Epistemologi Ilmu Manajemen Pendidikan Islam

diposkan pada tanggal 4 Jul 2010 00.40 oleh Haji Mubarak   [ diperbarui4 Jul 2010 10.56 ]

Epistemologi Ilmu Manajemen Pendidikan Islam

Oleh : H. Mubarak, S.Pd.I, M.Pd.I.

 

A. Pendahuluan

Dalam abad ke-20 ini tampak muncul di negara-negara yang maju, suatu cabang ilmu pengetahuan yang baru, yakni manajemen, yang bermula masih segan diakui sebagai ilmu pengetahuan. Hal seperti ini bukanlah suatu hal yang bar. Ilmu pengetahuan kemasyarakatan, yang sejak mula lahirnya dinamakan sosiologi, juga lama harus memperjuangkan kedudukannya disamping ilmu-ilmu pengetahuan yang lain yang sudah lebih lama berada. Seabad yang lalu, di masa Auguste Comte dan Herbert Spencer, ilmu sosiologi itu belum mendapat pengakuan sebagai ilmu, padahal kesarjanaan Spencer misalnya, tidak dapat diragu-ragukan: ia terkenal sebagai seorang ahli filsafat dan etika, ahli biologi dan sosiologi, dan terkenal karena belasan buku-buku tebal yang dikarangnya, tentang pengetahuannya yang luas itu. Mungkin pula disebabkan karena kebisaan Inggris (tempat lahir dan hidupnya Spencer) yang mempunyai pengertian sempit itu maka bahasa, sejarah, politik dan ekonomi, yang dinamakan “humaniora” (pengetahuan tentang manusia), tidak termasuk di dalam Science!

Demikian pula halnya dengan ilmu “manajemen” yang menjadi bahan perbincangan kita sekarang ini. Ilmu “manajemen” itu belum dianggap sebagai ilmu di masa Taylor dan Fayol mulai memajukannya, bahkan dibagian negara-negara dewasa ini, orangf masih curiga dan ragu untuk mengajarkannya disebelah ilmu filsafat yang menurut para ahli cendekia, adalah ilmu yang tertua, dan ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu alam, ilmu pasti, ilmu kedoktoran dan sebagainya.     seorang ahli.[1]

Epistemologi yang mampu mengintegrasikan cabang filsafat menelaah asal mulanya pengetahuan. Atau dapat juga dikatakan, epistemologi adalah apa yang menjadi pengetahuan, bagaimana karakter dan kebenaran pengetauan itu sndiri. Walhasil ia berada dalam tiga persolaan pokok yang menjadi pusat perhatiannya, yaitu:

  1. Apakah yang menjadi sumber-sumber pengetahuan, darti manakah pengetahuan itu datang dan bagaimanakah kita dapat mengetahuinya. Inilah yang menjadi problem asal (origins problem) dari filsafat epistemologi;
  2. Apakah karakter dari pengetahuan itu; adakah dunia yang nayata diluar akal manusia dan kalau ada dapatkah kita mengetahuinya. Inilah yang menjadi problem yang penampilan (appearance problem) terhadap ralitas;
  3. Apakah pengetahuan kita benar (valid); bagaimana kita membedakan suatu kebenaran dengan suatu kekeliruan. Inilah yang menjadi problem memcoba suatu kebenaran (verification problems) dari pengetahuan sesuatu hal.

Ilmu pengetahuan yang dipelihara-kembangkan oleh Institut Agama Islam dalam tatapan penulis sebagian berada pada epistemologi telaah klasik dan sebagian berada pada epistemologi telaah positivistik. Pendidikan Islam yang  dipelihara-kembangkan di Institut Agama Islam lebih banyak dipengaruhi telaah epistemologi yang positivistik, dan sebagian kecil dipengaruhi telaah studi Islam klasik.

B. Problem Asal

Menjawab pertanyaan pertama seyogianya menguatip pendapat Russell (1948)[2] yang mengemukakan bahwa: apa yang diketahui seseorang, dalam arti yang penting, adalah bergantung pada pengalaman pribadi sendiri, ia mengetahui apa yang ia telah lihat dan dengar; apa yang ia telah baca dan apa yang telah diberitahukan orang lain kepadanya dan juga apa yang telah dapat ia simpulkan dari data tersebut. Pernyataan Rusellini memberikan petunjuk bahwa memperoleh pengetahuan adalah dari pengalaman, di samping kemampuan akalnya dalam menarik kesimpulan atas fakta yang ia lihat, dengar dan ia pelajari. Inilah dalam filsafat disebut (1) empirisme, yaitu aliran yang mengandalkan pada pengalaman dan (2) rasionallisme atau aliran yang mengandalkan pada hasil pemikiran.

