DARI INSECURE MENJADI INSPIRASI
Muh. Aidil Efendi
Muh. Aidil Efendi
DARI INSECURE MENJADI INSPIRASI: PERAN PERASAAN INFERIOR DALAM
MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA
Disusun Oleh:
Muh. Aidil Efendi
Universitas Bosowa
Fakultas Psikologi
I. Pendahuluan
Dalam dunia perkuliahan beberapa orang seringkali dianggap sebagai ajang kompetisi, mahasiswa dituntut untuk berprestasi, beradaptasi, dan menunjukkan keunggulan. Di tengah berbagai tekaknan tersebut, tidak jarang mahasiswa merasa minder atau insecure, merasa bahwa diri mereka tidak sehebat atau sepintar teman-temannya yang lain. Perasaan ini, yang secara psikologis dikenal sebagai inferior, bisa jadi sangat mengganggu, memicu kecemasan, dan menghambat kemajuan akademik. Namun menariknya, perasaan inferior ini tidak selalu dipandang negatif atau menjadi sesuatu yang salah, justru bagi sebagian mahasiswa perasaan inferior ini dapat menjadi motivasi atau dorongan yang kuat untuk belajar dan berkembang.
Dalam teori Adler menjelaskan perasaan rendah diri disebut sebagai inferior, di mana perasaan ini timbul karena adanya perasaan kurang berharga dan timbul karena ketidakmampuan psikologis maupun sosial yang dirasakan, sehingga dalam hal ini individu merasa tersingkirkan. Individu merasa bahwa dirinya tak dapat mencapai suatu yang dapat dicapai orang lain. Berbeda dengan pandangan Freud yang berpusat pada seksualitas, Adler justru menyoroti pentingnya perasaan inferior sebagai dorongan utama di balik perkembangan kepribadian manusia. Menurut Adler, setiap individu memiliki perasaan inferior, perasaan ini bukanlah sesuatu yang upnormal melainkan sesuatu yang universal.
Dalam konteks perkuliahan, tekanan untuk berprestasi, perbandingan sosial, dan ekspektasi yang tinggi dapat memperkuat perasaan inferior pada mahasiswa. Mereka mungkin membandingkan diri dengan teman yang lebih cepat paham, lebih aktif di kelas, atau memiliki IPK yang lebih tinggi. Namun alih-alih mengangkat tangan untuk menyerah perasaan inferior ini justru dapat menjadi bensin yang mendorong mahasiswa untuk membuktikan diri, meningkatkan kompetensi, dan akhirnya mencapai potensi maksimal mereka. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji bagaimana perasaan inferior yang dialami mahasiswa dapat dimaknai ulang menjadi inspirasi meningkatkan motivasi belajar. Dengan memahami teori dari Adler, penulis dapat menemukan cara untuk membantu mahasiswa menghadapi perasaan insecure dan juga memanfaatkannya sebagai motivasi menuju keberhasilan akademik dan diri pribadi mereka.
II. Pembahasan
Dunia perkuliahan dengan segala dinamika yang terjadi di dalamnya, sebagian orang beranggapan sebagai jembatan untuk menuju kesuksesan di masa depan. Namun realitanya, tak selalu seindah yang dibayangkan banyak mahasiswa diam-diam bertarung dengan perasaan inferiornya atau perasaan rendah diri. Perasaan ini dapat muncul dari berbagai sumber, mulai dari perbandingan akdemis, kesuksesan teman-temannya di media sosial, hingga tekanan untuk berprestasi di tengah lingkungan yang kompetitif. Meski sering dianggap sebagai penghalang, dari sudut pandang Alfred Adler justru perasaan ini dapat menjadi dorongan untuk berkembang.
1. Perasaan Inferior Mahasiswa
Perasaan inferior terkhusus pada kalangan mahasiswa adalah sesuatu yang rumit dengan beragam manifestasi. Ini bisa berupa kecemasan akademis (merasa tidak sepintar orang lain dalam mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosen), ketidak mampuan sosial (merasa sulit bergaul tidak diterima dalam kelas maupun lingkungan kampus). Mahasiswa seringkali membandingkan diri dengan standar yang mungkin tidak realisitis bagi dirinya, yang diperparah oleh:
a. Tekanan akademik, ekspektasi dari orang tua, sistem penilaian yang kompetitif, dan persaingan ketat untuk mendapatkan IPK yang tinggi memicu stress dan perasaan tidak mampu.
b. Perbandingan sosial, lingkungan kampus yang padat memungkinkan mahasiswa untuk membandingkan diri mereka sendiri dengan teman yang meraih nilai yang lebih bagus darinya, aktif di banyak organisasi, atau mendapat beasiswa, sehingga muncul pemikiran “Masa Saya begini-begini saja?”.
c. Pengaruh media sosial, platform seperti Instagram atau Linkedin sering menjadi etalase prestasi. Mahasiswa terpapar pada “sorotan” kesuksesan orang lain yang terkurasi, menciptakan ilusi bahwa semua orang kecuali dirinya selalu berhasi dan bahagia (Anggraini & Amalia, 2021).
d. Ekspektasi keluarga dan masyarakat, sebagian mahasiswa juga memikul beban ekspektasi tinggi dari keluarga atau lingkungan sosialnya, jika tidak terpenuhi bisa memperdalam perasaan inferiornya.
