Jalalive bang dul adalah sosok yang tak asing lagi di kalangan anak muda Jakarta, terutama di daerah pinggiran yang seringkali luput dari sorotan media. Ia bukanlah seorang selebriti atau pejabat, melainkan seorang pemuda biasa yang memiliki semangat luar biasa dalam menggerakkan komunitas musik tradisional Betawi. Sejak kecil, Jalalive, atau lebih akrab dipanggil Bang Dul oleh tetangga dan teman-temannya, sudah akrab dengan gambang kromong dan tanjidor. Ayahnya adalah pemain tanjidor legendaris di kampungnya, sehingga darah seni mengalir deras dalam dirinya. Namun, modernisasi dan gempuran musik digital hampir membuat alat musik khas Betawi itu terlupakan. Bang Dul merasa prihatin melihat anak-anak seusianya lebih mengenal DJ daripada pemain rebana. Maka, ia memutuskan untuk membangkitkan kembali kecintaan pada musik tradisional dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bang Dul memulai aksinya dari hal kecil: setiap sore ia menggelar sesi belajar musik gratis di teras rumahnya. Awalnya hanya tiga orang yang datang, itu pun karena dipaksa orang tua. Namun dengan kesabaran dan pendekatan santai ala anak gaul, ia berhasil menarik perhatian remaja sekitar. Ia menyisipkan beat-beat modern ke dalam irama gambang, menciptakan fusi yang unik. Jalalive bang dul percaya bahwa musik tradisional tidak harus kaku dan membosankan. Ia mengajak anak-anak membuat konten TikTok dengan iringan tanjidor, sehingga lambat laun kampungnya mulai dikenal sebagai “kampung viral” berkat kreativitasnya. Dari sanalah nama Jalalive bang dul mulai menyebar ke luar daerah. Tak jarang orang dari Jakarta Barat atau Utara datang hanya untuk menyaksikan aksi panggungnya yang enerjik.
Tidak hanya berhenti di musik, Bang Dul juga menggunakan popularitasnya untuk mengangkat isu sosial di sekitarnya. Ia sering mengadakan kegiatan bersih-bersih sungai dan penggalangan dana untuk warga kurang mampu dengan menggelar pertunjukan amal. Masyarakat melihat bahwa di balik rambut gondrong dan celana jeans sobeknya, Jalalive bang dul memiliki hati yang besar. Ia selalu mengatakan, “Gue bukan siapa-siapa, tapi gue mau kampung gue bangga punya anak muda yang peduli.” Kalimat itu menjadi semacam slogan yang diingat oleh banyak orang. Setiap minggu, ia dan teman-temannya mengangkut sampah dari bantaran kali, lalu mengubahnya menjadi bahan kerajinan tangan yang dijual di bazar mingguan. Hasil penjualannya digunakan untuk membeli seragam sekolah anak-anak kurang mampu.
Dalam perjalanannya, Jalalive bang dul tentu menghadapi banyak tantangan. Ada tetangga yang menganggap kegiatannya hanya buang-buang waktu, ada juga oknum yang mencoba memanfaatkan popularitasnya untuk kepentingan pribadi. Namun Bang Dul tidak gentar. Ia justru menjadikan kritikan sebagai bahan bakar untuk terus maju. Ia belajar membuat proposal kegiatan, mengurus izin keramaian, hingga membangun jaringan dengan komunitas seni di kota lain. Kini, usaha yang ia rintis selama lima tahun mulai membuahkan hasil. Pemerintah setempat memberikan bantuan alat musik dan tempat latihan yang layak. Beberapa anak didiknya bahkan berhasil tampil di acara kebudayaan nasional. Bang Dul sendiri tetap rendah hati: ia masih duduk di pinggir jalan sambil minum kopi tubruk, mendengarkan curhat anak-anak muda yang datang padanya.
Bagi warga sekitar, Jalalive bang dul adalah bukti bahwa perubahan tidak harus dimulai dari elite. Dengan kegigihan, kreativitas, dan hati yang tulus, seorang pemuda pinggiran bisa menjadi penggerak yang nyata. Namanya mungkin tidak akan tercatat di buku sejarah, tetapi di hati masyarakat yang merasakan dampak positifnya, ia sudah menjadi pahlawan modern. Musik tradisional Betawi pun perlahan kembali terdengar, tidak hanya di acara formal, tetapi juga di sudut-sudut gang dan warung kopi. Jalalive bang dul mengajarkan bahwa cinta pada budaya lokal bisa dibungkus dengan gaya kekinian, asal ada niat dan konsistensi. Maka, tidak heran jika setiap ada acara kampung, orang selalu menunggu kehadiran Bang Dul dan gebukan gambang kromongnya yang mengguncang jiwa.