Aliran empirisme dikembangkan oleh para filosof, dan filosof yang terkemuka yang mengembangkan paham ini adalah Hume dalan Titus[3] yang memberikan pandangan yang mengatakan bahwa segala pengetahuan itu berasal dari pengalaman, walaupun mungkin ada suatu dunia diluar kesadaran manusia. Namun hal itu tak dapat dibuktikan.

Sedangkan aliran rasionalisme telah lama dikembangkan oleh para pemikiran filsafat sejak falsafah Plato tentang akal yang mengarahkan budi pekerti. Kemudian Aristoteles, dimana akal adalah kekuatan yang tertinggi dari jiwa, sampai dengan perkembangan selanjutnya oleh para pemikir tentang negara seperti Hobbes (1651 dan 1762),[4] Rouseau.[5]

Namun, kita jangan dulu sampai pada kesimpulan itu, tetapi kita pertanyakan bagaimanakah pengalaman itu dapat dipandang sebagai sumber pengetahuan atau dapat dikatakan sebagai salah satu dari teori pengetahuan. Pengalaman adalah suatu realitas yang dialami manusia. Jika realitas itu hanyaberlangsung sekali, tentunya tidak melahirkan kesan yang bersifat tetap karena itu hanya berlangsung secara kebetulan. Namun, jika realitras itu selalu ditemukan berulang-ulang, ia akan membentuk kesan yang bersifat tetap atas sesuatu realitas yang terjadi. Keberualangan itulah yang membentuk pengalaman sebagaimana lahirnya adat kebisaan, adat istiadat, yang ditaati oleh sekelompok masyarakat. Penglihatan inderawi seseorang terhadap aktivitas kelompok dapat melahirkan kepengikutan individu atau aktivitas kelompok tanpa dilakukan pengkajian akal tentang benar tidaknya. Pengetahuan common sense, yang juga menjadi sumber pengetahuan.

Ada empat common sense  yang dipandang sebagai sumber pengetahuan, yaitu:

1.      Pendapat orang awam yang condorong untuk bersifat kebiasaan dan meniru yang diwarisi dari masa silam. Ia bersandar pada adat dan tradisi, seperti upacara perkawinan yang harus dipersyarati dengan berbagai ketentuan yang tidak ada dalam ajaran agama.

2.      Pendapat orang awam yang biasanya samar-samar dan tidak jelas. Pendapat ini dapat berbeda-beda dari orang ke orang lain, dari suatu daerah ke daerah berbeda-beda dari orang ke orang lain, dari suatu daerah ke daerah lain. Pendapat ini adalah campuran fakta dengan purbasangka, dari kebijaksanaan dan kecendurungan emosi. Ia mencakup pendapat-pendapatyang terbentuk tanpa diteliti atau dikritik. Seperti fakta setiap orang-orang baik meninggal dalam usia muda.

3.      Pendapat orang awam kebanyakan merupakan keprcayaan yang belum diuji. Seperti pendapat bahwa orang yang rambutnya merah bertempramen pemarah.

4.      Pendapat orang awam jarang disertai dengan penjelasan mengapa hal itu terjadi, bagaimana terjadinya dan seterusnya. Jika ada penjelasan, sifat umum.

Keempat pendapat orang awam ini tidak serta merta harus ditolak kebenarannya oleh orang yang terjun ke dunia sains, tetapi hal ini harus dipertimbangkan dengan melakukan sistematisasi, pengujian berdasarkan bukti atas fakta-fakta sesungguhnya. Nagel (1961)[6] menegaskan bahwa yang menimbulkan sains adalah keinginan untuk menjelaskan yang bersifat sisyematis dan dapat di kontrol dengan bukti-bukti fakta; maksud yang jelas dari sains adalah untuk mengatur dan mengelompokkan atasa dasar prinsip-prinsip yang menjelaskan.

Oleh karena itu, penglaman yang dapat dijadikan sumber pengetahuan adalah jika pengalaman itu telah teruji secara faktual berdasarkan prosedur-prosedur ilmiah. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan rasionalistas (pemikiran); apakah terjamin kebenaran atas hasil kerjanya.