2. Alfred Adler dan Paradigma Inferior sebagai Kekuatan
Untuk memahami bagaimana perasaan “rendah diri” bisa berubah menjadi kekuatan, kita perlu merujuk pada konsep dari Alfred Adler, seorang psikolog Austria yang mengembangkan teori psikologi individual. Berbeda dengan pandangan yang menganggap inferior sebagai kelemahan semata. Adler berpendapat bahwa “setiap individu terlahir dengan perasaan inferiofritas, ini bukanlah sebuah kekurangan, melainkan kondisi universal dan normal yang timbul dari keterbatasan fisik dan ketergantungan kita di awal kehidupan (Adler, 1927-2011).
Lebih lanjut Adler berpendapat bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengatasi perasaan inferior ini, sebuah dorongan yang ia sebut sebagi dorongan keunggulan. Penting untuk dicatat, keunggulan di sini bukanlah superioritas dalam artian mendominasi atau merendahkan orang lain melainkan usaha untuk mencapai kesempurnaan, menguasai lingkungan, atau merealisasikan potensi diri secara maksimal (Feist et al, 2018). Doronhgan ini adalah inti dari motivasi manusia, ketika seseorang mahasiswa merasa minder karena nilainya buruk, dorongan keunggulan inilah yang akan mendorongnya untuk belajar lebih keras, dan berusaha semaksimal mungkin mencari solusi terkait kekuranggannya.
3. Mekanisme Perubahan dari Insecure Menjadi Pemicu Motivasi
a. Disonansi kognitif dan dorongan resolusi, saat mahasiswa merasa inferior ada celah antara bagaimana mereka melihat diri sendiri saat ini (kurang mampu) dengan bagaimana mereka ingin melihat diri mereka di masa depan (mampu dan sukses). Ketidaknyamanan dari disonansi ini memicu dorongan untuk bertindak, mengubah perilaku belajar agar celah tersebut tertutup (Arista & Ifdil, 2017).
b. Keinginan untuk membentuktikan diri, perasaan minder dapat memicu keinginan kuat untuk membuntikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa mereka sebenarnya mampu. Motivasi ini sangat personal, berfokus pada peningkatan kemampuan diri dan mencapai standar yang telah ditetapkan. Misalnya, mahasiswa yang merasa tidak pintar di bidang tertentu akan belajar lebih keras untuk membuntikan bahwa mereka bisa menguasainya.
c. Peningkatan upaya dan strategi belajar, ketika menghadapi perasaan inferioritas mahasiswa yang termotivasi akan secara otomatis meningkatkan upaya belajar dengan lebih banyak waktu untuk belajar, mencari sumber belajar tambahan dari buku atau jurnal atau bahkan meminta bantuan dari teman yang lebih pintar.
d. Pengembangan resiliensi dan ketahanan diri, proses mengubah perasaan inferior menjadi motivasi juga membangun resiliensi. Mahasiswa belajar untuk menghadapi kegagalan atau kesulitan, bangkit kemabali, dan terus berjuang, mereka melihat hambatan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai tantangan yang harus diatasi. Pengalaman ini memperkuat mental dan meningkatkan self-efficacy mereka, yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk mencapai tujuan (Santrock, 2017).
e. Fokus pada pertumbuhan, alih-alih terpaku pada kekurangan mahasiswa yang berhasil mengubah inferioritas menjadi motivasi cenderung mengadopsi growth mindset (fokus pada pertumbuhan). Mereka percaya behwa kemampuan bisa dikembangkan melalui kerja keras dan dedikasi, menjadikan setgiap tantangan sebagai peluang untuk belajar dan bertumbuh (Dweck, 2006).
III. Kesimpulan
Perasaan inferioritas merupakan pengalaman psikologis yang lazim di kalangan mahasiswa, sering kali dipicu oleh kompleksitas tuntutan akademik, dinamika perbandingan sosial, serta citra idealisasi yang ditampilkan melalui media sosial. Namun, alih-alih menjadi kendala, fenomena ini, bila dianalisis melalui teori Alfred Adler, dapat dipahami sebagai suatu daya dorong fundamental bagi perkembangan individu. Adler mengemukakan bahwa setiap individu memiliki dorongan keunggulan yang inheren, yaitu motivasi intrinsik untuk mengatasi perasaan tidak memadai dan mencapai aktualisasi diri. Dalam konteks pendidikan tinggi, perasaan inferioritas dapat bertransformasi menjadi motivasi belajar yang substansial. Transisi ini terjadi ketika mahasiswa mengonversi ketidaknyamanan akibat perasaan minder menjadi impetus untuk membuktikan kapabilitas diri, meningkatkan kompetensi, serta mengadopsi strategi pembelajaran yang lebih efektif. Proses ini tidak hanya berkorelasi positif dengan peningkatan prestasi akademik, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan resiliensi, keyakinan diri (self-efficacy), dan kapasitas adaptif dalam menghadapi tantangan. Dengan demikian, inferioritas tidak semata-mata merupakan defisit, melainkan suatu inspirasi yang memacu mahasiswa untuk senantiasa belajar, berkembang, dan mencapai potensi optimal mereka dalam lingkungan perkuliahan.
IV. Daftar Putaka
Adler, A. (2011). Superiority and Social Interest: A Collection of Later Writings. (H. L. Ansbacher & R. R. Ansbacher, Eds.). W. W. Norton & Company. (Karya asli diterbitkan tahun 1927).
Anggraini, A., & Amalia, R. (2021). Hubungan Self-Efficacy dengan Inferioritas pada Mahasiswa Tingkat Akhir. Jurnal Psikologi Malahayati, 3(2), 175-184.
Arista, S., & Ifdil, I. (2017). Konsep Diri dan Inferioritas pada Mahasiswa. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 5(2), 1-8.
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2018). Theories of Personality (9th ed.). McGraw- Hill Education.
Santrock, J. W. (2017). Life-Span Development (16th ed.). McGraw-Hill Education.