PERSIAPAN PEKERJAAN BUBUT
PERSIAPAN PEKERJAAN BUBUT
TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari modul Persiapan Pekerjaan Bubut, peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan pentingnya persiapan pekerjaan bubut.
Mengidentifikasi peralatan, mesin, dan perlengkapan yang dibutuhkan.
Melakukan pemeriksaan kondisi mesin bubut sebelum digunakan.
Menyiapkan benda kerja sesuai gambar kerja.
Menerapkan prosedur keselamatan kerja dalam persiapan pekerjaan bubut.
BAHAN AJAR
A. PENTINGNYA PERSIAPAN PEKERJAAN BUBUT
Memahami gambar kerja memastikan bahwa produk akhir sesuai dengan spesifikasi perancang. Berikut adalah penjelasan tentang aspek-aspek kunci yang harus dipahami saat mempelajari gambar kerja:
Aspek ini berkaitan dengan rupa visual dan geometris dari objek yang akan dibuat.
Proyeksi: Gambar kerja biasanya menggunakan proyeksi ortografis, menampilkan objek dari beberapa sudut pandang (tampak depan, atas, samping) untuk menunjukkan bentuk tiga dimensi secara lengkap dalam dua dimensi. Anda harus mampu memvisualisasikan objek 3D dari tampilan 2D ini.
Sumber Gambar : Machine Drawing Hal 54
Garis: Pahami arti dari berbagai jenis garis, seperti:
Garis tebal kontinu: Menunjukkan tepi atau batas yang terlihat.
Garis putus-putus: Menunjukkan tepi atau batas yang tersembunyi.
Garis tengah (center lines): Menunjukkan sumbu simetri atau pusat lubang/bentuk silinder.
Simbol: Identifikasi simbol-simbol geometris dasar seperti lingkaran, busur, persegi, dan fillet/chamfer.
Sumber Gambar : Machine Drawing Hal 54
Sumber Gambar : Machine Drawing Halaman 33
Ukuran adalah nilai numerik yang menentukan besar dan lokasi fitur objek.
Dimensi Linier: Menunjukkan panjang, lebar, dan tinggi.
Dimensi Radial/Diameter: Menunjukkan ukuran lingkaran atau busur (menggunakan simbol Ï• untuk diameter dan R untuk radius).
Garis Dimensi, Garis Bantu, dan Angka: Pahami bagaimana garis dimensi (dengan panah) menghubungkan titik-titik yang diukur, dan bagaimana garis bantu ditarik dari tepi objek. Angka dimensi menunjukkan nilai yang diinginkan.
Pengukuran Referensi: Beberapa ukuran mungkin hanya untuk informasi (disebut sebagai reference dimensions) dan biasanya diapit tanda kurung. Ukuran ini tidak digunakan untuk inspeksi atau pembuatan baru, melainkan berasal dari dimensi lain.
Toleransi adalah variasi yang diizinkan dalam ukuran atau bentuk objek. Karena tidak ada benda yang dapat dibuat dengan dimensi tepat sempurna, toleransi menentukan batas atas dan batas bawah (deviasi) yang masih dapat diterima.
Toleransi Ukuran (Dimensional Tolerance):
Toleransi Batas (Limit Dimensions): Ditulis sebagai dua nilai (maksimum dan minimum) yang diizinkan, misalnya 20.00 / 19.95.
Toleransi Plus/Minus (±): Ditulis sebagai dimensi nominal diikuti oleh deviasi yang diizinkan, misalnya 20.00±0.05.
Toleransi Geometris dan Dimensi (Geometric Dimensioning and Tolerancing - GD&T): Menggunakan simbol khusus dalam kotak bingkai untuk mengontrol bentuk, orientasi, dan lokasi fitur. Contohnya termasuk toleransi kerataan (flatness), kebulatan (roundness), posisi (position), dan tegak lurus (perpendicularity).
Pentingnya Toleransi: Toleransi sangat krusial untuk memastikan kemampuan rakit (fit) dan fungsi komponen. Toleransi yang ketat (kecil) akan meningkatkan biaya dan waktu produksi, sementara toleransi yang longgar (besar) bisa menyebabkan kegagalan fungsi.
Sumber Gambar : Machine Drawing Halaman 209
Ini mengacu pada tekstur permukaan akhir dari material. Ini memengaruhi gesekan, keausan, dan tampilan visual.