Pemikiran pun memiliki sejumlah kelemahan dalam pencarian kebenaran. Selain itu, ia juga memiliki sejumlah kesalahan yang harus diperhatikan. Pemikiran yang mengandung kesalahan jika pemikiran itu:

1.      Cenderung menerima bukti-bukti dan kejadian-kejadian yang menguntungkan pihak atau kelompok kita (keluarga, suku atau bangsa sendiri);

2.      Cenderung memandang diri kita sebagai pusat dunia dan menekankan pendapat kita yang terbatas;

3.      Cendurung menjadikan kita terpengaruh oleh kata-kata atau nama yang kita kenal dalam percakapan kita sehari-hari. Kita tersesatkan oleh kata-kata yang diucapkan secara emosional, seperti kata komunis, radikal, dan terorisme.

4.      Sikap yang berpegang pada partai, kepercayaan dan keyakinan. Tingkah laku, cara-cara dan aliran-alairan pikiran adalah seperti panggung dalam arti bahwa mereka membawa kita ke dunia khayal, yang akhirnya akan membawa kita ke dunia kesimpulan dasar yang salah.

Pemikiran-pemikiran demikian dapat digantikan dengan istilah yang lain, seperti purbasangka, propaganda dan otoriterianisme. Sedangkan kesalahan-kesalahan berpikirsebagai penghambat dalam pencarian kebenaran adalah kesalahan simantik, seperti penggunaan kata yang tidak tepat; kesalahan formal, seperti kesimpulan yang salah dari pikiran kita, kesalahan empiris, seperti generalisasi secara serampangan. Tentunya masih ada kesalahan lain yang dapat dikaji secara filosofis.

Nah, bagaimana sesungguhnya yang menjadi sumber pengetahuan:

Dalam pembahasan modern, sisebutkan ada empat sumber pengetahuan, yaitu:

1.      Kesaksian.

2.      Otoritas.

3.      Indra yang bersandar pada persepsi.

4.      Dalam diri sendiri yang bersandar kepada intuisi.

Titus dkk[7] menegaskan bahwa keempat sumber itu harus saling melengkapi. Bagaimanakah dengan ilmu manajemen? Dari manakah sumber-sumber pengetahuannya?

Bertolak pada teori pengetahuan di atas, maka pada saat realitas manajemen sebagai manajemen yang berlangsung sejak beratus tahun sebelum masehi telah dikenal manajemen walaupun tidak dalam penamaan manajeman keteraturan yang dikehendaki tidak lain sekadar keteraturan yang terbentuk karena pengalaman yang berulang terjadi tanpa dilakukan uji kebenarannya.

Namun setelah ilmu manajemen dipandang sebagai bagian integral dari ilmu politik, maka keteraturan yang terjadi adalah keteraturan karena dikehendaki oleh kekuasaan. Ia mulai bekerja berdasarkan prinsip-prinsip kekuasaan. Kekusaan menghendaki agar dilakukan pemisahan yang tegas antara memiliki kekuasaan (perumusan kebijakan) dengan pelaksanaan kekusaan itu sendiri. Dianologikan bahwa dikotomi atau dualisme fungsi dalam suatu masyarakat kekusaan (politik) memiliki persamaan tertentu dengan dualisme jenis kelamin manusia. Pemikiran (analogi) ini didasarkan pada fakta yang realistis. Dalam tindakan reproduksi, masing-masing jenis kelamin memainkan fungsi fidiologos yang tidak dapat diubah. Kelamin laki-laki berfungsi memberikan hormon laki-laki dan terjadi pertumbuhan, sedangkan kelamin wanita penyediakan hormon perempuan yang menyebabkan terjadinya suatu pertumbuhan. Jika fungsi ini didevitalisasikan atau dicampuradukan satu sama lain secara tidak teratur, maka akibatnya akan menjadi kesterilan atau kekacauan tatanan. Dalam pemikiran kekuasaan negara, masalahnya adalah perang atau keteraturan akan melahirkan kedamaian.

Teori dikatomi berkembang seiring dengan perkembangan filsafat individualisme yang menempatkan hak-hak asasi manusia pada posisi yang dominan. Filsafat individualisme yang dibangun atas dasar pemikiran bahwa: masyarakat dibangun dengan individu dan dengan sendirinya negara yang dikehendaki oleh masyarakat pada hakikatnya dibangun oleh individu sebagaimana dikemukakan oleh Hobbes menjadi kerangka acuan dasar dalam mengembangkan negara termasuk dalam perkembangan dua fungsi. Pengembangan teori ini pun seiring dengan munculnya falsafah liberalisme sebagai falsafah yang mengikuti pandangan individualisme. Suatu falsafat yang di bangun atas landasan hak-hak asasi manusia, di mana manusia memiliki sejumlah kebebasan yang secara kodrati terbawa sejak lahir.

