PERSIAPAN PENGOPERASIAN CNC MILL
PERSIAPAN PENGOPERASIAN CNC MILL
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari Modul Persiapan Pengoperasian CNC Mill, peserta didik diharapkan mampu:
Memahami prinsip kerja mesin CNC Mill.
Menjelaskan langkah-langkah persiapan pengoperasian mesin CNC Mill.
Menentukan alat potong, benda kerja, dan perlengkapan yang sesuai.
Melakukan setting awal (zero setting, tool setting, workpiece setting).
Menjalankan prosedur keselamatan kerja di area mesin CNC.
BAHAN AJAR
A. PRINSIP KERJA MESIN CNC MILL
Sumber Gambar : https://geomiq.com/Â
Prinsip kerja Mesin CNC Mill (Frais) adalah proses manufaktur subtraktif yang sepenuhnya diotomatisasi, di mana program komputer yang sangat spesifik digunakan untuk mengontrol pergerakan alat potong putar untuk menghilangkan material dari benda kerja hingga membentuk komponen yang diinginkan dengan presisi tinggi. Secara sederhana, mesin ini bekerja berdasarkan perintah digital alih-alih kontrol manual, memastikan hasil yang seragam dan akurat.
Prinsip kerja Mesin CNC Mill dibagi menjadi beberapa langkah utama, yang semuanya berpusat pada penggunaan kontrol numerik komputer (Computer Numerical Control).
Sumber Gambar : https://digitalsolusigrup.co.id/
a. Desain Produk (CAD)
Langkah awal adalah membuat model 3D komponen yang diinginkan menggunakan perangkat lunak CAD (Computer-Aided Design).
Sumber Gambar : https://www.marketsandmarkets.com/
b. Pemrograman (CAM dan G-Code)
Model CAD kemudian diubah menjadi instruksi mesin melalui perangkat lunak CAM (Computer-Aided Manufacturing).
Instruksi ini diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman numerik standar, yang paling umum adalah G-Code. G-Code berisi semua perintah yang diperlukan, seperti:
Kecepatan putaran spindle (alat potong).
Laju pemakanan (feed rate).
Pergerakan alat potong sepanjang sumbu X, Y, dan Z (dan sumbu tambahan jika mesin multi-sumbu).
Perintah penggantian alat potong otomatis.
Sumber Gambar : https://etcnmachining.com/
c. Eksekusi Program
Program G-Code diinput ke dalam Unit Kontrol CNC (otak mesin).
Prosesor pada unit kontrol menerjemahkan G-Code menjadi sinyal listrik yang menggerakkan motor servo atau stepper yang sangat presisi.
Motor servo mengontrol pergerakan meja kerja dan/atau spindle (rumah alat potong) sesuai dengan koordinat yang telah diprogram (sistem koordinat X-Y-Z).
d. Proses Pemotongan (Milling)
Benda kerja (material mentah) dipasang dengan kuat pada meja kerja.
Alat potong (cutter) diputar oleh spindle dengan kecepatan tinggi.
Unit Kontrol CNC memandu alat potong atau meja kerja (atau keduanya) di sepanjang sumbu X, Y, dan Z, memastikan alat potong menyayat dan menghilangkan material secara bertahap hingga terbentuk sesuai desain 3D. Proses ini disebut manufaktur subtraktif.
Keberhasilan prinsip kerja CNC Mill sangat bergantung pada koordinasi beberapa komponen kunci:
Sumber Gambar : https://www.ctbservo.com/Â
a. Spindel (Spindle)
Spindel adalah jantung dari mesin CNC Mill. Ini adalah komponen yang memegang alat potong (cutter) dan memutarkannya dengan kecepatan tinggi. Kecepatan putaran spindel (RPM - Revolutions Per Minute) sangat penting dan dapat diatur sesuai dengan jenis material yang dipotong dan jenis alat potong yang digunakan.