Simbol Kasar Permukaan: Ditunjukkan oleh simbol segitiga atau tanda centang (tick mark) khusus. Simbol ini seringkali mencantumkan nilai numerik yang menunjukkan kekasaran permukaan rata-rata (Ra​ atau Rz​), biasanya dalam mikrometer (μm) atau mikroinci (μin).
Persyaratan Pemesinan: Simbol juga dapat menunjukkan apakah permukaan harus dikerjakan dengan mesin (diproses secara khusus, seperti digiling atau dihaluskan) atau dapat dibiarkan apa adanya (as cast atau as forged).
Arah Pemesinan (Lay): Simbol tambahan dapat menunjukkan arah utama alur pemotongan (lay) yang diizinkan pada permukaan (misalnya, sejajar, tegak lurus, atau melingkar).
B. PERALATAN, MESIN, DAN PERLENGKAPAN YANG DIBUTUHKAN
Menentukan metode pengerjaan adalah langkah krusial setelah memahami gambar kerja, di mana Anda merencanakan bagaimana komponen akan diproduksi secara fisik. Proses ini melibatkan pemilihan alat, pengaturan mesin, dan penyusunan strategi kerja yang efisien.Â
Sumber gambar : https://www.lfc.co.id/
Pemilihan pahat yang tepat sangat memengaruhi kualitas permukaan, akurasi, dan efisiensi waktu pengerjaan.
Material Benda Kerja (Workpiece Material): Ini adalah faktor utama. Misalnya, untuk baja keras diperlukan pahat berbahan Karbid atau Keramik yang tahan panas dan aus, sementara untuk aluminium bisa digunakan HSS (High-Speed Steel).
Jenis Pengerjaan:
Pemesinan Kasar (Roughing): Membuang material dalam jumlah besar dengan cepat. Pahat biasanya memiliki mata potong yang kuat dan sudut yang lebih besar.
Pemesinan Halus (Finishing): Mencapai dimensi akhir dan kualitas permukaan yang diminta. Pahat memiliki radius ujung yang kecil (nose radius) dan geometri yang tajam.
Geometri Pahat: Meliputi sudut-sudut pahat (sudut tatal, sudut bebas, dan sudut ujung) yang harus sesuai dengan jenis operasi (bubut, frais, bor) dan material.
Pelapis Pahat (Coating): Pahat modern sering dilapisi (misalnya, TiN, TiAlN, Diamond) untuk meningkatkan kekerasan, ketahanan aus, dan kemampuan membuang panas.
Parameter ini adalah nilai numerik yang mengontrol pergerakan relatif antara pahat dan benda kerja. Pengaturan yang benar sangat penting untuk umur pahat, waktu pengerjaan, dan kualitas produk.
Tujuan: Tujuannya adalah memilih kombinasi parameter yang memberikan laju penghilangan material maksimum sambil menjaga umur pahat yang wajar dan menghasilkan kualitas permukaan sesuai spesifikasi toleransi.Â
3. MENENTUKAN URUTAN PENGERJAAN
Urutan pengerjaan adalah peta jalan logis dari kondisi material awal hingga produk jadi. Urutan ini harus meminimalkan waktu setup, memelihara akurasi, dan menjamin keamanan.
Persiapan Material: Pemotongan material mentah sesuai ukuran, pengecekan awal.
Pemesinan Kasar (Roughing): Menghilangkan kelebihan material secara cepat, menyisakan allowance (kelebihan) untuk pengerjaan akhir. Contoh: Pembubutan luar kasar, pengeboran awal lubang.
Perlakuan Panas/Pendinginan (Opsional): Jika material memerlukan pengerasan atau pelunakan di tengah proses.
Pemesinan Setengah Halus (Semi-Finishing): Mendekati dimensi akhir dengan toleransi yang lebih ketat.
Pemesinan Halus (Finishing): Mencapai dimensi dan toleransi akhir, serta kualitas permukaan yang disyaratkan. Contoh: Penghalusan, reaming, grinding.
Pengerjaan Tambahan: Operasi non-pemotongan. Contoh: Membuat ulir (tapping), deburring (menghilangkan sisa bur), marking (penandaan).
Pembersihan dan Inspeksi: Mencuci komponen dan mengukur dimensi akhir untuk memastikan kesesuaian dengan gambar kerja.
C. PEMERIKSAAN KONDISI MESIN BUBUT
Melakukan pemeriksaan kondisi mesin bubut sebelum digunakan adalah prosedur keselamatan dan pemeliharaan yang vital untuk memastikan mesin beroperasi secara aman, akurat, dan efisien. Pemeriksaan ini mencegah kerusakan mesin, kecelakaan kerja, dan kegagalan produk.