Realitas kehidupan masyarakat Amerika dan juga masyarakat-masyarakat Eropa seperti Prancis yang mengembangkan paham filsafat demokrasi yang berintikan pada pengakuan hak rakyat secara individu dsalam tataran kekuasaan negara melahirkan teori dikotomi telah mengalami perkembangan dan pengaruh dari demokrasi yang tumbuh pada sat itu. Paham demokrasi yang dikembangkan oleh Partau Yacobin di Prancis yang untuk kemudian menjadi falsafaj yang mendominasi kehidupan demokrasi di dunia, termasuk di Amerika. Karenanya, teori dikatomi dalam bidang manajemen mendobrak hilangnya domikrasi pemegang kekuasaan (rakyat) terhadap pelaksana kekuasaan (manajemen) menjadi kekuasaan yang seimbang. Itulah fondasi dasar dari check and balance dalam sistem kekuasaan di Amerika (dunia-dunia liberal lainnya walaupun dalam variasi-variasi yang beragam).[8]          

Pemikiran rasionalisme ini merambah pemikiran tentang manusia dalam keteraturan yang dikembangkan bukan saja oleh manajemen, tetapi juga oleh administrasi sebagai ilmu.[9] Di mana keteraturan dalam kerja sama manusia hanya dapat diciptakan dengan menggunakan pemikiran akal manusia. Dari sanalah lahir pengertian fungsi, sistem dan prosedur. Ketiga inilah yang dipandang dapat menciptakan keterturan dalam diridengan berbagai bentuk kerja sama manusia dengan melupakan faktor manusia di mana akal itu bertengger. Di sinilah ilmu manajemen (administrasi) dibangun dengan bersumber dari pemikiran (rasionalisme), apalagi pada awal kehadirannya memang bersumber dari hal-hal yang rasional. Walaupun dikatakan ada sumber dari empiris, tetapi itu pun hasil dari analogi pemikiran.

Memang dengan akal, manusia dapat dikendalikan. Namunn tidak selalu demikian yang terjadi. Di samping akal, manusia memiliki karsa dan rasa yang juga dapat mengabaikan peranan dari akal. Realitas ini pun, mengabaikan rasionalitassebagai sumber satu-satu pengetahuan ilmu manajeman. Adanya realitas hasil penelitian Taylor atas produktivitas organisasi yang ternyata tidak disebabkan oleh fungsi, sistem dan prosedur, tetapi oleh manusia di belakang fungsi, sistem dan prosedur tersebut. Pada akhirnya berkembang ilmu manajemen dalam lokus perilaku. Hal ini pun suatu fakta empiris hasil [enelitian, sehingga ilmu manajemen pada perkembangan ini bersumber dari empirisme.

Demikian seterusnya, secara epistemologi ilmu manajemen berkembang sampai pada realiats bahwa baik realitas empiris dan pertimbangan rasional melahirkan sejumlah ilmu manajemen dalam berbagai lokusnya dan nilai yang dikejarnya. Kelahiran ilmu manajemen dalam berbagai lokus nilai yang dikejarnya ini, dipengaruhi pula oleh realitas-realitas yang mempengaruhi keteraturan yang dikembangkan oleh ilmu manajemen.

C. Problem Penampilan

Problem Penampilan adalah problem yang berkaitan dengan karakter ilmu pengetahuan yang ingin diketahui sehingga pertanyaan yang harus dijawab adalah pertanyaan yang berkaitan dengan fakta sesungguhnya. Suatu fakta belumlah tentu suatu realitas (fakta yang nyata). Namun, realitas adalah sesuatu sebuah oatung didepan cermin dapat dia katakan bahwa patung itu berada di depan adalah fakta, tetapi sesungguhnya patung itu berada di belakangnya. Hal ini adalah realitas atau fakta yang sesungguhnya.

Objek yang dikaji ilmu manajemen adalah fakta dan realitas. Objek yang dikaji adalah keteraturan dengan menggunakan sejumlah instrumen yang membenarkan kereraturan  itu sendiri. Namun, keteraturan sebagi fakta tidak selalu menjadi suatu realitas yang mengejar nilai-nilai yang menjadi energi dan motivasinya. Keteraturan dengan efisiensi yang diharapkan kadangkala melahirkan hal yang inefesien, dan itulah realitas. Pada setiap lokus yang dikembangkan oleh keteraturan, fakta dan realitas saling bermain dalam keteraturan itu sendiri, sehingga jika kita menempatkan keteraturan dalam lokus keadilan misalnya, keteraturan yang dicapai adalah keteraturan yang adil. Seperti manajemen melakukan pengaturan tentang pemerataan, pada akhirnya yang diperoleh adalah ketidakadilan, sebab bagimana mungkin kita menerapkan prinsip pemerataan di anatar realitas yang heterogen. Begitu pula, ketika menghendaki keteraturan lewat pemberdayaan, kita harus mengenyahkan nilai-nilai efisensi, nilai yang dikembangkan secara universal oleh ilmu manajeman.

