BAB VI Aristoteles

BAB VI

Aristoteles

 

1)   Riwayat Hidup

Aristoteles[1] lahir pada olimpiade XCIX  atau ke 99 yaitu  tahun 383 SM di Stageira - Chalcidice dekat dengan perbatasan Macedonia. Ayahnya bernama Nicomacus dan berprofesi sebagai tabib di istana raja Amyntas di Macedonia. Raja Amyntas adalah bapak raja Filippus dan Filippus merupakan ayah kaisar Alexander Agung. Kiranya dapat dipastikan bahwa Aristoteles dan keluarganya berada selama beberapa waktu di Pellas, sebuah tempat di mana terdapat istana raja Amyntas. Mengenai apakah sang ayah mengajari juga Aristoteles ilmu ketabiban kiranya sulit diperkirakan mengingat bahwa ayahnya wafat ketika Aristoteles masih sangat muda.

Ketika menginjak usia 18 tahun (365 SM), Aristoteles berangkat menuju Athena untuk melengkapi dan menyempurnakan pembinaan spiritual-ilmiah dan bersekolah di Akademia platonis. Di sekolah inilah Aristoteles mematangkan dan memperkokoh panggilan nurani dan pengabdian diri pada dunia filosofis secara definitif. Aristoteles tinggal di Akademia selama kurang lebih 20 tahun sampai sang maestro Platon mangkat.

Mengenai peran atau jabatan formal Aristoteles di Akademia tidak ada berita apapun, kecuali bahwa dia memberikan pelajaran di bidang retorika dan terlibat dalam diskusi-diskusi seputar tema-tema yang menjadi pokok perhatian Akademia platonis. Mengingat bahwa Platon berada di Siracusa pada waktu Aristoteles masuk ke Akademia, dapat diperkirakan bahwa formasi awalnya di bidang spiritual dan intelektual ditangani dan dipengaruhi juga oleh seorang ilmuan terkenal Akademia  masa itu, Eudoxos.

Keberadaan sekian lama di Akademia kiranya turut mematangkan pemikiran Aristoteles. Di satu sisi Aristoteles menerima prinsip-prinsip pemikiran platonis dan membelanya dari sekian banyak serangan, di sisi lain juga ia mulai melakukan pendekatan kritis dengan mengkritik misalnya, teori dunia ide dan bergerak ke arah lain. Sikap dan pendekatan kritis tersebut terungkap secara implisit dalam kehadiran Aristoteles di dalam dialog platonis berjudul Parmenides, sebuah dialog yang melawan teori dunia ide seakan-akan mengantisipasi kritik-kritik sejenis dalam Metafisika. Ketika Platon wafat pada tahun 347, Aristoteles merasa tiada lagi alasan buat tinggal lebih lama di Akademia. Sebab selain alasan kepemimpian di mana Akademia dipimpin oleh Speusippos, Aristoteles juga berbeda pandangan dengannya mengenai doktrin-doktrin platonis. Maka Aristoteles meninggalkan Athena dan berangkat ke Asia Kecil.

Kepindahan ke Asia Kecil membuka sebuah lembaran baru dan sekaligus decisif bagi hidup dan permenungan filosofis Aristotelian.  Bersama seorang teman ternama di Akademia, Xenocrates, Aristoteles mula-mula menetap di kota Assos yang terletak di pantai Troades. Di kota itu Aristoteles mendirikan sebuah sekolah bersama dengan dua orang platonis, Herastos dan Koriskos yang berasal dari kota Scepsi. Keduanya menjadi dewan penasehat Hermeias, seorang politikus ulung dan bangsawan serta penguasa di Atarneos dan di Assos. Di Assos Aristoteles menetap selama kurang lebih tiga tahun. Selanjutnya ia berpindah ke Mytilene di pulau Lesbos atas dorongan Teofrastus yang berasal dari pulau tersebut dan terutama karena Hermeias ditangkap dan dibunuh oleh tentara Parsi. Diperkirakan bahwa selama di Assos Aristoteles memberikan beberapa pelajaran filosofis, sementara di Mytilenes lebih pada penelitian ilmu-ilmu alam, biologi dan zoologi bekerjasama dan sekaligus didukung oleh Teofrastus. Hasil riset itu dikumpulkan dalam karya yang berjudul Sejarah Binatang (Historia Animalium). Selama tinggal di sini, Aristoteles menikahi putri angkat Hermias bernama Pythias. Dari perkawinan ini Aristoteles mendapat seorang putri yang juga diberi nama Pythias

Tahun 342 SM terjadi sebuah perubahan besar dalam hidup Aristoteles. Raja Filippus dari Macedonia memanggil dan memintanya agar mendidik putranya, Aleksander yang masih berusia 13 tahun. Mengingat bahwa ayahnya telah bekerja di istana sebelumnya, secara pasti dapat dikatakan bahwa Filippus mengenal dengan sangat baik Aristoteles dan pengenalan sang raja diperkuat oleh informasi dari Hermias yang memiliki keterkaitan politik dengan kerajaan Macedonia. Sayang sekali bahwa hal ihwal seputar relasi keduanya dan pengaruh spiritual-filosofis Aristoteles terhadap Aleksander Agung tidak banyak diketahui. Aristoteles tinggal di istana Macedonia mungkin hingga Aleksander Agung diangkat menjadi raja sekitar tahun 366 atau malah 340 SM ketika sang kaisar sibuk dengan urusan politik dan militer dan mulai mencurigai Aristoteles terlibat dalam konspirasi untuk menjatuhkan dirinya. Kecurigaan itu terungkap dalam ancaman sang kaisar lewat surat-surat dan eksekusi terhadap cucu Arisoteles bernama Callisthenes karena dianggap sebagai seorang pengkhianat. Kiranya, satu hal yang pasti adalah ketidaksukaan Aristoteles terhadap keyakinan Aleksander Agung yang menganggap dirinya sebagai titisan dewa.  Situasi yang sulit tersebut mendorong Aristoteles meninggalkan Macedonia  dan kembali ke Stageira.

Tahun 334/335, akhirnya Aristoteles kembali ke Athena dan ia menyewa beberapa bangunan dekat kuil Apollos Lyceus. Karena terletak di dekat kuil tersebut sekolah Aristoteles dinamakan Lyceum. Aristoteles memiliki sebuah cara unik dalam melangsungkan pengajaran: ia mengajar sambil berjalan-jalan di taman sekitar bangunan, sehingga sekolah Aristoteles disebut juga dengan peripatos (berjalan-jalan) dan para muridnya disebut peripatetici. Peripatos kemudian menjadi saingan bagi Akademia platonis dan selanjutnya menenggelamkannya secara menyeluruh. Periode ini menjadi masa tersubur bagi Aristoteles dan sekaligus waktu pematangan serta pengsistematian permenungan filosofisnya dan karya-karya ilmiah lainnya. Setelah isterinya Pythias meninggal dunia, Aristoteles menikah lagi dengan Herpyllis dan mendapat seorang putera yang diberi nama Nicomacus, seperti ayah Aristoteles.

Kehidupan Aristoteles berubah drastis ketika Aleksander Agung meninggal dunia. Perubahan itu terkait erat dengan reaksi anti Macedonia oleh orang-orang Yunani dan Aristoteles tentu saja ikut terimbas oleh sikap semacam ini, mengingat bahwa dirinya memang berasal dari daerah Macedonia dan terutama pernah menjadi guru bagi sang kaisar Aleksander Agung. Untuk menghindari hal ihwal yang dapat mengancam dirinya Aristoteles mengungsi ke Chalcis, di Euboea di mana ia memiliki harta benda warisan ibundanya. Sementara itu, administrasi dan kepengurusan Lyceum Peripatos diserahkan kepada Theophrastus. Aristoteles meninggal tahun 322 SM.

 

2)   Karya-Karya Aristoteles

Adapun karya Aristoteles dapat dibedakan dalam dua kategori. Kategori pertama diperuntukkan bagi publik dan mengambil bentuk dialog-dialog. Karya tersebut disebut eksoteris. Kategori kedua diperuntukkan hanya bagi para murid dan merupakan hasil aktivitas didaktis. Karya ini disebut esoteris. Karya-karya dalam kategori pertama hampir lenyap semuanya, kecuali Retorika, Protrettikus, Tentang Filsafat, Seputar Ide, Tentang Kebaikan, Eudemo atau Tentang Jiwa. Yang masih kita wariskan hingga saat ini berasal sepenuhnya dari karya-karya esoteris. Karya-karya eksoteris dan esoteris terangkum dalam Corpus Aristotelicum meliputi Organon, Kategori, Tentang Interpretasi, Analisis Pertama dan Kedua, Buah Tutur, Konfutasi Sofistik, Fisik, Langit, Kelahiran dan Kehancuran, Meteorologi, Jiwa, Anak Kandung,  Metafisika, Etika Nicomachea, Etika Utama,  Etika Eudemia, Politik, Poetika, Retorika, Sejarah Binatang, Bagian-Bagian Binatang, Gerak-Gerak Hewan, Kelahiran Binatang.