Sumber Gambar : https://www.ciptamasjaya.co.id/
Ini adalah langkah pertama dan paling penting sebelum menyalakan mesin.
Peralatan Keselamatan:
Pastikan tombol Emergency Stop berfungsi dan mudah dijangkau.
Periksa pelindung chuck (cekam) dan pelindung serpihan dalam kondisi baik dan terpasang dengan benar.
Pastikan rem mesin berfungsi (jika ada).
Kebersihan Area Kerja: Bersihkan serpihan logam, minyak, dan alat yang berserakan di sekitar mesin dan lantai.
Kabel dan Kelistrikan: Periksa tidak ada kabel terkelupas atau sambungan longgar yang bisa menyebabkan korsleting atau bahaya sengatan listrik.
Sumber Gambar : https://www.denetim.com/
Fokus pada komponen utama yang menopang operasi pemotongan.
Cekam (Chuck):
Pastikan rahang cekam terpasang kuat, tidak ada kerusakan, dan kunci cekam (chuck key) telah dicabut sebelum menyalakan mesin. Jangan pernah meninggalkan kunci cekam terpasang.
Periksa kondisi penjepitan benda kerja; benda kerja harus terpasang kuat dan berpusat.
Kepala Utama (Headstock):
Dengarkan suara mesin saat dihidupkan tanpa beban; suara harus halus dan normal, bukan kasar atau berderak.
Periksa level oli pada headstock dan gearbox (jika menggunakan pelumasan oli).
Eretan (Carriage), Apron, dan Meja (Bed):
Periksa kondisi rel (bedways); pastikan bersih dari serpihan dan terlumasi dengan baik.
Coba gerakkan eretan melintang dan memanjang secara manual untuk memastikan pergerakan halus dan tanpa hambatan.
Kepala Lepas (Tailstock):
Pastikan dapat dikunci dengan kuat pada posisi yang diinginkan.
Periksa kondisi sentra putar (live center) atau sentra mati (dead center) jika digunakan.
Pahat adalah elemen yang melakukan pemotongan, sehingga kondisinya sangat menentukan kualitas hasil.
Pahat dan Pemegang Pahat (Tool Holder):
Pastikan pahat terpasang dengan kuat pada rumah pahat.
Periksa ketajaman mata potong; pahat tumpul dapat menyebabkan getaran, pemanasan berlebih, dan permukaan yang buruk.
Pastikan ketinggian pahat telah disetel tepat setinggi senter sumbu putar (sejajar dengan sentra kepala lepas).
Sistem Pendingin (Coolant System):
Periksa level cairan pendingin dan pastikan campurannya benar.
Pastikan pompa pendingin berfungsi, dan nosel dapat diarahkan dengan tepat ke titik potong.
Langkah terakhir untuk memastikan mesin siap bekerja dengan akurasi.
Coba Jalankan Tanpa Beban: Nyalakan mesin pada kecepatan rendah dan menengah untuk mengamati getaran atau suara tidak normal.
Gerakan Otomatis: Uji fungsi gerak pemakanan otomatis (auto-feed) untuk memastikan mekanisme ulir (leadscrew) dan batang pemakanan (feedscrew) bekerja.
Pengaturan Kecepatan: Pastikan tuas atau tombol pengatur kecepatan berada pada posisi yang diinginkan sesuai dengan parameter pemotongan yang akan digunakan.
D. MENYIAPKAN BENDA KERJAÂ
Menyiapkan benda kerja sesuai gambar kerja adalah proses menyesuaikan material mentah agar siap untuk diproses lebih lanjut oleh mesin (seperti bubut, frais, atau bor), memastikan bahwa produk akhir dapat dicapai sesuai spesifikasi desain. Ini adalah jembatan antara desain teoritis dan fabrikasi praktis.
Langkah ini memastikan material yang digunakan benar-benar memenuhi persyaratan gambar kerja.
Identifikasi Jenis Material: Verifikasi spesifikasi material yang tercantum pada gambar kerja (misalnya, Baja AISI 1045, Aluminium 6061-T6, Kuningan). Memilih material yang salah akan menyebabkan kegagalan produk, baik dari segi kekuatan, kekerasan, atau ketahanan korosi.