Fungsi Utama: Memutar alat potong (end mill, bor, face mill, dll.) untuk melakukan proses pemotongan material.
Jenis: Ada spindel vertikal dan horizontal, tergantung pada orientasi mesin. Spindel dapat digerakkan oleh motor listrik melalui sabuk atau langsung digerakkan oleh motor (direct drive).
Spesifikasi Penting: Kecepatan maksimum RPM, daya (horsepower/kW), dan jenis taper yang digunakan untuk memegang alat potong.
Sumber Gambar : https://www.tsinfa.com/Â
b. Meja Kerja (Worktable)
Meja kerja adalah platform tempat material benda kerja ditempatkan dan dipegang selama proses pemesinan. Meja ini biasanya memiliki alur T (T-slots) yang berfungsi untuk memasang klem atau ragum (vise) guna menahan benda kerja agar tidak bergeser saat dipotong.
Fungsi Utama: Sebagai landasan untuk menopang dan mengamankan benda kerja.
Gerakan: Meja kerja pada mesin CNC Mill dapat bergerak pada sumbu X (maju-mundur) dan Y (kiri-kanan) melalui kontrol motor servo atau stepper.
Ukuran dan Kapasitas: Ukuran meja menentukan seberapa besar benda kerja yang bisa diproses, sedangkan kapasitas bebannya menentukan seberapa berat material yang bisa ditopang.
Sumber Gambar : https://www.tsinfa.com/Â
c. Kolom (Column)
Kolom adalah struktur vertikal yang kokoh pada mesin CNC Mill. Ini berfungsi sebagai penyangga utama untuk komponen spindel dan mekanisme geraknya. Kekuatan dan kekakuan kolom sangat penting untuk menjaga stabilitas dan presisi mesin, terutama saat pemotongan berat.
Fungsi Utama: Memberikan dukungan struktural yang stabil untuk spindel dan sistem pergerakan sumbu Z.
Lokasi: Biasanya terletak di belakang meja kerja dan memanjang ke atas.
Desain: Desain kolom yang kuat membantu meredam getaran selama proses pemesinan, yang berkontribusi pada kualitas permukaan benda kerja.
Sumber Gambar : https://www.gsm-cnc.com.tw/Â
d. Tool Changer (Pengganti Alat Otomatis)
Tool Changer atau Automatic Tool Changer (ATC) adalah salah satu fitur otomatisasi terpenting pada mesin CNC Mill modern. Alat ini memungkinkan mesin untuk secara otomatis mengganti alat potong yang digunakan tanpa intervensi operator.
Fungsi Utama: Menyimpan berbagai alat potong dan secara otomatis memilih serta memasang alat yang dibutuhkan oleh program CNC ke spindel.
Komponen: Terdiri dari majalah alat (tool magazine) yang menampung banyak alat, dan lengan robotik atau mekanisme lain yang memindahkan alat dari majalah ke spindel.
Keunggulan: Meningkatkan efisiensi produksi secara drastis karena mengurangi waktu downtime yang disebabkan oleh penggantian alat manual, serta memungkinkan pemesinan yang lebih kompleks dengan berbagai jenis alat.
Sumber Gambar : https://emindotripanca.com/Â
e. Control Panel (Panel Kontrol)
Control Panel adalah antarmuka utama yang digunakan operator untuk berinteraksi dengan mesin CNC Mill. Ini adalah "otak" mesin, tempat program CNC diinput, dimodifikasi, dan dieksekusi.
Fungsi Utama: Mengontrol seluruh operasi mesin, mulai dari memuat program, mengatur parameter pemesinan (kecepatan spindel, laju potong, dll.), memantau status mesin, hingga melakukan simulasi dan troubleshooting.
Komponen: Meliputi monitor (layar), keyboard, tombol-tombol fisik (seperti tombol emergency stop, feed hold, cycle start), dan terkadang joystick atau handwheel untuk pergerakan manual.