Semua karya tulis Aristoteles diwariskan oleh Theophrastus kepada Neleus, putra seorang penyanyi yang memiliki tali persahabatan sangat erat dengan Aristoteles selama berada di Assos. Keturunan Neleus menyembunyikan tulisan-tulisan tersebut dis ebuah gudang dan kemudian seorang bibliotek bernama Apellicones membeli tulisan-tulisan itu dan mulai menyalin atau menulis ulang. Dari Sang bibliotek karya-karya ini berpindah tangan kepada Sillas atau lebih tepat Sillas merampas karya-karya tersebut dari Apellicones ketika terjadi peperangan melawan Mitridate dan kemudian membawanya ke Roma. Sekitar abad I SM, Andronikus dari Rodi berhasil menyelesaikan penyalinan dan kemudian mempublikasikan tulisan-tulisan itu. Dari sejak itu karya-karya Aristoteles menjadi bahan perbincangan ilmiah, permenungan, komentar oleh pemikir-pemikir Yunani, Arab dan Eropa serta generasi-generasi selanjutnya dari berbagai bangsa hingga saat ini.

 

3)   Doktrin Gnoseologis

Aristoteles membedakan pengetahuan dalam tiga kelompok besar: a) ilmu teoretis yang mencari pengetahuan atau pemahaman per se; b) ilmu praktis yang mencari pengetahuan dan lewat pengetahuan itu bermaksud mencapai kesempurnaan moral dan c) ilmu poietis atau produktif yang mencari pengetahuan dalam rangka menghasilkan suatu barang tertentu atau tehne-keterampilan.

Dari sudut martabat dan nilai, ilmu terulung adalah metafisika dan fisika sebab merangkum di dalamnya psikologi dan matematika.

 

a)     Metafisika

Istilah metafisika tidak berasal dari Aristoteles melainkan atau dibuat oleh para siswa Peripatetis atau diberi nama oleh Andronikus dari Rhodi sewaktu mengedit karya-karya Aristoteles pada abad pertama sebelum masehi. Aristoteles sendiri menggunakan istilah filsafat pertama atau teologi untuk membedakannya dari filsafat kedua atau fisika. Namun, istilah metafisika tentu lebih pas mengingat obyek kajiannya adalah realitas yang non-fisik-inderawi atau realitas trans-fisik.

Ada empat definisi tentang metafisika yang diberikan oleh Aristoteles sendiri. Pertama, metafisika adalah disiplin ilmu yang menyelidiki sebab-sebab dan prinsip-prinsip pertama atau tertinggi (Metafisika, A,α, B). Kedua, metafisika mempelajari ada sejauh ada (Metafisika, Γ atau E, 2-4, K3). Definisi ketiga menegaskan bahwa metafisika mendalami substansi (Metafisika, Ζ, Η, Θ). Terakhir, metafisika adalah ilmu yang meneliti Allah dan substansi trans-inderawi (Metafisika, E1, A).

Keempat definisi mengenai tugas metafisika sejalan dengan pencaharian para filosof sebelumnya dan jawaban-jawaban Aristoteles merupakan solusi atas persoalan-persoalan itu. Definisi pertama merupakan jawaban dan rangkuman atas arche, prinsip (eziologia) dan causa prima (aitiologia) yang dicari oleh para filosof kosmologis dan Platon. Definisi kedua merupakan jawaban dan sintesis atas permenungan Parmenides dan Platon. Definisi ketiga mengenai ousia merupakan jawaban atas monisme eleatis. Definisi keempat merupakan penegasan atas pendapat para filosof sebelumnya yang menempatkan Allah sebagai prinsip.

Keempat definisi metafisika itu sendiri saling berkaitan dan harmonis; semuanya ada dalam satu kesatuan. Pencarian mengenai sebab-sebab pertama secara niscaya bertemu dengan Allah sebagai causa dan prinsip pertama par excellence. Pencarian tentang aitiologia dan eziologia bermuara pada teologia. Begitu pula definisi soal ada, prinsip, sebab dan substansi berhubungan dengan persoalan apakah hanya ada realitas inderawi-fisik-badani atau terdapat realitas trans­-, super-inderawi-fisik-badani. Soal ini secara eksplisit menjadi soal teologi. Jika tidak ada yang super-inderawi, trans-fisik, sebab-sebab dan prinsip-prinsip, hanya akan ada yang inderawi-fisik-alamiah dan terdapat satu disiplin saja: ilmu-ilmu alam.

 

§. Empat sebab

Gagasan mengenai keempat sebab telah digagas oleh Aristoteles dalam buku Fisika, B, 3. Kemudian, gagasan ini diperdalam dalam Metafisika, A, 2, 983, 3-10. Elaborasi ini sesuai dengan disiplin metafisika sebagai pencaharian dan permenungan tentang sebab-sebab pertama. Sebab-sebab menurut Aristoteles haruslah berhingga seperti bilangan dan sejauh berkenaan dengan dunia menjadi, ia telah menegaskan bahwa sebab-sebab itu dapat direduksikan ke dalam empat jenis saja: yakni 1) causa materialis, 2) causa formalis, c )causa efficiens, 4) causa finalis.

Dua sebab pertama adalah materia dan forma yang mendasari, menyusun dan menjadi syarat bagi segala sesuatu. Bila segala sesuatu dilihat dan dipahami sebagai ada yang tetap, dua sebab pertama sudah memadai untuk menjelaskannya. Namun, bila segala sesuatu dimengerti sebagai ada yang dinamis, bergerak menjadi, bertumbuh, muncul, hancur dan mati maka diperlukan dua sebab lainnya yakni penggerak atau pelaku (causa efficiens) dan sasaran, tujuan atau telos (causa finalis).

Causa materialis atau materia (ΰλη) adalah id ex quo, τò έξ ού, sesuatu oleh mana terjadi atau terbuat suatu hal. Materia dari binatang-binatang adalah daging dan tulang, materia bagi patung adalah kayu atau marmer, materia bagi bangunan rumah adalah pasir, batu, kayu, semen dan lain sebagainya. Causa materialis merujuk pada bahan yang menjadi unsur untuk membuat segala sesuatu.

Causa formalis atau forma atau esensi dari segala sesuatu. Forma merujuk pada struktur atau hakekat yang membuat materi berbeda dari materi lainnya. Misalnya kayu gelondongan dapat dibuat menjadi sekian banyak barang karena formanya: untuk meja adalah ke-meja-an, kursi: ke-kursi-an, lemari: ke-lemari-an, manusia: ke-manusia-an dst.

Causa efficiens atau penggerak/pelaku adalah sesuatu dari mana perubahan dan gerak dari segala sesuatu berasal. Misalnya, tukang adalah orang yang membuat meja, kursi, lemari, pemahat adalah pelaku yang mengubah sebongkah marmer atau sepotong kayu menjadi patung atau benda-benda lainnya

Causa finalis atau tujuan dari suatu aksi adalah sesuatu untuk apa atau seturut fungsi apa (id cuius gratia) setiap hal dibuat. Aristoteles mengatakan bahwa causa finalis adalah kebaikan (agathon) dari setiap hal. Misalnya, kursi dibuat untuk duduk, meja untuk makan dan menulis, lemari untuk menyimpan pakaian atau piring dan mangkok, dst.

Jadi, eksistensi dan kemenjadian dari segala sesuatu selalu mensyaratkan keempat sebab tersebut. Itulah yang disebut dengan causa proxima dari segala sesuatu, tetapi selain keempat sebab itu masih terdapat sebab-sebab lainnya yang dihasilkan dari gerakan langit dan penyebab dan penggerak pertama yang tidak digerakkan (Metafisika, A, 4-5, 6-8).

