Karya Tulis‎ > ‎

Karya Mahasiswa


Makna Sebuah Kata “Progresif”

diposkan pada tanggal 3 Agt 2010 00.38 oleh baak unikarta   [ diperbarui16 Okt 2010 14.23 ]

Makna Sebuah Kata “Progresif”

Ditulis Oleh: Pengurus BEM Unikarta Kabinet Progresif 2010 – 2011

Progresif berarti keinginan untuk maju. Dengan demikian, Mahasiswa yang progresif berarti Mahasiswa yang memiliki kenginan kuat (determinasi) untuk selalu bergerak ke depan di berbagai lini kehidupan dan kesediaan untuk selalu mereformasi diri khususnya di bidang wawasan keilmuan (QS Al Mujadalah 58:11) dan perilaku (QS At Tin 95 :4-6) ke arah yang lebih baik dari sudut pandang agama maupun sosial kemasyarakatan.

Menjadi pribadi yang progresif merupakan perintah agama dan karena itu tidak ada alasan bagi seorang Mahasiswa untuk tidak menjadi progresif. Setidaknya ada beberapa kriteria seorang Mahasiswa dapat dianggap progresif:

Pertama, haus akan ilmu. Ilmu merupakan cinta pertama Peserta didik (Mahasiswa). Dan karena itu mencari ilmu tidak dianggap keharusan, tapi sudah menjadi kebutuhan. Ilmu ibarat air yang tanpanya tiada makhluk yang dapat bertahan hidup. Mahasiswa progresif menjadikan pencarian ilmu sebagai urat nadi kehidupannya. Salah satu ciri khas Mahasiswa yang haus ilmu adalah rajin membaca dan Berdiskusi.

Tentu saja yang dimaksud ilmu bukan hanya ilmu agama (QS At Taubah 9:122)dalam pengertian sempit seperti Quran, Hadits, Fiqh, Nahwu Sharaf dan semacamnya. Lebih dari itu, semua ilmu yang dapat memiliki manfaat bagi kemaslahatan diri sendiri dan umat manusia akan di”minum”-nya (QS Ali Imran 3:190).

Kedua, wawasan luas dan terbuka (open minded). Karena selalu haus ilmu, maka secara natural Mahasiswa progresif akan luas wawasannya. Dan luas wawasan identik dengan cara berfikir terbuka dan tidak sempit. Terutama dalam menyikapi perbedaan (QS Al Maidah 5:48), khususnya perbedaan pendapat antar-golongan dalam umat Islam dengan cara, antara lain, berusaha memakai standar paling ketat untuk diri sendiri, dan menggunakan standar penilaian paling longgar untuk orang atau golongan lain.

Ketiga, perilaku yang reformatif. Banyak ilmu sangatlah pincang tanpa reformasi perilaku. Mahasiswa progresif selalu memperbaiki perilakunya. Mahasiswa yang banyak ilmu akan menjadi ilmuwan. Mahasiswa yang mereformasi perilakunya akan menjadi pemimpin. Dan Mahasiswa progresif adalah seorang ilmuwan sekaligus pemimpin yang baik ilmu maupun tindak tanduknya akan menjadi rujukan banyak orang di sekitarnya.

Reformasi perilaku adalah jihad besar seperti disebut dalam sebuah Hadits Nabi saat kembali dari kemenangan besar di perang Badar, “Kita baru pulang dari jihad kecil (perang Badar), menuju jihad besar yaitu (memerangi) nafsu.”

Perang untuk melawan musuh dianggap jihad kecil oleh Rasulullah karena ia merupakan pertarungan fisik yang kasat mata dan melawan pihak lain. Sedangkan mereformasi diri merupakan “perang” yang tidak kasat mata. Lebih sulit lagi, karena yang diperangi untuk direformasi adalah karakter diri sendiri. Manusia lebih mudah melihat kejelekan karakter orang lain dibanding kekurangan diri sendiri.

Oleh karena itu mereformasi karakter memiliki dua tingkat kesulitan. Pertama, untuk mengidentifikasi apa saja kekurangan yang terdapat dalam perilaku kita dan, kedua, menanamkan kemauan yang kuat (determinasi) untuk merubahnya serta kedisiplinan untuk konsisten dengan perubahan diri yang kita lakukan. Etika agama, etika sosial dan etika universal hendaknya menjadi standar dalam proses mengevaluasi kekurangan diri ini.

Mahasiswa progresif yang memiliki ketiga kriteria di atas akan menjadi sosok ilmuwan, ulama (orang alim) dan sekaligus pemimpin yang akan menjadi panutan siapapun yang memiliki kejujuran dan hati nurani.

TELAAH DAN TUNTUTAN MAHASISWA

diposkan pada tanggal 3 Agt 2010 00.35 oleh baak unikarta   [ diperbarui16 Okt 2010 14.24 ]

TELAAH DAN TUNTUTAN MAHASISWA

ATAS KONDISI DAN PERMASALAHAN YANG TERJADI

DI KAMPUS UNIVERSITAS KUTAI KARTANEGARA

Oleh :

Ramadhan

Presiden BEM Unikarta 2010 – 2011



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hidup Mahasiswa !!!

Sebagai Bentuk Perhatian dan Kepedulian kami Selaku Mahasiswa atas kondisi yang kami rasakan dan temukan di Unikarta, Maka dalam Beberapa Lembar Kertas ini kami Tuangkan Kritikan dan saran atas berbagai persoalan dari segala aspek yang kami temukan di Unikarta. Semoga dapat dijadikan cerminan bagi kita semua, dan menjadi dasar perubahan bagi kampus Unikarta pada masa yang akan datang.

Kondisi Unikarta Hari ini;

I. Yayasan

Kampus Unikarta yang didirikan Oleh Yayasan Pendidikan Kutai Kartanegara (YPK) telah Berubah menjadi Yayasan Kutai Kartanegara (YK) hingga Tulisan ini di buat, Unikarta Telah Genap Berusia Dupa Puluh Enam Tahun (26). Unikarta yang telah memasuki usia Kedewasaannya ternyata masih memiliki banyak “Kerikil-Kerikil Tajam” dalam perjalananya menuju Keunggulan dan Kemandirian. YKK sebagai Pendiri sekaligus Sentra Pertanggung jawaban atas Penyelenggaraan akademik di Kampus Unikarta, tentunya sangat memahami kondisi yang sedang dihadapai oleh Unikarta, sehingga diharapkan mampu menghadirkan solusi-solusi yang tepat untuk perbaikan civitas akademika unikarta.

