Tari Tabot juga termasuk salah satu tarian khas Bengkulu yang dilakukan untuk mengingat kepahlawanan dari Husein Bin Ali Abi Thalib. Tarian ini dibawakan sebagai tanda penghormatan kepada keturunan Syeh Buhanuddin yang merupakan Imam Senggolo.
Tari kreasi yang menggambarkan upacara tabot ini, secara bahasa berasal dari kata "tabot" yang artinya "peti mati". Ciri khasnya, tari ini umumnya dilakukan pada saat perayaan Tabot.
Para penari tari Tabot mengenakan pakaian adat Bengkulu berupa baju longgar lengan pendek, celana panjang, dan hiasan kepala. Semua warnanya cerah dan senada.
Penari ini terdiri dari sekelompok laki-laki dan perempuan yang membawa properti berupa tongkat yang mempunyai hiasan atau pernak-pernik di ujungnya dan membawa selendang.
Tari Lanan Belek adalah tari tradisional yang diangkat dari cerita rakyat Bengkulu. Tarian tersebut menceritakan seorang bidadari yang tertinggal di bumi karena selendangnya hilang. Selendang diambil oleh seorang pemuda saat bidadari tengah mandi bersama teman-temannya. Seorang bidadari tidak dapat kembali ke khayangan tanpa selendang. Bidadari kemudian hidup bersama pemuda tadi. Namun saat, selendang berhasil ditemukan, sang bidadari kembali kekhayangan meninggalkan sang pemuda.
Tari Andun merupakan salah satu tarian rakyat yang dilakukan pada saat pesta perkawinan. Biasanya dilakukan oleh para bujang dan gadis secara berpasangan pada malam hari dengan diringi musik kolintang. Pada zaman dahulu, tari andun biasanya digunakan sebagai sarana mencari jodoh setelah selesai panen padi. Sebagai bentuk pelestariannya, saat ini dilakukan sebagai salah satu sarana hiburan bagi masyarakat khususnya bujang gadis.
Tari Sekapur Sirih merupakan salah satu tarian yang ada di Bengkulu. Tarian ini biasanya digunakan dalam acara penting atau upacara adat.
Tari Sekapur Sirih juga menjadi tari persembahan. Pada zaman dahulu, tari ini digunakan untuk penyambutan raja atau pangeran. Sedangkan sekarang, tarian Sekapur Sirih digunakan ketika acara pernikahan.
Tari Sekapur Sirih dimainkan dengan iringan musik, seperti seruling, kulintang, gong, dan redap. Terkait busana dan atribut yang digunakan khas daerah Bengkulu. Uniknya, tarian ini terdiri dari lima orang atau jumlah ganjil.
Tari Kejei, tarian dari Bengkulu ini merupakan kesenian rakyat Rejang dalam perayaan musim panen raya. Tarian ini dimainkan oleh para pemuda saat malam hari dengan penerangan lampion yang estetik. Tarian Kejei dimainkan saat upacara kejei atau hajatan terbesar di suku Rejang.
Ciri khas dari tarian ini adalah musik pengiringnya yang terbuat dari bambu seperti seruling, gong, dan kulintang. Tari Kejei dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkarang yang berhadapan searah menyerupai jarum jam.
Tari ini juga dianggap sebagai tarian sakral yang diyakini masyarakat mengandung nilai-nilai mistik, sehingga hanya dilaksanakan masyarakat Rejang dalam acara menyambut para biku, perkawinan dan adat marga. Pelaksanaan tari ini disertai pemotongan kerbau atau sapi sebagai syaratnya.
Tari Ganau juga termasuk tarian daerah Bengkulu yang sering dimainkan di berbagai upacara adat, persembahan tamu, bahkan media hiburan. Tarian ini dilakukan berpasangan laki-laki dan perempuan yang diiringi oleh alat musik seperti kendang, mandolin dan rebab.
Penampilan tari Ganau memiliki tempo lembut dalam alunan musik Melayu kemudian setelah beberapa lama berubah cepat dan dinamis. Tari para penari dihentakkan secara bersamaan dengan formasi kompak sehingga terlihat menarik.
Tari Gandai merupakan kesenian suku Pekal, Kabupaten Muko-muko, Provinsi Bengkulu. Kata Gandai berasal dari gando yang berarti ganda, maksudnya tidak lain tari Gandai ditarikan secara berpasangan oleh remaja puteri. Jumlah penari tari Gandai minimal dua orang dengan iringan musik serunai, gendang, dan pantun. Pertunjukan tari Gandai biasanya dilakukan dalam upacara perkawinan adat, penyambutan tamu penting, dan lain sebagainya.