 

§. Makna Ada

Metafisika adalah ajaran tentang ada sebagai ada. Pembahasan atas tema ini bertitik tolak dari persoalan yang ditimbulkan oleh Parmenides dan eleatisme yang memahami ada secara univox, ada sebagai ada, identik dengan dirinya sendiri serta ada dalam ke-utuhan-nya. Zenon, Melissos dari Megara dan eleatis lainnya menyintesiskan doktrin ada dalam terminologi Ada-Satu. Artinya ada sebagai genus transenden, substansi universal yang ada in se dan per se di luar segala sesuatu yang inderawi-fisik. Aristoteles menyangkal pendapat tersebut dan menegaskan kemajemukan makna ada (polivox).

Ada beberapa karakter ada dalam gagasan aristoteles: 1) ada bukan univox maupun sebagai genus transenden, 2) ada mengungkapkan suatu multiplisitas makna, 3) ada bukan pula suatu genus maupun spesies; ada merupakan suatu konsep trans-generis dan trans-species, 4) kesatuan ada bukan pula suatu kesatuan genus maupun species melainkan merujuk pada sesuatu, 5) sesuatu itu adalah substansi (Metafisika, Γ, 2, 1003b, 5-10).

Adapun makna ada adalah sebagai berikut.

1)                Ada mengungkapkan makna aksiden, atau ada aksidental dan kasual (on kata symbebekos). Contoh, Michael Jackson adalah penyanyi. Pele adalah pesepakbola termashyur. Kata penyanyi dan pesepakbola tidak mengungkapkan hakekat manusia melainkan sekedar berada secara tertentu, suatu aksiden.

2)                Ada dimengerti sebagai ada per se, ens per se. Ada per se adalah substansi, hakikat yang membuat aksiden-aksiden mungkin ada. Misalnya hakikat manusia adalah kemanusiaannya yang terungkap dalam kesadaran (tahu dan mau, makhluk rasional).

3)                Ada dipahami sebagai ada sebenarnya. Ada sesungguhnya dipertentangkan dengan ada yang keliru. Karena itu, ada sesungguhnya dapat dimengerti sebagai ada logika berkaitan dengan keputusan benar dan keputusan keliru.

4)                Ada sebagai ada dalam potensi dan ada sebagai aktus. Contohnya, akar, batang, dahan, daun dan buah merupakan ada potensi dalam benih padi, sedangkan pohon padi merupakan ada sebagai aktus.

 

§. Kategori

Makna ada pertama-tama merujuk pada substansi. Istilah substansi mengandung arti “sesuatu yang berdiri sendiri dan sekaligus mendasari sesuatu lainnya” (sub-stare). Pada substansi dapat ditambahkan keterangan, dirinci menjadi berbagai macam, tetapi substansi itu sendiri tidak dapat dijadikan sebagai keterangan atau rincian pada yang lain. Substansi adalah yang diterangkan. Di samping itu ada pula makna sekunder ada, yakni aksiden-aksiden. Aksiden mengandung makna menempel, melekat pada suatu subyek. Aksiden tidak dapat berdiri sendiri; untuk berada ia tergantung pada sesuatu. Aksiden adalah yang menerangkan substansi. Artinya, aksiden hanya berada dalam substansi. Contoh, substansi “manusia” dapat dikenakan dengan rincian “tua”, “pandai”, “berdiri”, “berusia 50 tahun”, “sehat walafiat” dst.

Aristoteles berpendapat bahwa secara umum terdapat sepuluh cara untuk memaknai ada. Kesepuluh cara memaknai ada disebut Aristoteles dengan kategori. Kategori-kategori ini memberikan makna pertama dan hakiki ada dan memantulkan pembedaan tertinggi ada atau dalam bahasa Aristoteles sebagai genus supreme ada (Metafisika, Γ, 4, 1030a 32-b3).

Berikut ini adalah bagan atau susunan kategori.

1.                Substansi (ousia): manusia, hewan, tumbuhan, air.

2.                Kwalitas (polón): merah, dingin, buruk, baik, pintar, bijaksana.

3.                Kwantitas (poson): sepuluh tahun, sekilo, dua meter.

4.                Relasi (prosti): Suharto adalah ayah Mbak Tutut, Prabowo adalah menantu Suharto.

5.                Aksi/tindakan (poiein): makan, minum, menulis.

6.                Menderita (paschein): lapar, ngantuk, letih.

7.                Tempat (poũ): di Malang, di dusun, di kota.

8.                Waktu (poté): tahun 2009.

9.                Milik (ëchein): rambut, kuku, panca indera.

10.           Posisi/keadaan (keisthai): duduk, berbaring, berdiri.

 

§. Konsep Substansi

Apa yang dimaksudkan Aristoteles dengan substansi pada umumnya? Apakah hanya sekedar atau materia atau forma atau perpaduan materia dan forma? Menurut Aristoteles, istilah substansi dapat dimengerti dalam tiga aspek berikut ini.

1.                Substansi adalah forma (eidos, morphe). Forma adalah hakekat terdalam dan terdekat dari segala sesuatu. Misalnya, hakekat manusia adalah anima rationale, hakekat binatang adalah anima sensitiva dan hakekat tumbuhan adalah anima vegetativa. Forma adalah sesuatu yang memberi bentuk, menguraikan dan menentukan suatu hal.

2.                Substansi adalah pula materia. Jika jiwa rasional, jiwa sensitif dan jiwa vegetatif tanpa memiliki bahan fisik, material, maka tidak akan ada manusia, hewan maupun pohon. Materia adalah prinsip individuasi.

3.                Substansi berarti perpaduan (synolon) dari materia dan forma (hilemorfisme). Semua hal fisik-badani merupakan perpaduan dari materia dan forma, jiwa dan badan.

Adapun  suatu hal dapat disebut substansi bila memenuhi lima syarat berikut.

Ø                  Bila sesuatu itu tidak melekat atau dijadikan predikat dari suatu hal lain, melainkan menjadi dasar dan subyek dari yang lain.

Ø                  Sesuatu yang mampu berada per se atau mandiri, terpisah dari segala sesuatu.

Ø                  Sesuatu yang tertentu, bukan atribut universal maupun abstrak.

Ø                  Sesuatu yang secara intrinsik berpadu dan utuh.

Ø                  Sesuatu yang berada dalam aktus.

 

§. Aktus dan Potensi

Hubungan antara materia dan forma adalah pola hubungan materialitas dan formalitas. Materia adalah potensi, suatu potensialitas atau kapasitas untuk menerima dan membawa forma. Marmer adalah sebuah potensi bagi patung karena mampu menerima dan membawa forma patung, kayu adalah suatu kemampuan untuk mengemban dan menyerap sekian banyak forma, sehingga terbentuklah sekian banyak benda, dst. Aktus adalah intelechia, forma, esensi yang menentukan dan memberikan serta mewujudkan suatu bentuk tertentu kepada materi. Begitulah jiwa manusia misalnya merupakan aktus dan intelechia bagi badan.

Perpaduan atau sinolon antara materia dan forma (hilemorphisme), jika dianggap sebagai ada sebagaimana adanya adalah aktus; jika dipandang dari sudut forma merupakan aktus atau entelechia. Sebaliknya, bila dilihat dari sudut materialitas, perpaduan itu merupakan gabungan dari potensi dan aktus. Karena itu, segala sesuatu yang memiliki materi memiliki dalam dirinya potensialitas entah besar maupun kecil, sementara semua forma substansi inderawi-fisik adalah aktus dan intelechia. Pada tempat terakhir hanya Allah adalah aktus murni.

Aktus mempunyai prioritas dan superioritas atas potensi. Potensi tidak dapat dikenal jika tidak diwujudkan menjadi aktus. Aktus adalah syarat, tata aturan dan tujuan dari potensialitas. Jadi aktus lebih tinggi daripada potensi karena menjadi cara berada dari substansi abadi.

 

§. Motor Immobilis

Apakah ada substansi super-, trans-inderawi atau hanya ada substansi inderawi? Atas pertanyaan itu, Aristoteles membedakan tiga jenis substansi yang secara hirarkis amat tertata. 1) substansi pertama menyangkut substansi inderawi yang muncul dan hancur binasa. 2) substansi yang meliputi substansi inderawi tetapi tidak dapat hancur, yakni langit, planet dan bintang. 3) substansi abadi, tetap, kekal, transenden: Motor Immobilis dan substansi penggerak lainnya.

Dua jenis substansi pertama terdiri atas materia dan forma atau tersusun dari empat unsur dasar: air, udara, api dan tanah dan elemen kekal. Yang mengkaji kedua substansi ini adalah fisika dan astronomi. Sedangkan substansi jenis terakhir adalah forma murni dan bidang studi yang menggelutinya adalah metafisika.