Namun yang terjadi sekarang ini, Yayasan Sepertinya diposisikan dan Memposisikan diri, hanya sekedar “Pemantau”, Bukan sebagai Pengawas Terhadap Penyelenggaraan Unikarta Dalam Persoalan Akademik, Kepegawaian, Hingga Keuangan. Ada Beberapa Permasalahan yang Harus segera diselesaikan Oleh yayasan Kutai Kartanegara yaitu :

  1. Kejelasan Sistem Pengangkatan dan Perekrutan tenaga Pegawai/Pengajar di Lingkup Universitas (Rektorat Hingga Fakultas)
  2. Penanganan SK Terhadap Pegawai/Pengajar yang Bekerja di Unikarta.
  3. Transparansi Pengelolaan Keuangan Unikarta Yang dilaporkan Oleh BAUK dan Unikarta.
  4. Upaya Pengembangan dan Perkembangan Unikarta, Serta Kejelasan Status Unikarta.
  5. Sikap dan Langkah Yayasan terhadap Pembangunan Kampus Unikarta di Kec. Tenggarong Seberang, yang Tidak Sesuai dengan Jadwal Pembangunan Semestinya.
  6. Kondisi Rektorat Unikarta

Persoalan yang diuraikan diatas hanya merupakan gambaran kecil dari berbagai permasalahan yang ada di Kampus Unikarta, Sehingga Sangat Membutuhkan perhatian yang serius dari Yayasan Kuta Kartanegara (YKK).

II.     Rektor Unikarta.

Posisi Tertinggi dalam Struktur Kepemimpinan Unikarta adalah Rektor, yang harusnya mampu menjalankan Control terhadap kinerja dan Capaian Kerja di Unikarta. Kebijakan Rektor sebagai Pimpinan Universitas terlihat belum mampu menstabilkan kondisi penyelenggaraan Unikarta, sehingga cenderung menimbulkan reaksi “Nafsi-Nafsi” antara jajaran Fakultas dengan Rektorat dalam hal pengelolaan Unikarta.

Dalam Kondisi Rektor Unikarta yang sedang Berhalangan, jajaran Pembantu Rektor dan Seluruh Civitas Akademika Unikarta tetap harus di stabilkan, baik melalui pelimpahan kewenangan yang telah diatur dalam statuta unikarta, maupun Melalui Pemilihan Rektor.

Dalam Kondisi seperti ini, Pembantu Rektor I, sebagai Pelaksana Harian dari Rektor harus mampu memposisikan diri sebagai pengambil kebijakan atas seluruh aktifitas di Unikarta, sehingga kegiatan akademik tetap terkontrol dan terlaksana sebagaimana mestinya.

III.    Pembantu Rektor I

Dalam menjalankan perannya sebagai penanggungjawab atas terlaksananya kegiatan akademik di Unikarta, diharapkan dapat terfokus pada urusan akademik yang bersifat Prioritas, Bukan hanya Mendesak. Kondisi Beberapa Fakultas yang Belum Terakreditasi harus menjadi perhatian serius Bagi PR I, Sebab Akreditasi Merupakan hak bagi Mahasiswa.

Urusan lain berupa, Jadwal Akademik, Pengembangan dan Izin Operasional Program Study, juga merupakan urusan yang wajib, sebab kondisi yang terjadi dibeberapa fakultas dilingkungan unikarta, lamban dalam pengurusan izin akreditasi. Hal ini berimbas pada hilangnya kesempatan bagi mahasiswa yang berada di Fakultas yang tidak terakreditasi dan tidak memperpanjang izin operasional program study untuk memperoleh hak nya, berupa bantuan stimulant dan bantuan modal usaha, sebab di syaratkan harus berasal dari fakultas yang memiliki izin operasional.

Kita brharap, hal ini menjadi prioritas dalam Urusan Pembantu Rektor I, termasuk pada fakultas yang bersangkutan. Agar mahasiswa tidak hanya sekedar membayar biaya kuliah, namun juga mendapatkan apa yang telah menjadi hak mahasiswa.

IV.    Pembantu Rektor II

Sebagai Stakeholder yang bertanggung jawab dalam urusan Administrasi Umum dan Keuangan, diharapkan memiliki kepekaan dan keterbukaan atas kondisi Keuangan, dan Administrasi yang ada di Unikarta.

Kejelasan dalam hal Pengelolaan Administrasi dan Keuangan antara Tingkat Fakultas dan Rektorat masih belum ter tata dengan baik. Pihak fakultas belum melakukan transparansi pengelolaan keuangan pada universitas, begitupun pihak Universitas yang masih tertutup dan terkesan mempersulit urusan Administrasi dan Keuangan pada tingkat Fakultas. Kondisi ini menyebabkan banyaknya Sumber-Sumber dan Pengelolaan Pendanaan di Universitas tidak Transparan dan Akuntabel, Sebab masing-masing pihak merasa “terbatasi” terhadap informasi penngelolaan keuangan. Keberadaan Kelas Khusus yang berada pada tingkat Fakultas, belum diatur secara baku bagaimana sistem pengelolaan dana dan Kontribusinya terhadap Unikarta.

Pengelolaan dan Perawatan Asset Unikarta tidak terlaksana dengan baik. Dari aset yang kecil hingga asset yang besar, dari Pengelolaan kampus Unikarta Gunung Kombeng, Hingga Kejelasan Tentang Pembangunan Kampus Unikarta di Tenggarong Seberang yang harusnya didorong oleh pihak Rektorat, Terutama Pembantu Rektor II, karena sudah Menjadi Tanggung jawabnya sebagai Pembantu Rektor.

Disamping itu, Fasilitas Penunjang Perkuliahan yang ada di Unikarta masih berada di Bawah Standard Sebuah Perguruan Tinggi, sementara hal tersebut adalah penunjang kesuksesan sebuah pendidikan.

Fasilitas Umum lain, Berupa Mushola, Toilet/WC, Laboraturium, dan jalan dalam Kampus, sepertinya tidak menjadi perhatian Seorang Pembantu Rektor II dan Jajarannya, Sebab dari beberapa tahun Silam, Mahasiswa berwudhu menggunakan Air Hujan, Jumlah WC yang sangat terbatas, Halaman Kampus yang rusak, sementara setiap mahasiswa diwajibkan membayar Uang Pembangunan/Uang Gedung. Lantas digunakan Untuk apa?

Persoalan keuangan memang sangat Vital dalam sebuah Lembaga, sehingga pengelolaannya pun harus penuh Kejujuran dan Kehati-hati an, Hingga sekarang ini, Unikarta belum memiliki RAPBU (Rencana Pendapatan dan Belanja Unikarta), sebab Sumber-Sumber Pendanaan Belum terdeteksi dengan seksama, serta Pengalokasian Anggaran pun, Belum tertata dengan baik.

