Minggu Adven I

Paroki Maria Bunda Karmel-Tomang


ALKITAB ONLINE                 Home  About Us  Profile Wilayah IV  FX 1  FX II  FX III  Bintang Timur  Laurensius  OMK  Program Wil IV  Email

Home

About Us

Profile Wilayah IV

Lingkungan FX 1

Lingkungan FX 2

Lingkungan FX 3

Lingkungan Bintang Timur

Lingkungan Laurensius

OMK Wilayah IV

Program Wilayah IV

Jadwal Koor Wil. IV

Warta Lingkungan Wil.IV

Email

Paroki MBK

Jadwal Misa paroki MBK

Benarkah kata "Gereja Katolik" tertulis dalam Alkitab?

Catechism Of The Catholic Church

Katekismus Gereja Katolik

Code Of Canon Law

Evangelii Nuntiandi

Bull of Indiction of the Great Jubilee of the Year 2000 "Incarnationis Mysterium"

Apostolic Letter 'Tertio Millennio Adveniente' of the Holy Father John Paul II

History

Prayer for the third year of preparation 1999

Prayer for the second year of preparation 1998

Prayer for the first year of preparation 1997

Homily of Cardinal Etchegaray for the Jubilee of the Franciscan Family (April 9, 2000)

Apakah Katolik Sudah Selamat?

Memakai Nama Katolik

Kanon Katolik

Goa Maria di Indonesia


 

Mg Adven I : Yes 63:16b-17; 64:1.3b-8; 1Kor 1:3-9; Mrk 13:33-37

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang”

 

Sebagai murid/pelajar/mahasiwa baru, suami-isteri/penganten baru, imam/bruder/suster baru, pekerja atau pejabat baru dst.. pada umumnya yang bersangkutan sarat atau penuh dengan harapan-harapan, impian-impian atau cita-cita. Sebagai ‘yang baru’ mereka juga senantiasa hidup bergairah, bersemangat, dinamis, terbuka dst…dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan dan kewajiban-kewajibannya. Hari ini kita memasuki tahun baru kalendarium liturgy, masa Adven, yang diwarnai keutamaan pengharapan, harapan akan pemenuhan janji Allah, kelahiran atau kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Sebagaimana seorang ibu yang sedang mengandung serta menantikan kelahiran anak yang dikandungnya pada umumnya dijiwai keutamaan pengharapan serta bentuk-bentuk matiraga tertentu, demikian pula dalam masa Adven kita dipanggil untuk mawas diri perihal keutamaan pengharapan serta matiraga atau laku tapa yang kita butuhkan agar dapat hidup bahagia, damai sejahtera.

 

Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur”(Mrk 13:35-36)     

 

Kutiipan di atas ini kirannya mengajak dan mengingatkan kita semua agar senantiasa siap sedia dan rela sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Tidak ada seorangpun di dunia ini tahu kapan ia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, kecuali orang yang tak bermoral atau penjahat karena bunuh diri atau dihukum mati karena kejahatannya. Kita semua dipanggil untuk berjaga-jaga, yang antara lain senantiasa menghayati keutamaan pengharapan disertai keutamaan yang diperlukan dalam hidup sehari-hari, di dalam keluarga, tempat tugas/kerja maupun masyarakat pada umumnya:

·        Menghayati keutamaan pengharapan dan matiraga di dalam keluarga antara lain dengan hidup saling mengasihi antar anggota keluarga dengan teladan orangtua atau suami-isteri yang telah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Saling mengasihi berarti siap sedia untuk mengasihi dan dikasihi; rasanya yang kurang memperoleh perhatian dan penghayatan adalah ‘siap sedia dikasihi’. Kasih tidak selalu lembut tetapi dapat keras atau menyakitkan, misalnya diberitahu, ditegor, dinasihati, dikritik, diluruskan, dst… Dalam hal ‘dikasihi’ inilah kiranya orang dituntut matiraga atau rendah hati, karena dikasihi berarti dipandang atau dinilai rendah, kurang atau lemah dan pada umumnya orang tidak siap untuk diperlakukan demikian itu. Maka hendaknya ketika dikasihi tetap penuh pengharapan alias ceria dan gembira, meskipun karena dikasihi kita harus berkorban atau merasa ‘sakit’ atau ‘menderita’. Sakit atau derita anda pasti akan memperkuat atau memperteguh pengharapan anda, sehingga senantiasa rindu ‘pulang ke rumah’, berkumpul dengan segenap anggota keluarga.  .

·        Para pekerja atau pegawai sering memiliki ‘penyakit hari Senin’, maksudnya setelah menikmati liburan ‘week-end’ terasa enggan masuk kerja dan rasanya ingin liburan terus, sehingga memasuki hari pertama dalam kerja/hari Senin ada rasa enggan alias kurang bergairah atau berpengharapan. Kepada mereka yang merasa enggan atau kurang bergairah memasuki hari Senin kami ajak untuk merenungkan dan menghayati kutipan ini: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Rat 3:22-23). Kiranya tidak hanya hari Senin saja kita harus bergairah dan bersemangat, tetapi setiap pagi hari begitu bangun mengawali hari dan masuk kerja atau sekolah hendaknya tetap bergairah, penuh semangat dan pengharapan. Bukankah sedikit banyak hidup kita masa kini dan masa depan tergantung dari tempat kerja atau tempat belajar kita masing-masing? Mengawali hari dan kerja atau tugas pengutusan dengan gairah dan pengharapan akan lebih berhasil atau sukses daripada ‘ogah-ogahan’ atau tidak bergairah.