Pembuktian mengenai eksistensi dunia atas didasarkan pada pemahaman Aristoteles bahwa waktu dan gerak adalah kekal dan abadi. Sebab jika waktu dilahirkan, semestinya ada sebelum waktu maupun bila ada kehancuran waktu seharusnya ada sesudah waktu. Begitu pula jika waktu dimengerti sebagai determinasi gerak: jika gerak diciptakan niscaya ada sebelum gerak dan bila gerak hancur seyogyanya ada sesudah gerak. Jadi waktu dan gerak adalah abadi.

Tetapi apa syarat keberadaan gerak dan waktu abadi? Jika ada Prinsip pertama yang menjadi penyebabnya. Bagaimana Prinsip dapat menjadi sebab? Pertama-tama, Prinsip haruslah abadi, mengingat waktu dan gerak adalah abadi. Kedua, Prinsip hendaknya immobilis. Hanya yang tetap dapat menjadi sebab bagi yang bergerak. Ketiga, Prinsip wajib berada sebagai aktus purus, aktus murni.

Dapatkah Prinsip Pertama, Penggerak Pertama bergerak dengan tinggal tetap secara absolut? Aristoteles menjawab dengan memberikan ilustrasi berikut. Penggerak Pertama bergerak seperti obyek tercinta menggerakkan kekasih (ώς έρώμενον κινεĭ). Artinya, apa yang baik dan indah menstimulir kehendak manusia tanpa kehendak itu bergerak dengan cara apapun, begitu pula intelek bergerak tanpa mengggerakkan diri atas obyek yang menarik baginya. Jadi, gerak Penggerak Pertama bukan dalam pengertian causa efficiens, melainkan causa finalis.

Penggerak Pertama adalah juga Hidup itu sendiri, karena aktivitas intelek berarti hidup dan Dia sendiri adalah aktivitas. Dia adalah Hidup, Abadi dan Optimum (Metafisika A7, 1072b 13-18, 24-30).

Apa yang dipikirkan Prinsip Pertama? Dia berpikir tentang hal terbaik dan tertinggi. Yang terbaik dan tertinggi itu adalah Dia sendiri. Penggerak Pertama berpikir tentang diri sendiri atau aktivitas kontemplatif mengenai diriNya, pikiran dari pikiran (νόησις νοήσεως) (Metafisika, A7, 1072b 18-24). Apa yang tunggal dan fisik ini sama sekali tidak dikenal oleh Prinsip Pertama. Karena pengenalan atas manusia individual dan benda-benda fisik lainnya merupakan suatu pengenalan yang tidak sempurna, cacat dan penurunan bagi Allah. Manusia dan makhluk hidup lainnya bukanlah obyek kasih dan pikiran Prinsip Pertama.             

b)     Fisika

Bertitik tolak dari distingsi Platon tentang dunia ide dan dunia inderawi, Aristoteles mengembangkan sebuah distingsi yang lebih tajam lagi dengan membedakan realitas dalam golongan non-inderawi dan golongan inderawi. Berbeda dari Platon, Aristoteles mencoba menempatkan ide-ide bukan di luar realitas empiris, melainkan berada di dalam realitas inderawi dan fisik. Golongan substansi yang berbeda demikian mensyaratkan juga perbedaan ilmu yang mempelajarinya, yakni fisika untuk ada fisik - inderawi dan metafisika untuk ada non-inderawi.

Distingsi mengenai metafisika dan fisika memperlihatkan pelampauan definitif atas horison filsafat prasokratesian dan perubahan makna secara radikal tentang physis atau alam. Physis bukan lagi merujuk pada totalitas ada, melainkan ada inderawi, alam fisik-material.

Sebuah catatan penting mengenai fisika Aristoteles kiranya harus diberikan. Makna fisika dalam Aristoteles berbeda sekali dari pengertian modern kontemporer. Fisika dalam konsepsi modern kontemporer yang dipengaruhi oleh gagasan Galileo berciri kwantitatif atau sebagai ilmu kwantitatif tentang alam semesta. Sementara Aristoteles memahami fisika sebagai ilmu kwalitatif tentang alam semesta atau dalam pengertian berikutnya dinamakan filsafat alam.

§. Perubahan dan Gerak

Adapun pokok kajian fisika Aristotelian adalah gerak spontan, gerak alami atau gerak substansial dari benda-benda dan bukan gerak yang ditimbulkan dari suatu aksi eksterior. Karena itu, istilah gerak dalam gagasan Aristotelian memuat di dalam dirinya pengertian tentang perubahan yang terjadi baik di luar maupun di dalam benda-benda itu sendiri. Salah satu contoh adalah perubahan dari kayu yang dibakar menjadi abu atau benih menjadi pohon dst.

Berkaitan dengan penolakan eleatisme tentang eksistensi gerak, bahwa jika gerak diakui dengan sendirinya mengandaikan eksistensi non-essere, Aristoteles memberikan sebuah solusi brilian.  Dengan bertitik tolak dari kemajemukan makna Ada dan terutama gagasan mengenai pasangan aktus (ada) dan potensi (belum- atau tidak- ada bila dibandingkan dengan aktus), Aristoteles memberikan sebuah pembuktian mengenai eksistensi gerak. Gerak atau perubahan pada umumnya adalah peralihan dari ada sebagai potensi kepada ada sebagai aktus. Gerak adalah aktualitasi dari apa yang ada secara potensial.

Selain itu, dalam gagasan aktus dan potensi terkandung pula kategori-kategori ada. kategori aksi, menderita dan waktu merupakan kategori yang mempunyai makna gerak. Begitu pula kategori substansi, kwalitas, kwantitas dan tempat, meskipun tidak memuat gerak dalam artian perubahan tempat, tetapi memuat di dalam dirinya gerak atau perubahan. Gerak dalam substansi dinyatakan dalam kelahiran dan kehancuran; gerak dalam pengertian relasi terungkap dalam perubahan kwalitas; gerak dalam pengertian kwantitas ternyana dalam penambahan dan pengurangan, sedangkan gerak dalam pengertian tempat dinyatakan dapan perpindahan tempat.

 

§. Ruang dan Waktu

Gagasan mengenai gerak berkaitan erat dengan ruang, waktu dan ruang kosong. Apa yang dimaksud dengan tempat atau ruang? Ruang adalah apa yang umum bagi banyak hal dan sekaligus khusus bagi tiap obyek (Fisika Δ2, 209a 31-b2.) Kemudian, Aristoteles memberikan sebuah definisi lain bahwa tempat adalah penampung tetap, pertama dan terbatas atau terminus continentis immobilis primus. Jadi tempat berada dalam semesta dan bukan pula semesta raya (Fisika, Δ5, 212b 16-22).

Kerap kali ruang kosong dipahami sebagai tempat di mata tiada apapun atau tempat di mana tiada benda apa saja (Fisika, Δ7, 213b 21, 33). Namun, dari definisi di atas bahwa tempat adalah terminus continentis, tampak bahwa eksistensi ruang kosong disangkal oleh Aristoteles.

Sedangkan mengenai waktu, Aristoteles memberikan sebuah analisa yang mendalam. Misteri waktu dipecahkan dengan merujuk pada dua hal yakni gerak dan jiwa. Waktu bukanlah gerak atau perubahan, tetapi jika gerak merupakan aktivitas melalui ruang berlanjut, nah berlanjut itu merupakan waktu. Sebab jumlah waktu yang dihabiskan selalu sepadan dengan gerak. Maka, waktu adalah bilangan gerak seturut sebelum dan sesudah (Fisika Δ11, 219b 1-2).

Untuk mengukur waktu diperlukan kesatuan ukuran. Nah, kesatuan ini mesti ditermukan dalah gerak seragam dan sempurna. Mengingat gerak seragam dan sempurna hanya berada dalam gerak melingkar, maka kesatuan ukuran adalah gerak semesta dan benda-benda langit. Sedangkan Penggerak Pertama dan penggerak-penggerak lainnya berada di luar ruang dan waktu.

 

c) Psikologi

Pokok kajian tentang psikologi dalam aristotelisme mengacu para buku karangannya yang berjudul De Anima. Menurut Aristoteles, makhluk hidup dibedakan dari benda mati justru karena memiliki sebuah prinsip hidup dan prinsip hidup demikian adalah jiwa.