Efisinensi yang mengejar nialai perbandingan terbaik antara hasil dengan pengoranan akan selalu bekerja dalam keteraturan berdasarkan kebutuhan komando dalam kerja sama manusia yangan disebut administrasi atau dalam aktualisasinya yang konkret lewat organisasi dan manajemen. Konsekuensi logis demikian itu secara faktual menghendaki polarisasi kekuasaan berasal daro kekuasaan tertinggi dalam suatu kerja sama, mulai dari bentuk kerja sama, yang sederhana sebagaimana layaknya organisasi-oraganisasi soasial yanga ada di lingkungan kita berada samapi pada bentuk kerja sama yang komplek sekalipun seperti organisasi pemerintah negara tingkat pusat dan tingkat daerah.

Pada lingkungan kerja di nama kita berkerja, sejumlah fakta yang berkaitan dengan penyelenggaraan administrasi (manajemen) tampak semuanya berada dalam kerangka keteraturan yang diciptakan melalui keharusan normatif. Namun secara jujur dapat kita mengatakan bahwa terjadi pula sejumlah realitas keteraturan yang diciptakan kehendak para menejer yang menyesuaikan tuntutan normatif. 

D. Problem Mencoba Suatu Kebenaran

Pengetahuan benar (valid), hal ini berkaitan dengan upaya verifikasi guna membenarkan nama yang benar dan mana yang salah. Terhadap upaya verifikasi guna menemukan kebenaran, dapat saja dilakukan dengan mengkritisi secara skeptisme. Namun, hasilnya belum tentu menghasilkan kebenaran yang inginkan. Penggunaan cara berpikir dengan postulat ilmiah, juga tidak selalu menghasilkan apa yang bener. Oleh karena itu, diperlukan pengujian secara empiris atas sejumlah realitas dengan menggunakan berbagai alat uji, seperti postulat ilmiah, konsistensi dan lain-lain. Pengujian yang dilakuakan itu hanya dapat berlaku jika menggunakan metode penelitian yang tepat.

Penggunaan metode penelitian manajemen pada prinsipnya sama dengan penggunaan metode penelitian dalam bidang ilmu sosial. Ia dapat melakukan pengujian atas realitas yang terjadi secra empiris yang menempatkannya dalam konteks penelitian empiris rasional, dan sebaliknya ia juga dapat melakukannya dalam konteks penilian yang disebut rasional-empiris.

Dalam konteks empiris rasional ia dapat melakukan penelitian atas gejala dan realitas yang terjadi dalam kehidupan kerja sama yang disebut organisasi dan manajemen, seperti gejala dan atau realitas terjadinya indisipliner, penyimpangan dan berbagai aspek kejadian atas kegiatan lainnya dengan pengujian atas teori yang bisa mendukung ataupun yang dapat menolak dan melahirkan teori baru. Dengan menghubug-hubungkan realitas tersebut akan dapat membentuk sejumlah variabel yang dapat berinteraksi atau berinterelasi satudengan lainnya. Rangkaian variabel inilah kemudian yang dapat membentuk kategori dan rangkaian kategori yang melahirkan sejumlah asumsi yang dapat membantu penyusunan hipotesis sebagaimana calon dari suatu teori. Jika dilakukan pembuktian atas hipotesis yang terumuskan tersebut hasilnya hasilnya adalah teori, apakah teori yang mendukung, menolak atau teori yang baru.[10]

Sedangkan dalam konteks rasional-empiris, ia dapat melakukan pengujian atas nialai-nilai yang dikehendaki oleh teori manajemen dalam praktik-praktik penyelenggraan manajemen. Ini dapat pula memberikan penilaian atas realitas manajemen yang terjadi guna perbaikan atau penyempurnaannya. Ia pun dapat dilakukan dengan penerapan teori, konsepsi-konsepsi dalam dalam realitas akan terklasifikasi sejumlah realitas sesuai kehendak teori atau konepsi-konsepsi yag dirumuslan. Hasilnya dapat dilakukan evaluasi atas kesesuaian teori atau konsep yang berlaku. Oleh karena itu, ilmu manajemen verifikasinya. Verifikasi yang digunakan adalah sama dengan verifikasi yang digunakan oleh ilmu lain, khususnya oleh ilmu politik dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Pengetahuan oleh manajemen menempatkan manajemen secara epistemologi adalah merupakan suatu ilmu, yaitu ilmu manajemen.