Sistem Kontrol (Controller): Di dalamnya terdapat sistem kontrol numerik komputer yang menerjemahkan kode G (G-code) dan kode M (M-code) menjadi gerakan fisik mesin. Merek controller yang umum meliputi Fanuc, Siemens, Haas, Mitsubishi, dan Heidenhain.
B. LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN PENGOPERASIAN MESIN CNC MILL
Langkah-langkah persiapan pengoperasian mesin CNC Mill (Milling) adalah serangkaian prosedur penting yang harus dilakukan operator untuk menjamin keselamatan, ketepatan, dan kelancaran proses pemesinan.
Secara umum, persiapan ini dibagi menjadi tiga fase utama: Persiapan Awal Mesin, Workpiece Setting (Persiapan Benda Kerja), dan Tool/Program Setting.
Langkah ini memastikan bahwa mesin CNC berada dalam kondisi siap dan aman untuk dioperasikan.
a. Cek Kondisi Mesin dan Area Kerja
Pastikan area di sekitar mesin bersih dan bebas dari serpihan atau oli.
Cek level fluida pendingin (coolant) dan pelumas (lubricant/oli) mesin. Tambahkan jika kurang.
Pastikan semua kabel dan selang pneumatik terhubung dengan benar.
Periksa fungsi semua tombol keselamatan (Emergency Stop) dan pintu pelindung.
b. Menghidupkan Mesin (Power On)
Nyalakan Saklar Utama (Main Power Switch) pada panel listrik mesin.
Tekan tombol POWER ON pada panel kontrol CNC.
Setelah sistem booting, lepaskan tombol Emergency Stop (jika terkunci) dan tekan tombol RESET untuk menghilangkan alarm awal.
c. Homing (Machine Zero Return)
Lakukan Referencing atau Zero Return (biasanya dengan mode REF atau JOG diikuti tombol sumbu) untuk mengembalikan semua sumbu (X, Y, Z) ke titik nol mesin (Machine Zero). Ini adalah acuan mutlak mesin.
Langkah ini menentukan posisi benda kerja secara fisik dan logis (koordinat).
a. Pemasangan Benda Kerja
Klem Material: Pasang benda kerja (workpiece) pada alat cekam (ragum/vise atau fixture) dengan kuat dan aman. Gunakan palu plastik untuk memastikan material rata dan tercekam dengan stabil.
b. Zero Setting (Work Offset/Titik Nol Benda Kerja)
Tentukan Titik Origin: Tentukan titik acuan (X0, Y0, Z0) pada benda kerja (misalnya, di sudut, di tengah, atau di permukaan atas).
Pencarian Titik Nol: Gunakan alat bantu seperti Edge Finder, 3D Tester, atau Touch Probe untuk menyentuh permukaan benda kerja dan menemukan nilai koordinat X, Y, dan Z relatif terhadap Machine Zero.
Input Offset: Masukkan nilai-nilai X, Y, dan Z yang telah ditemukan ke dalam sistem Work Offset mesin (misalnya, G54, G55, dst.) pada layar kontrol.
Langkah ini memastikan program yang akan dijalankan sesuai dengan pahat yang terpasang dan parameternya sudah benar.
a. Tool Setting (Tool Offset/Pengaturan Pahat)
Pasang Pahat: Pasang semua pahat (cutting tool) yang diperlukan sesuai urutan proses ke dalam Tool Magazine atau Tool Holder.
Ukur Panjang Pahat: Gunakan alat Tool Setter atau metode manual touching untuk mengukur panjang setiap pahat (Tool Length Offset) dan masukkan nilai offset ke dalam register Tool Offset (H) yang sesuai pada kontrol mesin.
(Opsional) Ukur Diameter Pahat: Masukkan nilai diameter pahat (Cutter Radius Compensation) ke register Tool Offset (D) jika program menggunakan kompensasi radius pahat (G41/G42).
b. Input dan Verifikasi Program
Muat Program: Masukkan atau panggil program G-Code ke memori mesin (melalui USB, LAN, atau MDI).