Kita Berharap kedepan, Pembantu Rektor II dalam mengambil kebijakan tentang pengelolaan anggaran bisa Lebih Profesioanal dan Proporsional, Kejelasan tentang Dana Abadi Unikarta harus diketahui Oleh Struktur Universitas Kutai Kartanegara, agar tidak hanya menjadi simpanan, namun jelas proyeksinya untuk apa, bukan untuk siapa.

Persoalan lain, adalah seringnya terjadi keterlambatan penggajihan karyawan, dan Tenaga Pengajar di Unikarta. Jika saja RAPBU Unikarta dikelola dengan baik, maka semua bentuk Pendapatan dan Pengeluaran dapat diprediksi, dan tidak terjadi kesalahan Penggunaan Anggaran, termasuk keterlambatan dalam Penggajihan Karyawan.

Kita Mengharapkan Pengelolaan Keuangan di Unikarta bisa Mengedepankan Transparansi, dan Akuntabilitas.

V.     Pembantu Rektor III

Sebagai Pembantu Rektor Dalam Menjalankan Tugas Pada Bidang Kemahasiswaan, PR III dihadapkan dengan komplitnya persoalan kemahasiswaan yang ada di Unikarta, Baik Personal Mahasiswa maupun Lembaga/Organisasi Kemahasiswaan internal Unikarta. Aktifitas Organisasi kemahasiswaan di Unikarta tidak boleh luput dari Pembinaan PR III. Hingga sekarang ini, Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan masih dihadapkan dengan Persoalan Klasik Berupa Toleransi dan Partisipasi dari Pihak perguruan tinggi terhadap Kegiatan Mahasiswa yang menunjukkan kurangnya perhatian terhadap mahasiswa. Aktifitas Mahasiswa masih terkesan dipandang sebelah mata oleh pihak Perguruan Tinggi. Bagaimana tidak, Mahasiswa yang segala aktifitasnya bersentuhan langsung dengan upaya kebesaran Nama Unikarta tidak pernah mendapatkan Penghargaan yang “Ikhlas” dari Civitas Akademik. Mahasiswa tidak hanya sekedar Membutuhkan bantuan Dana, Namun Dukungan Moril dan Bimbingan, serta perhatian dari Jajaran Universitas sehingga dapat terbangun komunikasi yang aktif antara mahasiswa dengan Pihak Perguruan Tinggi.

Dalam hal ini, PR III diharapkan Menjadi Jalur Koordinasi antara Mahasiswa dengan Jajaran Rektorat, maupun Fakultas.

Mekanisme pengelolaan Organisasi Kemahasiswaan di Unikarta Hingga sekarang ini belum mendapatkan Landasan yang Baku, sehingga Mahasiswa Cenderung Menjalankan Organisasi sesuai dengan Kondisi dan Keinginan Mahasiswa Sendiri, Baik dari segi Eksistensi Organisasi maupun Aktifitas Organisasi. Kita Mengharapkan Ketegasan dari Pihak Yang Berkewenangan, Yaitu Pembantu Rektor III dan Bagian Kemahasiswaan terhadap kondisi ini, sehingga Segala Aktifitas dan Organisasi Mahasiswa dapat tertata dengan baik dengan adanya Landasan yang jelas.

VI.    Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK)

Merupakan Struktur Organisasi yang terdapat di unikarta dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan Kegiatan Administratif dan Keuangan dibawah Koordinasi Pembantu Rektor II dan Pembantu Rektor Lainnya. Dalam Menjalankan tugas harusnya mampu Menjalankan sebuah Pedoman berupa Standard Operasional Prosedur yang tertuang dalam Peraturan Rektor Unikarta. Namun melihat kondisi pengelolaan administrasi Umum dan keuangan yang terdapat diunikarta, masih menunjukkan banyaknya ketimpangan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Berupa Transparansi atas pengelolaan Dana unikarta yang berasal dari fakultas dan struktur unikarta lainnya. Wujud Sebuah Rencana Pendapatan dan Belanja Unikarta (RAPBU) tidak pernah dirasakan dan dilihat oleh civitas akademika unikarta, terutama mahasiswa. Keberadaan dan Fungsi dari Dana Unikarta yang di “Endapkan” dalam Dana Abadi tidak memiliki kejelasan arah penggunaan dana tersebut. Apakah akan disimpan untuk pengelolaan unikarta ataukah menunggu runtuhnya unikarta sehingga dapat digunakan.

Transparansi terhadap pengelolaan Dana Kemahasiswaan yang berasal dari Dana Her Registrasi Selama bertahun-tahun tidak pernah disampaikan Kepada Mahasiswa, Apakah dana tersebut terserap sepenuhnya atau tidak.? Pengalihan dana Kemahasiswaan ke dalam kas Dana Abadi, merupakan perampasan hak mahasiswa terhadap penggunaan dana. Sehingga kegiatan-kegiatan mahasiswa yang Notabenenya adalah untuk kepentingan dan kebesaran Unikarta Hanya dipandang sebelah mata oleh Pihak Pengelola Anggaran, padahal Mahasiswa Memiliki Save Anggaran yang mencapai 50 juta pada tiap masa registrasi (Tiap Semester), namun karena harus melalui banyak pemotongan sehingga Dana tersebut tidak sepenuhnya digunakan oleh Mahasiswa. Melainkan 20% nya kembali lagi kedalam Kas Dana Abadi Kemahasiswaan Unikarta, namun tidak jelas peruntukannya.

Kegiatan Kegiatan Besar Unikarta Berupa Pelaksanaan KKN, OSPEK/PK2, Dies Natalis yang merupakan Agenda tahunan Unikarta, ternyata tidak sepenuhnya mendapatkan Perhatian Khusus. Terbukti dengan tidak Teranggarkannya keperluan Anggaran untuk kegiatan tersebut, kedalam RKA tahunan yang disusun oleh Civitas Akademika di Unikarta. Persoalan pendanaan Dalam Pelaksanaan Kegiatan Akademik yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN), terlalu banyak dicampuri Oleh BAUK, sementara kepanitiaan sendiri setiap tahunnya terbentuk. Namun penggunaan dana sekecil apapun, harus melalui Bendahara Unikarta sehingga menunjukkan Jalur administrasi Keuangan yang berbelit-belit. Jika kondisi tetap seperti itu, maka Kepanitiaan KKN Sebaiknya ditangani Langsung Oleh pihak BAUK.

Kegiatan OSPEK dan DIES NATALIS telah terbukti bukan merupakan sesuatu agenda yang penting, sehingga tidak mendapatkan porsi khusus pada Anggaran Tahunan yang disusun Oleh Unikarta. Terbukti dengan Pelaksanaan Kegiatan tersebut, yang jika tidak didorong oleh Mahasiswa, Maka Moment tersebut secara pasti akan terlewatkan.