E. Dimensi Epistemologi Ilmu-Ilmu Agama dan Ilmu-Ilmu Umum

Upaya untuk mengabungkan pemikiran Islam dengan pemikiran Yunani mendominasi kehidupan intelektual sepanjang kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Ilmuan yang berhubungan dengan Kristen Nestoris yang bersala dari Hira (sebuah kota kecio anatara basrah, Kufah dan Mesopotamia Selatan). Kontrovensi terjadi setelah diperkenalkan karya-karya sains dan filsafat Yunani pada pertengahan abad ke delapan. Sehingga muncullah gerakan-gerakan dan kelompok yang sisebut Qasariyah. Dengan menggunakan metode rasional Yunani, ilmuwan Hira berusaha menggabungkan akal dan wahyu. Khalifah Bani Umayyah, Muawiyah II (683-684 M) dan Yazid III (744 M ) adalah pengikut aliran Qadariyah.[11]

Di tempat lain, seluruh Mesopotamia Selatan timbul pula satu aliran pikiran yang dipengaruhi oleh Kristen Nestoris di Basrah dengan menerima kemauan bebas. Mereka menyakini bahwa individu dapat mengendalian tingkah lakunya. Cara mengetahui tingkah laku yang benar dapat dilakukan dengan pendekatan spekulatif terhadap logika. Kelompok ini kemudian dikenal dengan nama Mu’tazilah. Khalifah Al Ma’mun daru Bani Abbasiyah menganut aliran ini.

Lembaga pendidikan tinggi dengan aneka ragam bentuknya muncul tidak untuk menyediakan kelanjutan bidang-bidang studi tingkat permulaan, melainkan untuk memenuhi dua kebutuhan penting dalam masyakata yaitu:

Pertama               : Menjelaskan pengertian alquran dan untuk menyesuaikan prinsip-prinsipnya bagi lingkungan yang berubah. Khusus untuk keimanan bagi pemeluk Islam yang masih baru, membutuhkan bimbingan sesuai dengan wahyu Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.

Kedua                 :  Untuk memadukan wahyu dengan pengalaman intelektual dan keilmuan.[12] 

 

Dari sinilah epistemologi ilmu manajemen Pendidikan Islam atau dikatakan sebagai teori pengetahuan yang membahas secara mendalam dan komprehensif dari segala aktivitas yang merupakan proses untuk mencapai sebuah pengetahuan. Sebagai bagian dari pengetahuan, ilmu memiliki cara-cara tersendiri untuk mendapatkannya, cara tersebut dikenal dengan metode keilmuan. maka tampak sebuah gambaran bahwa jika dilihat dari sudut pandang pengetahuan, maka ilmu bukan merupakan barang jadi yang siap dikonsumsi umat manusia, tapi lebih dari itu ilmu merupakan sebuah proses (kegiatan), karena ilmu bukanlah sebuah yang statis, tetapi merupakan kegiatan yang dinamis.[13]

Pembicaraan tentang epistemologi ilmu manajemen Pendidikan Islam akan selalu hangat dan menarik untuk diperbincangkan, karena ilmu akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Ilmu tidak akan terhenti selama manusia masih mampu berpikir untuk mencermati segala femonina-fenomina yang terjadi, baik fenomina dalam dirinya sandiri maupun di luar dirinya.

Dalam pandangan Islam posisi ilmu menempati tingkat yang sangat tinggi, karena tidaklah heran jika banyak nash baik Alquran maupun al-Sunnah yang menganjurkan kepada manusia untuk menuntut ilmu, diantaranya, firman allah dalam surat Al-Alaq, yaitu:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (QS.Al-Alaq, [96]: 1-5).

