CHILDFREE: PILIHAN HIDUP ATAU EGOISME MODERN?
Disusun Oleh:
Tasyah dan Sulpia
Universitas Bosowa
Fakultas Psikologi
I. Pendahuluan
Belakangan ini, istilah childfree semakin sering diperbincangkan, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Childfree sendiri berarti keputusan seseorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak sama sekali. Bagi sebagian orang, keputusan ini dianggap sebagai bentuk kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Berdasarkan laporan Pew Research Center (2021), sekitar 44% orang dewasa berusia di bawah 50 tahun di Amerika Serikat memilih untuk tidak memiliki anak. Di Indonesia, tren ini juga mulai terlihat, khususnya di kota-kota besar seiring dengan perubahan pola pikir dan gaya hidup masyarakat.
Di tengah masyarakat yang masih menganggap memiliki anak sebagai bagian alami dari kehidupan dewasa, muncul satu pilihan yang mengundang banyak tanya: childfree, yaitu keputusan sadar untuk tidak memiliki anak. Pilihan ini kian sering dibicarakan disorot, didukung, dikritik, bahkan dikecam. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kesadaran hidup dan kendali diri. Sebagian lain menilainya sebagai refleksi egoisme modern yang memprioritaskan kebebasan pribadi dibanding nilai kekeluargaan.
Tak dapat dipungkiri, dalam budaya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi keluarga, childfree masih dianggap tabu. Pertanyaan seperti, "nanti siapa yang rawat kamu saat tua?" atau "hidup tanpa anak itu sepi, lho," sering dilontarkan kepada mereka yang memilih jalan ini. Padahal, pertanyaan tersebut mencerminkan paradigma lama yang menyamakan memiliki anak dengan jaminan masa depan. Nyatanya, tidak sedikit orang tua yang kesepian di usia senja, dan tidak sedikit pula orang tanpa anak yang hidupnya tetap penuh cinta dan makna.
Meskipun demikian, keputusan untuk childfree sering menimbulkan pro dan kontra. Di Indonesia, anak masih sering dianggap sebagai simbol keberhasilan, penerus keturunan, dan wujud bakti kepada orang tua. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah childfree dapat diterima sebagai pilihan hidup yang sah, atau justru merupakan bentuk egoisme yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya Timur?
II. Alasan Childfree Sebagai Pilihan Hidup
Keputusan untuk tidak memiliki anak pada dasarnya merupakan bagian dari hak asasi manusia untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Pasal 28B UUD 1945 menjamin bahwa setiap orang memiliki hak membentuk keluarga, tetapi tidak mewajibkan setiap orang untuk memiliki anak. Hak atas tubuh dan kehidupan pribadi menjadi dasar moral bahwa setiap orang berhak memutuskan apa yang dianggap terbaik bagi dirinya.
Selain itu, banyak pasangan memilih childfree dengan pertimbangan rasional. Berdasarkan laporan BKKBN (2022), generasi muda semakin mempertimbangkan tingginya biaya hidup, mahalnya biaya pendidikan, serta kondisi ekonomi yang tidak menentu. Faktor lingkungan juga menjadi alasan. The Guardian (2020) melaporkan bahwa semakin banyak pasangan sadar bahwa pertumbuhan populasi yang tinggi berdampak pada krisis iklim.
Trauma masa kecil, kesehatan mental, maupun kesiapan emosional sering menjadi pertimbangan lainnya. Tidak semua orang merasa cocok atau siap menjadi orang tua. Daripada memaksakan diri, mereka memilih bertanggung jawab dengan cara tidak memiliki anak.
III. Pandangan yang Menganggap Childfree Sebagai Bentuk Egoisme
Di sisi lain, banyak pihak berpendapat bahwa childfree bertentangan dengan nilai-nilai sosial. Di Indonesia, anak memiliki peran penting dalam struktur keluarga besar. Dalam budaya Bugis-Makassar, misalnya, anak dianggap sebagai “tabungan” orang tua yang kelak akan membalas budi di masa tua. Oleh karena itu, keputusan untuk childfree kerap dianggap tidak sesuai dengan kodrat manusia.
Selain itu, tren childfree juga menimbulkan kekhawatiran terhadap penurunan angka kelahiran. Data BPS (2023) menunjukkan bahwa beberapa provinsi mengalami penurunan angka kelahiran yang signifikan. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko menghadapi bonus demografi yang berakhir lebih cepat. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya jumlah lansia yang tidak seimbang dengan generasi produktif, sehingga beban ekonomi dan kesehatan pun dapat meningkat.
Sebagian kalangan juga menilai bahwa childfree lahir dari gaya hidup yang individualistis. Fokus pada karier, gaya hidup konsumtif, serta keengganan berkompromi sering dilekatkan pada kelompok childfree.
IV. Penutup
Fenomena childfree sebaiknya tidak dilihat secara hitam-putih. Setiap orang memiliki alasan yang berbeda di balik keputusannya. Banyak individu childfree yang tetap memberikan kontribusi positif di bidang lain, seperti lingkungan, pendidikan, maupun kegiatan sosial. Selain itu, tren childfree juga menjadi pengingat bagi pemerintah untuk membangun ekosistem keluarga yang lebih ramah anak, seperti biaya pendidikan yang terjangkau, jaminan kesehatan, serta perlindungan bagi orang tua yang bekerja.
V. Kesimpulan
Pada akhirnya, childfree adalah pilihan hidup yang sah selama dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Masyarakat diharapkan dapat saling menghormati perbedaan pandangan tanpa memaksakan satu nilai yang sama pada semua orang. Yang terpenting bukanlah apakah seseorang memiliki anak atau tidak, melainkan bagaimana ia bertanggungjawab terhadap keputusannya, lingkungan, serta masyarakat di sekitarnya. childfree tidak otomatis mencerminkan egoisme. Bisa jadi, itu adalah pilihan yang lahir dari refleksi, tanggung jawab, dan kesadaran penuh atas konsekuensi hidup. Di dunia yang terus berubah, kita perlu belajar untuk tidak cepat menilai orang lain hanya karena mereka berbeda dari mayoritas. Yang paling penting bukanlah berapa banyak anak yang dimiliki seseorang, tetapi seberapa dalam ia memahami dirinya, menghargai orang lain, dan menjalani hidup dengan utuh.
Daftar Pustaka
• Pew Research Center. (2021). More U.S. Adults Say They Don’t Want Children.
• BKKBN. (2022). Laporan Kependudukan Indonesia.
• The Guardian. (2020). Why More Couples Choose Not to Have Children.
• Badan Pusat Statistik. (2023). Proyeksi Penduduk Indonesia.