Cek Program: Pastikan nomor pahat (T), kode Work Offset (G54-G59), Spindle Speed (S), dan Feed Rate (F) dalam program sudah sesuai.
Simulasi: Lakukan simulasi grafis program pada kontrol mesin (dry run) tanpa memutar spindel dan tanpa menyentuh benda kerja untuk mendeteksi potensi tabrakan (collision) atau kesalahan lintasan pahat.
Setelah semua persiapan ini selesai, mesin CNC Mill siap untuk menjalankan proses pemesinan sesungguhnya (Cycle Start).
C. MENENTUKAN ALAT POTONG, BENDA KERJA DAN PERLENGKAPAN YANG SESUAI
1. Alat Potong
Menentukan alat potong yang sesuai (cutting tool) pada mesin CNC Mill adalah langkah krusial yang memengaruhi kualitas permukaan, akurasi dimensi, laju penghilangan material (MRR), dan umur pahat itu sendiri. Pemilihan yang tepat didasarkan pada beberapa faktor utama. Faktor Penentu Pemilihan Alat Potong :
Kekerasan, kekuatan, dan sifat abrasif material benda kerja menentukan jenis material pahat dan geometrinya.
Baja Karbon & Baja Paduan: Biasanya menggunakan pahat HSS (High-Speed Steel) atau Karbida (Carbide) dengan lapisan (coating) TiAlN atau AlTiN untuk panas dan keausan yang lebih baik.
Aluminium & Logam Non-Ferro: Seringkali menggunakan pahat Karbida tak berlapisan (uncoated) atau dilapisi DLC (Diamond-Like Carbon) dengan sudut helix dan rake yang tinggi untuk pengeluaran chip yang efektif.
Stainless Steel & Superalloy (mis. Inconel): Membutuhkan pahat Karbida atau Keramik dengan kekerasan tinggi, ketahanan panas yang luar biasa, dan geometry yang kuat untuk menahan pengerasan regangan (strain hardening) dan panas yang ekstrem.
Alat potong harus sesuai dengan fungsi yang akan dilakukan.
Pengeboran (Drilling): Menggunakan mata bor (twist drills, spade drills, insertable drills).
Pekerjaan Rata (Face Milling): Menggunakan Face Mill Cutter untuk membuat permukaan datar yang lebar.
Pemesinan Saku & Kontur (Pocketing & Contouring): Menggunakan End Mill atau Ball Nose End Mill.
End Mill (Flat/Square End): Untuk membuat dasar yang datar dan dinding tegak lurus.
Ball Nose End Mill: Untuk permukaan berkontur 3D (misalnya die and mold).
Pemesinan Sisi (Side/Shoulder Milling): Menggunakan End Mill atau Shoulder Mill untuk dinding yang tegak lurus dan permukaan yang halus.
Geometri meliputi bentuk, jumlah mata potong, dan sudut-sudutnya.
Flute (Mata Potong)
Jumlah alur heliks tempat chip keluar
Jumlah flute yang lebih banyak (4-6) idel untuk material keras dan finishing (kekuatan pahat tinggi).
Jumlah flute yang lebih sedikit (2-3) ideal untuk material lunak (Almunium) karena memberikan ruang chip yang besar.
Sudut Helix (Helix Angle)
Sudut kemiringan alur heliks relatif terhadap sumbu
Sudut tinggi (misalnya 45 - 60 derajat) memberikan aksi potong yang lebih halus dan efektif untuk chip lunak
Sudut rendah (misalnya 15 - 30 derajat) memberikan kekuatan ujung potong yang lebih baik untuk material keras.
