Aku Ikutin Dia, dia ikutin siapa?
Eudaimonia
Eudaimonia
Setiap individu memiliki rasa ingin tahu yang tertanam entah dimana letaknya dan tak ada salahnya jika ingin memuaskan rasa ingin tahu tersebut yahh bisa dikatakan sangat manusiawi, akan tetapi gimana jika kasusnya tuh seperti ini. Mengikuti fashion yang sedang viral akan tetapi itu tidak sesuai dengan finansial hingga lebih banyak ruginya, hmm atau mengikuti trend nongkrong di tempat-tempat instagramable cuman sekedar ingin terlihat gaul, hingga pesta politik yang belum lama ini ikut-ikutan memilih salah satu paslon hanya karena teman ataupun keluarga serentak dalam memilih paslon tersebut. Ikut-ikutan apakah memang layak dikatakan sebagai pemuasan atas rasa penasaran atau menjadi suatu fenomena yang dapat mengusik sosial hingga diri kita? Yang kerap dikenal dengan sapaan konformitas.
Aku ikutin dia, dia ikutin siapa? menjadi keresahan penulis yang sangat meresahkan hingga di angkat menjadi judul suatu karya tulis, agar teman-teman dapat merasakan kerasahan yang sama oleh penulis. Menurut kalian apakah fenomena ini sangat mengganggu diri teman-teman atau hanya menjadi keanekaragaman budaya di Negara kita yang melekat?, keduanya pun hanya menjadi alternatif pilihan bukan sebagai jawaban, untuk menjawab sebaiknya teman-teman melanjutkan membaca siapa tahu dapat menemukan jawaban atas fenomena konformitas yang kerap terjadi.
Mengutip tulisan Laura A. King salah satu bintang psikologi umum, fenomena konformitas (ikut-ikutan) dalam bukunya berjudul “The Science of Pscyhology: An aperciative view”. Penyebabnya beragam mulai dari aspsek biologis, psikologis, dan budaya yang akhirnya menjadi standar dalam satu kelompok tertentu. Dimana fenomena konformitas ini bekerja untuk menyesuaikan diri, dengan harapan dapat diterima dan mendapat pengakuan oleh kelompok sosial. Konformitas muncul bukan tanpa sebab tetapi dipengaruhi oleh rasa percaya diri yang kurang, pengaruh kelompok sosial, ketakutan akan peyimpangan terhadap sosial hingga ketakutan munculnya celaan hingga diskriminasi oleh sosial. Tetapi perlu teman-teman ingat konformitas tidak memiliki makna baik atau buruk atas diri sendiri bisa saja prilaku tersebut diperlukan agar suatu usaha dapat diterima dengan kelompok sosial, bahkan ada saatnya konformitas itu sangat diperlukan contohnya di saat bekerja maka diharuskan untuk mengikuti budaya yang tertanam pada tempat kerja itu sendiri.
Akan tetapi menjadi kekeliruan jika hanya mengikuti suatu kelompok ataupun individu superior (panutan) jika tidak mengetahui apa yang sebenarnya teman-teman coba ikuti, tidak memperhatikan kelayakan maupun konsekuensi atas tindakan teman-teman mengikuti hal tersebut jadi perlunya alasan rasional dan filter dalam menerapkan prilaku konformitas. Ada satu peribahasa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” peribahasa tersebut memiliki makna seseorang sepatutnya mengikuti dan menghormati adat istiadat yang berlaku di tempat tinggalnya. Namun, muncullah pertanyaan, “gimana jika kita benarbenar baru di tempat itu?, bagaimana jika adat istiadat di tempat itu merugikan diri kita?” Nah, disinilah peran faktor psikologis muncul. Kita akan cenderung menyesuaikan dengan prilaku yang tertanam di tempat tersebut dengan alasan kita ingin terlihat sama dengan mereka, kita ingin menyesuaikan diri dengan kebiasaan sosial di tempat itu hingga ikutikutan agar terhindar dari diskriminasi penyimpangan karena berbeda dengan prilaku sosial tempat tersebiut.
Lalu…..
Mungkin sudah banyak contoh hingga faktor terjadinya prilaku konformitas, sehingga menjadi tugas teman-teman dalam menyimpulkan konformitas itu sendiri. semoga tulisan ini hanya menambah masalah baru yang teman-teman akan renungkan kemudian cobalah untuk membuat pilihan atas jalan hidup yang teman-teman pilih dengan melihat dampak pilihan tersebut dengan lebih rasional bukan sekedar ikut-ikutan.
#KABINET MARGANA GANTARI