Gempa Mentawai


Data Gempa Sementara klik disini

 

GEMPA LAGI!

LEBIH 6.000 RUMAH RUSAK BERAT DI SUMATRA BARAT.,3 ORANG TEWAS TERHIMPIT BANGUNAN, 3 LAINNYA TEWAS KECELAKAAN DAN JANTUNGAN. PULUHAN RIBU ORANG MENGUNGSI DARI PANTAI.

Tercatat 6 warga tewas dan lebih 3.000 bangunan rusak berat, ringan, dan sedang, di Sumatra Barat akibat gempa Rabu senja dan Kamis pagi, 12-13 September lalu.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) di lepas pantai Kota Bengkulu terjadi Rabu, 12 September 2007 pukul 18.10 WIB. Sementara USGS (BMG-nya Amerika Serikat) mencatat lebih kuat lagi, 8,4 SR yang berlokasi di lepas pantai Kota Bengkulu, antara Pulau Enggano dan Pulau Pagai, 410 km dari Padang.

Gempa Rabu sore itu terasa kuat di Padang  dan Kepulauan Mentawai. Sejumlah bangunan rubuh dan retak. Di Padang, Dealer Resmi Mitsubishi Motor PT Sutan Kasim di Jalan Veteran berlantai tiga ambruk. Presiden Direktur-nya, Moyardi Kasim, 51 tahun, tewas terhimpit. Beberapa bangunan besar seperti hotel, plaza, dan kantor retak-retak.

Penduduk Padang yang tinggal di pantai pun berlarian menjauhi pantai ke tempat yang tinggi.

Sementara, di Mentawai ratusan rumah ambruk. Selang setengah jam kemudian air laut atau tsunami menyapu pantai Sikakap. Meski hanya 1 meter, terjangan tsunami tersebut merendam puluhan rumah. Warga Mentawai juga berlarian ke pegunungan.

Belum habis trauma gempa semalam, Kamis pagi, 13 September, pukul 06.49 WIB gempa lebih besar melanda pesisir Sumatra Barat dan Mentawai. Gempa tercatat oleh BMG sebesar 7,7 SR dengan kedalaman 24 km. BMG mengumumkan gempa berpusat 149 km barat daya Sungai Penuh, Jambi. Informai Sungai Penuh membingungkan orang, karena sebenarnya gempa berpusat di pantai antara Pesisir Selatan dengan Pulau Pagai.

USGS mencatat gempa ini berkekuatan 7,9 SR kedalaman 30 km.

Gempa ini menghancurkan ribuan rumah di Mentawai, Pesisir Selatan, dan Padang.

Enam warga tewas, hingga Minggu, 16 September tercatat 6 warga tewas. Tiga terhimpit bangunan dan tiga lainnya karena kecelakaan kendaraan dan jatungan akibat gempa. Dari 3 warga yang tewas terhimpit bangunan, 2 di Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai dan 1 di Kota Padang. 

Sedangkan tiga lainnya yang tewas dua di Kabupaten Pesisir Selatan akibat tabrakan sepeda motor dan jantungan, dan seorang di Kabupaten Solok akibat jantungan.

Dari informasi yang dihimpun Puailiggoubat dua warga tewas di Pulau Pagai adalah Jhon, bocah laki-laki 9 tahun dan seorang laki-laki 30-an tahun yang belum diketahui namanya.

John sedang membersihkan puing-puing gereja GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Dusun Surat Aban, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Utara Selatan yang ditempati sebagai pengungsi bersama 16 warga lainnya sejak gempa Bengkulu, ketika gempa berpusat tak jauh dari Pulau Pagai menghancurkan gereja itu.

Ia tewas tertimbun bangunan dan 16 warga lainnya mengalami luka-luka. Sedangkan lelaki 30-an itu tewas ditimpa bangunan rumahnya yang rubuh tak jauh dari gereja GKPM.

Daerah terparah akibat gempa adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Pesisir Selatan, dua daerah yang paling dekat dengan sumber gempa.

Data yang dikumpulkan Yayasan Citra Mandiri (YCM) dan GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Padang, sedikitnya 800 rumah penduduk, gereja, masjid, sekolah, dan kantor pemerintah rusak berat.

“Daerah terparah Pulau Pagai Utara-Selatan, di Desa Malakopa hampir 100 persen 250 rumah hancur, berikut dua gereja, satu sekolah dasar, dan jalan-jalan hancur, dan di Desa Bulasat tempat dua korban tewas 16 rumah dan satu gereja roboh, jembatan dan jalan banyak yang rusak,” kata Sandang Paruhum, Direktur Yayasan Citra Mandiri.

Lebih 40 ribu penduduk Mentawai saat ini masih mengungsi di tenda-tenda darurat di perbukitan. Mereka baru sebagian tersentuh bantuan logistik dan tenda, baik dari Pemerintah Daerah Kepulauan Mentawai maupun Pemerintah Provinsi Sumatra Barat yang dikirimkan lewat kapal dari Padang, Minggu lalu.

Sabtu, Pemkab Mentawai mengirimkan bantuan beras, supermi, makanan kaleng, selimut dan tenda di Muara Padang ke kapal KM Sumber Usaha Baru II menuju Pelabuhan Sikakap, Pulau Pagai dan KM Pulau Simasin menuju Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan.

“Kami terpaksa mencari utangan dulu Rp200 juta untuk membeli logistik ini secepatnya, itupun membelinya sulit karena di Padang stok makanan instan terbatas,” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pertambangan, S. Halomoan Pardede yang ditemukan di pelabuhan Muara Padang bersama anggota DPRD Mentawai Jan Winnen Sipayung sedang mengurus pengiriman logistik tersebut, Sabtu 15 September.

Sabtu itu Ketua DPRD Kortanius Sabeleakek ikut bersama Pangdam Bukit Bariasan naik helikopter keliling Pulau Sipora memantau kondisi dari udara. Minggu, Bupati Edison Saleleubaja ikut bersama Pangdam memantai Pulau Pagai dari udara dengan helikopter.

Sementara, data sementara  Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana (Satkorlak PB) Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan hingga Sabtu, 15 September mencatat di Pesisir Selatan, kabupaten yang berbatasan  langsung dengan Bengkulu sekitar 3.000 bangunan rusak berat.Meski belum dilaporkan ada korban jiwa tertimpa bangunan, namun ribuan warga masih tinggal di tenda-tenda darurat.

Di Padang lebih 1.000 pasien di rumah-rumah sakit masih mengungsi di tenda-tenda darurat yang dibangun di halaman gedung rumah sakit. Di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang 600 pasien masih dirawat di tenda-tenda darurat.

Gubernur Sumatra Barat Gamawan Fauzi, Jumat, 14 September melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah kepala daerah yang daerahnya terkena bencana gempa.

”Saya minta kepala daerah yang terkena bencana meng-up date datanya melelui Satkorlak PB Provinsi setiap 2 hingga 4 jam, ini berkaitan dengan penanggulangan yang akan kita lakukan,” kata Gamawan.

Di Bengkulu sendiri tercatat 13 orang tewas. Tujuh di Kabupaten Muko-muko, 4 di Bengkulu Utara, dan 2 di Kota Bengkulu.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun melakukan kunjungan ke Bengkulu dan Lunang, Pesisir Selatan, Senin, 17 September. Pemerintah pusat berjanji akan membantu para pengungsi dan memberi bantuan rumah yang rusak.

Gempa telah meluluh-lantak Mentawai dan sebagian pesisir Sumatra Barat. Potensi gempa, bahkan tsunami, tetap masih mengancam. Perlu kewaspadaan kita bersama. (sbj/ynt)