 

§. Konsep tentang Jiwa

Apa itu jiwa? Aristoteles tidak menjawab langsung melainkan merujuk kembali pada konsepsi hilemorfis atau perpaduan materi dan forma. Materi adalah potensi dan jiwa adalah aktus atau intelechia. Distingsi ini berlaku juga bagi makhluk hidup. Badan hidup memiliki hidup tetapi bukan hidup itu sendiri, sehingga “adalah niscaya bahwa jiwa adalah substansi seperti halnya forma dari suatu badan fisik yang memiliki hidup dalam potensi. Namun substansi sebagai forma adalah intelechia, aktus. Jiwa adalah intelechia bagi badan (De Anima, B1, 412a 19-22), jiwa adalah intelechia pertama [έντελέχεια ήπρώτη] (Ibid, B1 412a 27-28), jiwa adalah intelechia pertama bagi badan alami orgnanis (Ibid, B1, 412b 4-6).

Bagaimana hubungan badan dan jiwa? Aristoteles mencoba mengambil jalan tengah dari dua ekstrim, yaitu para pemikir prasokratis yang mengidentikkan psyche sebagai prinsip fisik dan Platon yang menempatkan psyche terpisah daripada badan. Artinya Aristoteles melihat bahwa jiwa adalah sesuatu yang intrinsik dengan badan (sejauh sebagai forma, prinsip inteligibel yang membuat badan sebagaimana mestinya) dan di satu sisi berbeda daripada badan (kekal dan abadi dan prerogatif) atau ada salah satu bagian yang terpisah dari badan (Ibid, B2, 413b 24-29).

 

§. Tri Bagian Jiwa

Konsepsi Aristoteles tentang bagian-bagian jiwa bertitik tolak dari pengandaian bahwa fenomen-fenomen hidup mensyaratkan tindakan-tindakan yang secara tetap saling berbeda. Jiwa sebagai prinsip hidup seniscayanya memiliki kemampuan, fungsi, bagian yang menjalankan dan mengatur perbuatan-perbuatan demikian.

Fungsi-fungsi hidup yang ada adalah berkarakter a) vegetatif, seperti lahir, makan-minum, bertumbuh, b) sensitif motorik, misalnya sensasi dan gerak dan c) intelektif, umpamanya tahu, memilih, memutuskan. Bertolak dari fenomen-fenomen hidup yang demikian, maka Aristoteles membedakan jiwa dalam a) jiwa vegetatif, b) jiwa sensitif dan c) jiwa intelektif atau rasional.

v                  Jiwa vegetatif merupakan prinsip yang mengatur keturunan, nutrisi dan pertumbuhan. Jiwa vegetatif merupakan prinsip yang paling elementer dalam makhluk hidup. Dengan gagasan ini, Aristoteles menjawab sekaligus mengoreks penjelasan para pemikir sebelumnya yang mengasalkan pertumbuhan pada unsur-unsur material (Ibid, B4, 416b 20-23.

 

v                  Jiwa sensitif merupakan prinsip yang mendasari sensasi, makan-minum dan gerak. Sensasi bukanlah perubahan atau pergantian yang ditimbulkan oleh hal yang sama maupun hal yang berbeda, melainkan proses realisasi potensi, gerak maju sesuatu menuju aktualitas (Ibid, B5, 418a 3-6).

Dalam sensasi tidak terjadi asimilasi dalam pengertian material dan lokal melainkan formal. “Untuk setiap sensasi pada umumnya”, tulis Aristoteles, “perlu dimengerti bahwa indera adalah sesuatu yang memiliki kemampuan forma-forma inderawi tanpa materia”. Itu berarti bahwa sensasi merupakan menjadikan diri sama dengan yang inderawi.

Manusia memiliki lima indera atau panca indera dan masing-masing berkaitan dengan obyek tercerap dan sensasi yang dihasilkan: indera pencium, indera pendengar, indera pelihat, indera perasa, indera peraba. Selain panca indera luar, terdapat juga panca indera dalam yang berkaitan dengan gerak, figura, keluasan dan diam (Ibid, Γ1, 425a 14-20). Berkaitan dengan obyek-obyeknya, panca indera tidak dapat salah (infalibilis).

Dari sensasi timbul fantasi dan memori. Fantasi menghasilkan gambaran-gambaran, sedangkan memori merupakan pelestarian gambaran-gambaran tersebut. Dari sekian data yang tertampung itu muncul pengalaman.

Gerak makhluk hidup berasal dari hasrat atau desiderium. “Pengerak adalah satu saja: fakultas appetitif” (Ibid, Γ10, 433a 21) dan lebih tepat hasrat. Hasrat pada dasarnya adalah salah satu jenis dari fakultas appetitif (Ibid, Γ10, 433a 25-26). Hasrat bergerak karena distimulir oleh obyek-obyek cerapi melalui sensasi. Jadi, makan dan minum bergantung sepenuhnya pada sensasi.

 

v                  Jiwa intelektif/rasional

Karena sensibilitas tidak dapat direduksikan kepada hidup vegetatif dan prinsip nutrisi melainkan memuat suatu kelebihan, demikian pula pikiran dan kegiatan-kegiatan fakulta intelektif tidak dapat direduksikan pada hidup vegetatif dan sensitif. Aktivitas penalaran memiliki sebuah kelebihan dan kelebihan itu muncul dari prinsip jiwa rasional. Inteligensi atau rasio merupakan kemampuan dan potensialitas mengenal forma-forma murni dan forma-forma tersebut berada dalam sensasi dan gambaran fantasi. Untuk itu diperlukan sesuatu yang dapat mewujudkan dwi potensialitas ini menjadi aktus, dengan menerima forma dalam aktus dan forma yang berada dalam gambaran menjadi konsep dalam aktus.

Untuk itu Aristoteles membedakan dua jenis kemampuan intelektual, yakni intelek potensial (intellectus possibilis) yang menerima dan menampung dan intelek aktual (intellectus agens) yang menerangi sehingga intelek dapat melihat yang rasional. Intelektus agens “datang dari luar”, artinya tidak berasal dari badan tetapi tetap tinggal dalam jiwa [έν τη ψυχη] (Ibid, Γ5, 430a 13).

 

d) Etika

Ilmu jenis kedua dibagi menjadi etika dan politik. Di sini kita akan mencoba melihat muatan etika dalam pemikiran Aristoteles.

§. Kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi

Setiap tindakan manusia selalu mengarah pada tujuan yang tepat dan tujuan demikian disebut kebaikan. Karena itu, kebaikan didefinisikan oleh Aristoteles sebagai sesuatu ke mana setiap hal menuju (Etika Nikomakea, A1, 1094a 1-3). Ada sekian banyak kebaikan yang menjadi arah dan tujuan dari setiap aksi, namun dari sekian banyak pasti ada kebaikan yang paling baik, yang tertinggi.

Apa kebaikan tertinggi itu? Tanpa ragu Aristoteles menjawab bahwa kebaikan tertinggi bagi manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan, felisitas (Ibid, A4, 1095a 17-20). Jadi, semua manusia secara sadar ingin mendapatkan kebahagiaan.

Apa itu kebahagiaan? Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan terletak dalam kesenangan dan kenikmatan atau kehormatan dan kekayaan. Namun Aristoteles menolak semua pendapat demikian: kesenangan dan kenikmatan membuat manusia sama dengan para budak dan binatang (Ibid, A5, 1095b 19), sementara yang kedua lebih merupakan hal yang luaran, sementara kekayaan merupakan sarana dan bukan tujuan.

Kebahagiaan manusia menurut Aristoteles bukan pula berada di luar atau transenden, tetapi imanen, yakni kebaikan yang dapat diwujudkan dan dipenuhi oleh manusia dan untuk manusia. Kebaikan terletak dalam karya; karya mata adalah melihat, kerja telinga adalah mendengar, kegiatan hidung adalah melihat. Lalu karya manusia adalah hal yang khas baginya, bukan sekedar hidup dan merasa melainkan terutama aktivitas berpikir, bernalar. Kebaikan sejati atau kebahagiaan bagi manusia adalah aktivitas jiwa seturut nalar, kebaikan rohani. Itulah keutamaan manusia sebagai subyek berpikir.

Adapun kebahagiaan yang sempurna adalah vita contemplativa, serupa dengan yang ilahi, mengkontemplasikan kebenaran sebagaimana Allah mengkontemplasikannya. Kebaikan dan kebahagiaan tertinggi adalah mengkontemplasikan Allah sendiri yang adalah rasionalitas suprema.

