by: Ninik Setyorini
Salah seorang manusia biasa yang bukan Nabi dan Rasul tapi namanya tercantum dalam Al Quran,bahkan menjadi nama salah satu surat dalam Al Quran.
Luqman Al Hakim seorang sosok ayah yang sangat khawatir dan memikirkan masa depan anaknya.
{ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ }
[Surat Luqman: 13]
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”
Ayat di atas adalah percakapan Luqman dengan anaknya, di mana Luqman memberi pelajaran pertama kepada anaknya adalah agar tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun.
Hal ini menjadi perhatian pertama dan utama bagi Luqman yang ingin beliau tanamkan kepada anaknya. Memiliki aqidah yang kuat dan lurus merupakan pondasi pertama dalam mengajar anak.
Mengenal Allah dengan ke Maha BesaranNya, Menjadikan Allah satu-satunya yang disembah, tempat bergantung dan bersandar, tempat meminta dan berlindung, satu-satunya Dzat yang ditakuti.
Ketika hal ini sudah tertanam dalam diri seorang anak, maka anak tersebut akan menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, berakhlaq mulia sudah pasti akan menjadi ekses dari aqidah yang kuat.
Tapi sayang di masa ini para Ayah banyak yang tidak memahami perannya sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.
Mereka fokus dengan memenuhi kebutuhan ekonomi dan fisik tapi melupakan tugas utamanya.
Alih-alih menanamkan aqidah yang kuat mereka lebih fokus tentang hal-hal yang berbentuk keduniawian.
Mereka tanamkan anaknya untuk mencapai kesuksesan dunia dengan tolak ukur pencapaian ketika memiliki benda seperti rumah, mobil dll.
Juga dianggao sukses ketika menjadi pejabat atau profesi yang di hormati di masyarakat pada umumnya.
Kesuksesan semu yang banyak dikejar manusia kekinian, galau ketika tidak mendapatkan dunia tapi santai ketika jauh dari Allah.
Padahal kehidupan dunia hanyalah sementara tapi manusia rela bersusah payah untuk mendapatkannya.
Dan yang paling menyesakkan adalah mereka lupa bahwa mereka akan meningglkan dunia dan pulang kepada penciptanya.
Sahabat yang mulia, Jabir bin Abdullah, mengabarkan bahwa Rasulullah pernah melewati sebuah pasar hingga kemudian banyak orang yang mengelilinginya. Sesaat kemudian beliau melihat bangkai anak kambing yang cacat telinganya.
Rasulullah mengambil dan memegang telinga kambing itu seraya bersabda, ''Siapa di antara kalian yang mau memiliki anak kambing ini dengan harga satu dirham.'' Para sahabat menjawab, ''Kami tidak mau anak kambing itu menjadi milik kami walau dengan harga murah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?''
kalian suka anak kambing ini menjadi milik kalian?'' Mereka menjawab, ''Demi Allah, seandainya anak kambing ini hidup, maka ia cacat telinganya. Apalagi dalam keadaan mati.” Mendengar pernyataan mereka, Nabi bersabda, ''Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.'' (HR Muslim).
Demikian jelas dan gamblang Rasulullah SAW menggambarkan dunia, agar kita umatnya menyadari betapa rendah kedudukan dunia.
Dalam hadist yang lain
Rasukullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
“Siapa yang dunia menjadi keinginan terbesar dihatinya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya. Dan Allah jadikan kefakiran diantara kedua matanya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang dituliskan saja untuknya. Dan siapa yang akhirat itu menjadi niat utamanya (keinginan terbesar di hatinya akhirat), Allah akan kumpulkan urusannya untuknya, dan Allah akan jadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan dunia itu hina di matanya.” (HR. Ibnu Majah)
Sudah cukuplah peringatan Rasulullah SAW tentang dunia, dan kita sebagai ayah, orang tua, pendidik harus memahami hal apa yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita.
Belajar dari Luqman Al Hakim moga kita sebagai orang tua, pendidik dapat menanamkan aqidah yang kuat dan lurus kepada anak- anak kita sehingga mereka menjadi pribadi yang tangguh dan kuat,berhati lembut dan sangat takut kepada Rabb nya.
Cibinong, 26 Februari 2022
Mendidik sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Membentuk Generasi Rabbani menjadi visi hidupnya. Mempersiapkan generasi terbaik penerus Islam menjadi gerak langkahnya. 20 tahun bersama Sekolah Amalia mendidik putra-putri terbaik Indonesia menjadi generasi kebanggaan dan harapan umat.