Tari Gandai masih bertahan hingga saat ini dan menjadi ikon budaya Kabupaten Muko-muko. Tari Gandai juga memiliki keterikatan dengan cerita rakyat pada masa lampau yang legendaris, yaitu Malin Deman dan Putri Bungsu. Gerakan tari terinspirasi dari perjalanan Malin Deman dalam usaha menemukan Putri Bungsu.
Tradisi menangkap ikan dengan Bubu hingga kini masih banyak ditemukan di daerah Bengkulu. Biasanya bubu dipasang ketika sore hari menjelang malam, untuk kemudian diambil kembali saat pagi. Tradisi inilah yang kemudian melahirkan suatu tari kreasi dari bengkulu yang bernama tari Bubu.
Tarian ini memiliki ciri khas yakni penari laki-laki dan perempuan jumlahnya genap dan tidak ada aturan baku untuk berapa orang, lebih banyak penari akan lebih meriah. Terkait busana yang dipakai oleh penari adalah pakaian adat Bengkulu yakni baju kurung yang memiliki warna kontras dan terang juga mempunyai motif dengan dominasi warna emas.
Tari Bubu hadir dengan iringan musik dari perpaduan alat musik tradisional dan modern, seperti gendang dan akordian yang dipadukan dengan gitar dan bass. Musik yang mengiringi bertempo cepat, hal tersebut disesuaikan dengan gerak tari bubu yang cenderung energik dan bersemangat.
Tari Bidadari Teminang Anak berasal dari wilayah Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu Tari Bidadari Teminang Anak merupakan tari tradisional yang menceritakan bidadari turun dari langit ke bumi untuk mengangkat seorang anak manusia.
Jumlah penari tari Bidadari Teminang Anak sekitar 8 hingga 16 yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang ditarikan secara kelompok. Gerakan tari Bidadari Teminang Anak berupa gerakan dinamis namun tetap harmonis dan ritmis.
Pakaian penari berupa pakaian adat khas Rejang Lebong berupa kain batik sebagai bawahan dan juga ikat pinggang. Salah seorang penari menggunakan pakaian berbeda yang menandakan sebagai seorang anak manusia yang diangkat sebagai bidadari. Pakaian penari bidadari tersebut menggunakan tusuk konde dan hiasan kepala pada rambutnya. Aksesoris penari bidadari lainnya berupa selendang dan penutup kepala.
Tari Napa berasal dari Bengkulu Selatan. Tari Napa merupakan ekspresi jiwa masyarakat Bengkulu Selatan yang dituangkan dalam bentuk tarian rakyat. Tarian tersebut diciptakan berdasarkan kebiasaan masyaraat berkumpul dan mempelajari pencak silat. Gerakan tari Napa berupa gerakan -gerakan pencak silat. Tari Napa ditarikan oleh dua orang pria saling berhadapan membentuk gerakan pencak silat.
Kata Napa berasal dari papa yang dalam bahasa Bengkulu Selatan berarti mengiringi. Tari Napa berfungsi sebagi penyambutan pengantin saat bimbang adat. Bimbang adalah upacara pernikahan adat yang diadakan tuan rumah yang akan menikahkan anaknya selama tujuh hari tujuh malam.
Tari Beruji Doll merupakan tarian tradisional asal Bengkulu yang dilakukan 5 hingga 8 orang wanita. Tarian ini menggunakan pakaian khas adat Bengkulu yang sudah dimodifikasi pada beberapa bagian.
Ciri khas dari busana yang dipakai terletak pada kain songket warna cerah di bagian bawah. Tarian ini tidak hanya ditampilkan dalam upacara tabot saja melainkan sebagai gelaran budaya atau upacara penyambutan tamu.
Dendang Bengkulu atau sering disebut Bedendang (Berdendang) memiliki dua pertunjukkan, yaitu bedendang ‘nunggu nasi masak’ dan bedendang ‘mutus tari’.
Untuk unsur penyajian tari terdapat beberapa gerakan yang dilakukan oleh pedendang, sangat sederhana dan tidak banyak variasinya.
Gerakan dilakukan secara berulang-ulang, sedangkan untuk musik menyajikan instrument dan bentuk music vocal. Dengan alat musik Gendang, Rebana, Serunai dan bIola sebagai melodinya. Seni ini sering ditampilkan saat acara pernikahan untuk memeriahkan prosesi yang diadakan oleh warga.
