KARANI (Kajian Generasi Qur’ani):
oleh Departemen Kerohanian & keagamaan BEM FEB UMY
oleh Departemen Kerohanian & keagamaan BEM FEB UMY
Pada Sabtu sore, 26 April 2025, tepat pukul 16.30 WIB, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (BEM KM FEB UMY) berkumpul dalam sebuah kajian yang sederhana namun sarat makna. Kajian ini diberi nama KARANI, akronim dari Kajian Generasi Qur’ani, yang mengusung tema “Ngobrol Perkara Iman”. Bertempat di Masjid Khusnul Khotimah UMY, kajian ini berlangsung hingga pukul 17.30 WIB dalam suasana penuh kekhidmatan.
KARANI merupakan inisiatif dari staff BEM KM FEB untuk menyediakan ruang perenungan spiritual di tengah rutinitas akademik dan organisasi yang padat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membentuk pribadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Dengan mengangkat nilai-nilai Qur’ani sebagai pondasi, diharapkan para anggota BEM KM FEB mampu menyeimbangkan aktivitas duniawi dengan kehidupan ruhani.
Yang menarik dari pelaksanaan kajian ini adalah kesederhanaannya. Tidak ada dekorasi mewah, tidak pula acara formal yang panjang. Para peserta datang dengan pakaian yang rapi namun santai, duduk bersila di lantai masjid dengan mushaf Al-Qur’an di tangan atau catatan kecil di pangkuan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, keikhlasan dan ketulusan terasa begitu nyata.
Kajian dipandu oleh Saudara Deni Putra Pilian, seorang mahasiswa aktif yang juga dikenal sebagai figur muda yang peduli terhadap dakwah kampus. Ia menyampaikan materi dengan gaya yang santai namun tetap mendalam, membaurkan suasana kajian menjadi lebih seperti perbincangan hati ke hati antar saudara seiman, bukan sekadar penyampaian satu arah.
Dengan tema Ngobrol Perkara Iman, Saudara Deni mengajak peserta untuk menyelami ulang apa arti iman dalam kehidupan sehari-hari. Ia memulai dengan pertanyaan sederhana namun reflektif: “Bagaimana kabar iman kita hari ini?” Pertanyaan ini, walaupun singkat, membuat para peserta tersentak dan merenung. Kajian dilanjutkan dengan pemaparan bahwa iman bukan sesuatu yang statis, melainkan naik-turun sesuai dengan amalan dan kondisi hati.
Materi kajian difokuskan pada bagaimana cara menjaga dan memperbarui keimanan di tengah tantangan zaman modern. Beberapa poin utama yang disampaikan dalam kajian ini antara lain:
1. Tanda-tanda lemahnya iman – Seperti mulai lalai dalam ibadah, kurang rasa takut kepada Allah, dan merasa biasa saja saat melakukan dosa kecil.
2. Penyebab turunnya iman – Antara lain terlalu sibuk dengan urusan duniawi, pergaulan yang tidak mendukung nilai-nilai keislaman, dan jarangnya menghadiri majelis ilmu.
3. Upaya memperkuat iman – Dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbaiki shalat, memperbanyak dzikir dan istighfar, serta menghindari maksiat sekecil apapun.
4. Pentingnya lingkungan yang baik – Kajian menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman. Salah satu bentuknya adalah menghadiri majelis seperti KARANI ini secara rutin.
Tidak hanya teori, pemateri juga memberikan contoh nyata dari kehidupan mahasiswa. Bagaimana terkadang dalam kesibukan rapat dan kuliah, iman menjadi terpinggirkan. Kajian ini menjadi tamparan lembut namun penuh kasih sayang untuk kembali menyadari bahwa iman adalah fondasi utama dalam hidup seorang Muslim.
Kegiatan KARANI tidak hanya ditujukan sebagai forum untuk mendengarkan kajian agama secara rutin. Lebih dari itu, kajian ini bertujuan untuk mencetak generasi Qur’ani, yaitu generasi mahasiswa yang tidak hanya rajin membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengkaji maknanya, memahami pesan-pesan Ilahi di dalamnya, dan yang paling penting—mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi tidak semua memahami isi dan nilai yang terkandung di dalamnya. Maka, melalui KARANI, staff BEM KM FEB ingin membiasakan diri untuk menyatu dengan Al-Qur’an, menjadikannya sebagai sahabat sejati dalam menghadapi persoalan hidup, dan menjadikannya kompas utama dalam mengambil keputusan, termasuk dalam aktivitas organisasi.
Pemilihan Masjid Khusnul Khotimah sebagai lokasi kegiatan sangat tepat. Masjid ini berada di lingkungan kampus UMY dan memiliki suasana yang tenang serta mendukung kekhusyukan dalam beribadah dan belajar. Nuansa spiritual sangat terasa begitu memasuki area masjid. Para peserta merasa nyaman untuk membuka hati dan berdiskusi tentang hal-hal yang bersifat personal seperti keimanan, keraguan, serta upaya perbaikan diri.
Beberapa peserta bahkan mengungkapkan bahwa mereka merasa seperti “diisi ulang” setelah mengikuti kajian ini. Bukan hanya karena materi yang disampaikan, tetapi juga karena atmosfer yang
Kegiatan ini mendapat respon positif dari peserta yang sebagian besar merupakan staff aktif BEM FEB. Mereka merasa bahwa kegiatan seperti ini sangat penting dan perlu diperbanyak, karena menjadi sarana untuk mengasah sisi ruhiyah yang sering kali terabaikan dalam kesibukan dunia kampus.
Banyak dari mereka yang mengaku baru pertama kali mengikuti kajian dalam suasana seintim dan sepersonal ini. Tidak sedikit pula yang merasa bahwa tema “Ngobrol Perkara Iman” sangat relevan dengan kondisi hati mereka saat ini, dan mendorong untuk lebih introspeksi diri.
Melihat antusiasme peserta dan kebermanfaatan yang dirasakan, panitia dan tim DKK berencana untuk menjadikan KARANI sebagai program rutin bulanan atau bahkan dua minggu sekali. Tema-tema keislaman lain yang dekat dengan kehidupan mahasiswa akan diangkat, seperti manajemen waktu dalam Islam, adab berorganisasi dalam pandangan syariat, atau membangun niat lillah dalam setiap aktivitas.
Tak hanya itu, rencana untuk menghadirkan narasumber eksternal seperti dosen UMY, alumni BEM, atau tokoh muda inspiratif juga tengah dipertimbangkan untuk memperkaya sudut pandang kajian.