Menentukan Dimensi Awal: Pilih material mentah dengan dimensi (diameter, panjang, tebal) yang lebih besar daripada dimensi akhir yang diperlukan. Kelebihan material ini (machining allowance) diperlukan untuk pemotongan kasar dan halus.
Memotong Material: Potong material mentah dari stok sesuai dengan panjang yang diperlukan, ditambah dengan toleransi pemotongan (misalnya, beberapa milimeter) untuk memberikan ruang jepit (chucking atau fixturing) dan pemotongan muka (facing) awal.
2. PROSES PERSIAPAN AWAL (INITIAL PREPARATION)
Setelah material dipotong, beberapa tindakan harus dilakukan agar material dapat dipasang dan diproses dengan baik.
Penghilangan Karat/Kotoran: Bersihkan permukaan material dari karat, kerak, atau kotoran yang dapat merusak pahat atau mengganggu penjepitan.
Pemeriksaan Kerataan/Kelurusan: Periksa kelurusan dan kerataan permukaan awal (terutama untuk proses frais atau gerinda) agar proses pemesinan awal dapat berjalan stabil.
Pembuatan Titik Senter (Center Drilling): Jika benda kerja akan dipasang di antara sentra (misalnya pada mesin bubut yang panjang), lakukan pengeboran senter pada kedua ujung material. Ini berfungsi sebagai titik tumpu dan referensi yang akurat selama pemesinan.
Penjepitan yang benar adalah kunci keselamatan, akurasi, dan stabilitas pengerjaan.
Pemilihan Alat Penjepit: Pilih perangkat penjepit yang sesuai dengan bentuk benda kerja dan jenis mesin (misalnya, cekam rahang tiga/empat untuk bubut, ragum/vice atau klem T-slot untuk mesin frais).
Kekuatan Jepitan: Pastikan benda kerja dijepit dengan kuat untuk menahan gaya potong tanpa terlepas, namun jangan terlalu kencang hingga merusak atau mendeformasi material.
Pusat dan Kesentrisan (Centering): Pastikan benda kerja berada tepat di pusat putaran mesin (untuk bubut) atau sejajar dengan sumbu gerak mesin (untuk frais). Gunakan dial indicator untuk memverifikasi kesentrisan (terutama pada pengerjaan presisi).
Penentuan Bidang Referensi: Identifikasi permukaan atau titik pada benda kerja yang akan dijadikan sebagai titik nol (datum) untuk pengukuran dan program mesin. Titik ini harus stabil dan dapat diakses untuk inspeksi.
4. PENGATURAN ALLOWANCES DAN OVERHANGÂ
Pengaturan ini memastikan ada cukup material untuk pemesinan dan benda kerja aman.
Menyisakan Allowance: Pastikan jumlah material yang terjepit (untuk keamanan) dan jumlah material yang tersedia untuk pemotongan (termasuk roughing dan finishing) sudah tepat.
Mengatur Overhang: Untuk mesin bubut, minimalkan panjang material yang mencuat dari cekam (overhang) untuk mengurangi getaran (chattering) dan defleksi selama pemotongan, yang sangat penting untuk akurasi dimensi dan kualitas permukaan.
E. MENERAPKAN PROSEDUR KESELAMATAN KERJA
Menerapkan prosedur keselamatan kerja dalam persiapan pekerjaan bubut adalah prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Keselamatan dalam pembubutan sangat penting karena mesin bubut melibatkan kecepatan putar tinggi dan gaya potong besar, sehingga risiko kecelakaan sangat tinggi jika tidak hati-hati.
Berikut adalah langkah-langkah penting dalam menerapkan prosedur keselamatan kerja sebelum memulai pembubutan:
Keselamatan dimulai dari operator itu sendiri.
Pakaian Kerja: Kenakan pakaian kerja (wearpack) yang pas dan tidak longgar. Pakaian yang menggantung atau longgar sangat berbahaya karena berisiko terlilit pada poros atau cekam yang berputar.
Melarang Aksesori: Lepaskan semua perhiasan (cincin, jam tangan, kalung, gelang), karena ini adalah penyebab umum jari atau tangan tersangkut.
Rambut: Ikat dan tutupi rambut panjang dengan topi atau jaring rambut.
Alat Pelindung Diri (APD): Wajib menggunakan:
Kacamata Pelindung (Safety Goggles/Glasses): Melindungi mata dari serpihan logam panas dan cairan pendingin.
Sepatu Keselamatan (Safety Shoes): Melindungi kaki dari benda berat yang terjatuh atau serpihan tajam.