Pembayaran gaji Kepada tenaga Pengajar yang masih sering terlambat, dapat berimbas pada kegiatan perkuliahan. Sebab Para dosen dan staf fakultas merasa belum mendapatkan haknya, sehingga terkadang sebagian tenaga pengajar asal-asalan dalam melaksanakan tugas perkuliahan.

VII.  A. Biro Administrasi dan Akademik Kemahasiswaan. (BAAK)

Struktur yang berperan dan berfungsi dalam penyelenggaraan kegiatan Administrasi dan Akademik Mahasiswa merupakan Sektor yang sangat vital terhadap penyelenggaraan akademik di Unikarta. BAAK tercatat dimata mahasiswa sebagai bagian yang rumit ketika akan berhadapan langsung dengan Mahasiswa. Betapa tidak., Mahasiswa terlalu sering direpotkan oleh persoalan yang tidak Substansi (Penting) ketika akan mengurusi kegiatan Akademiknya. Belum lagi ketika harus berhadapan dengan Karyawan/Staf yang berkata-kata kasar, dan tidak segan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya kepada Mahasiswa, hanya Karena tidak memiliki kelengkapan berkas yang dibutuhkan. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan oleh Lamban dan kurangnya informasi yang disampaikan pada mahasiswa, karena hanya sekedar dipasang pada dinding BAAK sendiri, sementara Mahasiswa beraktifitas pada Ruang kuliah dan Fakultas yang juga memiliki Media Informasi. Urusan Registrasi yang mengalami perubahan dari tahun kemarin, bahkan belum sempat disampaikan kepada pihak fakultas, sehingga tidak terjadi mis communication antara pihak BAAK dengan pihak Fakultas.

Mahalnya Biaya Her Registrasi Serta Harga Sebuah Kartu Mahasiswa, Menjadikan Kami Bertanya-Tanya, Peruntukan dari biaya Her Registrasi akan terarah Kemana ? dan Apakah Kartu Mahasiswa yang hanya “seperti itu” harus dihargai Rp.10.000? Sementara jika dikaitkan dengan Hak Mahasiswa untuk Bantuan Organisasi Kemahasiswaan Sebesar Rp.10.000 dari dana Her Registrasi, BAAK merupakan salah Satu Struktur Unikarta  yang mendapatkan Pembagian Dana Setelah BAUK. Karena Dari Dana ± 150 Juta, yang Kemudian di bagi Menjadi 3, untuk Mahasiswa BAAK, dan BAUK.

Kepala Biro yang samasekali Tidak pernah bersentuhan dengan urusan kegiatan Organisasi Mahasiswa, Padahal sangat jelas terpampang Tugas dan Fungsinya untuk Wilayah Kemahasiswaan.

Kondisi ini semakin menunjukkan pada mahasiswa bahwa terjadi Batasan-batasan antara Pimpinan dengan Bawahan yang tidak memiliki keharmonisan kerja.

Lembaran Kwitansi Pembayaran yang diserahkan mahasiswa dalam beberapa lembar, seakan tidak memiliki fungsi yang jelas. Ketika terjadi kehilangan Kwitansi Asli pada mahasiswa, ternyata salinan yang telah diberikan ke Bank, dan BAAK tidak dapat menjadi bukti riil bahwa mahasiswa telah melakukan pembayaran. Jika seperti ini, sebaiknya Kwitansi Pembayaran dijadikan 1 lembar saja.

Kedisiplinan Karyawan pada BAAK masih disayangkan, sebab terkadang mahasiswa ingin melakukan pembayaran pada jam kerja, namun harus rela Menunggu ber jam-jam hingga kantor dibuka.

Muncul kecurigaan dari mahasiswa tentang kegiatan-kegiatan pengadaan Barang yang ada di BAAK, sebab yang mengadakan barang tidak lain adalah karyawan dari BAAK sendiri, sehingga terjadi kekhawatiran banyak Mark-Up terhadap pengadaan barang, Contoh kasus KTM, sesuatu yang tidak rasional ketika harus dihargai sebesar Rp. 10.000,-  dengan kualitas yang sangat sederhana.

B. BAAK (Bagian Kemahasiswaan)

Sebagai Bagian di Bawah Biro Administrasi dan Akademik Kemahasiswaan, Bag. Kemahasiswaan memiliki peran dan tanggung jawab terhadap penyelenggaraan Seluruh Aktivitas dan Organisasi Kemahasiswaan Internal Unikarta. Dalam sepak terjangnya, terkesan menjalankan kewajiban sesuai dengan kondisi yang ada di Unikarta, sehingga Aktifitas kemahasiswaan masih sangat lamban jika dibandingkan dengan Perguruan tinggi lainnya.

Organisasi kemahasiswaan (Ormawa) Internal Unikarta belum memiliki landasan fungsional yang jelas dari Universitas, sehingga tidak dapat disalahkan ketika mahasiswa menjalankan Organisasi “Ala Kadarnya” saja. Peraturan dari Dikti tentang Organisasi Kemahasiswaan belum didapatkan Oleh seluruh Organisasi yang ada di Unikarta.

Keaktifan Organisasi Mahasiswa Baik Berupa Organisasi Eksekutif, Legislatif, Maupun Pengembangan Bakat dan Penalaran, harus Menjadi salah satu Perhatian Utama Oleh Bagian Kemahasiswaan BAAK, sebab masih banyak Organisasi yang sudah tidak aktif lagi, namun masih menempati secretariat yang ada. Sementara organisasi aktif yang tidak memiliki secretariat, harus rela mengantri dan mencari secretariat di Luar kampus.

Seringnya Muncul Keterlambatan dalam penanganan Persoalan Adminstrasi dan Kegiatan Ormawa Unikarta disebut diakibatkan oleh kurangnya fasilitas penunjang yang dimiliki Oleh Bagian Kemahasiswaan. Padahal Sangat Jelas Bahwa Bagian Kemahasiswaan adalah Struktur dibawah BAAK yang tentunya memiliki hak Terhadap Anggaran Unikarta. Sehingga Tidak ada alasan Bagian Kemahasiswaan Tidak Mendapatkan Anggaran Operasional dan Kesekretariatan yang berasal dari Keuangan Unikarta.

Persoalan Pada kegiatan Administratif Bantuan Stimulan Mahasiswa Juga sering terlambat, Lagi-lagi beralasan Bahwa Bagian Kemahasiswaan kesulitan Untuk Mendapatkan Biaya Operasional dari BAAK maupun dari BAUK, jika benar kondisi ini terjadi, Maka Orientasi Penyelenggaraan Unikarta Dengan segera harus dirombak, Sebab tidak Memahami dan Menjalankan Fungsi Struktural dari sebuah Kelembagaan, sehingga tidak lagi Muncul alasan “Tidak ada Dana Operasional” Bagi Kelembagaan yang berada dibawah.

