Metode Pengambilan Sampel pada Ekosistem Sensitif
Kode presensi Minggu 10: 721TBK24
Kode presensi Minggu 10: 721TBK24
Metode pengambilan data untuk menilai kesehatan ekosistem di ekosistem-ekosistem yang sensitif harus komprehensif dan mengutamakan teknik non-invasif atau minimal-invasif yang mencakup berbagai indikator fisik, kimia, dan biologi.
Metode pengambilan data yang umum digunakan di ekosistem sensitif terutama di kawasan lindung:
Metode penting karena organisme hidup (bioindikator) menunjukkan respon langsung dan terakumulasi terhadap perubahan lingkungan.
Ekosistem Perairan (Sungai, Terumbu Karang):
Makroinvertebrata Bentos: Pengambilan sampel hewan tak bertulang belakang yang hidup di dasar perairan (misalnya larva serangga air, cacing, siput) menggunakan jaring atau kuadrat. Organisme ini dikelompokkan berdasarkan indeks toleransi pencemaran (misalnya, Indeks Biotilik, Hilsenhoff Biotic Index/HBI). Kehadiran spesies yang sangat sensitif (misalnya larva capung) menunjukkan kesehatan ekosistem yang baik, sedangkan dominasi spesies toleran (misalnya cacing darah) mengindikasikan pencemaran.
Terumbu Karang: Pengukuran persentase tutupan karang hidup (menggunakan metode Transek Garis/Line Intercept Transect - LIT atau Manta Tow), kepadatan spesies ikan target, dan keberadaan penyakit karang.
Padang Lamun: Penilaian persentase tutupan lamun dan kepadatan jenis menggunakan metode kuadrat atau transek.
Ekosistem Daratan (Hutan, Tanah):
Lumut Kerak (Lichen) dan Semut: Sensitif terhadap kualitas udara dan perubahan tata guna lahan. Data diambil melalui pengamatan dan identifikasi spesies di plot atau transek.
Burung dan Kupu-kupu: Dipantau sebagai indikator kualitas habitat secara keseluruhan (melalui survei visual, penangkapan dengan jaring kabut, atau pencatatan suara).
Pengambilan data parameter abiotik ini memberikan gambaran kondisi lingkungan secara instan.
Kualitas Air:
Pengukuran In Situ (di lapangan): Menggunakan alat multi-parameter (probe) untuk mengukur suhu, pH, salinitas (kadar garam), Oksigen Terlarut (DO), dan Kekeruhan (Turbidity). Pengukuran harus dilakukan di titik-titik sampel yang representatif.
Pengambilan Sampel Air: Sampel diambil untuk diuji di laboratorium guna mengetahui konsentrasi Nutrien (Nitrat, Fosfat), Logam Berat, BOD (Biochemical Oxygen Demand), dan COD (Chemical Oxygen Demand), sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) atau baku mutu yang berlaku.
Kualitas Tanah/Sedimen:
Pengambilan sampel untuk analisis kandungan bahan organik, pH, tekstur tanah, dan kandungan polutan (misalnya pestisida atau logam berat) di laboratorium.
Fisik Lain:
Pengukuran Stabilitas Tebing Sungai, Komposisi Substrat (dasar sungai/perairan), dan Tingkat Sedimentasi.
Fokus pada struktur komunitas dan kondisi habitat.
Teknik Transek dan Plot: Digunakan untuk menghitung kerapatan (density), frekuensi, dominansi, indeks keanekaragaman jenis (misalnya, Indeks Shannon-Wiener, Simpson), dan kemerataan (evenness) vegetasi atau biota. Pada hutan, digunakan plot permanen untuk memantau perubahan dari waktu ke waktu.
Teknologi Non-Invasif:
eDNA (Environmental DNA): Teknologi canggih yang mendeteksi jejak genetik (DNA) yang dikeluarkan oleh organisme ke dalam lingkungan (air, tanah). Ini sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan spesies langka atau invasif tanpa perlu menangkapnya.
Fotografi dan Pemetaan: Menggunakan drone, citra satelit, atau kamera bawah air untuk memetakan luasan habitat (misalnya mangrove, padang lamun, hutan) dan memantau perubahannya (remote sensing).
Pengamatan Aktivitas Manusia:
Survei Wawancara dan Pengamatan Visual untuk mendokumentasikan tekanan lingkungan seperti penangkapan ikan yang merusak, pembuangan limbah, atau deforestasi di sekitar ekosistem.
Aspek Biologi
Metode Utama: Biomonitoring (Makroinvertebrata, Karang, Lamun)
Indikator Kunci: Indeks Keanekaragaman, Kepadatan, Tutupan Karang Hidup, Toleransi Pencemaran.
Aspek Kimia
Metode Utama: Pengambilan Sampel Air/Tanah & Laboratorium
Indikator Kunci: DO, pH, Salinitas, Nutrien (Nitrat/Fosfat), Logam Berat.
Aspek Fisik
Metode Utama: Pengukuran In Situ (Probe/Alat Lapangan)
Indikator Kunci: Suhu, Kekeruhan, Substrat, Stabilitas Tebing.
Inovatif
Metode Utama: eDNA, Remote Sensing
Indikator Kunci: Kehadiran Spesies Langka/Invasif, Luasan dan Perubahan Habitat.
Quis TM10 🔗Form Submisi & 🔗Pengumuman Submisi TM10 🔗Nilai Max TM10
Kode presensi Minggu 11: 736UH024 s/d selasa 29 Oktober 2025