Stories‎ > ‎

Buramnya Pendidikan di Pulau Buru

Menyusuri  jalanan di Pulau Buru yang terletak di bagian barat Kepulauan
Maluku bagaikan menapak negeri yang hilang. Terik matahari yang menyengat,
hutan kayu putih yang kini mengering dan gersang, menambah buram potret Pulau
Buru. Nun jauh di pelosok Buru, di sebuah ruangan sempit berdindingkan anyaman
bambu dan kayu, tergantung sebuah papan tulis kecil. Di situ berkumpul belasan
anak usia Sekolah Dasar yang sedang belajar membaca dan berhitung bersama
seorang tutor lulusan Sekolah Dasar, Petrus Wael.

Ruangan itu, yang berdampingan dengan dapur, terasa sempit dan pengap. Namun
keadaan yang apa adanya itu tidak membuat anak-anak patah semangat untuk bisa
belajar menulis dan membaca, barang sepatah dua patah kata. Masing-masing
anak memegang pensil sambil memperhatikan gerakan tangan "gurunya" yang
sedang menulis di papan tulis.

Setiap kali guru menyelesaikan satu huruf di papan tulis, anak-anak langsung
menirukan di atas kertas buku mereka masing-masing. Tampak beberapa anak
berjuang keras untuk bisa menuliskan huruf mirip dengan yang ditulis di papan.
Tetapi mereka selalu merasa belum puas, sehingga harus menghapus berulangkali,
sampai-sampai kertas buku mereka berlobang.

Huruf demi huruf, kata demi kata dan jadilah kalimat sederhana, "ani adik ali".
Dengan sabar dan tekun, "guru" Petrus menuntun anak-anak menulis kemudian
membacanya mulai dari huruf per huruf, suku kata per suku kata, kata per kata
hingga satu kalimat dibaca seluruhnya sambil ditirukan anak-anak. Setelah itu satu
persatu anak diminta maju untuk membaca seperti yang dicontohkan.
"A-n-i…ani, a-d-i-k…adik, a-l-i…ali. Coba sekarang yako (saya) ketuk dan kae
(kamu) baca!" Petrus Wael menyuruh seorang anak belasan tahun maju ke depan
untuk membaca di hadapan teman-temannya.

"A-n-i…aaaa…ni; a-d-i-k…aaaa…dik; a-l-i…aaa…aaadi", dengan tersendat-sendat
anak mengeja dan kemudian membaca huruf-huruf yang diketuk oleh Petrus.
"Mana yang bunyi adi!? Coba perhatikan! Kae (kamu) belajar di sini tapi pikiran
sudah sampai di hutan," kata Petrus Wael, dengan nada tinggi.
Anak yang ditegur tersipu sambil menggigit ibu jari tangan kanannya.
Petrus mengajak mengeja kalimat itu sekali lagi "A-n-i…ani; a-d-i-k…adik; a-l-i…ali.
Coba ulangi," pinta Petrus sekali lagi.
SINAR HARAPAN * Buramnya Pendidikan di Pulau Buru Page 1 of 4
http://www.geocities.com/koedamati/sh160904.htm 22/02/2006
"Aaaani aaadiiii aaatiiiik", anak itu berjuang keras untuk bisa membaca kata-kata itu
sambil sesekali memandang gurunya.
"Ini anak punya kepala apa! Coba lihat papan tulis. Ini huruf apa?" tanya Petrus
sambil menuliskan huruf "k" dan "l".
Anak tersebut menjawab dengan ragu-ragu "k" "l".
"Kenapa "k" tidak kae baca? Kenapa "l" kae baca "t"? Coba yang lain perhatikan
juga, jangan bermain sendiri!", Petrus menegur anak-anak lain yang berebut pensil
dan penghapus.Demikian seterusnya dengan sabarnya "guru" Petrus menuntun anak-anak sampai
bisa membaca dengan benar. Bagaikan menuntun orang buta di malam gelap,
begitulah ibaratnya ia melatih anak-anak terlantar di dusunnya sampai bisa
membaca dan menulis.

Adegan kegiatan belajar-mengajar di atas adalah situasi di sebuah kelompok
belajar yang ada di Dusun Waegernangan, Desa Grandeng, Kecamatan Buru Utara
Selatan, Kabupaten Buru. Kelompok belajar itu menampung sekitar 20 anak usia
sekolah dasar yang belum bisa mengenyam pendidikan dasar secara formal di
sekolah-sekolah dasar. Anak-anak ini kebanyakan adalah mereka yang baru saja
kembali dari pengungsian. Mereka adalah orang-orang Buru asli yang sekarang ini
sudah bisa kembali ke desa-desa mereka semula.

Di desa-desa tempat kembalinya pengungsi di wilayah dataran Waeapo bagian
timur (Desa Grandeng, Parbulu, Wailo, dan Lele) pendidikan merupakan hal langka.
Memang di pusat desa ada SD Inpres maupun madrasah yang masih terus berdiri
hingga sekarang, namun trauma konflik dan lokasi yang jauh dari dusun (rata-rata
berjarak sekitar 10-15 km) membuat anak-anak enggan masuk sekolah formal.