Urusan Bantuan Organisasi Kemahasiswan yang berbelit-belit harus mendapatkan solusi yang tepat dari Bagian Kemahasiswaan sebagai Fungsi Control, dan BAUK sebagai Fungsi Budgeter. Bagian Kemahasiswaan Harusnya Bertanggung Jawab sepenuhnya Pada Urusan Administratif berupa Kelengkapan Persyaratan, Pemberkasan, dan Verifikasi, Sementara BAUK Hanya Bertanggung jawab pada Urusan Penganggaran dan Pencairan Dana.

VIII. Perpustakaan Unikarta

Kondisi yang sangat memprihatinkan, dapat dijumpai di Unikarta, Sebagai sebuah Perguruan Tinggi namun belum mampu menjawab kebutuhan Akademik Mahasiswa. Keberadaan Perpustakaan tidak lebih dari sekedar “Museum Buku Bahari” yang tidak mampu menghadirkan referensi mata kuliah yang begitu dibutuhkan Mahasiswa. Mengapa Perpustakaan tidak Mendata Seluruh Kebutuhan Referensi Kuliah Pada Tiap Fakultas sebagai dasar akan kebutuhan buku penunjang mata kuliah ? Sehingga Mahasiswa Tidak lagi menempuh perjalanan jauh Keluar Kota hanya sekedar untuk membeli Buku, jika saja Perpustakaan Unikarta mampu menyediakannya.

Persyaratan untuk Menjadi Anggota Perpus beberapa waktu lalu pun sangat menyulitkan mahasiswa, Betapa tidak, Untuk Mendaftar sebagai Anggota saja Harus Mengurus ke Bank Untuk membayar Biaya Administrasi Sebesar Rp. 5000 sementara nota pembayarannya diperoleh dari perpustakaan, Mengapa tak dilakukan di Perpustakaan saja?.

Salah satu Kelemahan kita adalah “Malas, dan Tidak Mau Repot” karena selalu terpaku pada Jumlah anggaran yang akan dikucurkan untuk memenuhi kebutuhan, tanpa adanya usaha menjalin kerjasama dengan Lembaga Pemerintahan/Instansi Terkait untuk Membantu dalam Supply Buku Referensi Perkuliahan.

IX.    LPPM  (Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat)

Dalam Kurun waktu Berjalannya Civitas Akademika Unikarta, LPPM memiliki peranan penting dalam Salah satu Wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi  (Pengabdian). Kita tentunya berharap Bahwa Unikarta mampu menunjukkan Wujudnya sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang akan Mencetak Manusia-Manusia yang bermoral dan Berpendidikan.

Namun Kondisi yang terjadi hari ini, Adalah unikarta Masih sangat Termarjinalkan bahkan pada daerahnya sendiri, Kutai Kartanegara. Banyaknya Kegiatan Penelitian yang ditangani Langsung Oleh Perguruan Tinggi dari Luar Kukar, yang tidak sepenuhnya memahami kondisi daerah kita. Harusnya hal ini menjadi sebuah Cerminan Bahwa Unikarta Harus Mampu Melahirkan Solusi-Solusi terhadap Kemajuan Kutai Kartanegara. Tidak Harus Menunggu Kapan Unikarta Akan dibutuhkan, tetapi Menjadikan unikarta Sebagai Sebuah Kebutuhan, Khususnya dalam Pembangunan dan Pengembangan SDM dan Daerah Kutai Kartanegara.

Bergaining LPPM diharapkan tidak hanya sebatas kegiatan Survey, namun diharapkan mampu menghadirkan suatu Proyeksi bagi Pembangunan di Kutai Kartanegara, sehingga Keberadaan Unikarta Betul-Betul Mampu dirasakan Oleh seluruh Lapisan Masyarakat melalui hadirnya Solusi Solusi Cerdas yang ditawarkan Oleh Unikarta.

X.     Senat Universitas

Keberadaan Senat Universitas di Kampus Unikarta, tentunya menjadi harapan yang sangat besar bagi Penyelenggaraan akademik di Unikarta. Yang mana didalamnya tersusun dari Jajaran Rektorat, Hingga Fakultas dan Dipimpin Langsung Oleh Rektor. Persoalan-Persoalan dalam lingkup Universitas menjadi tugas yang harusnya dapat diselesaikan Oleh Senat Universitas. Yang tentunya tidak hanya terlihat Pada Saat Pemilihan Rektor Saja, Namun Banyak Persoalan di Kampus Unikarta yang harus segera diselesaikan, tanpa harus menunggu Persoalan tersebut akan menjadi “Virus” yang sulit Untuk Disembuhkan.

Statuta Unikarta Misalnya, Sebagai Pedoman Bagi Seluruh Civitas Akademika Unikarta dalam Menjalankan Peran dan Fungsinya masing-masing. Harusnya dapat memberikan gambaran yang jelas bagi Personalia yang ada di Unikarta. Namun Kenyataan yang terjadi, Statuta Unikarta Hampir Tidak Lebih dari Sekedar AD/ART Organisasi (OKP,LSM,ORMAS). Dengan Muatan yang sangat sederhana dan sangat terbatas. Contoh misalnya Peraturan Tentang Keuangan, di STATUTA belum menjabarkan mengenai Pengelolaan Keuangan Pada tiap-tiap Fakultas, Biro, Bagian, dan UPTD, Juga tidak menjelaskan tentang bagaimana alur Pengelolaan Sumber-Sumber dan hubungan keuangan pada seluruh lembaga di Unikarta. Sehingga saat ini Pengelolaan Keuangan Unikarta Belum difahami  tentang Input-Proses-Output-dan Out Come nya.

Jika Kondisi yang seperti ini terus dipertahankan di Unikarta, maka Cita-Cita Untuk menjadikan Unikarta sebagai Kampus Yang Unggul dan Mandiri tidak akan pernah tercapai, Karena stakeholder yang dipercaya belum mampu berfikir dan bertindak Profesional dan Proporsional dalam menjalankan tugasnya.

Pertanyaannya adalah, “Kemana Senat Universitas Ketika Banyak Persoalan Tersembunyi dan disembunyikan yang Harus diselesaikan ?” Apakah Senat Universitas Hanya Terlihat Pada Saat Pemilihan Rektor?. Mengapa Senat Universitas Tidak Membagi Anggota dalam Beberapa Bagian/Komisi Untuk Fokus dalam Menyelesaikan dan Mencegah Timbulnya Persoalan di Unikarta?.

Mulai dari Persoalan Akademik, Keuangan, Hingga Persoalan Yuridis yang belum sempurna di STATUTA.