 

 

 

 

Nabi Muhammad Saw., yaitu:

طلب العلم قريضة على مسلم و مسلمة (ابن ماجه)

“Menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim, baik pria maupun wanita”.[14]

 

Bentuk serta ilmu keislaman terangkum dalam syahadah, “kesaksian” yang menjadi dasar tauhid. Oleh karena itu, hal yang terpenting dari berbagai ilmu adalah ilmu tentang Tuhan, sedangkan tentang selain Tuhan merupakan sarana untuk mencapai ilmu tentang Tuhan, karena segala sesuatu pasti akan kembali kepadanya.[15]

Dasar yang digunakan untuk membentuk kerangka manajemen pendidikan Islam adalah tidak adanya dualisme dalam pendelegasian tugas. Misalnya pelanggaran terhadap dasar kerangka manajemen tersebut akan memunculkan perpecahan dikalangan dikalangan karyawan atau pegawai akibat perbedaan pendapat sehingga haluan instruksi pun berbeda:

Dalam Al-Quran dinyatakan:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ(29)

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(az-Zumar, 29).

 

Jawabannya sangat jelas bahwa keduanya tidaklah sama. Seseorang budak yang tunduk kepada seseorang  akan menerima perintah hanya dari satu arah. Sementara seorang budak yang dimiliki oleh beberapa orang yang berselisih tidak dapat memiliki pendirian yang teguh dalam melaksankan perintah.

Karena ada lebih dari satu yang memberi instruksi, seorang karyawan akan bingung, apalagi jika atasan yag memberikan instruksi tersebut ada dalam kondisi yang sedang berselisih. Yang pertama memerintahkan untuk pergi ke utara, yang kedua memerintahkan untuk ke kanan, dan yang alain memerintahkan unuk berhenti saja, tidak ke barat, tidak ke kanan.[16]

Perumpamaan seperi di atas menyerupai ideologi tauhid ketika manusia lebih baik menerima perintah dan langsung hanya dari Tuhan Yang Satu (baca: satu Tuhan) daripada menerima dari banyak Tuhan. Firman Allah.

“Kalau seandainya di langit dan bumi ada banyak Tuhan, maka keduanya akan binasa”

demikian pula dalam prinsip manajemen ilmu pendidikan Islam- Allah memberikan perumpamaan yang sempurna. Seorang bawahan atau karyawan tidak akan mamapu menerima instruksi dari pemimpin yang berbeda-beda atau lebih dari satu.

Eksistensi kebenaran pada manajemen ilmu pendidikan Islam yaitu eksistensi sensual, logik, etik, dan transedent yang paralel dengan ‘ayah, isyarah, hudan, dan rahmah. Filsafat yang secara eksplisit mengakui yang transedent adalah phenomenologi dan reaslisme metaphisik. Filsafat yang secara implisit mengakomodasikan yang etik dan transedent adalah rasionalisme.[17]

Dilihat dari postulasi aksiologiknya manajemen ilmu pendidikan Islam itu ilmu normatif, sehingga perlu dan harus diorientasikan kepada nilai atau “values” baik yang insaniyah (berkembang bersama budaya manusia) dan yang Ilahiyah (diwahyukan). Filsafat yang diketengahkan pada postulasi ontologik. Dan untuk nash, model logika refleksi probabilistik dengan terapan tematik atau maudhu’i lebih tepat digunakan.

F. Penutup

Penulis minta maaf bila telaah penulis sangat teoritik, malahan sangat filosofis. Karena memang itulah yang diminta. Tellah ulang dan cerna lebih cermat memang akan diperlukan, untuk ditampilkan pada taraf telaah substansial ilmu manajemen pendidikan Islam, baik yang teoritik maupun yang terapan. Penulis berharap bahwa paradigma penulis dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para mahasiswa pasca.

Karena tanpa ilmu manajemen, kinerja seseorang akan buruk. Di lain sisi ilmu manajemen yang berkembang saat ini hanya bersumber dari pengalaman dan kreativitas manusia. Sementara Allah merupakan Al-Khaliq, pencipta manusia dan Alam Semesta, Yang Maha Mengetahui keharmonisan tatanan kehidupan ini. Manusia memanajemeni aktivitasnya menjadi lebih bermanfaat. Al-Quran memberikan panduan manajemen yang sempurna. Dan inilah manfaat dari epistemologi ilmu manajemen pendidikan Islam.

 

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, Jakarta: Rajawali Press, 2004.

 

Ali Muhammad Taufik, Praktik Manajemen Berbasis Al-Quran, Jakarta: Gema Insani, 2004.

 

Bertrand Russell, Human Knowledge: Its Scope and Limits, New York: Simon and Schuster, 1948.

 

Charles Michael Stanton, Higher Learning of Islam: The Classical Periode A.P. 700-1300, Meryland: remand and Littlefield Publisher, 1990.