Sudut Rake (Rake Angle)Â
Sudut kemiringan permukaan di belakang ujung potong
Positif (umum) mengurangi gaya potong, menghasilkan chip yang lebih tipis
Negatif (pada insert) memberikan kekuatan lebih pada ujung potong, ideal untuk material keras
Sudut Radius Ujung (Corner Radius)
Pembulatan kecil pada ujung end mill atau insert
Meningkatkan kekuatan ujung potong dan memberikan kualitas permukaan (finishing) yang lebih baik, mengurangi keausan tajam
Material pahat harus lebih keras dan memiliki ketahanan panas yang lebih baik daripada material benda kerja.
HSS (High-Speed Steel): Paling murah, baik untuk kecepatan rendah dan kondisi intermittent cutting (pemotongan terputus).
Karbida (Carbide/Cemented Carbide): Paling umum, sangat keras dan tahan panas. Digunakan untuk kecepatan potong tinggi dan MRR tinggi.
Keramik & Cermet: Untuk kecepatan potong yang sangat tinggi, terutama pada material superalloy dan pengecoran yang keras.
CBN (Cubic Boron Nitride) & PCD (Polycrystalline Diamond): Material super-keras untuk pemesinan finishing material yang sangat keras atau non-ferro abrasif.
Lapisan tipis pada permukaan pahat meningkatkan kekerasan, ketahanan panas, dan mengurangi gesekan, sehingga memperpanjang umur pahat dan memungkinkan kecepatan potong yang lebih tinggi. Contohnya:
TiN (Titanium Nitride): Lapisan serbaguna, warna emas.
AlTiN/TiAlN: Ketahanan panas yang sangat baik, ideal untuk pemesinan kering material keras.
DLC (Diamond-Like Carbon): Gesekan rendah, ideal untuk Aluminium dan Non-Ferro.
Diameter dan panjang alat potong dipilih berdasarkan fitur yang akan dipotong dan kestabilan.
Diameter: Harus cukup kecil untuk masuk ke fitur yang dipotong, tetapi cukup besar untuk kekakuan dan menghindari defleksi (pembengkokan).
Panjang Flute/Length of Cut (LOC): Hanya sepanjang yang diperlukan untuk pemotongan. Pahat yang lebih pendek memiliki kekakuan yang lebih baik.
Tentukan Material Benda Kerja: (misalnya: Stainless Steel 304).
Tentukan Jenis Operasi: (misalnya: Pocketing dengan dinding tegak lurus).
Pilih Jenis Pahat: (misalnya: End Mill Karbida).
Tentukan Spesifikasi:
Diameter: Sesuai desain (misalnya: ϕ10 mm).
Flute: 4-6 flute (untuk stainless steel).
Coating: AlTiN (untuk ketahanan panas).
Hitung Parameter Potong: Setelah pahat terpilih, hitung kecepatan putar (Spindle Speed) dan laju makan (Feed Rate) yang optimal berdasarkan rekomendasi pabrikan pahat dan material benda kerja.
D. MELAKUKAN SETTING AWAL (ZERO SETTING, TOOL SETTING, WORKPIECE SETTING)
Pengaturan awal (setting) pada mesin CNC Milling merupakan langkah krusial untuk memastikan ketepatan dan keberhasilan proses pemesinan. Proses ini meliputi Zero Setting (Penentuan Titik Nol), Tool Setting (Pengaturan Pahat), dan Workpiece Setting (Pengaturan Benda Kerja).
Zero Setting bertujuan untuk menentukan titik acuan (origin) pada benda kerja (Workpiece Zero atau Part Zero) yang akan digunakan oleh program G-code (sistem koordinat benda kerja). Titik ini mewakili koordinat (X0, Y0, Z0) pada benda kerja, yang berbeda dengan Titik Nol Mesin (Machine Zero).
Tentukan Titik Nol Desain: Tentukan titik pada benda kerja yang akan dijadikan acuan (misalnya, sudut kiri depan atas, atau pusat benda kerja).
Pasang Benda Kerja: Klem benda kerja dengan kuat dan aman pada vise atau meja mesin.