Orang Tua Tak Dukung

Kondisi ini diperparah dengan sikap para orang tua yang kurang mendukung anak
untuk belajar. Para orang tua lebih memilih mengajak anak mereka ke gunung
untuk mengambil daun kayu putih. Pekerjaan mengambil daun kayu putih dan
menyulingnya di ketel-ketel merupakan pekerjaan pokok penduduk asli Buru. Setiap
kali naik gunung mereka akan tinggal di sana hingga satu bulan dengan membawa
serta anak dan istri. Anak-anak terpaksa dibawa ke hutan karena tidak ada yang
mengurus, tak heran jika banyak anak tidak disekolahkan.Menurut Norberta Dawan,
salah satu tutor di kelompok belajar Dusun Widit, Desa Parbulu, Kecamatan Waeapo,
untuk meyakinkan para orangtua, ia senantiasa berkeliling dari rumah ke rumah.
Bahkan jika perlu tiap pagi ia mengetuk pintu setiap rumah agar anak-anak berangkat sekolah.

Kelompok belajar Dusun Widit yang didirikan atas inisiatif warga dusun sendiri, kini
menampung sekitar 45 murid dari kelas 1 hingga kelas 5. Untuk kelas 6 mereka
melanjutkan ke SD Inpres yang terletak di unit 17, berjarak sekitar 10 km dari Widit.
Tenaga pengajar di Widit hanya dua orang, masing-masing hanya berpendidikan
SMA. Satu tutor mengajar kelas 1-3 sedangkan tutor yang lain mengajar kelas 4-5.
Kondisi tempat belajar pun jauh dari layak. Bangunan yang terletak di tengah dusun
ini hanya memiliki dua ruangan dengan tembok ukuran setengah badan, sedangkan
bagian atas hanya menggunakan kasa, sementara atap dari bahan seng. Antara
ruangan satu dengan lain hanya disekat kayu ala kadarnya, berlantaikan tanah.

Karena hanya memiliki dua ruangan sementara murid yang belajar mulai dari kelas
1 hingga 5, maka mau tak mau satu kelas dipakai bersama. Satu kelas untuk
belajar murid kelas 1-3 dengan satu tutor dan satu kelas lagi untuk murid kelas 4-5
dengan satu tutor juga. Norberta, yang biasa dipanggil Nova, menjelaskan selama
mengajar kurang lebih satu tahun ia hanya memakai buku pegangan seadanya.
Jika ada pinjaman dari teman maka pekerjaannya agak terbantu tapi jika tidak ada
harus ia beli sendiri. Anak-anak didiknya juga tidak ada yang memiliki buku
pelajaran. Mereka hanya mencatat pelajaran itu pun hanya menggunakan satu
buku tulis saja. Selain karena harga buku yang mahal, minimnya jumlah buku yang
tersedia di Buru juga menjadi kendala.

Dalam hal proses belajar mengajar ia memprihatinkan kondisi anak-anak yang
masih tertinggal dalam membaca, masih banyak murid yang membaca dengan
mengeja. "Setiap mulai kelas, baik kelas 4 atau 5, saya selalu mulai dengan
pelajaran membaca," tuturnya. Sementara untuk berhitung anak-anak relatif tidak
mengalami kesulitan karena sudah terbiasa berhitung dengan menjual minyak kayu
putih.

Menurut Nova, minat belajar anak-anak didiknya sangat tinggi namun karena
kurangnya buku pelajaran dan bacaan menjadikan anak-anak tidak bisa
berkembang. "Jika ada buku, anak-anak senang membacanya, tapi sayang buku itu
sangat langka" tegasnya lagi. Fasilitas belajar yang lain seperti alat-alat olahraga,
perpustakaan, alat peraga tidak dimiliki oleh kelompok belajar Widit maupun
kelompok belajar lain di Dusun Metar, Dusun Waibcalit, dan Dusun Waegernangan.
Melihat kondisi yang memprihatinkan ini mereka bukannya tanpa usaha untuk
menghubungi Dinas Pendidikan setempat. Mereka telah berusaha untuk bertemu
dengan Dinas Pendidikan setempat, namun hingga kini belum ada realisasi. Jika
kondisi ini berlangsung terus menerus maka 10 atau 20 tahun mendatang mereka
merupakan generasi yang hilang. Jauh dari fasilitas pendidikan yang layak dan
tertinggal dalam semua bidang dengan saudara-saudara mereka yang ada di
pusat-pusat kota.

Jika kemudian direfleksikan kembali, pendidikan merupakan hak asasi setiap
manusia. Tanpa membedakan suku, agama, kelompok ataupun ras setiap anak
berhak atas pendidikan. Pendidikan yang layak agar mereka pun memperoleh
kehidupan yang layak. Dalam situasi pascakonflik seperti Maluku, pendidikan
adalah kunci untuk perlindungan masyarakat yang berkelanjutan (sustainable
protection) dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

"Katong seng dapat keuntungan apapun dari kerusuhan itu. Yang katong dapat
hanya tetesan darah dan air mata kesedihan", kata seorang pengungsi. Kata-kata
itu mengandung pesan yang sangat kuat yang bersumber dari pengalaman mereka.
Konflik akan selalu mendatangkan penderitaan. Anak-anak kecil yang tidak berdosa
harus menanggung akibatnya. ***

Collaborated  Adrianus Suyadi, SJ dan Melani W.W.
Publihed by SINAR HARAPAN, Tuesday, 14 September 2004