Ceritera-ceritera yang disenandungkan adalah ceritera-ceritera rakyat Bengkulu yang sarat dengan nilai-nilai. Teater ini berfungsi tidak hanya sebagai pelepas rutinitas dalam kehidupan keseharian masyarakat pendukungnya, tetapi juga untuk menghibur sebuah keluarga yang salah satu anggotanya meninggal dunia, sehingga mereka tidak larut dalam kesedihan yang mendalam.
Pemain, Peralatan, Tempat dan Waktu Pertunjukan
Pemain nandai batebah hanya satu orang, yaitu juru nandai (biasanya laki-laki). Agar pertunjukkan dapat berjalan mulus dan sempurna, maka seorang juru nandai harus:
(1) memahami ceritera klasik daerah Bengkulu;
(2) mengatur volume suara, artikulasi dan intonasi;
(3) mahir memainkan lagu-lagu dengan irama yang khas;
(4) dapat menciptakan humor yang halus ataupun tajam;
(5) mahir menciptakan kalimat-kalimat sastra; dan
(6) paham tentang bahasa-bahasa kiasan, peribahasa dan perumpamaan yang hidup di kalangan masyarakat Bengkulu. Dengan demikian, walaupun tanpa mempersiapkan skenario yang tertulis, dengan spontan ia dapat menggelarkan nandai batebah dengan baik.
Teater yang disebut sebagai nandai batebah ini hanya menggunakan sebuah alat yang disebut gerigik. Gerigik adalah semacam tabung yang terbuat dari bambu (seperti peralatan dapur yang digunakan untuk membawa dan menyimpan air). Bagian samping atasnya dilubangi untuk memasukkan air. Lubang itu berfungsi sebagai “pegangan” dalam menentengnya. Caranya adalah dengan memasukkan kedua jari ke dalam lubang tersebut. Kemudian, bagian atasnya dilapisi dengan kain atau apa saja agar terasa empuk karena selama pertujukkan berlangsung, lengan kiri atau lengan kanan juru nandai berada atau ditumpangkan di atasnya. Sedangkan, bagian bawahnya atau dasar gerigik diletakkan pada lantai. Di samping gerigik biasanya juga disertai dua bantal untuk penopang kedua belah paha kiri dan kanan juru nandai.
Pertunjukan nandai batebah biasanya dilengkapi dengan sesaji agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, sehingga pertunjukan dapat berjalan lancar. Sesaji berupa jambar dengan gulai ayamnya diletakkan di atas jambar tai. Jambar adalah nasi ketan berkunyit (ketan kuning) dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti sebuah gunung dan ditempatkan bersama gerigik di hadapan juru nandai. Sementara untuk menjamu tamunya, penyelenggara biasanya menyediakan makanan tradisional, seperti: sagon, lepe’ pisang, lepe’ ubi dan cucur pandan.
Pertunjukan nandai batebah biasanya diadakan di tempat yang agak tertutup seperti serambi atau ruangan tengah rumah. Di tempat-tempat seperti itu mereka duduk secara melingkar (membentuk lingkaran-oval), sehingga suara juru nadai dapat terdengar dengan jelas. Jika pertujukkan bertempat di ruangan tengah rumah, maka pintu dan jendela dibuka, sehingga penonton yang tidak dapat duduk di dalam (karena telah penuh) dapat menikmatinya dari luar. Biasanya pertunjukkan dilakukan pada malam hari, yaitu dari pukul 20.00 (setelah sholat Isya) sampai pukul 04.00 WIB (menjelang waktu subuh). Jika ceritera (lakon) yang dibawakan oleh juru nadai tidak selesai (tamat) dalam satu malam, maka pada malam berikutnya dilanjutkan dalam waktu yang sama. Sebagai catatan, jika pertunjukkan bertempat di kediamanan orang yang sedang berduka cita, maka hanya beberapa jam saja. Maksimal hanya sampai tengah malam.
Jalannya Pertunjukkan
Pada hari dan waktu yang telah disepakati, datanglah juru nandai ke rumah penyelenggara. Ia disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk di atas tikar pada tempat yang telah disediakan. Melihat kehadiran sang juru nandai, para undangan dan tetangga pun berdatangan. Mereka disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan duduk secara melingkar. Sebagai catatan, jika pertunjukkan dilakukan di ruang tengah rumah, maka jendela dan pintunya dibuka lebar-lebar, sehingga ketika ruang tersebut penuh, mereka dapat menyaksikannya dari luar.