Sarung Tangan: Dilarang keras menggunakan sarung tangan saat mesin berputar, karena sarung tangan mudah terlilit.
Pastikan mesin dalam kondisi operasional yang aman sebelum dihidupkan.
Tombol Darurat (Emergency Stop): Pastikan tombol Emergency Stop berfungsi dengan baik dan dapat dijangkau dengan cepat.
Pelindung (Guards): Pastikan semua pelindung (terutama pelindung chuck dan chip guard) terpasang pada posisinya.
Kebersihan: Bersihkan semua sisa serpihan, alat, atau oli di atas bed mesin dan di sekitar area kerja. Serpihan yang menumpuk bisa mengganggu pergerakan eretan atau menyebabkan operator terpeleset.
Pelumasan: Pastikan semua titik pelumasan (terutama pada bedways dan headstock) telah dilumasi sesuai prosedur.
Keselamatan di bagian ini berfokus pada potensi bahaya yang timbul dari benda kerja yang tidak terpasang dengan benar.
Pemasangan Benda Kerja:
Jepit benda kerja dengan kuat pada chuck atau faceplate. Kegagalan menjepit dapat menyebabkan benda kerja terlepas dan terlempar dengan kecepatan tinggi.
Pastikan kunci chuck (chuck key) dicabut segera setelah benda kerja dijepit. Ini adalah aturan keselamatan yang paling mendasar dalam pembubutan.
Minimalisir Overhang: Jaga agar bagian benda kerja yang menonjol (overhang) dari chuck seminimal mungkin untuk menghindari getaran dan defleksi berlebihan. Jika benda kerja sangat panjang, gunakan penyangga (steady rest atau follower rest).
Pemasangan Pahat:
Pasang pahat dengan kuat pada tool post dan pastikan posisi ujung pahat tepat sejajar dengan senter sumbu putar. Posisi pahat yang terlalu tinggi atau rendah dapat menyebabkan pahat patah atau terlempar.
4. PROSEDUR SEBELUM PENGOPERASIAN(PRE OPERATION PROCEDURES)
Langkah-langkah akhir sebelum menekan tombol start.
Jalur Gerak Pahat: Periksa apakah jalur pergerakan eretan dan pahat bebas dari hambatan dan benda kerja.
Pengaturan Kecepatan: Atur kecepatan putaran mesin (RPM) sesuai dengan parameter pemotongan yang telah ditentukan, dan pastikan tuas sudah terkunci pada posisi tersebut sebelum mesin dihidupkan.
Trial Run: Putar chuck secara manual satu atau dua putaran untuk memastikan tidak ada bagian yang bertabrakan. Nyalakan mesin pada kecepatan rendah untuk verifikasi awal.
PENILAIAN
1. RANAH PENGETAHUAN
2. RANAH KETERAMPILAN
1. Membaca Gambar Kerja
Berdasarkan gambar kerja di atas, lakukan analisis bentuk benda kerja dan tentukan
Jenis operasi pembubutan apa saja yang dibutuhkan (misalnya facing, boring, grooving, chamfering, threading).
Urutan proses pengerjaan pada mesin bubut untuk menghasilkan komponen sesuai gambar.
2. Menentukan Bahan Benda Kerja
Pilihlah bahan benda kerja sesuai keterangan pada gambar (AS S45C).
Hitung dimensi awal bahan (panjang dan diameter) yang sesuai sebelum dibubut agar bisa menghasilkan ukuran akhir sesuai gambar.
3. Menentukan Alat dan Perlengkapan
Sebutkan jenis pahat bubut yang digunakan untuk setiap operasi (pahat rata, pahat ulir, pahat chamfer, pahat bor, dll).
Tentukan perlengkapan mesin (cekam 3 jaw/4 jaw, tailstock dengan senter, dll) yang paling tepat.
4. Mengatur Parameter Pemotongan
Tentukan perkiraan putaran mesin (n), kecepatan potong (Vc), dan gerak makan (f) yang sesuai untuk material S45C.
Sesuaikan parameter tersebut dengan operasi masing-masing.
5. Simulasi Persiapan
Lakukan langkah-langkah persiapan di mesin bubut (memasang benda kerja di cekam, menyetel panjang benda kerja, mengecek kerataan permukaan awal).
ARUDAM KANA TEKNIK
Jl. Manyar No. 19 Beran Ngawi
Hak Cipta @2025