Gunakan Alat Bantu: Gunakan alat bantu seperti Edge Finder, Dial Indicator, 3D Tester, atau Touch Probe untuk menentukan koordinat tepi atau pusat benda kerja.
Sentuhkan Alat Bantu: Gerakkan spindel dan sentuhkan alat bantu ke permukaan benda kerja (sumbu X dan Y).
Hitung Offset: Setelah titik ditemukan (misalnya, X pada tepi), hitung dan masukkan nilai offset (biasanya setengah diameter alat bantu) untuk mendapatkan nilai X0 dan Y0 yang tepat.
Atur Z-Zero: Sentuhkan alat bantu ke permukaan atas benda kerja untuk menentukan Z0.
Input Work Offset: Masukkan nilai koordinat Workpiece Zero (X, Y, Z) ke dalam memori Work Offset mesin (misalnya, G54, G55, dll.) menggunakan mode JOG atau MDI pada panel kontrol.
Tool Setting bertujuan untuk mengukur panjang setiap pahat (Tool Length Offset) yang akan digunakan dan menyimpan perbedaannya relatif terhadap pahat standar atau titik acuan tertentu. Ini memungkinkan program untuk secara otomatis menyesuaikan ketinggian pemotongan (sumbu Z) untuk berbagai pahat dengan panjang yang berbeda.
Pasang Pahat: Pasang pahat pertama (atau pahat referensi) ke dalam spindel.
Tentukan Titik Acuan: Gunakan alat Tool Setter (otomatis atau manual) atau sentuhkan pahat ke permukaan benda kerja (Z0) atau titik referensi lainnya.
Ukur/Catat Offset:
Metode Manual (di Z0): Sentuhkan ujung pahat ke permukaan benda kerja (Z0). Baca nilai Z pada display mesin. Nilai ini adalah Tool Length Offset untuk pahat tersebut. Masukkan nilai ini ke register Tool Offset yang sesuai (misalnya, H01 untuk Pahat 1).
Metode Tool Setter: Sentuhkan ujung pahat ke sensor Tool Setter. Mesin akan secara otomatis mengukur panjang dan menghitung offset yang diperlukan.
Ulangi: Ulangi proses untuk semua pahat yang akan digunakan.
Workpiece Setting adalah proses pemasangan fisik benda kerja pada mesin CNC agar posisinya stabil, aman, dan dapat diakses oleh pahat.
Pilih Alat Klem: Pilih alat klem yang sesuai (ragum/vise, chuck, atau fixture) berdasarkan bentuk dan ukuran benda kerja.
Bersihkan: Bersihkan meja mesin, vise, dan permukaan benda kerja dari serpihan atau oli.
Klem Benda Kerja: Letakkan benda kerja pada vise atau fixture dan kencangkan dengan kuat. Pastikan benda kerja tidak bergerak saat pemesinan.
Posisikan: Pastikan posisi benda kerja sudah sesuai dengan kebutuhan desain, terutama bagian yang akan dipotong.
Cek Kestabilan: Ketuk benda kerja perlahan dengan palu plastik untuk memastikan tidak ada celah dan benda kerja tercekam dengan benar.
Setelah semua setting ini selesai, mesin siap untuk menjalankan program CNC dengan akurasi yang tinggi.
E. MENJALANKAN KESELAMATAN KERJA DI AREA MESIN CNC
Menjalankan prosedur keselamatan kerja di area mesin CNC (Computer Numerical Control) sangat penting untuk mencegah kecelakaan, cedera serius, dan kerusakan peralatan. Prosedur ini mencakup beberapa aspek utama sebelum, selama, dan setelah pengoperasian mesin.
Sebelum menyalakan atau menjalankan program pada mesin CNC, pastikan langkah-langkah persiapan berikut telah dilakukan:
a. Pakaian dan Perlengkapan Pelindung Diri (APD)
Wajib menggunakan kacamata keselamatan untuk melindungi mata dari serpihan, debu, atau percikan cairan pendingin.