 

 

§. Keutamaan-Keutamaan

Mengingat kebahagiaan manusia terletak dalam aktivitas nalar, maka gagasan tentang keutamaan manusia mengalir dari pemahaman tentang jiwa intelektif. Itu berarti bahwa keutamaan manusia berciri rasional.

Ø                  Keutamaan Etis

Keutamaan etis berasal dari habitus, kebiasaan. Dengan melakukan sekian banyak perbuatan yang baik dan adil, perlahan-lahan perbuatan-perbuatan tersebut melahirkan sikap tertentu dalam diri subyek. Begitulah, orang yang terus menerus bertindak jujur, lambat laun akan membentuh habitus jujur.

Lalu muncul pertanyaan: apa hakekat semua keutamaan etis? Keutamaan merupakan jalan tengah, ukuran yang tepat antara kelebihan dan kekurangan (Ibid, B6, 1106a 26-b7). Sedangkan kekurangan dan kelebihan berkaitan dengan perasaan, hawa nafsu dan aksi (Ibid, B6, 1106b 18-28). Namun gagasan tentang jalan tengah, ukuran yang pas bukan dalam artian medioker atau antithesis, melainkan melampaui atau berada di atas dua ekstrim, bagian yang tertinggi dari keduanya (Ibid, B6, 1107a 6-8). Misalnya, keutamaan keberanian merupakan jalan tengah antara takut dan nekad, murah hati merupakan ukuran yang tepat dari kikir dan tamak dan keadilan merupakan tengahan antara kelebihan dan kekurangan, dst.

 

Ø                  Keutamaan dianoetis

Selain keutamaan etis terdapat keutamaan yang tergolong ke dalam bagian lebih tinggi dari jiwa, yakni jiwa rasional. Keutamaan demikian disebut keutamaan nalar. Mengingat ada dua fungsi atau bagian jiwa, yakni bagian yang mengenal segala sesuatu yang kontingen dan beragam dan bagian yang mengenal hal ihwal yang niscaya dan tetap, secara logis terdapat keutamaan yang berhubungan dengan bagian-bagian jiwa tersebut. Kedua bagian jiwa rasional tersebut adalah nalar praktis dan nalar teoretis. Keutamaan khas nalar praktis adalah kebajikan (phronesis), sedangkan keutamaan khas nalar teoretis adalah kebijaksanaan (sophia).

Kebajikan terletak dalam kemampuan membimbing, menuntun hidup manusia secara tepat, mampu memutuskan seputar apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia, yakni berkaitan dengan sarana-sarana terpuji untuk mencapai tujuan sejati. Tindakan manusia dilakukan melalui kebajikan dan keutamaan etis: keutamaan membuat tujuan menjadi tepat, sedangkan kebajikan membuat sarana-sarana menjadi pas.

Apakah ada dan bagaimana hubungan keutamaan etis dengan keutamaan dianoetica kebajikan? Aristoteles mengatakan bahwa keduanya berhubungan lewat dua hal berikut. a) Keutamaan etis, yang merupakan habitus ditentukan oleh recta ratio. Recta ratio ini adalah keutamaan orang bijak. Jadi kebajikan adalah syarat niscaya bagi semua keutamaan etis. b) tidak ada orang bijak tanpa keutamaan etis. Kebajikan membawa orang untuk menemukan sarana-sarana yang tepat sehingga dapat sampai pada kebaikan moral.

Kebijaksanaan adalah keuntamaan yang paling tinggi. Kebijaksanaan terdiri atas pencerapan intuitif atas prinsip-prinsip lewat nalar maupun pengetahuan diskursif tentang akibat-akibat yang timbul dari prinsip-prinsip tersebut. Kebijaksanaan adalah keutamaan yang lebih tinggi daripada kebajikan; jika kebajikan berkaitan dengan manusia, kebijaksanaan menyangkut apa yang di atas manusia. Kebijaksanaan berkaitan dengan metafisika.

 

§. Persahabatan

Ada tiga hal yang menyebabkan orang menjalin persahabatan dan ketiga hal tersebut adalah kegunaan, kesenangan dan kebaikan. Hal pertama dan kedua merupakan persahabatan ekstrinsik; menjadi sahabat karena ada kepentingan tertentu atau apa yang dimiliki oleh seseorang (kekayaan, kekuasaan, kesenangan). Sementara persahabatan atas dasar kebaikan didasarkan pada apa adanya orang tersebut atau pada kebaikan dan kemurahan hati intrinsiknya. Karena itu, Aristoteles menghubungkan persahabatan dengan keutamaan: persahatan sejati adalah ikatan yang dijalin oleh orang baik dan bijak dengan orang baik dan bijak lainnya atas dasar dan demi keutamaan itu sendiri.

 

§. Tindakan Moral

Socrates telah mereduksikan keutamaan pada ilmu dan pengetahuan, sehingga menyangkal kemungkinan dan kemampuan manusia untuk berbuat jahat secara sadar dan sengaja. Aristoteles mencoba keluar dari penafsiran intelektualistis semacam ini dengan memberikan garis batas antara mengenal atau memahami kebaikan dan melaksanakan kebaikan dalam hidup. Untuk itu, Aristoteles membedakan perbuatan sengaja dan perbuatan tidak sengaja.

Tindakan manusia selain disengaja, disertai juga dengan pilihan (prohairesis) dan pilihan demikian mengandaikan adanya penalaran, refleksi tentang sesuatu dan aksi yang tergantung pada subyek pelaku. Pola penalaran dan refleksi demikian disebut keputusan (deliberation). Perbedaan antara pilihan dan keputusan terletak dalam menentukan sarana-sarana dan aksi-aksi untuk dilakukan (keputusan) dan tujuan-tujuan yang diambil dan diwujudkan (pilihan).

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Aristoteles bermaksud menegaskan kenyataan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya; dia adalah sebab, pelaku dari habitus moralnya.

 

e) Politik

Aristoteles berpendapat bahwa apa yang baik baik individu adalah baik pula bagi negara. Namun demikian, negara tetap memiliki posisi, fungsi dan nilai yang lebih tinggi, lebih mulia dan lebih ilahi daripada individu. Singkat kata, gagasan politik Aristotelian selalu berorientasi pada polis sebagai dasar dan tujuan dari hidup setiap warga.

§. Konsep Negara

Dasar eksistensi negara hendaknya ditemukan dalam hakekat manusia sebagai individu. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial atau makhluk polis (zoon politikon); ia memerlukan uluran tangan orang lain dalam setiap momen hidupnya. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Aristoteles.

Ø                  Pertama, alam telah membedakan manusia dalam dua jenis kelamin: perempuan dan laki-laki. Untuk membangun keluarga, meneruskan keturuan dan kebutuhan-kebutuhan dasar, keduanya harus bersatu.

Ø                  Namun, karena keluarga tidak memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhannya, muncullah desa atau kampung yang secara teritorial dan institusional lebih luas dan lebih besar daripada keluarga.

Ø                  Selanjutnya, ketika keluarga dan kampung tidak mampu menjamin kehidupan yang lebih sempurna, khususnya kehidupan moral, maka diperlukan sebuah institusi lain. Bentuk hidup moral-spiritual dapat dijamin hanya oleh hukum, pengadilan dan institusi politik yang lebih solid, yaitu negara. Negara merupakan sebuah institusi sosial dan politik yang membuat setiap individu dapat keluar dari egoismenya dan hidup bukan seturut apa yang baik secara obyektif melainkan apa yang secara obyektif sungguh baik. Dengan demikian, negara adalah terakhir secara kkronologis dan pertama secara ontologis.

 

§. Negara Ideal

Dua buku terakhir dari Politica didedikasikan Aristoteles untuk menggagas negara ideal. Salah satu ciri dasar dari pembahasan negara ideal adalah dimensi etis-moral yang sangat menonjol daripada gagasan mengenai bentuk organisatoris pemerintahan.

Aristoteles memberikan beberapa persyaratan untuk negara ideal dan persyaratan itu adalah sebagai berikut. Pertama berkaitan dengan penduduk. Jumlah penduduk tidak boleh terlalu sedikit maupun terlalu banyak melainkan berjumlah proporsional. Kedua mengenai wilayah. Wilayah hendaknya tidak terlalu sempit maupun tidak terlalu luas. Ketiga bertalian dengan kwalitas ideal para warga polis. Warga polis harus merupakan gabungan dari kwalitas orang-orang Barat dan orang-orang Timur yakni, pintar, bersemangat, bebas, berani. Keempat adalah fungsi-fungsi dasar polis dan pembagian idealnya. Untuk hidup, sebuah polis harus mempunyai: a) pembajak tanah atau petani untuk menyediakan makanan, b) pekerja tangan yang menyediakan sarana dan prasarana fisik, c) pedagang agar dapat menghasilkan kekayaan, d) pejuang untuk menjaga dan melindungi polis dari pemberontak dan musuh, e) orang-orang pemerintahan, dewan kota dan kehakiman yang menetapkan apa yang berguna bagi komunitas dan hak-hak timbal balik warga polis dan f) imam untuk menjalankan peribadatan. Kelima adalah keutamaan. Keutamaan polis tergantung pada keutamaan setiap warga polis.