Ketika para undangan, tetangga, dan penonton lainnya sudah berdatangan, maka pihak tuan rumah menaruh sesaji yang berupa jambar dan gulai ayam di hadapan juru nandai. Selain itu, agar juru nandai dapat duduk dengan nyaman, maka pihak tuan rumah menyediakan dua buah bantal. Setelah itu, seseorang yang mewakili tuan rumah menyerahkan gerigik kepada juru nandai sebagai isyarat bahwa pertunjukkan dapat dimulai. Dengan adanya isyarat itu, maka juru nandai segera mengambil kedua bantal yang telah disediakan, lalu menaruhnya di bawah kedua lututnya (bantal yang satu ada di bawah lutut kiri dan yang satunya lagi ada di bawah lutut kanan) Sedangkan, gerigik digunakan untuk menopang lengannya secara bergantian (kiri dan kanan), sehingga posisi badan tetap tegak. Selanjutnya, juru nandai berdoa kepada Allah SWT agar pertunjukan dapat berjalan dengan lancar dan pihak keluarga serta para tetangga maupun handai taulan yang hadir selalu diberi rahmat-Nya.
Seusai berdoa, juru nandai mulai ber-nandai dengan mengucapkan rejung (pembukaan yang berbentuk prosa liris). Isinya adalah tentang permintaan maaf, jika dalam ber-nandai ada kekurangan atau kekhilafan. Selanjutnya, juru nandai memaparkan salah satu ceritera rakyat Bengkulu dalam bahasa Serawai dan dalam bentuk prosa irama. Jadi, kalimat-kalimat yang tersusun dalam bait-bait puisinya secara keseluruhan mewujudkan sebuah porsa liris. Adapun lagu-lagu yang menyertainya disesuaikan dengan ceritera yang dibawakannya. Pemaparan itu dilakukan babak demi babak sampai akhirnya tamat. Dan, dengan tamatnya suatu ceritera, maka berakhirnya pertunjukkan nandai batebah.
Sebagai catatan, dalam pertunjukkan nandai batebah, juru nandai tidak melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu, tetapi hanya duduk bersila. Jika pendengar tampak mengantuk ketika mendengar cariteranya, ia hanya membuat kejutan-kejutan dengan menyaringkan atau mengeraskan suaranya.
Nandai batebah, sebagai salah satu jenis teater tradisional khas Bengkulu, jika dicermati secara seksama, mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu antara lain adalah kesetaraan, ketenggang-rasaan, kreativitas, dan religius.
Nilai keseteraan tercermin dalam pergelaran nandai batebah itu sendiri. Dalam konteks ini para pendengar sama-sama duduk di atas tikar yang telah disediakan oleh tuan rumah dalam formasi melingkar. Jadi, tidak ada yang lebih tinggi dan atau rendah. Semuanya diperlakukan sama (sederajat).
Nilai ketenggang-rasaan tercermin dalam pergelaran yang ditujukan kepada keluarga yang sedang berduka cita karena salah seorang anggotanya meninggal dunia. Pagelaran ini memang dimaksudkan agar keluarga yang sedang berduka cita tersebut terhibur, sehingga tidak larut dalam kesedihan yang berlebihan. Namun demikian, pagelaran tidak dilakukan sampai pagi, tetapi hanya beberapa jam. Dan, ini adalah sebagai wujud ketenggang-rasaan.
Nilai kreativitas tercermin dalam diri juru nadai. Dalam konteks ini juru nandai harus memahami ceritera klasik daerah Bengkulu; mengatur volume suara, artikulasi dan intonasi; mahir memainkan lagu-lagu dengan irama yang khas; dapat menciptakan humor yang halus ataupun tajam; mahir menciptakan kalimat-kalimat sastra; paham tentang bahasa-bahasa kiasan, peribahasa dan perumpamaan yang hidup di kalangan masyarakat Bengkulu. Dengan demikian, walaupun tanpa mempersiapkan skenario yang tertulis, dengan spontan ia dapat menggelarkan nandai batebah dengan baik. Untuk itu, diperlukan kreatifitas yang tinggi.
Nilai religius tercermin dalam doa yang dipanjatkan oleh juru nandai. Dalam konteks ini, sebelum pergelaran dimulai, juru nandai berdoa kepada Allah SWT agar pertunjukkan dapat berjalan dengan lancar dan pihak keluarga serta para tetangga maupun handai taulan yang hadir selalu diberi rahmat-Nya.