Kartini adalah jendela masa yang luar biasa pentingyang Allah SWT anugerahkan agar kita dapat melongok ke masa lalu dengan lebih cermat: siapa sesungguhnya para pembentuk bangsa ini? Dengan menelusuri kehidupan Kartini kita dapat melihat dengan lebih utuh, bagaimana muslimah pendahulu Kartini memberikan sumbangsih besar terhadap konstruksi sejarah bangsa. Sebutlah Ratu Kalinyamat, Nyai Ageng Pinatih, Laksamana Keumalayati, Cut Nyak Dien, mereka mengangkat senjata, menolak untuk menyerah, menolak tunduk pada penjajah. Muslimah-muslimah ini bukan saja menjadi inspirasi, namun juga memberi potret terang tentang ghirah Islam yang menjadi ruh perjuangan.
Kartini adalah jendela masa. Ialah yang menghubungkan kita dengan fakta-fakta menggetarkan sekaligus vital yang selama ini terdistorsi.
Korupsi—penyakit masyarakat seusiaa keberadaan umat manusia hidup di bumi yang tida pernah tersembuhkan.
Sebagai pemerhati jeli yang senantiasa terlibat langsung dalam kehidupan lingkungannya, gejala masyarakat itu tidak luput dari kekaryaan Pramoedya sebagai pengarang. Kisah ini ditulis di tahun 1953 semasa ia selama enam tahun bermukim di Belanda. Yang menarik dari karya Pramoedya ini adalah bagaimana tergambar suatu ”mutasi sosial” dalam permainan korupsi itu. Yang semula kecil, mewabah, luas menjadi kebiasaan sosial.