Ya, Jika dilihat dari luar, Kampus Unikarta memang berjalan baik, Namun Jika Benang kusut di Kampus ini telah du Urai, Maka setiap Aktornya akan terkena Percikan Kotoran yang masih tersembunyi dibalik manisnya kain yang dirajut.

XI.    Fakultas Dilingkungan Unikarta.

Secara Umum jika dilihat, Fakultas di Lingkungan Universitas Kutai Kartanegara Perlahan menunjukkan kinerja yang baik dalam penyelenggaraan akademik yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa. Namun tentunya masih banyak pula persoalan yang harus menjadi perhatian oleh seluruh fakultas yang ada. Mulai dari Kegiatan Belajar Mengajar, Hingga Urusan Akreditasi dan Program Studi Pada Tiap-tiap Fakultas.

Mahasiswa masih sering mengeluh tentang urusan perkuliahan yang rumit. Jadwal Kuliah yang telah disusun rapi, namun akan berubah kembali sesuai dengan keinginan dari dosen pengajar, yang menyesuaikan Jadwal Kuliahnya dengan Urusan Kerja. Sehingga Terkadang Mahasiswa dianggap sebagai Orang yang tidak Memiliki urusan dan kepentingan selain di Kampus, padahal “mahasiswa juga manusia” yang butuh Aktifitas diluar untuk menunjang kehidupan.

Kualitas Tenaga Pengajar yang diukur dari “Label Kesarjanaan”. Sudah dianggap Mumpuni ketia Menyandang Gelar S2 / bahkan Doktor (S3). Namun Mahasiswa sangat memahami bahwa masih sangat banyak, dan merata ditiap Fakultas Tenaga pengajar yang hanya sekedar Menghabiskan Bahasan Mata kuliah, Tanpa Mengukur sejauh mana Mahasiswa Memahami teori yang disampaikan pada saat perkuliahan. Contoh Lain pada kegiatan Praktikum, Pemberian Tugas dan sebagainya. Banyak Dosen yang Meemberikan Tugas yang tidak memiliki relefansi terhadap mata kuliah yang diajarkan.

Pada proses pemberian Nilai pada Mahasiswa, Tiap fakultas harusnya mampu menjelaskan tolak ukur dari pemberian nilai hasil Ujian Mahasiswa, Sebab terkadang urusan pemberian Nilai terlalu banyak dicampuri oleh urusan pribadi. Mahasiswa Aktif sering menjadi Korban, Ketika Melakukan Kritik terhadap Dosen/Fakultas, Maka Imbas dari aktifitasnya adalah Pada Nilai yang pasti akan Anjlok, Terlebih lagi ketika dosen yang dituju merasa teringgung dan anti Kritik. Tidak Jarang Mahasiswa Galag Ujian, hanya karena persoalan Sakit Hati. Kita Berharap dalam hal ini, Para Dosen di tiap Fakultas, betul-betul Objektif dalam Pemberian Nilai dengan Tolak Ukur Kemampuan Mahasiswa, Aktifitas Mahasiswa, dan Kontribusi Mahasiswa Terhadap Perguruan Tinggi.

INTI SARI TELAAH ;

