Rahmat Adriansyah Arlan
Sebelum kamu memahami sebuah stress yang muncul, alangkah baiknya kamu membaca terlebih dahulu kisah berikut.
Ayu merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir yang tinggal menyusun skripsinya. Hari-hari Ayu di isi oleh kegiatan mulai dari rumah sampai kampus untuk bisa revisian. Makan, revisian, tidur, makan revisian, tidur kurang lebih begitulah siklus aktivitas Ayu sehari-hari. Mungkin sama dengan beberapa mahasiswa tingkat akhir lainnya bahwa skripsian adalah hal yang membuat mereka untuk begadang hingga jarang tidur.
Beberapa hari belakangan Ayu merasa bahwa ia sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani kehidupannya yang seperti itu. Ayu mulai melihat apa yang menjadi kekurangannya untuk bisa menjalani siklus aktivitas yang lebih baik lagi. Ternyata Ayu mendapati bahwa selama ini ia banyak membuang-buang waktunya ketika sedang mengerjakan revisiannya. Kegiatan mengerjakan revisiannya lebih banyak terbuang ketika ia terdistract akan sebuah notif handphonenya yang membuatnya menjadi tidak fokus. Setelah mengetahui hal tersebut, Ayu mulai memperbaikinya dengan mempelajari cara untuk bisa fokus ketika mengerjakan sesuatu. Bukan hanya pada caranya mengerjakan skripsian, hal inipun ia terapkan pada semua aspek kehidupannya.
Okeyy, dari cerita di atas coba kamu bayangkan jika Ayu berlarut-larut dalam siklus kehidupannya yang tidak sehat seperti begadang hingga jarang tidur. Dampak buruk pasti akan dihadapi oleh Ayu karena kehidupan yang tidak sehat seperti itu. Hal tersebut bisa saja jadi bom waktu bagi Ayu cepat atau lambat.
Dari cerita diatas sebenarnya kita bisa memahami akan adanya jenis stress. Jadi, stress itu sebenarnya terbagi menjadi dua jenis stress yaitu stress baik (eustress) dan stress buruk (distress). Loh loh loh ? Kok stress ada dua ? Bukannya stress itu buruk yaa ?. Tenang-tenang, di sini saya akan menjelaskan semudah mungkin untuk di pahami.
Stress itu muncul dalam keadaan netral. So, pemahaman awal yang harus kalian pahami adalah stress itu adalah hal yang sangat NORMAL dalam kehidupan kita. Tanpa stress mungkin tidak akan ada peradaban di dunia ini. Penyebab stress (stressor) muncul karena adanya ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan atau apa yang kita tidak ketahui dengan kemampuan kita. Saya bisanya melakukan X ehh malah dikasih tugas Y. Begitulah gambaran stress muncul.
Stressor ada untuk menjadikan manusia bisa melihat blind spot (titik buta) dalam perkembangannya sebagai seorang individu. Stress baik (eustress) merupakan sebuah stress yang akan menjadikan individu bisa memahami makna-makna dari munculnya stress tersebut. Contoh cerita diatas bisa dipahami bahwa Ayu menjadikannya sebuah stress baik (eustress) karena ia mampu mengarahkan stressornya ke arah yang lebih baik.
Hal tersebut bisa dilihat ketika Ayu mulai bisa memahami kenapa ia menunda untuk mengerjakan pekerjaannya. Berbanding terbalik dengan stress buruk (distress), stress buruk merupakan sebuah stress yang dapat menjadikan individu mengalami hal-hal negatif karena ketidakmampuannya untuk memahami kenapa stress bisa muncul. Jika Ayu berlarut-larut membuang-buang waktu dengan handphone ketika mengerjakan skripsinya, bisa saja dari hal yang awalnya sepele seperti membuang-buang waktu, menjadi stress, depresi hingga bunuh diri. Buruk bukan?