang lainnya yang masih bertahan dan rutin diadakan adalah acara Buang jong. Buang jong berlangsung setiap tahun, bertepatan dengan musim angin tenggara yang kuat di akhir Juni dan awal Juli.
Peralatan untuk ritual yang harus disiapkan antara lain jung dan empat rumah dari kayu, daun dan daun kelapa. Ada juga berbagai persembahan seperti dua sisir pisang, empat sisir lengket, enam buah kelapa yang disatukan, dan sebuah lilin.
Aksesori lainnya adalah keranjang kelapa persegi panjang yang diisi dengan cukup beras. Keranjang dihiasi di bagian depan dalam bentuk seorang pria, di kanan senjata panjang dan di kiri senjata pendek.
Bekejai atau Kejai adalah tata cara pelaksanaan perkawinan dari suku Rejang. Upacara ini masih dilakukan dengan tujuan untuk membawa keselamatan upacara peresmian pernikahan, pelestarian nilai-nilai tradisi yang tumbuh dan berkembang dan meningkatkan budaya gotong royong guna membangun persatuan dan kesatuan. Di antara prosesi yang dilakukan untuk menolak bala atau bencana yaitu prosesi setepung setawar.
Dahulunya, upacara Kejai hanya dilaksanakan oleh keluarga dengan strata sosial tinggi saja. Pada pelaksanaannya pun dapat berlangsung berhari-hari. Pada upacara Kejai juga terdapat rangkaian acara seperti permainan musik Kerilu, lantunan sambei, dan tari Kejai. Selain untuk perkawinan, upacara ini juga diadakan pada acara khitanan.
Upacara kalea biasanya dilakukan untuk pengukuhan Koordinator Kepala Suku (Pabuki) yang ada di Bengkulu. Acara ini dihadiri oleh semua Kepala Suku dan Kepala Pintu Adat serta warga adat yang terlibat.
Upacara kalea identik dengan pemasangan kalung yang dibuat khusus dari kerang dan dipasangkan juga mahkota yang dibuat dari pelepah nibung kepada Pabuki yang baru. Tak hanya itu, pelepah tadi dihiasi dengan aneka ragam hiasan dari alam dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Saat ini, upacara kalea masih sering dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai pelestarian kebudayaan di Bengkulu.
Mufakat rajo penghulu adalah suatu musyawarah yang dilakukan antara dua keluarga kerajaan untuk pelaksanaan pesta pernikahan. Dikutip dari situs resmi Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Indonesia, kegiatan musyawarah ini dilaksanakan untuk membuat suatu kebijakan atau bisa juga untuk perundingan panitia pesta pernikahan.
Ciri khas dari kegiatan ini ada di hidangan yang disajikan ketika acara. Mufakat rajo penghulu biasanya terdapat hidangan berupa lupis dan sebagian juga menggunakan nasi ketan.
Tempung matei bilei merupakan sanksi adat yang diberikan kepada individu yang melakukan perbuatan asusila, seperti zina, yang merusak tatanan sosial dan norma dalam masyarakat. Pelaksanaan sanksi ini dianggap sebagai upaya untuk mengembalikan keseimbangan dalam masyarakat.
Proses tempung matei bilei diawali dengan pembacaan doa dan pembakaran kemenyan, kemudian dilanjutkan dengan pemukulan kepada pelaku oleh tokoh adat, agama, dan pemerintah menggunakan seratus batang lidi sebagai simbol seratus kali cambukan dalam hukum Islam.
Pemukulan tersebut tidak dimaksudkan sebagai tindakan kekerasan, melainkan sebagai upaya untuk memohon ampunan dari Allah bagi pelaku dosa yang telah dilakukan. Setelah pemukulan, pelaku meminta maaf kepada leluhur, bumi, dan langit sebagai bentuk permohonan pengampunan atas kesalahannya.
Yaruda adalah upacara adat masyarakat Enggano yang bertujuan memohon keselamatan bagi semua anak keturunan. Tradisi ini seringkali diadakan bersamaan dengan peristiwa seperti perkawinan, kematian keluarga, atau menyambut tamu kehormatan.
Salah satu hal unik dari Yaruda adalah kelengkapan persyaratan upacara, seperti ikan disale, ubi tumbuk, ubi diasap, dan keladi rebus, yang dianggap sebagai persembahan kepada roh leluhur. Kelengkapan ini harus tersedia karena dianggap sakral oleh masyarakat.
Yaruda telah dilaksanakan turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Tradisi ini tidak hanya merupakan aspek budaya yang kuat, tetapi juga menjadi wujud penghormatan kepada leluhur serta alam semesta.