Kamu Nggak Enakan, dia seenaknya
Eudaimonia
Eudaimonia
Tulisan ini diadopsi dari karya tulis Widya Kartikasari
Setiap manusia memiliki nurani dan perasaan yang berbeda-beda, para ahli berpendapat nurani merupakan proses panjang namun singkat oleh kognitif manusia yang melibatkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem penilaian seseorang terhadap lingkungannya. Sehingga penulis mempunyai pandangan sendiri mengenai nurani yakni lonceng yang berbunyi pada saat diberikan stimulus berupa perlakuan ataupun perilaku yang bertentangan dengan moral individu dimana lonceng itu berbunyi rasa bersalah.
Tetapi nurani dan logika manusia sering kali bertolak belakang malahan terkadang sulit untuk dikendalikan secara sadar. Dengan demikian sederhananya manusia dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu mereka yang mendahulukan kepentingan manusia lain atau akrab disapa nggak enakan adapun mereka yang tidak melirik orang disekitarnya dan melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa mendengar satupun pendapat yang dikenal baik dengan sebutan seenaknya.
KAMU NGGAK ENAKAN, DIA SEENAKNYA
Pernah nggak sih kamu berada pada situasi dimana udah berbuat baik, lah kok dia hanya memberikan feedback seperti itu padahal yang diharapkan nggak seperti itu (yahh makanya jangan berharap). Atau pernah nggak merasa kamu seakan-akan di peralat oleh seseorang yang hanya bilang katanya teman, teman kok kayak gitu atau sebaliknya?. Kamu nggak enakan dia seenaknya, kata ini merupakan iklan salah satu industri rokok di Indonesia yang mungkin saja teman-teman tidak sengaja melihatnya pada vidiotron di pinggiran jalan, cukup dramatis yah untuk sebuah iklan rokok.
Lantas bagaimana menanggapi fenomena "kamu nggak enakan ehh dia kok seenaknya?" Memang ada perbedaan di antara kedua prilaku tersebut atau hanya sebatas adagium belaka?
KAMU NGGAK ENAKAN
Sudut pandang moral memberikan stempel korban pada individu yang berperilaku nggak enakan, mungkin karena terlihat baik, nggak bisa memunculkan penolakan, tetapi harus sampai kapan? Okeh kamu hebat, kamu melakukannya pasti karena nggak ingin mengecewakan orang lain, hmmm ingin menyenangkan orang lain, dan tentunya kamu jadi bersalah kalau orang lain malah gak suka sama sikap kamu. Kamu begitu luar biasa, mengedepankan kesenangan orang lain dibandingkan dengan kesenangan kamu sendiri. Padahal, bisa saja mereka itu bersikap biasa saja, gak menganggap kamu istimewa, atau bahkan mereka malah jadi gak suka ke kamu karena ternyata kamu tidak seperti apa yang mereka ekspektasikan sebelumnya.
Penolakan memang berat dan seringkali menjadi perdebatan but its okay masih banyak manusia yang mengerti akan tindakan penolakanmu bukan tanpa sebab tetapi sudah semestinya kamu lakukan cobalah utuk menolak suatu hal yang membawa kerugian dalam kehidupanmu.
Ingat, kunci sukses itu masih menjadi misteri hingga sekarang akan tetapi kunci gagal yaitu ingin menyenangkan semua orang. Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang. Sama halnya dengan kamu, gak semua orang kamu senangi kan!!! Oleh karena itu, sebelum menyenangkan orang lain, cobalah untuk fokus menyenangkan dirimu sendiri.
DIA SEENAKNYA
Sering kali orang yang berjalan dengan membawa gelar ini terlihat kejam, tak berperasaan atau malahan sering di anggap cool.
Kamu adalah orang yang tidak pernah ambil pusing dengan penilaian orang lain. Menghiraukan penilaian orang lain adalah hal yang bagus, tapi akan jadi berlebihan jika sama sekali tidak peduli dengan penilaian orang lain tentangmu. Bisa jadi orang yang tidak menyukaimu bukan berarti dia membencimu, hal itu merupakan lonceng agar kamu bisa sadar diri untuk merubah sikapmu dan tidak berlaku seenaknya. Coba tempatkan dirimu sebaliknya, bagaimana bila kamu mendapatkan perlakuan seenaknya dari orang lain? Kamu pun pasti tidak mau, kan!!.
Bagaimana jika orang yang kamu sayang mendapat perlakuan seenaknya dari orang lain? Bagaimana rasanya? Bagaimana sakitnya? Bagaimana pedihnya mendapat perlakuan seperti itu? Mulailah introspeksi diri cobalah melihat sekitarmu, perlakukan orang lain selayaknya manusia yang perlu kamu kasihi dan kamu sayangi karena manusia sendiri merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.
LALU....
Adakala penulis juga merasakan kedua hal yang serupa tidak terlepas bahwa penulis juga masih manusia yang mencoba untuk terus berkembang. Jadi mulai sekarang, perlahan-lahan marilah belajar, memulai, dan mencoba untuk lebih humanis melihat dan merasakan apa yang terjadi di sekitarmu. Niatkan semua yang dilakukan untuk mencari ketenangan diri dan kebahagiaan untuk orang di sekitar kita.
#KABINET MARGANA GANTARI