  1. Yayasan Sebagai Struktur yang Paling Bertanggung jawab terhadap Sukses/Tidaknya Penyelenggaraan Unikarta harus Bersikap Proaktif terhadap Kondisi yang terjadi di Unikarta, tidak Harus Menunggu Pihak Rektorat Untuk Melaporkan Aktifitas di Unikarta, Apalagi Jika Unikarta dipenuhi Oleh Personal yang tidak Progressif.
  2. Rektor Selaku Pimpinan Universitas, Ketua Senat Universitas dan Orang yang Paling Bertanggung Jawab atas Segala Aktifitas di Tingkat Universitas, Harusnya Mampu Menjalankan Konsep Manajemen yang baik, Sehingga Struktur Universitas Dapat Berjalan sesuai dengan porosnya tanpa harus melangkahi Struktur lain disekitarnya.  Unikarta membutuhkan Sebuah Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, Jika Ingin Bersaing dengan Pergruan Tinggi Lain.
  3. Pembantu Rektor I, Sebagai Decession Maker II setelah Rektor, Harusnya Mampu Mengambil Kebijakan yang Menanungi seuruh Struktur dibawahnya Ketika Rektor Dalam Kondisi Yang berhalangan Tetap, Urusan Akademik Perguruan Tinggi adalah Merupakan hal yang wajib untuk segera diselesaikan, Sebab Unikarta Hanya Uggul dalam Jumlah Mahasiswa, Bukan Kualitas dan Mutu sebuah Perguruan Tinggi.
  4. Pembantu Rektor II, Dalam Menjalankan Perannya Sebagai Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Diharapkan Lebih Profesional, Sehingga Urusan Adminstrasi dan Keuangan Unikarta Tidak Selalu Menjadi Persoalan yang tersembunyi, Namun dapat segera diselesaikan. Koordinasi Aktif Antara Pembantu Rektor sangat dibutuhkan agar tercapanya Kesinergisan kerja pada masing masing Bagian. Sehingga tidak ada kesan bahwa antara Pembantu Rektor Terjadi Mis Komunikasi dan Koordinasi.
  5. Pembantu Rektor III, Sebagai Pembimbing Pada Bidang Kemahasiswaan diharapkan mampu menghadirkan Solusi solusi Cerdas atas permasalahan pada tingkat kemahasiswaan, Perguruan Tinggi harus Lebih Proaktif terhadap Aktifitas/Kegiatan yang dilaksanakan Oleh Mahasiswa, sehingga mahasiswa tidak perlu lagi “mengemis” Bantuan di luar Unikarta, Sebab akan Menunjukkan bahwa “Internal Unikarta Memandang Sebelah  mata Aktifitas yang dilaksanakan Oleh Mahasiswa”. PR III, diharapkan menjadi jalur koordinasi Antara Mahasiswa dengan seluruh Civitas Akademika Unikarta, Sehingga Kami Mahasiswa, “Bisa Dihargai” Pada Saat Melakukan Aktifitas Dunia Kemahasiswaan.
  6. BAUK, Sebagai Struktur Pelaksana yang berperan pada Bidang Administrasi Keuangan diharapkan dapat Bersikap Profesional dalam menjalankan Amanahnya, dengan Menerapkan Standard Akuntan Publik yang tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Pengelolaan Keuangan Unikarta Harus Tepat Sasaran dan Tidak Diperlambat. Pengelolaan Aset Unikarta Harus betul-betul diperhatikan, sebab Banyak Fasilitas Kampus yang membutuhkan Perhatian dan Perbaikan.
  7. BAAK :
    1. BAAK, Dalam Pelaksanaan Administrasi dan Akademik Kemahasiswaan Juga dituntut menjalankan keprofesionalan Kerja, Efektifitas dan Efisiensi Kerja, Serta mampu Menunjukkan Transparansi dan Akuntabilitas sebuah Lembaga. Kepala Biro BAAK harus lebih komunikatif terhadap seluruh Bagian dan Staf disekitarnya untuk mewujudkan sebuah keharmonisan kerja, sehingga Pimpinan dapat mengetahui persoalan yang dihadapi oleh Partner Kerja, dan mampu menjawab kebutuhan Strukturalnya, dengan menghilangkan unsure Pemarjinalan Bagian.
    2. BAAK (Bag. Kemahasiswaan), Harus Lebih Pro Aktif terhadap Urusan-Urusan Kemahasiswaan, Baik Aktifitas, Maupun Organisasi Kemahasiswaan. Hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas dengan alasan minimnya biaya Operasional dan Fasilitas Kerja, Harusnya Tidak Lagi Menjadi Penghalang. Sebab Bag. Kemahasiswaan Adalah Struktur Unikarta dibawah BAAK, yang memiliki hak atas Penggunaan Anggaran Untuk Pelaksanaan Kerja. Sehingga Persoalan Organisasi Kemahasiswaan dengan segera bisa teratasi, tanpa harus menunggu Timbulnya Masalah-Masalah lain. Kepala Bagian Kemahasiswaan, Harus Mampu Menjawab Tantangan yang dihadapi Oleh Mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa Unikarta, dalam hal Mekanisme Pengelolaan Organisasi Mahasiswa.
  8. Perpustakaan, Sebagai salah satu Penunjang Keberhasilan Penyelenggaraan Akademik di Unikarta, Harus Mampu Menunjukkan Bahwa, Keberadaan Perpustakaan Unikarta Bukanlah Sebagai “Museum Buku Bahari” dengan Hadirnya Referensi Yang dibutuhkan oleh Kalangan Mahasiswa dan Perguruan Tinggi pada umumnya, yang Berkualitas dan mampu memenuhi Kebutuhan Mahasiswa.
  9. LPPM, Diharapkan Mampu Menunjukkan Keberadaannya Melalui Riset/Penelitian Yang Bermanfaat Bagi Unikarta, dan Kutai Kartanegara pada Umumnya, Tidak Hanya Terfokus Pada Urusan Penelitian yang Sarat Materiil, namun lebih Kepada Nilai-Nilai Pengabdian dari Sebuah Perguruan Tinggi Terhadap Masyarakat. Sehingga Unikarta Tidak lagi dianggap Sebagai Institusi Pelengkap di Daerah, Namun Dapat Menunjukkan Kualitasnya Melalui Kemampuan Bersaing dengan  Perguruan Tinggi Lain dengan Hadirnya Proyeksi yang Solutif terhadap Pembangunan Daerah, Khususnya SDM.
  10. Senat Universitas, Harus Lebih Peka terhadap Kondisi yang terjadi di Unikarta melalui koordinasi aktif yang dibangun antara anggota Senat lainnya. Tentunya kita tidak Menginginkan banyaknya masalah yang ada di Unikarta, akan menjadi sebuah Budaya. Sehingga Masalah tidak dipandang Lagi Sebagai Sebuah Masalah, Namun telah Menjadi Sebuah Kebiasaan yang merata diseluruh Civitas akademika. Persoalan Utama yang harus segera diselesaikan oleh Senat Universitas adalah, Tentang Kondisi Rektorat, dan Perubahan/Amandemen STATUTA Unikarta.
  11. Fakultas di Lingkungan Unikarta, Diharapkan lebih terfokus pada pelaksanaan Akademik pada tingkat Fakultas, melalui reformasi sistem dan birokrasi yang masih “kaku”. Karena Out Put yang dihasilkan unikarta, akan sangat ditentukan oleh Kualitas Pengajaran dan Pendidikan yang dilaksanakan pada Tingkat Fakultas. Baik Kualitas Materi yang diajarkan, Maupun Kualitas Yang Menyampaikan Materi Perkuliahan.

TUNTUTAN MAHASISWA ATAS KONDISI UNIKARTA.

  1. MENUNTUT KEPADA YAYASAN AGAR SECEPATNYA MENYELESAIKAN PERSOALAN YANG TERJADI DI UNIKARTA, BAIK BERUPA PERSOALAN ADMINISTRATIF, MAUPUN PERSOALAN KEUANGAN YANG DIKELOLA OLEH UNIKARTA
  2. MENUNTUT KEPADA REKTOR/PEMBANTU REKTOR UNIKARTA, SECEPATNYA MELAKUKAN KOORDINASI, UPAYA PENYELESAIAN MASALAH YANG TERJADI DI UNIKARTA, YAITU URUSAN : A. AKADEMIK (Perkuliahan, M.A.P, Akreditasi, Kelas Khusus, Izin Program Studi, Tenaga Pengajar,Perpustakaan dan lain Sebagainya), B. ADMINSTRASI KEUANGAN (Pola Pengelolaan Keuangan Unikarta dari Tingkat Fakultas-Biro-Bagian-hingga mahasiswa, Serta Transparansi Pengelolaan Keuangan Unikarta). C. KEMAHASISWAAN (Organisasi Kemahasiswaan, Bantuan Stimulan Mahasiswa, dan Bantuan Organisasi Kemahasiswan).
  3. MENUNTUT KEPADA SENAT UNIKARTA UNTUK SEGERA MELAKSANAKAN RAPAT SENAT UNTUK MEMBAHAS PERSOALAN REKTORAT, STATUTA DAN PERSOALAN LAIN YANG ADA DI UNIKARTA.
  4. MENUNTUT KEPADA BAUK DAN BAAK SEBAGAI SUMBER DAN PENGELOLA ANGGARAN, UNTUK SEGERA MELAKUKAN AUDIT INTERNAL ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN UNIKARTA.
  5. MENUNTUT KEPADA FAKULTAS UNTUK SEGERA MELAPORKAN KONDISI PELAKSANAAN AKADEMIK DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN PADA TINGKAT FAKULTAS, SESUAI DENGAN JALUR PERTANGGUNG JAWABAN YANG ADA.
  6. REKTOR/PEMBANTU REKTOR HARUS MEMPERJELAS STATUS DAN FUNGSI KEBERADAAN KELAS KHUSUS PADA TINGKAT FAKULTAS, SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP UNIVERSITAS.
  7. MENUNTUT KEPADA YAYASAN/REKTORAT/FAKULTAS, UNTUK SEGERA MENGAMBIL LANGKAH ATAS PEMBANGUNAN KAMPUS UNIKARTA DI KECAMATAN TENGGARON SEBERANG, YANG HINGGA SEKARANG BELUM TERSELESAIKAN.