 

§. Pengaturan Keluarga

Keluarga terdiri atas empat unsur dasar berikut ini: a) hubungan suami-isteri, b) relasi bapak-anak, c) hubungan tuan-budak, dan d) seni atau ketrampilan untuk mendapatkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup dan kekayaan (krematistika). Aristoteles selanjutnya hanya memfokuskan diri pada relasi ketiga dan keempat.

Tata kelola keluarga memerlukan banyak hal dan untuk itu dibutuhkan sarana-sarana yang tepat baik makhluk hidup maupun benda mati. Dalam konteks itu, tenaga kerja dan budak dianggap niscaya. Tenaga kerja adalah sebagai sebuah sarana yang mendahului dan menentukan sarana-sarana lainnya serta berguna untuk menghasilkan barang-barang tertentu dan keperluan-keperluan lainnya. Sedangkan budak merupakan alat yang berguna untuk aksi, yakni pada perilaku hidup.

Gagasan Aristoteles mengenai perbudakan tidak sejalan dengan prinsip-prinsip metafisik yang telah digagasnya dengan begitu rasional dan sistematis. Secara lugas Aristoteles telah menegaskan bahwa perbedaan hakiki dan menentukan antara manusia dan binatang terletak pada nalar. Tentu saja ada manusia yang memiliki kwalitas intelektual lebih daripada yang lainnya, namun perbedaan kemampuan demikian kiranya tidak dapat mengubah hakekat dan kodrat manusia sebagai manusia. Sejauh memiliki nalar, manusia adalah manusia tanpa perbedaan apapun. Namun, Aristoteles ternyata belum mampu keluar dari prasangka rasial dan rasis kaum sebangsanya terhadap suku bangsa lainnya. Kesimpulan yang ditarik Aristoteles, mengikuti Euripide, bertentangan dengan premis itu sendiri bahwa kaum barbar secara kodrati adalah inferior dari orang Yunani, sehingga adalah alami bila orang Yunani memerintah kaum barbar (Politik, A2, 1252b 8).

Berkaitan dengan upaya untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup dan kekayaan, Aristoteles membedakannya dalam tiga cara berikut: a) cara alamiah dan langsung yang terjadi melalui aktivitas-aktivitas perburuan, peternakan dan pengolahan lahan pertanian; b) secara tidak langsung lewat sukar menukar barang secara seimbang dan senilai (barter) dan c) secara tidak alamiah sebagaimana berlangsung dalam perdagangan dengan menggunakan uang. Aristoteles mengkritik dan mengutuk bentuk ketiga ini karena tiada batasan bagi peningkatan kekayaan, sehingga terjadi pengaburan makna dan penghilangan tujuan dari ekonomi yang sehat. Bangunan ekonomi dibalik sedemikian rupa sehingga bukan lagi menjadi sebuah sarana untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk menumpuk kekayaan. Tujuan menjadi sarana dan sarana menjadi tujuan. Selain itu, Aristoteles mengutuk juga penanaman modal (investasi) untuk menghasilkan uang, karena dalam pandangannya orang bukan lain menghasilkan uang untuk hidup, melainkan menggunakan hidup untuk menghasilkan uang.

 

 

 

§. Warga Negara

Negara terdiri atas warga negara. Karena itu, tanpa memberikan pembahasan tentang kampung, Aristoteles langsung membahas persoalan mengenai warga negara. Dalam cara pandang Aristoteles, untuk menjadi warga negara tidak cukup orang berada dalam wilayah polis, berurusan dengan pengadilan maupun keturunan dari warga negara sebelumnya. Menjadi warga negara mensyaratkan partisipasi pada pengadilan atau ambil bagian dalam pengaturan dan tata kelola keadilan serta bagian dari perhimpunan atau dewan yang membuat undang-undang dan memerintah polis (Politica, Γ1). Dengan kata lain, warga negara/polis ambil bagian secara langsung dalam tata kelola negara baik dalam bidang eksekutif maupun legislatif dan yudikatif.

Bertolak dari pengertian di atas, semua orang yang berasal dari daerah taklukan setinggi apapun pangkatnya, penduduk koloni maupun buruh, petani dan pedagang sama sekali bukanlah warga polis. Mereka tidak memenuhi syarat, yakni waktu untuk melaksanakan tugas dan fungsi yang diembankan negara. Maka, jumlah warga polis amat terbatas, sementara sekelompok besar lainnya dari masyarakat polis berfungsi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup warga negara.

Jika demikian, apa perbedaan dasar antara buruh dan budak? Menurut Aristoteles, perbedaan keduanya terletak dalam kwantitas orang yang dilayani: budak melayani kebutuhan seorang atau sekeluarga saja, sementara buruh melayani kepentingan publik.

 

§. Bentuk-Bentuk Pemerintahan

Apa yang membuat bentuk-bentuk pemerintahan itu berbeda-beda? Filosof dari Stagira ini menjawab, “Konstitusi merupakan struktut yang memberikan keteraturan kepada polis, dengan menetapkan fungsi-fungsi dari semua jabatan dan terutama otoritas tertinggi” (Politica, Γ6, 1278b 8-10).

Ada beberapa kemungkinan tentang bentuk-bentuk pemerintahan negara. Otoritas tertinggi atau pemerintahan dapat dipimpin oleh a) satu orang saja, b) sedikit orang dan c) banyak orang.

Kemudian pemerintahan dapat dijalankan atau secara baik dan benar atau secara keliru dan jahat. Baik dan benar ditentukan oleh tujuan pemerintahan apakah untuk kepentingan pribadi atau kepentingan umum.

Bila pemerintahan dijalankan dengan baik dan benar maka akan terdapat pemerintahan (Politica, Γ7, 1279a 32 - b 10): a) Monarki (satu orang), b) aristokrasi (segelintir orang) dan c) Politia (sebagian besar orang). Namun, tatkala pemerintahan dijalankan dengan keliru dan jahat, maka bentuk pemerintahan adalah sebagai berikut: a) tirani (satu orang), b) oligarki (sedikit orang demi mengejar kekayaan dan memfavoritkan kelas kaya) dan c) demokrasi (banyak orang untuk kepentingan kelas rakyat jelata).

Mana pemerintahan yang ideal, alami dan terbaik dari ketiga bentuk pemerintahan yang benar? Aristoteles beranggapan bahwa secara abstrak-teoretis, bentuk pemerintahan terbaik dan sesuai dengan kodrat manusia adalah monarki. Namun dalam kenyataan sulit sekali menemukan seorang dan segelintir orang yang sungguh-sungguh ekselen secara etis moral, maka Aristoteles menunjuk bahwa pilihan terbaik seturut kenyataan konkrit adalah politia.

Politia adalah pemerintahan jalan tengah antara oligarki dan demokrasi dalam sistim politik konkrit Yunani masa itu. Ciri pemerintahannya adalah sistim bergilir memerintah dan diperintah (Politica, Δ11, 1295b 25-38)

 

§. Konsep Keadilan

Jiwa dari suatu pemerintahan adalah nilai dan rasa keadilan. Karena itu, Aristoteles memberikan pembahasan yang komprehensif tentang keadilan dan atas dasar itu gagasan keadilan dipresentasikan dihadirkan dalam lingkup politik.

Apa itu keadilan? Keadilan adalah disposisi pribadi atau habitus yang mendorong manusia untuk melakukan suatu tindakan secara demikian terhadap orang lain. Karena muncul dari habitus, keadilan tidak bersifat tetap, melainkan bisa berkurang dan bertambah.

Keadilan berada di tengah dua sudut ekstrim, yakni keuntungan dan kerugian. Dasar dari keadilan adalah kesederajadan antar-manusia. Kesederajadan atau kesamaan dibedakan dalam kesamaan numeris dan kesamaan proporsional dan pembedaan tersebut mempunyai nilai penting dalam keseluruhan pembahasan mengenai makna keadilan. Artinya penilaian dan rasa keadilan wajib memperhatikan kesetaraan setiap manusia, namun demikian faktor jabatan atau tugas yang diemban oleh seseorang dalam kehidupan bersama mesti mendapat perhatian selayaknya. Karena itu, distingsi Aristoteles mengenai keadilan memperhatikan baik aspek kesetaraan maupun fungsi sosial individu dalam hidup bersama.