 

David Hume, Theatise of Human Nature, Philosophical Essay Concerning Human Understanding and Inquiri Concerning the principle of Morale, dalam Titus, Living Issues in Philosophy, New York, 1979.

 

Ernest Nagel, The Structure of Science, New York: Harcourt, Brace and World, 1961.

 

Frederick Winslow Yaylor, The Principles of Scintific Management, Harper & Brothert Publishers, 1919.

 

H. Noeng Muhadjir, Epistemologi Pendidikan Islam Pendekatan Teoritik-Filosofik, Majalah ilmiah Khazanah, Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, 1994. 

 

H. B. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Kota Kembang, 1993.

 

H. M. Faried Ali, Filsafat Administrasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

 

Harold H. Titus, Marilyn S. Smith dan Richard T. Nolan, Living Issues in Philosophy, (1979), terjemahan H.M.Rasjidi, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

 

Henri Fayol, Industril and General Administrative Process, NJ. Chathan, 1991.  

 

J.Panglaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1991.

 

Jean Jacques Rousseau, Discourse on the Sxiences and the Erts dan The Social Contract dalam Titus, Living Issues in Philosophy, New York, 1979.  

 

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Yayasan Obor  Indonesia, 1999.

Thomas Hobbes, Leviathan (1651) dalam The Social Contract (1972) dalam Titus,Living issues in Philosophy, terj. Prof.Dr.Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

 

Smith, The Spirit of American Philosophy, American, t.tp.1963.

 

--------------, Purpose and Thought, The Meaning of Pragmatisme, American, t.tp.1978. 

 

William C.Chittick, The Suf Path of Knowlwdge, Hermeunetika al-Quran Ibnu Al-Arabi, Terj Ahmad Nidzam et.al , Yogyakarta: Qalam, 2001.

 

 



[1] J.Panglaykim dan Hazil Tanzil, Manajemen Suatu Pengantar,Ghalia Indonesia, Jakarta: 1991, cet-ke-15, h. 15.

[2] Bertrand Russell, Human Knowledge: Its Scope and Limits, New York: Simon and Schuster, 1948.

[3] David Hume, Theatise of Human Nature, Philosophical Essay Concerning Human Understanding and Inquiri Concerning the principle of Morale, dalam Titus, Living Issues in Philosophy, New York, 1979.

[4] Thomas Hobbes, Leviathan (1651) untuk kemudian dipertegas adanya kekuasaan tertinggi yaitu negara dalam The Social Contract (1972) dalam Titus, ibid.

[5] Jean Jacques Rousseau, Discourse on the Sxiences and the Erts dan The Social Contract dalam Titus, ibid.  

[6] Ernest Nagel, The Structure of Science, New York: Harcourt, Brace and World, 1961.

[7] Harold H. Titus, Marilyn S. Smith dan Richard T. Nolan, Living Issues in Philosophy, (1979), terjemahan H.M.Rasjidi, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

[8] Untuk pendalaman pemahaman hal itu dapat ditelusuri Smith dalam bukunya masing-masing: The Spirit of American Philosophy, 1963, Purpose and Thought, The Meaning of Pragmatisme, 1978. 

[9] Frederick Winslow Yaylor, The Principles of Scintific Management, Harper & Brothert Publishers, 1919. juga lihat Henri Fayol, Industril and General Administrative Process, NJ. Chathan, 1991.  

[10] H.M. Faried Ali, Filsafat Administrasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004, h. 46.

[11] Charles Michael Stanton, Higher Learning of Islam: The Classical Periode A.P. 700-1300, Meryland: remand and Littlefield Publisher, 1990, h. 92-93.

[12] Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periodr Klasik dan Pertengahan, Jakarta: Rajawali Press, 2004, h. 166.

[13] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: Yayasan Obor  Indonesia, 1999, cet. Ke-14 h. 5-6.

[14] H.B. Hamdani Ali, Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Kota Kembang, 1993, cet. Ke-3, h. 173.

[15] William C.Chittick, TheSuf Path of Knowlwdge, Hermeunetika al-Quran Ibnu Al-Arabi, Terj Ahmad Nidzam et.al , Yogyakarta: Qalam, 2001, cet. Ke-1, h. 37-38.

[16] Ali Muhammad Taufik, Praktik Manajemen Berbasis Al-Quran, Jakarta: Gema Insani, 2004, h. 65.

[17] Noeng Muhadjir, Epistemologi Pendidikan Islam Pendekatan Teoritik-Filosofik, Majalah ilmiah Khazanah, Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, 1994, No 44, h. 6. 

Comments

Profil Saya

Kirim Pertanyaan