Kami Sebagai Mahasiswa Unikarta Berharap, Bahwa apa yang kami; tuliskan, Sangka kan, Harapkan,  dan Sampaikan. Dapat menjadi perhatian serius oleh seluruh Civitas Akademika Unikarta. Kami Meyakini, Jika Seluruh Stake Holder yang ada Di Jajaran Yayasan dan Kampus Unikarta dapat membangun Komunikasi dan Koordinasi aktif, maka persoalan yang kami sampaikan akan dapat menemukan solusi yang tepat bagi kemajuan dan kebesaran Unikarta. Kami Berharap Melalui Tulisan ini, Rasa Kecintaan Kita Terhadap Unikarta dapat Terbangun Se Utuhnya, Dengan Melepaskan Ego Sentris pada setiap Personal yang Berperan dalam Civitas Akademika Unikarta.

Kami Memohon Maaf, Apabila apa yang kami sampaikan dalam Telaah ini, terkesan Subjektif. Namun Seperti itulah Kondisi yang kami rasakan dan Temukan Sebagai Mahasiswa.

Kami Bersuara Bukan Karena Benci, Namun Kami Bersuara dan Berteriak Lantang, Atas Kecintaan Kami Terhadap Kampus Unikarta.

Hidup Mahasiswa !!!

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

Refleksi 26 Tahun Unikarta

diposkan pada tanggal 3 Agt 2010 00.25 oleh baak unikarta

Refleksi 26 Tahun Unikarta

Oleh : Mardhani
Presiden BEM FAI Unikarta 2010-2011

Dengan berdasarkan nama sebuah kerajaan tertua di Indonesia, maka muncullah nama sebuah universitas yaitu Universitas Kutai Kartanegara (UNIKARTA). Unikarta didirikan pada tanggal 26 Mei 1984, oleh pemerintah Kabupaten Kutai dan pengelolanya diserahkan kepada suatu yayasan [1].

Seiring berjalannya waktu, situasi kondisi telah banyak dilalui. Pahit getir perjuangan pendahulu, menjadi motivasi keberlangsungan kelembagaan (Unikarta) ini. 26 tahun, bukanlah usia yang muda ataupun tua, tapi diusia inilah awal perubahan yang mulai menggelora. Peninjauan kembali, diusia yang sudah berkepala dua, sudah menjadi suatu tolak ukur keberhasilan. Namun secara realitanya sekarang, malah menunjukkan kebobrokan (kemunduran).

Menatap Unikarta, masih terasa tempo doeloe (red:dulu). Dilihat secara struktural, tidak ubahnya kejadian yang lalu kembali terulang. Ditilik dari segi fasilitas, maka terlihatlah kekumuhan suatu universitas. Yang membuat saya tertawa sedih, ada seorang mahasiswa yang berkata: “halaman perkuliahan kita ini, selayaknya sawah??”, kemudian disambut oleh temannya: “kenapa nggak kita tanam padi saja??? Hahaha..” keduanyapun tertawa.

Dalam dialog Kemahasiswaan yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas, dengan tema: “Refleksi Unikarta Hari Ini, Dalam Proyaksi Masa Depan Menuju Unggul dan Mandiri”[2]. Yang hanya dihadiri lima BEM Fakultas dari tujuh BEM Fakultas, inilah bentuk ketidak pedulian terhadap Unikarta, tidak ada bentuk reward dengan adanya kegiatan ini, baik dari pihak rektorat, dosen, eksekutif mahasiswa, sampai pada tataran mahasiswa itu sendiri. Suatu keadaan yang sangat “kritis”, padahal ini hanya ditinjau dari satu sisi kegiatan.

Analisis indikator problematika Unikarta, merumuskan suatu Problem Solving [3]:

COMERSIAL : Unikarta haruslah bisa membuka lahan financial yang nantinya bisa menjadi investasi sebagai penunjang disetiap kegiatan dilingkungan kampus. Contoh investasi yang coba kita tawarkan yaitu adanya usaha-usaha kecil dilingkungan kampus Unikarta.

SOSIAL : Unikarta mestinya memberikan pelayanan terhadap masyarakat, baik itu dalam bentuk yang sederhana yaitu menjadi control, pembimbing, dan penyambung lidah rakyat dalam memperjuangkan haknya.

EDUCATION : Unikarta bukanlah tempat mejeng, adu stayle, ataupun pameran harta kekayaan. Tapi kembali pada porsinya sebagai tempat keberlangsungan transformasi keilmuan dalam bentuk professionalisme kejuruan (red:jurusan).

PERBAIKAN MANAJEMEN : dalam manajement diperlukan seorang manajer (red:Rektor) dalam ruang lingkup universitas. Langkah pertama dalam perbaikan manajement ialah dengan adanya rektor, sebagai pengelola percepatan pembangunan Unikarta.

FASILITAS YANG MEMADAI : dengan jumlah mahasiswa yang berlimpah ruah, haruslah adanya fasilitas yang bisa mengakomodir kepentingan pendidikan setiap mahasiswa. Dengan adanya suatu perbaikan dan penambahan fasilitas ini bisa menjadi penunjang dalam proses perkuliahan.

MODERNISASI: ditinjau dari segi apapun, di Unikarta ini masih dalam skub ketertinggalan. Modernisasi Unikarta mulai dari fasilitas yang harusnya ada suatu perbaikan yang konsisten, perombakan jalur administrative yang ribet kepada yang lebih simple dan bisa diakses dimana saja dan kapan saja.

Kesimpulan

26 Tahun Unikarta, menjadi langkah yang strategis dalam pelaksanaan proyeksi masa depan Unikarta. Dengan adanya problem solving ini nantinya bisa diimplementasikan dalam bentuk tindakan nyata baik itu bersifat button down or button up, sehingga terjalin sinergisitas kinerja yang kolektif. Diesnatalis inilah moment yang tepat dalam permulaan langkah sistematis strategis ini bisa dijalankan. Kontribusi inilah yang menjadi aspirasi mahasiswa, semoga ini bukan hanya sebagai bacaan tapi menjadi sebuah acuan untuk ke Unggulan dan Kemandirian Unikarta.

[3] Problem Solving: telah dipresentasikan pada acara Dialog Kemahasiswaan.

[2] Dialog Kemahasiswaan pada Diesnatalis Unikarta ke-26; kamis, 27 Mei 2010

[1] Statuta Unikarta, Bab III Pasal 6 (3), Universitas Kutai Kartanegara:2008, hlm.5.

1-3 of 3

Comments

Grup Kemahasiswaan Unikarta