Secara garis besar, Aristoteles membedakan kewajiban dalam beberapa jenis berikut: a) kewajiban distributif, b) keadilan komparatif dan c) keadilan korektif. Keadilan distributif berkaitan dengan pembagian hak seseorang seturut jabatan sosial yang diemban dan kontribusinya dalam kehidupan bersama (gaji Presiden berbeda daripada gaji pelayan restoran, pembagian keuntungan antara pemegang saham mayoritas dan minoritas berbeda jumlahnya). Keadilan komparatif berhubungan dengan aktivitas jual beli. Antara penjual dan pembeli hendaknya ada perbandingan nilai yang seimbang, sehingga kedua belah pihak tidak menderita kerugian (misalnya, 100 gram emas: 1 rumah). Keadilan korektif berkenaan dengan tindakan jahat yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Hukum bermaksud mengembalikan keadilan (tidak adil berarti terdapat perbedaan proporsi aritmatis antara pelaku dan korban) dengan memberikan bagian atau hak seseorang yang telah terampas oleh pelaku.

 

f)   Logika

Nama Logika tidak berasal dari Aristoteles. Ia menggunakan istiah analytika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari keputusan yang benar dan dialektika untuk argumentasi yang berangkat dari hiptesis. Dialektika dibahas dalam buku Topica, sedang-kan analitika dibicarakan dalam Analytica priora dan Analytica poteriora. Nama Logika berasal dari Alexander Aphrodisias.

Hal penting adalah tempat logika dalam struktur pemikiran Aristoteles: logika tidak mendapat tempat dalam ketiga bidang pengetahuan. Lalu di mana posisi logika? Bagi Aristoteles logika bukanlah sebuah pengetahuan, melainkan instrumen untuk memperoleh pengetahuan. Karena itu, logika ditempatkan pada fase awal sebagai mata pelajaran pendahuluan dan preparatif bagi ilmu pengetahuan.

 

-      Deduksi

Deduksi merupakan proses penalaran yang bertitik tolak dari prinsip-prinsip umum dan kebenaran universal, kemudian ditarik kebenaran-kebenaran partikular. Proses argumentasi deduktif terungkap dalam silogisme.

Silogisme merupakan sebuah penalaran di mana kesimpulan merupakan konsekwensi niscaya yang muncul dari proposisi anteseden. Karena itu pula, silogisme disebut sebagai penalaran sempurna oleh Aristoteles. Penalaran silogisme terdiri atas tiga proposisi. Ketiga proposisi dibedakan menjadi dua premis, yakni premis mayor dan premis minor dan akibat atau kesimpulan. Ada pun premis-premis adalah sebab turunan dan bukan sebab kebenaran dan kekeliruan, mengingat kesimpulan harus mengikuti begitu saja proposisi anteseden.

Contoh:

Semua manusia pasti mati

Socrates adalah manusia

Maka, Sokrates pasti mati

 

-      Induksi

Kebalikan dari argumentasi silogisme, induksi (έπαγωγή) merupakan pola penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal partikular dan dari padanya ditarik suatu kebenaran universal. Proses penalaran induktif bertitik tolak dari pengalaman dan pengalaman itu sendiri menjadi medium yang menuntun orang pada kebenaran universal. Dari sebab itu, induksi merupakan proses penalaran abstraktif.

Contoh:

Air dalam gelas A mendidih pada suhu 100°C

Air dalam gelas Nⁿ mendidih pada suhu 100°C

Jadi, air mendidih pada suhu 100°C.

 

g) Retorika

Aristoteles berpendapat bahwa retorika bukan bertugas untuk mengajar dan menuntun pada kebenaran dan nilai-nilai etis-politik baik secara umum maupun khusus, melainkan menemukan cara-cara dan sarana-sarana untuk meyakinkan dalam setiap argumentasi. Dalam artian ini, retorika menjadi semacam seni yang menganalisa dan menguraikan proses-proses dan struktur-struktur dasa dengan mana orang mencoba meyakinkan sesama atas suatu penalaran. Jadi retorika merupakan sebuah metode meyakinkan orang lain.

Dipandang dari aspek formal, retorika menghadirkan analogi dengan logika dialektis. Dialektika Aristotelian mempelajari struktur berpikir dan bernalar yang bergerak bukan pada unsur-unsur dasar secara ilmiah, melainkan pada unsur-unsur yang dibangun di atas opini, yakni diterima oleh semua atau sebagian besar orang. Dari sudut muatan, retorika bergerak dalam bidang politik dan etika, mengingat seni persuasi dilakukan di pengadilan (membela atau menuduh), pertemuan raya (menerima, menasehati, mengambil suatu keputusan), etis-politik (memuji atau mencela, menghargai atau menghukum).

 

Jenis Argumentasi Persuasif

Ditinjau dari sudut formalnya, Aristoteles membedakan argumentasi persuasif dalam argumentasi persuasif teknis dan argumentasi persuasif non teknis. Argumentasi non teknis, misalnya teks-teks hukum, kesaksian, kesepakatan, pernyataan di bawah tekanan dan siksaan, janji dan sumpah, telah ada dalam kehidupan manusia dan kita gunakan setiap saat. Sementara itu, argumentasi teknis berkaitan dengan para ahli dan dapat dibedakan dalam tiga jenis berkaitan dengan a) orator dan bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas, b) mempengaruhi keadaan hati para pendengar, sehingga mereka mudah terbujuk rayu dan c) bermaksud menekankan validitas dan kemujaraban argumen itu sendiri.

Untuk mendapatkan kredibilitas dan meyakinkan, seorang orator harus menampilkan diri sebagai orang yang memiliki tiga keahlian: kebijaksaan, kehormatan da kemurahan hati. Sarana untuk tampil demikian dibahas dalam pokok kajian tentang etika.

Berkaitan dengan mempengaruhi suasana hati pendengar, Aristoteles memberikan sebuah analisa fenomenologis yang sangat kaya dan hidup tentang emosi dan hasrat yang ditemukan dalam diri para pendengar.

Mengenai validitas dan efikasitas argumentasi, pokok bahasan ini diperdalam secara khusus dalam logia. Aristoteles beranggapan bahwa argumentasi logis demikian sangat penting dan baru.

 

Tiga Jenis Retorika

Bila dipandang dari sudut muatannya, retorika dapat dibedakan ke dalam tiga jenis. Artinya, diskursus retorik dapat dilaksanakan dalam a) pertemuan-pertemuan politik dengan maksud mengarahkan para peserta untuk mengambil suatu keputusan politik, atau b) dipraktek-kan dalam ruang pengadilan dan ditujukan kepada para hakim untuk meyakinkan mereka dan mempengaruhi mereka dalam mengambil keputusan tertentu dan c) dipraktekkan dan ditujukan kepada para pendengar dan penonton untuk merayakan suatu pesta dan peristiwa tertentu.

Dari ketiga jenis diskursus itu, dapat dibedakan ketiga jenis retorika yaitu a) retorika deliberatif, b) retorika yudisial dan c) retorika epidiktis (selebratif). Retorika deliberatif berkaitan dengan nasehat atau anjuran seputar keputusan-keputusan yang mesti diambil untuk suatu masa depan. Retorika yudisian menyangkut tindakan menuduh dan membela yang merujuk pada perbuatan di masa lalu untuk membuktikan bahwa perbuatan dan keadaan suatu perkara terjadi atau tidak terjadi melawan hukum. Retorika epidiktis  bermaksud memuji atau mengaburkan fakta atau peristiwa kekinian, sehingga pantas dikagumi dan dirayakan atau sebaliknya.

Tujuan akhir dari ketiga jenis retorika ini berciri asiologis atau nilai. Retorika deliberatif bertujuan mendapatkan nilai kegunaan. Retorika yudisial bermaksud menggapai nilai adil dan retorika epidiktis-selebratif ingin meraih nilai baik-indah.

 

 

Sumber Bahan Utama

Giovanni Reale, Storia della Filosofia Antica, I, II, Milano: Vita e Pensiero, 1997.

 

 

 

15

 


[1]Bdk. Giovanni Reale, op cit., h. 379-382.


Comments