Gunakan sepatu keselamatan (safety shoes) untuk melindungi kaki dari benda jatuh.
Hindari pakaian longgar, dasi, atau perhiasan yang dapat tersangkut pada bagian mesin yang berputar. Ikat rambut panjang dengan rapi.
Kenakan sarung tangan hanya saat menangani benda kerja yang tajam atau panas, tetapi lepaskan saat mesin beroperasi untuk menghindari bahaya tersangkut.
b. Inspeksi Mesin
Periksa kondisi tombol darurat (E-Stop) untuk memastikan berfungsi dengan baik dan mudah dijangkau.
Pastikan semua penutup pelindung (guards) dan pintu interlock mesin tertutup dan berfungsi dengan benar sebelum menjalankan program.
Periksa level dan kondisi cairan pendingin (coolant) dan pelumas.
c. Pengecekan Benda Kerja dan Alat
Pastikan benda kerja tercekam kuat (clamped securely) pada chuck atau vise untuk mencegah terlepas selama pemotongan.
Verifikasi bahwa alat potong (cutting tools) terpasang dengan benar dan kondisinya baik.
Hapus kunci chuck atau kunci lainnya dari area mesin sebelum menghidupkan daya.
Selama mesin CNC bekerja, ikuti panduan berikut untuk keselamatan:
a. Jaga Jarak Aman
Jangan pernah mencoba membersihkan serpihan, menyentuh spindle atau pahat yang berputar, atau menyesuaikan benda kerja saat mesin sedang beroperasi.
Tetap di area kerja yang ditentukan dan hindari gangguan (distractions).
b. Pengawasan Program
Selalu jalankan program baru dalam mode single block atau kecepatan rendah (dry run) untuk memverifikasi jalur pahat dan menghindari tabrakan (crash) sebelum menjalankan dengan kecepatan penuh.
Siapkan tangan Anda di dekat tombol darurat untuk menghentikan mesin segera jika terjadi kegagalan atau suara yang tidak normal.
c. Penanganan Serpihan (Chips)
Gunakan sikat, kait, atau alat khusus untuk menghilangkan serpihan yang menumpuk hanya setelah mesin dimatikan sepenuhnya dan semua gerakan berhenti.
Jangan gunakan udara bertekanan untuk membersihkan serpihan jika tidak diizinkan, karena dapat menyebabkan serpihan beterbangan dan melukai mata.
d. Penanganan Cairan Pendingin
Pastikan sistem ventilasi atau ekstraksi uap cairan pendingin berfungsi dengan baik untuk menjaga kualitas udara.
Setelah program selesai atau saat melakukan perawatan, prosedur keselamatan tetap berlaku:
a. Mematikan Mesin
Matikan mesin dan pastikan semua komponen yang berputar telah benar-benar berhenti sebelum mendekat atau membuka penutup mesin.
Lakukan Lockout/Tagout (LOTO) jika diperlukan untuk perawatan atau perbaikan mendalam, memastikan daya listrik terputus dan terkunci agar mesin tidak dapat dihidupkan kembali secara tidak sengaja.
b. Pembersihan Area Kerja
Bersihkan serpihan dan tumpahan cairan pendingin dengan cara yang aman dan benar.
Pastikan semua alat dan perkakas dikembalikan ke tempat penyimpanannya.
c. Pelaporan
Laporkan setiap kerusakan, malfungsi, atau kondisi berbahaya kepada atasan atau petugas yang berwenang segera.
Laporkan setiap insiden atau nyaris celaka (near miss), sekecil apa pun, untuk tujuan evaluasi dan perbaikan prosedur.
PENILAIAN
1. RANAH PENGETAHUAN
2. RANAH KETERAMPILAN
ARUDAM KANA TEKNIK
Jl. Manyar No. 19 Beran Ngawi
Hak Cipta @2025