·        Masyarakat kita masa kini sarat dengan tantangan, hambatan dan godaan dalam berbagai bentuk atau cara. Aneka macam bentuk perbedaan (suku, ras., agama, jabatan/pekerjaan/tugas, pengalaman dst..) dapat menjadi sumber permusuhan atau pertikaian  Marilah kita hadapi dan sikapi aneka perbedaan yang ada di antara kita dengan gairah dan pengharapan; saling belajar dan memperkaya satu sama lain. Dengan rendah hati kita hayati sikap mental belajar terus menerus: belajar tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi atau membaca buku, mengkuti lokakarya, seminar dst.., tetapi dalam pergaulan bersama dengan siapapun kita dapat belajar. Ingat dan sadari bahwa ‘lingkungan hidup’ sangat mempengaruhi hidup, pertumbuhan dan perkembangan kita masing-masing. Kita harus saling mendengarkan dan memang mendengarkan butuh kerendahan hati dan pengorbanan.

 

“Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus “(1Kor 1:5-7)  

 

Jika kita mawas diri, mencermati dan memperhatikan diri kita masing-masing dengan baik dan memadai, kiranya masing-masing dari kita bertambah usia berarti semakin diperkaya ‘dalam segala hal, dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan’. Kita diperkaya oleh Allah melalui orangtua, kakak-adik, saudara-saudari dan kenalan serta sahabat kita dalam berbagai kesempatan, entah berupa perkataan, pengetahuan maupun keterampilan. Maka selayaknya kita senantiasa hidup penuh syukur dan terima kasih serta kita wujudkan syukur dan terima kasih dengan kegairahan hidup bersama di manapun dan kapanpun, bersyukur dan berterima kasih kepada siapapun. Ingat, sadari dan hayati bahwa aneka macam perkataan, pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan kepada kita adalah perwujudan ‘kasih’ mereka kepada kita orang lemah dan rapuh.

 

“Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”, demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Kasih karunia yang kita terima antara lain berupa ‘harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan serta kehormatan duniawi’. Karena semuanya yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini adalah ‘kasih karunia’, maka selayaknya atau seharusnya semuanya itu kita fungsikan untuk saling mengasihi, bukan untuk diri sendiri. Maka baiklah memasuki masa Adven ini kita perhatikan saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal. Di dalam Gereja Katolik, di paroki-paroki ada kebiasaan menyenggarakan ‘Aksi Natal’, suatu bentuk gerakan solidaritas dan keberpihakan pada atau bersama dengan yang miskin dan berkekurangan. Hendaknya gerakan ini tidak hanya secara liturgis atau formal belaka: marilah melalui kesempatan dan kemungkinan yang ada kita hidup dan bekerja bersama atau bersama-sama dengan mereka yang miskin dan berkekurangan agar nanti kita dapat memahami dan mengimani bahwa ‘Penyelamat Dunia’ yang kita nantikan kedatanganNya lahir dalam puncak kemiskinan, dikandang hewan dan di malam gelap gulita. Marilah kita bersama Yesaya berdoa dan menghayati doa ini:  Sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yes 64:8).

   

“Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu

 (Mzm 80:15-16.18-19)

 

Jakarta, 30 November 2008

 

Ringkasan 21 Konsili

Konsili Nicaea - 325 A.D.

Konsili Constantinople 1 - 381 A.D.

Konsili Ephesus - 431 A.D.

Konsili Chalderon - 451 A.D

Konsili Constantinople 2 - 553 A.D.

Konsili Constantinople 3 - 680-681 A.D.

Konsili Nicaea 2 - 787 A.D.

Konsili Constantinople 4 - 869-870 A.D

Konsili Lateran 1 - 1123 A.D

Konsili Lateran 2 - 1139 A.D

Konsili Lateran 3 - 1179 A.D

Konsili Lateran 4 - 1215

Konsili Lyons 1 - 1245 A.D.

Konsili Lyons  2 - 1274

Konsili Vienne 1311-1312 A.D

Konsili Constance 1414 - 18

Konsili Florence - 1431-35

Konsili Lateran 5 - 1512-17 A.D

Konsili Trent 1545-1563

Konsili Vatican I - 1869-1870

Konsili Vatican II - 1962-1965

 

Dokumen Konsili Vatican II

Dei Verbum

Lumen Gentium

Sacrosanctum Concilium

Gaudium Et Spes

Gravissimum Educationis

Nostra Aetate

Dignitatis Humanae

Ad Gentes

Presbyterorum Ordinis

Apostolicam Actuositatem

Optatam Totius

Perfectae Caritas

Christus Dominus

Unitatis Redintegratio

Orientalium Ecclesiarium

Inter Mirifica